Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Selasa, 09 Juni 2009

Release me, please bag I

Banda Aceh, 24 November 2006

Untuk yang tersayang
Suamiku
Di tempat

Perjalanan panjang perkawinan kita, yang penuh duka dan suka, tentu tak akan mudah dan tak perlu dilupakan. Kesedihan, kesenangan, kebahagiaan, silih berganti dan bahkan secara bersamaan mengisi hari-hari kita sejak 25 Oktober 1995.
Belasan tahun kita mampu menerjang ombak dan menerpa badai kehidupan tanpa mengenal kata ampun dan menyerah.


Restu orang tuaku yang tak kunjung datang, sama sekali tak mematahkan semangat kita untuk terus mengayuh sampan kehidupan yang telah bertambah seorang putri jelita nan berhati mulia.
Kala kebahagiaan sejati menghampiri , dengan terbukanya pintu maaf dari ayah dan ibuku, ternyata cobaan hidup kita tak henti menerpa. Ujian lain datang menghadang, dan nampaknya kita tak mampu bertahan.
Apakah karena daya tahan kita yang semakin melemah seiring dengan bertambahnya hitungan waktu?
Atau kah karena tingkat kedewasaan kita yang tak lagi berkembang tapi malah berbalik arah?Sehingga kita tak mampu bersikap bijak untuk mempertahankan mahligai indah pernikahan ini.
Tak perlu kita saling menyalahkan, karena kita berdua jelas memiliki kesalahan. Dan tak perlu kita saling mengungkit kesalahan itu karena kita berdua jelas punya kekurangan yang tak mampu kita perbaiki.

Suamiku,
Maafkan aku yang tak mampu lagi mentolerir segala tingkah kanak-kanakmu yang semakin menjadi. Juga ketidakmampuanku untuk terus membuka hati bagi segala sikap dan tingkahmu yang tidak pernah menjadi dewasa (jadikan ini pelajaran dalam merajut hari-harimu kelak bersama pendampingmu yang baru).
Maafkan aq karena tak mampu menahan langkah kakiku mengajukan kasus kita ke pengadilan.
Aq ingin mengakhiri semua ini secara baik-baik dan sah , karena bagaimanapun, dulu....kita memulainya secara sah dan baik-baik (walau tidak mendapat restu orang tuaku).
Maafkan aq jika bertindak sepihak, karena bernegosiasi denganmu juga ibarat memancing di air keruh. Kekalapanmu, ancamanmu (untuk membunuhku dan mencelakaiku) sudah tak dapat lagi aq tolerir. Aq bukan pengecut, ancamanmu tak mampu lagi menyurutkan niat ku yang kian membatu. Hubungan kita harus segera diakhiri tanpa kompromi, karena berkompromi dengan mu sama dengan bersepakat dengan pengkhianat. The lesson learnt I can take from our marriage hanyalah bahwa tak satupun janjimu yang bisa dipegang. Sungguh menyedihkan, dan maafkan jika kalimat ini terasa pedas. Tapi itulah kenyataan yang ada dan semoga engkau bisa menghighlight nya sebagai the point to be improved.
Suamiku,
Tak perlu berpanjang kata,dirimu kuampuni, tapi maaf tak mampu kubujuk hatiku untuk kembali padamu.
Sampai bertemu di Pengadilan Agama Syariah.

Wassalam,

Istrimu.

Bersambung ke sini

2 komentar:

  1. Nice blog.Keep it uo.I think you have a lot of experiance in blogging.Happy blogging.

    BalasHapus
  2. surat yang sangat indah, untaian kata yang tegas tapi sangat puitis. keren banget fit... keep writing. keren banget, beneran.

    alvian

    BalasHapus