Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Senin, 20 April 2009

Kala Waktunya Tiba


April 15, 2009
Waktunya pulang…. aku siap-2 membereskan laptop dan atribut lainnya. Lega banget rasanya bisa pulang tepat waktu hari ini. Aku akan ke gym ah… dah lama banget ga fitness. Namun nada terlanjur cinta bordering nyaring dari hape ku dan mengubah rencanaku. Tiara memanggil muncul di layar hape. Tumben nih anak, dah lama ga ada kabar beritanya..

“Halo Tia” sapaku.
“Vid, loe dah bisa pulang? gw jemput sekarang ya? I really need ur help say…!”
“Nih lagi siap2 mo pulang, ada apa Tia? Pa kabar?”
“Iya nih, gw butuh bantuan loe, Cuma loe yang bisa ngungkapin isi hati gw ke mas Alif Vid…bantuin donk..!”
Ha? Ga salah tuh? Aku yang bisa ngungkapin isi hatinya dia? Apa yang aku ketahui tentang isi hatinya Tiara? Edan!

“Tia… ga salah loe? What do I know about you and him? I am out of date.”
“Makanya gw jemput loe sekarang, untuk up dating semuanya ke loe… gw jemput sekarang ya!”


Dan aku selalu saja tak bisa menolak permintaan seorang teman. Bisa sih, kalo saja aku punya urusan lain yang lebih urgent. Tapi kebutuhanku hanya ingin pergi ke Gym, dan itu tidak cukup kuat menjadi alasan penolakanku terhadap Tiara. So inilah aku bersama Tiara di sebuah café pinggir jalan, tempat aku dan Tiara biasa nongkrong, dulu. Sebelum kami berdua sibuk dengan urusan masing-masing.

Malam harinya…..
Mulailah aku menuliskan isi hatinya Tiara, sesuai dengan up date-nya tadi sore, yang akan diungkapkannya ke mas Alif via email. Hm…….., aku harus mulai dari mana ya? Semua hal tentang Tiara dan mas Alif benar2 out of date in my memory.

Dan Up datingnya tadi sore benar2 membuatku cukup terkejut. Surprise. Namun aku salut dengan keberanian langkah Tiara, juga kebulatan tekad mas Alif. Mudah2an saja semua yang telah mereka lakukan adalah langkah yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Nikah sirri barulah langkah awal, itu kata Tiara tadi. Ini mereka tempuh karena mereka tidak ingin terlibat dalam perzinaan. Karena terlepas dari segala kemunafikan, seorang laki-laki dewasa tetap perlu menyalurkan kebutuhan biologisnya, secara baik dan bertanggung jawab. Begitu juga dengan wanita. Kebutuhan ini tidak perlu dipungkiri.

Dan jalan yang mereka tempuh, diam-diam menumbuhkan rasa hormat di hatiku kepada keduanya. Ketika kutanyakan mengapa mas Alif tidak menikahi Tiara secara legal saja jika memang dia serius? Dan jawaban Tiara kembali membuat hatiku haru. Orang tua Tiara belum siap menerima pinangan dari siapapun. Mereka tidak ingin melihat Tiara yang baru saja menjanda (setahun) buru-buru menikah lagi. Tidak baik bagi pandangan orang, apalagi dimata saudara-saudaranya mantan suami Tiara. Tidak baik gimana? Bukankah seorang janda (apalagi yang tinggal sendirian di rumah kontrakannya) sebaiknya segera menikah lagi agar kehormatannya terjaga dan tidak menimbulkan fitnah? Mbuh deh…. Gak ngerti ah.

Setiap orang berhak dengan jalan pikirannya masing-masing. Dan aku salut dengan kesabaran mas Alif, yang nggih2 aja dengan kehendak Tiara. Tiara tentu saja tak akan mau disentuh sebelum dinikahi, dan aku tau persis akan prinsip Tiara yang satu ini. Jadilah mereka menikah sirri sambil menanti persetujuan orang tua Tiara. Dan bila waktunya tiba nanti, mas Alif akan membawa utusannya untuk melamar Tiara, secara terhormat ke ortunya Tiara. Tentu saja setelah mas Alif membereskan urusannya dengan istrinya terlebih dahulu. Karena Tiara juga tidak mau diduakan. Dan dari awal memang mas Alif sudah lama berniat untuk membereskan urusan rumah tangga nya yang telah lama stagnant itu. Salut! Semoga semuanya bisa terlaksana dengan baik ya mas..

Namun setangguh apapun tekad dan janji mas Alif, wajar saja jika keraguan-keraguan kecil kerap muncul membayangi hati Tiara. Hare gene mo percaya pada laki2? Emang sih, sejauh ini mas Alif ini sangat baik dan bertanggung jawab. But who knows what will happen in the future? Aku sendiri masih menganggap cinta mereka berdua ini adalah cinta lokasi. Mas Alif kesepian tinggal jauh dari istri dan anak-anaknya, sementara Tiara? Kesepian dan butuh perhatian seorang laki-laki dewasa dan bijaksana selevel mas Alif.

Mahligai rumah tangga Tiara dan Evan yang akhirnya terpaksa dikaramkan oleh Tiara cukup meninggalkan trauma mendalam bagi sahabatku ini untuk tetap dapat menghargai dan mempercayai laki-laki muda atau setidaknya pria sebaya. Evan telah menorehkan kesan mendalam di hatinya bahwa laki-laki muda/sebaya sangat tidak bisa diandalkan untuk menjadi sandaran hati. Kehadiran mas Alif yang bijak dan penuh pengertian adalah sumber kekuatan baru bagi Tiara. Wanita cerdas dan tangguh yang sebenarnya sangat manja ini kelihatan lebih bergairah dalam menyongsong kehidupan. Dan Tiara bagi mas Alif? Pernah tanpa setahu Tiara aku mencoba menyelam ke lubuk hati mas Alif to find out what does he feels about her…

Dan lelaki ini dengan sangat terus terang mengaku padaku bahwa tidak sedikit pun terlintas di benaknya untuk mempermainkan Tiara, karena dia memang benar2 mencintai sahabatku. Tiara baginya adalah warna bagi kehidupannya yang selama ini datar2 saja.

Tiara adalah inspirasi dan harapannya untuk dapat menikmati hidup yang lebih berarti. Singkat kata, dia mencintai Tiara karena sahabatku itu sangat komunikatif, nyambung banget untuk diajak bercerita dan diskusi dalam hal apapun. Tiara cerdas, ulet dan tangguh. Dan manja tentu saja. Semua hal ini sama sekali tidak diperolehnya di rumah tangganya. Komunikasi antara dia dan istrinya bahkan tak pernah dinyalakan dari awal perkawinan mereka dua puluhan tahun yang lalu. Rumah tangga mereka memang damai2 saja, namun sama sekali tak ada cahaya keceriaan, gemuruh derai tawa, dan saling berdebat. Datar dan diam.

Puluhan tahun biduk ini dikayuh dan dicoba pertahankan, dan pilihan untuk bekerja jauh dari keluarga juga adalah salah satu cara untuk mempertahankan rumah tangga ini. Namun pertemuannya dengan Tiara telah memberikan nuansa baru baginya. Bahwa ternyata hidup yang penuh warna itu sangat indah dan menyenangkan. Tiara memberi arti lain dalam hidupnya. Dan begitulah, tanpa dapat dihalangi, cinta keduanya tumbuh dan berkembang.

Sebagai sahabat, aku pernah mengingatkan Tiara akan hal ini, bahwa, terlepas dari apapun, mas Alif adalah milik wanita lain. Coba posisikan diri sebagai istri mas Alif, betapa hancur dan sakitnya dia jika dia tau sang suami telah berpaling pada wanita lain. Namun aku hanya orang luar…. Yang sama sekali tidak tau persis keadaan rumah tangga mas Alif.

Hanya mereka berdua yang berhak menentukan kelanjutan cinta mereka. Aku jelas tak punya hak untuk ikut campur. Apalagi mas Alif sendiri pernah bercerita padaku bahwa sebenarnya rumah tangganya sudah lama stagnant. Di persimpangan itu mereka stuck, dan mas Alif hanya mampu membiarkannya begitu saja. Ingin curhat pada sang istri tentang keinginan2 nya, takut dianggap terlalu banyak menuntut. Cerewet, dan takut sang istri tersinggung. Akhirnya hanya jadi api dalam sekam.

Bertemu Tiara, membuka matanya. Dan api dalam sekam itu menyala. Membakar hatinya, mengobarkan semangat perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Bahwa hidup bahagia nan ceria masih dapat diperjuangkan. Namun dia tidak ingin mengisi keceriaan itu dengan sang istri. Tapi dengan Tiara.
Aku masih termangu, mencari kalimat pembuka. Biasanya kalo kalimat pertama udah nemu, akan lancar bagiku untuk merangkai kata-kata lanjutannya. Namun lamunan panjangku tadi telah membuat ide yang sedang aku cari menyingkir dari pikiran.
Hm….., baiknya mulai dengan apa ya? Coba aku pura-pura jadi Tiara, apa yang kira-kira akan dia tulis ya?

Dear Mas Alif,
So sorry for bothering you with this email. But I do can’t stand to hear the beats of my heart thinking that you will leave me soon. Mas Alif…, I do believe that you just go for a temporary, to find out the new chance and opportunities for us. As your promises that you will be back to me ASAP as you got a new opportunity. But mas…. It is only God who knows will and when you back…. It is more like puzzling…., No certainty. I just worried that you are not able to have the new job as fast as we hope, and it will of course make you will still longer in Jakarta. Gathering back with your family and it means…..?
Mas……., I just afraid that you will not come back to me after the gathering….., you will be the husband of her again, and belong to your family. How ever, you have them, you have your own home, and you have your own family mas…. I do worries. I am alone here. Have nobody…..


Weks…., ya ampun, kok aku menulisnya dalam bahasa inggris ya?  Menyaru jadi Tiara, kok buah pikiranku mengalir in English. Tapi kayaknya boleh juga sih…. Toh ini semua yang menjadi kekuatiran Tiara tadi sore. Intinya Tiara takut mas Alif ga kembali lagi karena kelamaan dapat pekerjaan baru, dan keenakan ngumpul dengan keluarganya lagi. Hm…. Let me think about keseriusan mas Alif…..

Kayaknya doi serius deh dengan Tiara….., buktinya, setiap bulan dia membagi penghasilannya juga untuk Tiara. Tak tanggung-tanggung, living allowance itu sudah mengalir bahkan sebelum dirinya menikahi Tiara. Walau hanya nikah sirri. Dan tak tanggung-tanggung, mas kawin untuk Tiara (yang notebene sudah janda) rela diberikannya sesuai dengan permintaan Tiara. 30 mayam emas murni (adat Aceh mas kawin adalah berbentuk emas dalam satuan mayam, 1 mayam=3,3 gram). Dan jika dikonversi ke rupiah akan berjumlah plus minus 30 jutaan. Hanya untuk mas kawin. Mas Alif tentu tidak main-main dengan semua tindakannya. Aku percaya dia memang mencintai Tiara. Dan Tiara mengemukakan alasannya mengapa sampai minta sebanyak itu…..agar nanti orang tuanya tidak menganggap mas Alif main-main. Bahwa mas Alif serius.

Well…., what ever, aku kira juga mas Alif serius kok. Dan aku tidak ingin berpikir lebih dalam, permasalahan apa yang akan timbul di depan nanti…. Karena itu bukan urusanku, dan aku yakin mereka berdua tentu telah siap dengan segala konsekuensinya. Tugasku hanya menyiapkan untaian kalimat ini yang akan segera dikirimkan Tiara menjelang keberangkatan mas Alif besok.

Yah… tak terasa, tsunami telah 4 tahun lebih terlewati. Dan BRR NAD-Nias telah harus segera bubar, sesuai dengan SK presiden RI yang menyatakan umurnya hanya sampai 4 tahun. Esok, seluruh karyawan BRR yang masih tersisa akan berstatus mantan karyawan BRR NAD-Nias. Kembali ke instansi nya masing-masing (bagi yang PNS) atau ke tempat lain yang telah menampungnya dan sedia menjadikannya karyawan mereka, atau malah menjadi pengangguran. That’s life. Aku sendiri, telah beberapa bulan menyandang gelar mantan staff BRR. Dan aktif di sebuah NGO international yang berminat memberiku kesempatan menunjukkan kinerjaku pada organisasi mereka.

Kembali ke the closing of BRR, seperti yang lainnya, mas Alif tentu harus mengambil kesempatan demobilisasi yang disediakan, kembali sejenak ke Jakarta setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan yang begitu menyita waktu. Banyak hal yang harus diurusnya disana, mencari peluang kerja baru, yang sesuai dengan bidangnya, membereskan urusan rumah tangganya, dan berbagai hal lainnya.

Hanya saja dia tidak dapat menentukan dengan pasti kapan tepatnya dia akan kembali untuk Tiara. Inginnya sih segera. But that is just a wish…. Implementasinya? Tergantung cepatnya dia membereskan segala hal yang harus diurusnya itu… Dan inilah yang menimbulkan rasa was-was di hati Tiara. Bukannya dia tak percaya pada mas Alif, tapi sekuat apapun keinginan mas Alif untuk kembali, jika kondisi belum mengijinkan, harus bagaimana?

Makanya Tiara memilih untuk meninggalkan sepucuk email di inbox nya mas Alif besok. Sekedar untuk mengingatkan lelaki itu bahwa dirinya sangat mengharapkan mas Alif untuk kembali. Jika hanya ungkapan secara langsung, hampir setiap hari malah dia menyampaikan langsung, namun email tentu akan menimbulkan kesan yang lain.

Well, kayaknya aku ga perlu menuliskan panjang-panjang deh. Karena sebenarnya Tiara juga ga ingin tulisan yang panjang2 amat, karena komunikasinya dengan mas Alif cukup lancar. Pertemuanku tadi sore sebenarnya lebih pada kebutuhan Tiara untuk didengarkan isi hati nya daripada untuk menulis ini. Terbukti setelah curhat tadi, air muka Tiara jadi lebih riang. Aku menyayangi sahabatku ini setulus hatiku. Walau lama tak saling bertemu, namun sekali updating news, kami bisa langsung nyambung dan akrab kembali.

Tia, wishing you all the best, mate. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mewakili apa yang ingin engkau curahkan pada mas Alif ya…..





6 komentar:

  1. bagus_bagus....
    mmmh mba pernah baca cerpenya "asma nadia","helvitiana rosa",or "izzatul janah"....???
    novel2 seperti itu yg ak suka...novel n cerpen mereka bisa mnggugahkan kImanan kawla muda...agar bisa mmhami hidup secara islami.
    Qey........
    tapi ak suka Qo novel mba...karya mba mang OKE....sukses ya mba...!

    BalasHapus
  2. hm.... ceritanya menarik, how is the ending?

    BalasHapus
  3. Your blog is nice,

    Good effort so for in blogging.
    Thanks for the comment on my post.

    BalasHapus
  4. postingannya menarik untuk di baca

    BalasHapus