Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Kamis, 30 Juli 2009

Selingan Semusim I

Angka digital penunjuk waktu di BB Novita tepat berada di angka 4.30 pagi hari tatkala alarmnya menjerit nyaring. Dengan malas wanita muda itu menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuh, meraih smartphone dan dengan mata setengah terbuka menekan tulisan dismiss yang tertera di layar monitor. Seketika alarm itu bungkam, mengembalikan keheningan dan membiarkan wanita itu menarik kembali selimutnya, untuk melanjutkan sebuah kenikmatan yang dihasilkan oleh aktifitas yang bernama tidur. Namun alam fikir Novita kemudian terbuka lebar, seirama dengan aliran rasa dingin udara Berastagi yang menyergap leher dan menembus tubuhnya. Huft, dingin sekali! Diliriknya dua teman sekamarnya yang juga masih meringkuk dalam lelap. Daya ingatnya akan sesuatu membuatnya begitu bersemangat. Ayo, bangun! Bangun! Daki gunung kita…. Ayo..ayo! Teriaknya perlahan, mencoba menularkan semangat yang merambat di sekujur tubuhnya. Kedua teman sekamar itu menggeliat, membuka mata dan akhirnya juga bersemangat - beranjak dari selimut.


Tak terasa ini adalah hari kelima dan terakhir keberadaan kami sebagai peserta Program Pendidikan untuk Pekerja yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) Indonesia, di hotel Mickey Holiday, Brastagi. Keakraban yang telah terjalin diantara para peserta dan juga sang fasilitator benar-benar terasa, apalagi setelah acara nyanyi bareng hingga tengah malam yang begitu berkesan tadi malam. Ada rasa aneh yang menyelinap di dada. Yup, sebuah rasa sedih yang menggeliat, mengingat nanti siang mereka sudah harus kembali ke habitat masing-masing. Berpisah untuk (belum tentu) akan bersua kembali, mengingat mereka semua akan kembali tenggelam ke alam kesibukan masing-masing. Disingkirkannya rasa sedih yang telah berganti dengan sendirinya oleh sebuah rasa exciting yang teramat sangat, membayangkan sebentar lagi mereka akan mengakhiri kebersamaan mereka dengan acara penutup yang benar-benar diluar dugaan. Mendaki hingga ke puncak gunung Sibayak. Wow!!

Ide yang tercetus dari mulut Toni tadi malam benar-benar disambut antusias oleh semua peserta pelatihan, baik cewek maupun cowok. Terlebih Novita, yang memang telah cukup lama memendam keinginan untuk menaklukkan gunung Sibayak, yang oleh karena satu dan lain hal, membuat keinginan itu hanya terpendam tetap sebagai sebuah rasa ingin, tanpa perwujudan nyata. Makanya tak heran, dirinya menjadi begitu antusias menyambut usulan Tony, seantusias teman-teman lainnya.
Sesuai waktu yang telah ditentukan, semua peserta telah berkumpul dan siap untuk berangkat. Lengkap dengan nasi kotak yang telah disiapkan oleh pihak hotel dan disimpan rapi di dalam mobil yang telah dicarter untuk mengantarkan mereka ke kaki gunung Sibayak yang hanya akan memakan waktu lebih kurang lima belas menit perjalanan dari hotel.
Waktu telah menunjukkan angka lima dua puluh lima menit saat mereka menjejakkan kaki di kaki Sibayak, yang tinggi menjulang dipenuhi kabut abu-abu nan mengundang hasrat. Tak jauh dari apa yang digambarkan oleh Tony kemarin, bahwa pendakian kali ini tidaklah seperti pendakian gunung pada umumnya, dimana rute yang akan ditempuh sulit, penuh semak berduri dan rintangan lainnya. Gunung yang satu ini, karena sudah termasuk sebagai salah satu objek wisata, jalanan yang menuju ke puncaknya pun sudah dipermudah. Jalanan yang terhampar di depan mereka, ternyata sudah beraspal dan mudah ditempuh. Mereka pun menyusun barisan sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan, yang tentunya bermaksud agar mereka tidak tersesat nantinya. Berjalan santai sambil bercerita, tertawa dan menyanyi. Novita, Santi dan Sania, tetap beriringan. Pak Benny, Pak Jul dan Fajar (sang fasilitator) juga masih beriringan tepat di belakang mereka.
“Yuk kak kita jejeri bang Tony, disana kayaknya lebih asyik tuh, seru dan banyak humornya!” Bisik Sania menarik tangan Novita agar mempercepat langkah. Novita dan Santi menurut saja, karena memang tampaknya rombongan Tony lebih seru. Personilnya kocak, ada-ada saja obrolan dan banyolan yang membuat mereka tertawa sepanjang jalan. Dan benar saja, baru sebentar ketiganya bergabung dengan rombongan ini, rasa malas dan ngantuk yang hinggap di mereka kini telah berganti dengan tawa ceria. Banyolan-banyolan segar yang jauh dari kesan ‘jorok/vulgar’ selalu mampu mengocok perut. Ayu yang sudah sering mendaki gunung, menyarankan agar kami mengkonsumsi gula merah yang memang telah dibagi-bagikan tadi untuk menambah tenaga. Andi, yang badannya lumayan berat telah mulai menenggak air mineral dari botolnya, yang segera diingatkan Tony, agar jangan terlalu banyak, nanti malah akan menghambat langkah dan mempercepat rasa lelah.
“Kok aku ditinggal sih?” Bisikan halus yang langsung masuk ke telinga kanan Novita tentu saja membuat jantung wanita itu hampir terlepas dari tempatnya. Sama sekali tak disadarinya jika sang fasilitator yang tadinya ditinggalnya di belakang itu kini telah berada tepat di samping kanannya.
“Ih, kamu tuh ngagetin aja, bikin jantungku mau copot, tau ga sih?” Dicobanya menetralkan rasa yang bergetar di dada. Sial! Kenapa sih ada getar di dadanya setiap berdekatan dengan laki-laki yang satu ini, batinnya.
“Ah, masa’ segitu aja kaget sih? Habis kamu sih, pake kabur segala dariku, ga suka ya barengan aku?”
“Bukan begitu pak… suka banget malah, cuma malu dong kalo kentara sekali ingin barengan dengan kamu. Pak Benny itu kenal baik dengan suamiku. Jadi segan dong aku menjejeri kamu terus. Lain halnya jika kamu yang njejerin aku toh?”
“Iya juga sih. Lagian aku juga rada males bareng mereka, gerakannya lamban. Enakan barengan kamu dong. Kapan lagi? Ntar siang kita udah pada pulang ke rumah masing-masing. Entah kapan bisa ketemu lagi ya? Sedih rasanya pisah dari kamu.” Kalimat itu mengalir lancar, ditutup dengan nada sendu oleh sang fasilitator, yang sempat membuat beberapa bunga hendak mengembang di hati Novita.
“Iya juga, ntar siang kita akan berpisah. Dan kamu pasti akan lupa denganku begitu sampai Jakarta.!” Ucap Novita perlahan. Takut di dengar oleh Santi dan Sania yang masih setia berjalan disamping kirinya.
“Ngga dong, aku orangnya ga gampangan lupa kok, bener, apalagi sama cewek kayak kamu. Sayang dong dilupain..” Fajar tersenyum sambil menatap Novita dari samping. Cantik sekali wanita ini, batinnya.
“Cewek seperti aku? Maksud kamu? Murahan gitu? Suka selingkuh?” Sambar Novita sedikit sensi, teringat akan ajakan (dalam canda) Fajar tadi malam. Ajakan untuk berselingkuh, walau dalam canda tawa dan tidak serius, tetap saja membuat dirinya tersinggung, yang membutuhkan waktu dan kalimat permohonan maaf panjang lebar dari Fajar tadi malam, untuk mengembalikan damainya suasana.
“Ih, kamu tuh kok sensi banget sih… aku sama sekali ga mikir kesana lho! Suer!” Fajar mengangkat tangan kanannya, beserta dua jari melambangkan peace.
“Ayo dong, jangan ngambek gitu ah! Kayak istriku aja deh, dikit-dikit ngambek.. senyum dong…” bujuknya lagi, dengan suara setengah berbisik. Santi dan Sania secara perlahan mempercepat langkah, bergabung dengan gerombolan Tony yang sedikit telah lebih ke depan.
“Emang Shenny suka ngambek ya?” Sebuah senyum tersungging manis di bibir Novita.
“Iya, banget, tapi aku suka sih. Namanya juga istri sendiri, dan aku sayang banget sama dia. Tau ga Vi, you looks like her in many way lho! Cuma hidungmu lebih mancung dari Shenny. Tapi Shenny lebih tinggian dikit dan putihan dari kamu sih. Tapi kalian sama-sama cantik. Suer! Tanya deh pak Benny, beliau kenal tuh sama Shenny.”
“Ih, ngapain juga tanya pak Benny, pasti kamu punya fotonya, sini aku mau lihat…” bujuk Novita penasaran, yang malah disambut derai tawa Fajar.
“Hehe, penasaran ya?” Laki-laki itupun kemudian mengeluarkan HP nya dari saku baju, lalu menunjukkan beberapa foto bergambar seorang wanita cantik, yang memang memiliki kemiripan dengannya. Tapi dia sendiri tak tau persis apa yang membuat mereka itu mirip.
“Mirip kan?” Fajar terlihat bangga seraya melanjutkan, “tapi kayaknya kamu bingung ya apanya yang mirip?”
“Iya… mirip, tapi apanya ya?” Fajar hanya tertawa menanggapi pertanyaan Novita. Sementara itu, teman-teman lain telah beberapa langkah lebih jauh ke depan, seperti sengaja memberikan kesempatan pada keduanya untuk bercengkerama.
“Kamu belum laper?” Tanya Fajar penuh perhatian, disambut oleh gelengan kepala oleh Novita. Langkahnya terasa begitu ringan dengan keberadaan Fajar disampingnya.
“Belum, kebetulan sebelum berangkat tadi aku udah sempat makan roti dan sebotol susu. Jadi masih kenyang deh. Bapak belum laper?” Balasnya seraya menatap sekilas ke arah Fajar.
“Ih, kamu itu ya, udah dibilang jangan panggil pak… apa aku setua itu sampai teruus aja kamu panggil pak?”
Novita tergelak mendengar intonasi Fajar.
“Iya deh mas Fajar…. Mas udah laper belum? Ayo makan dulu kalo mas udah laper!” ucapnya kemudian, berdoa agar Fajar merasa lapar dan mau berhenti untuk makan, sehingga dirinya akan berkesempatan untuk istirahat. Napasnya mulai sedikit memburu seriring dengan mulai menanjak nya jalanan yang kini mereka tempuh.
“Aku buru-buru tadi, begitu kamu bangunkan, aku langsung mandi, sholat dan langsung deh nemui kamu. Kok kamu lama sih ngebel aku tadi. Jadinya ga sempat sarapan deh.”
“Sorry deh mas, aku sendiri juga masih ngantuk berat, bangun, mandi, sholat, bangunin Sania dan Santi, baru teringat kamu… ya udah, yuk mas sarapan dulu biar terisi perutnya..”. Harapnya.
“Hehe… kamu udah capek ya? makanya bujuk aku untuk sarapankan? Ayo ngaku aja!” Tak terduga tangan kanan Fajar langsung menjawil hidungnya yang mancung. Tak urung gerakan reflex itu menimbulkan getaran halus di hati Novita. Wanita itu sedikit jengah.
“Ya ndak sih, masak baru sebentar jalan udah capek… gini-gini aku pernah ikut pramuka lho. Yuk, biar kamu sarapan dulu, ntar kamu sakit perut lho!” bujuknya sambil tetap menyanggah ‘tuduhan’ Fajar. Dihentikannya langkah, yang sebenarnya telah mulai terasa lelah. Fajar tersenyum simpul dan ikut berhenti. Lelaki itu membalikkan punggungnya ke arah Novita dan meminta wanita itu membantunya mengambil nasi kotak dari dalam backpack yang tersampir di punggungnya.
“Yuk, bantuin dong sarapannya, ga habis nih sendirian Vi..” Fajar mulai membuka nasi bungkusnya, dan menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya.
“Ga deh mas, aku masih kenyang, ntar malah ga bisa naik karena kepenuhan perutnya!”
“Ayo, satu suap ajaaa!” bujuknya, dan tanpa canggung menyuapkan sesendok nasi ke mulut Novita. Wanita itu semakin jengah, tak enak untuk menolak, tapi tak urung hatinya semakin berdegup gempita. Dibukanya mulutnya, menerima suapan dan tatapan mesra Fajar. Senyum manis dan tatapan itu begitu membahagiakan, sukses menambah kencang aliran darah yang dipompakan oleh jantungnya, mengaliri hangat seluruh tubuhnya. Wajahnya bersemu merah, menampilkan pesona tersendiri bagi Fajar yang tak bosan menatapnya.
Wanita itu mulai menolak suapan ketiga, seiring dengan rasa lain yang kian mengalir di tubuhnya Sebuah rasa yang jika dibiarkan, tentu akan berefek tidak baik bagi kesetiaannya terhadap sang suami tercinta. Fajar tersenyum, memaklumi dan melanjutkan menyuapkan suap demi suap nasi ke mulutnya sendiri. Keduanya duduk santai di pinggir jalanan yang berbatu, sementara rombongan Tony semakin jauh meninggalkan mereka.
Novita duduk mendekap kedua lututnya, mengais-ngais rerumputan dengan patahan kayu yang diambilnya tak jauh dari tempat mereka duduk. Risih rasa hatinya menyadari mata Fajar terus menerus memperhatikannya. Hatinya mulai ge-er, dan ini tentu mulai berbahaya. Dia kuatir hati yang berbunga ini akan luruh sepeninggal Fajar nanti, menyisakan kerinduan tak berujung, jika diberi kesempatan terbuka seperti ini. Dibuangnya pandangan ke sekeliling, bersikap seolah sedang mengagumi alam ciptaan Yang Maha Kuasa.

10 komentar:

  1. Wow, it is cool...

    Titi tunggu kellanjutannya mbak...

    BalasHapus
  2. @ Titi:
    Thx for visiting ya Ti. Ok, lanjutannya akan segera menyusul. thx.

    BalasHapus
  3. sebuah cerita yang dikemas dengan sangat indah dan
    buat kita seolah mengalami sendiri kejadianya... ....keren..
    jadi teringat ...........ditunggu cerita lainya ya......

    salam...DEN TADEK

    BalasHapus
    Balasan
    1. trims atas komentar dan kunjungannya sob! :) silahkan lanjut ke bagian kedua...

      Hapus
  4. Balasan
    1. silahkan lanjut Sep, tapi hati2 tergelincir ya Sep! :)

      Hapus
  5. Hemmm..., bibit2 perselingkuhan mulai muncul tuh.

    BTW, aku masih risih bicara soal sex dg lawan jenis, bahkan dg sesama jenis saja aku lebih sering menjadi pendengar aja kalau mereka bicara itu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba.... sebuah bibit yang lebih cocok jika kita sebut virus.... menyebar dengan cepat dan mematikan!

      kalo aku sih nyantai2 aja mba membicarakan soal topik yang satu itu. Sebagai manusia dewasa, juga wanita dewasa, keterbukaan tentang pengetahuan akan hal yang satu ini mah merupakan suatu keharusan. Kalo ga gimana kita mau belajar.... hehe...
      kebetulan banyak teman yang begitu terbuka membicarakannya, yang tentu saja dalam koridor2 penuh sopan santun dan tata krama lah... ga asal ngomong. :)
      Mau berdiskusi denganku? wkwkwk

      Hapus
  6. Wah seruuuuuuu, wkwkwk.
    Itu Fajarnya tukang gombal amat yakk x_x

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehhe.... baiknya kita apakan nih tukang gombal seperti ini ya Un?

      Hapus