Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Kamis, 02 Juli 2009

Release me, please bag II

Firman terhenyak membaca untaian-untaian kalimat yang berbaris rapi di halaman emailnya (isi email : baca Episode RELEASE ME, PLEASE I

Nina, istrinya sudah sangat serius. Belasan tahun mengenalnya, cukup memberinya input bahwa keputusan ini sudah bulat. Tak mungkin di tawar-tawar lagi. Nina akan maju ke pengadilan untuk berusaha memisahkan diri darinya. Menggugat cerai. Oh Tuhan, sejauh itu langkah yang akan ditempuh istrinya.

Artinya sejauh itu sudah kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga istrinya yang selalu mampu berpikir matang itu sampai pada keputusan menggugat cerai. Tidak Tuhan, ini tak boleh dibiarkan berlanjut. Beri hamba kesempatan untuk menebus semua ini, untuk memperbaiki semua ini. Hamba sangat mencintai istri hamba dan belum siap untuk kehilangannya. Batinnya.

Menghabiskan separuh malam menjelang pagi untuk memeras otak, akhirnya Firman sampai pada kesimpulan, hanya ada satu cara menyelamatkan perkawinan ini, agar Nina mau kembali padanya. Ya, hanya dengan membawa Kansa bersamanya, satu-satunya cara agar Nina kembali pulang. Firman yakin, apapun akan dilakukan Nina demi mendapatkan kembali Kansa. Putri mereka satu-satunya.
Dan tanpa banyak spasi, Firman mewujudkan niatnya itu. Jumat sore sepulang kerja, berita paling menyebalkan dan menguatirkan diterima Nina dari kakak iparnya, bahwa Firman telah tiba di Jakarta, bersiap untuk membawa Kansa ke Banda Aceh, untuk tinggal bersamanya. Kakak iparnya, yang juga cukup paham akan kenekadan sang adik, merasa harus memberitahu Nina tentang rencana Firman ini, karena bagaimanapun juga, adalah Nina yang selama ini (setidaknya sejak Firman menganggur) membiayai hidup Kansa. Dan berita ini mau tak mau membuat Nina harus berburu tiket, yang jelas tidaklah mudah. Mendapatkan tiket murah di hari Sabtu dari Banda Aceh – Jakarta adalah impian semu. Mustahil, Kalaupun ada, harganya telah membumbung tinggi. Dan demi buah hatinya, Nina harus rela membiarkan dompetnya terkoyak. Namun penderitaannya tak hanya sampai disitu, karena perang besar antara dirinya dan Firman pecah begitu keduanya bertemu, berembug dan bermusyawarah di ruang keluarga kakak iparnya yang notebenenya adalah kakak kandung Firman. Ditengah kerumunan keluarga besar Firman, dirinya harus bersitegang urat leher dengan suami yang telah belasan tahun didampinginya. Yang hingga detik ini tidak juga berubah sedikitpun tingkat kedewasaannya. Perang mulut itu berhasil menghenyakkan kedua pasang kakak iparnya, yang berusaha menengahi pertengkaran hebat itu. Yang membuat Nina dengan tegas mengatakan ingin bercerai dari Firman, tegas dan tak bisa ditolerir lagi, di depan kedua pasang kakak iparnya itu. Yang segera keduanya menanggapi agar jangan sekali-sekali Nina mengeluarkan ucapan seperti itu, ga baik, harus dipikirkan matang-matang. Yang dijawab lagi olehnya bahwa hal ini sudah dipikirkan bahkan sudah lebih dari matang. Tak ada jalan lain, dia ingin bercerai dari Firman. Siapa sih yang ga sayang sama anak? Tapi itu bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri kan? Banyak cara menyayangi anak kok…. Dan kalimat ini bak boomerang baginya karena langsung disambar penuh kemenangan oleh Firman. Menunjukkan pada kakak2nya bahwa mereka bisa lihat sendiri kan? Siapa sebenarnya yang ga sayang anak? Pertengkaran itu akan semakin dasyat jika Kansa tidak berteriak, menangis menengahi pertengkaran orang tuanya. Putri kecil yang masih duduk di kelas 4 SD itu menangis pilu…
Papa mama yang selalu dirindukannya itu, kini bertengkar… berperang…, apa yang akan terjadi Tuhan… Akal kanak-kanak (masa kini) nya telah mampu mencerna ada yang tidak beres dengan hubungan kedua orang tuanya. Apalagi tadi malam papanya membujuknya agar Kansa bersedia ikut papa ke Banda Aceh. Agar mama mau pulang lagi ke rumah. Menurut papa, mama sudah sebulan pergi dari rumah. Mama ga sayang lagi sama papa, padahal papa sayang banget sama mama. Jadi kalo Kansa sayang sama papa mama, Kansa harus mau libur sekolah dulu, dan ikut papa ke Banda Aceh. Hanya dengan kedatangan Kansa, mama pasti akan kembali.
Amunisi yang diberikan Firman cukup membuat putri kecil ini tak punya pilihan lain. Disatu pihak, dia yakin mamanya tak pa-apa. Tatapan mata mama, ucapan mama, meyakinkannya bahwa mama ga pa2. Mama masih sayang sama Kansa. Mama sedang serius cari uang, untuk Kansa dan Papa…, jadi Kansa ga boleh ganggu mama. Kansa sayang banget sama mama.
Tangisan Kansa membuat semua orang dewasa itu terhenyak. Nina memeluk Kansa, membelai rambutnya penuh kasih. Hatinya sungguh terenyuh. Ibu mana sih yang rela tinggal jauh dari putri semata wayangnya ini? Tak ada? Bahkan dia yakin bahwa seorang ibu tetap tak ingin berpisah dari salah satu anak, walau dia punya selusin anak sekalipun. Tak ada ibu yang rela memberikan/menitipkan anaknya pada orang lain, kecuali terpaksa. Jika saja ladang pencahariannya di Jakarta, tentu dia tak akan berpisah dan menitipkan Kansa pada kakak iparnya. Tapi pekerjaan yang menjanjikan itu adanya di Aceh…. Dia mau tak mau harus meninggalkan Kansa untuk sementara waktu. Planningnya cukup kuat waktu itu. Dia dan Firman akan merantau sementara ke Aceh, menabung dan pada waktunya akan kembali ke Jakarta, berkumpul kembali dengan Kansa, sang putri semata wayang. Namun ditengah perjalanan? Siapa sangka jika hal ini harus terjadi? Siapa sangka jika kemudian Firman berubah menjadi seorang suami yang semakin seenaknya? Semakin ringan tangan? Semakin tidak bisa dimengerti?
Lelah dirinya menghadapi semua ini…., yang paling membuat hatinya terluka adalah sikap Firman yang begitu sepele terhadap kedua orang tuanya. Padahal siapapun tahu, belasan tahun dia menanti terbukanya pintu hati kedua orang tua itu, yang telah mencoret dirinya dari keanggotaan keluarga. Yang telah mengeluarkan dirinya dari nama keluarga. Cukup lama dia berdoa agar suatu saat dia diijinkan untuk memakai kembali nama Sulaiman dibelakang namanya. Pertanda dia juga anak dari ayahnya. Namun saat pintu itu terbuka, itupun oleh bantuan tsunami, Firman malah bertingkah seenaknya. Pintu maaf yang telah terbuka itu, diperlakukan seenaknya saja oleh suaminya. Baru di idul fithri kedua, setelah pintu maaf itu terbuka, Firman, hanya karena ngambek pada istrinya, tega tak bersilaturrahmi ke rumah mertuanya. Boro-boro sungkem, mengunjungi rumah mertuanya itupun tidak. Nina terpaksa merangkai berbagai alasan tentang ketidakhadiran Firman berlebaran bersama keluarganya. Namun, lagi, tanpa pikir panjang, saat alasan logis telah dikemukakan, bahwa Firman tahun ini terpaksa berlebaran di Jakarta, karena sedang bertugas disana, eh malah sang suami ini seenaknya saja muncul pada hari menjelang shalat id akan dilaksanakan. Itupun bukan secara baik-baik. Kemunculannya yang hanya via telephone, meminta Nina menjemputnya di rumah mereka di Lampaseh. Yang ternyata setelah Nina dan Kansa menjemputnya sampai membatalkan shalat id nya, Firman malah menolak bersilaturrahmi ke rumah mertuanya. Hingga akhirnya Nina dan Kansa kembali dengan tangan kosong. Gagal mengajak Firman bersamanya. Terpaksa, lagi dan lagi, Nina harus menganyam kalimat penjelasan logis, demi menyembunyikan persoalan yang sedang mengacaukan keharmonisan rumah tangganya. Memang sih, sudah terlalu sering baginya mengurut dada, melapangkan hati atas setiap polah sang suami yang begitu sering merajuk. Ngambek hanya oleh persoalan sepele. Dan kali ini? Persoalannya juga sangatlah sederhana. Jika itu memang bisa dikatakan sepele. Seingatnya, Firman marah karena Nina melarangnya ikutan ke Jakarta untuk menjemput Kansa, berhari raya di Aceh, bersama mereka. Namun larangan ini membuat Firman tersinggung dan curiga. Firman mencurigainya sedang berselingkuh? Berselingkuh?? Yang benar saja….Jelas saja dirinya merasa sangat marah dan tersinggung dengan tuduhan itu. Pontang panting dia bekerja, mengumpulkan uang untuk mereka, malah dituduh seperti itu. Dulu, disaat mereka hidup sekarat saja, dia tak berselingkuh, apalagi sekarang? Disaat mereka sudah mulai bisa bernapas lega……
Tuduhan itu benar-benar telah membuat Nina tersinggung. Jika dulu dia yang selalu akan mengalah, mencoba berbaikan lebih dulu dengan Firman, kali ini hatinya memaksanya bertahan. Nina sangat tersinggung. Hingga perang dingin melanda lebih dari 2 minggu sejak kepulangannya dari menjemput Kansa. Bahkan Firman juga bersikap dingin terhadap Kansa. Hingga kemudian, suatu sore di H minus 3 idul fithri, sebuah sms masuk ke hapenya. Dari Firman, singkat dan seadanya. “Kunci pintu di bawah keset kaki”.
Dicobanya menelephone langsung nomor suaminya, namun telah tidak aktif. Benar saja, rumah mereka sudah tak berpenghuni. Kunci pintu di bawah keset kaki. Dua hari mereka bertahan di rumah itu, namun Firman tak juga kembali hingga Nina memutuskan untuk membawa Kansa berhari raya di rumah ibunya. Dan adalah sepantasnya seorang anak beridul fithri di rumah orang tuanya. Maka disanalah dirinya dan Kansa. Walau dua buah tiket telah dipersiapkannya untuk berangkat ke Jakarta di hari ketiga idul fithri. Ingin benar dia mengadukan tingkah Firman pada kakak-kakak iparnya disana. Berharap mereka masih mampu menasehati sikap seenak hati Firman ini.
Perjalanan hidup selanjutnya tidak lagi semanis dulu. Prahara semakin membahana. Keduanya bertahan dalam ego masing-masing. Nina bertahan karena sakit hatinya semakin menjadi-jadi. Apalagi ternyata kepergian Firman dengan hanya meninggalkan sebuah sms itu sekaligus dengan membawa kartu ATM nya yang diambil Firman diam-diam dari dompetnya entah kapan. Hingga kemudian Nina terpaksa meminjam uang adiknya agar dapat berhari raya. Sungguh keterlaluan. Benar-benar tega dan tidak bertanggung jawab. Kemarahannya terhadap Firman kian menggunung. Respeknya hilang sama sekali.
Firman bertahan pada sikapnya, yakin Nina tak lama lagi akan melunak. Seperti biasanya. Dia lupa bahwa manusia, siapapun dia, punya batas kesabaran. Dimana batasan itu hanyalah seperti untaian benang yang teramat halus dan tipis.
Dan, sebulan setelah idul fithri, saat Nina tak juga kembali ke rumah mereka, tapi malah pindah ke mess yang disediakan kantornya, Firman masih juga ego dan congkak. Berkeras dengan tuduhannya bahwa istrinya telah berselingkuh, makanya memutuskan untuk pindah dan tinggal jauh darinya. Tak disadarinya, bahwa tingkah dan ucapannya adalah andil penghancur rumah tangganya yang telah mereka bangun dengan susah payah. Dengan pengorbanan Nina yang rela dikucilkan ayah ibu dan adik2nya selama belasan tahun.
Kini, saat lembaran calendar berganti, menjelang bulan kedua, Nina semakin jauh, barulah hatinya was-was dan penuh tanya. Benarkah dia telah keterlaluan? Seperti biasanya, menyadari dirinya telah salah jalan, tanpa canggung didatanginya istrinya, meminta maaf seadanya, memintanya untuk kembali. Bahkan dengan dalil-dalil penyadaran, bahwa seorang istri adalah berdosa besar telah meninggalkan rumah tanpa ijin suaminya. Dan Nina tidak gentar akan itu. Tak ada lagi kata dan sikap yang dapat mengubah keputusannya untuk tinggal terpisah dari suaminya. Bulan berganti namun prahara ini tak lagi mereda. Nina telah kokoh pada keputusannya. Tak ada gunanya lagi member peluang pada orang yang sama, yang tak pernah serius mempergunakan peluang itu. Firman tak pernah berubah. Keadaan dan kejadian ini telah pernah terjadi 2 tahun sebelumnya. Malah lebih parah lagi. Hampir benar-benar berpisah, jika saja kedua kakak-kakak iparnya tak mampu membuka matanya. Betapa penting ke-bersatu-an, keutuhan sebuah rumah tangga bagi seorang anak. Kansa adalah pertimbangan utamanya waktu itu. Maka diberinya kesempatan bagi sang suami, yang telah memperlakukannya dengan kasar dan ringan tangan. Namun? Segala sesuatu ada batasnya. Adalah suatu kebodohan jika kita sempat jatuh di lubang yang sama. Dan dia, Nina, tak ingin itu. Dia harus menjaga diri agar tidak terjatuh. Setengah tahun hidup terpisah dari Firman, walau terkadang dia masih mau bersikap baik, mau mentransfer sejumlah dana, mengunjungi (sungguh mengherankan) terhadap Firman, namun dia sudah merasa sangat nyaman dengan kesendiriannya. Tumpuan perhatian dan motivasi hidupnya hanyalah Kansa. Untuk Kansalah dirinya bertahan. Dia sudah bertekad untuk tidak akan pernah kembali pada Firman, walau gugatan cerai ke pengadilan belum dilayangkannya. Bujukan Firman untuk kembali ke rumah, jelas tidak lagi punya pengaruh apa-apa baginya. Cukup sudah dia menjadi anak durhaka, cukup sudah dia membuat dirinya terlunta-lunta, cukup sudah dia menjadi budak suaminya, yang sebentar-sebentar ngambek tak jelas. Kini kebebasan yang direguk benar-benar angin sorga yang membuatnya bernapas lega. Hingga kemudian, keputusan bulat itu hadir, membuatnya menghubungi seorang pengacara wanita, agar dapat membantunya menggugat cerai. Nina sudah lelah menyelami hatinya sendiri, mencoba menemukan gunung cinta yang dulu kokoh berdiri tegak untuk Firman. Yang kini mencair tanpa bekas. Sirna. Maka, tak ada pilihan lain, cerai adalah solusinya. Jika dulu dia putuskan untuk kabur bersama Firman dan meninggalkan keluarga besarnya tanpa pikir panjang, maka kini, keputusan ini diambilnya setelah berpikir dengan cukup cermat dan dalam kesadaran penuh. Tak ada keraguan lagi. Cerai.
Bagi Firman, tak ada jalan lain untuk menyelamatkan rumah tangga ini selain membawa Kansa bersamanya. Keyakinannya bahwa Nina akan kembali jika Kansa sudah bersamanya teramat kuat. Nina tak akan tega Kansa hanya tinggal berdua papanya. Nina tak mau Kansa terlantar. Dan untuk tujuan itulah, kini pertengkaran besar antara dia dan Nina tak lagi dapat dibendung. Firman lupa untuk mengontrol dirinya, untuk tidak akan menambah kemarahan Nina, egonya selalu saja berhasil memonopoli setiap sikap dan tindakannya. Lagi dan lagi, dia membuat Nina terluka. Sepasang mata cantik itu menatapnya penuh dendam. Terluka. Apalagi saat Firman dengan lancang mengatakan bahwa sampai matipun dia tak akan menceraikan Nina, diakhiri dengan umpatan yang mengatakan Nina adalah perempuan kotor kurang ajar yang tak tahu diri. Nina sungguh terluka, dan kakak2 iparnya sungguh merasa geram dengan tingkah konyol Firman yang tak pernah berubah. Kansa menangis di pelukan ibunya.
Tarikan Firman, yang merebut Kansa, membuat anak itu kian menangis.
“Kansa…, ayo siapkan baju-baju Kansa, kita berangkat ke Aceh besok pagi!” perintahnya. Kansa kian menangis. Tatap matanya mengarah ke Nina, mencari perlindungan. Terenyuh hatinya. Semakin benci dia pada Firman.
Kansa berusaha melepaskan diri, mencoba mendekati ibunya, namun Firman kembali menarik putrinya dan malah membawanya ke kamar.
“Ayo kita kemasin pakaian Kansa!”
Nina masih terdiam, juga yang lainnya. Membisu.. Ini bukan sinetron, tapi kenyataan yang terpampang nyata di depan mata. Dan objeknya adalah orang-orang terkasih. Tuhan….. selamatkan keluarga ini…..
Nina melangkah, berhenti di depan pintu kamar Kansa, menyaksikan kesibukan suaminya yang mengemasi pakaian Kansa. Sementara si anak, hanya duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong.
“Kamu tuh ga ada otak ya mas? Lihat Kansa, kasian dia mas…. Jangan libatkan dia dalam urusan kita…!” Tinggi nada suara Nina tak menghentikan aktifitas Firman. Menyaksikan ibunya mendekat, Kansa langsung menghambur ke pelukannya.
“Aq bukan seperti kamu, aq sayang anakku, udah cukup Kansa tinggal sama orang lain, udah cukup dia menderita…. Kalo kamu ga sanggup menjaga dan mengurusnya, biar aku yang urus. Aku ini bapaknya..!” Tinggi dan kasar nada suara Firman.
“Apa? Jadi mbak Arie mas anggap orang lain? Kakak kandungmu yang telah menjaga Kansa dengan penuh kasih saying mas anggap orang lain? Ga qualified jaga Kansa, begitu?”
“Bukan begitu maksudku, tapi udah saatnya Kansa tinggal dengan orang tuanya, setidaknya denganku kalo kamu memang ga mau!”
“Aku bukannya ga mau, siapa sih yang ga saying sama anaknya? Tapi aku bukan sedang main-main, aku sedang cari uang, yang selama ini ga sanggup kamu berikan!”
“O, jadi kamu nuding aku? Aku bukan suami bertanggung jawab? Gitu? Apa selama aku bekerja aku hamburkan uangku untuk orang lain? Bukannya semua kuberikan padamu?”
Perang mulut itu terus berlanjut dan makin memanas jika Arie, kakaknya Firman tidak segera masuk dan menengahi.
Firman tetap pada keputusannya, walau Kansa berkeras ingin tetap tinggal di medan dulu, ga ingin ikut papanya. Nina tak berdaya melunakkan ke-keraskepala-an Firman yang semakin pongah. Dia yakin sekali akan kebenaran langkahnya membawa Kansa kali ini. Yakin sekali dia bahwa Nina akan bertekuk lutut, kembali dan meminta maaf padanya. Dan saat itu terjadi, dia akan mengajukan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh Nina jika memang dia ingin kembali bersama mereka (dirinya dan Kansa). Huh, tunggu saja.
Nina tak punya pilihan lain, dengan hati teriris, siang itu juga dia booking tiket pesawat untuk kembali ke Banda. Apalagi yang bisa dia lakukan? Hatinya sedih, teramat sangat. Tapi dia tak akan menyerah dan memenangkan keinginan Firman. Sekuat tenaga dia akan berusaha untuk membiarkan saja dulu Kansa tinggal bersama ayahnya (jika jadi), biar Firman tau bagaimana rasanya mengasuh anak.
Kansa menangis pilu saat Nina harus berangkat. Batin kecilnya mengisyaratkan perseteruan orang tuanya akan semakin panjang. Dan sudah terbayang di depan mata betapa akan menderitanya dia hari-hari mendatang, harus tinggal bersama papanya yang pasti akan membuatnya terlantar. Papa kan ga biasa ngurus anak-anak?
Tiada habis air mata Nina menangisi perpisahannya dengan Kansa. Tak lelah pula batinnya terdera pikiran suram kehilangan buah hati yang entah bagaimana nasibnya ditangan sang papa. Dia paham betul kenekadan dan kecuekan suaminya itu. Tega-taganya dia membawa Kansa yang sedang dalam masa belajar, dan hampir ujian pula. Tak dipikirkannya resiko ketinggalan pelajaran bagi Kansa akibat tindakannya ini.
Dua minggu sudah berlalu sejak Kansa benar-benar dibawa Firman ke Banda. Dan dua minggu sudah ditahan hatinya untuk berkeras tak akan menjumpai Kansa apalagi Firman. Sering hati kecilnya ingin mengalah dan bertekuk lutut, namun sisi hati lainnya mengingatkannya untuk tidak pernah membuat Firman menang dan besar kepala oleh sikapnya ini. Yaa… dia harus bertahan. Tapi bagaimana nasib putri semata wayangnya ini?
Tak tahan hatinya oleh kepedihan ini, hingga akhirnya wanita cantik itu menangis tersedu di balik dinding pemisah meja kerjanya dan atasannya. Beruntung hanya sekretaris bosnya yang sedang di dalam ruangan sementara sang bos sedang meeting dengan koleganya di ruang meeting.
Wilda, sang sekretaris, paham benar situasi yang sedang dihadapi koleganya ini, bahkan juga beban pikirannya ikut terkuras oleh kasus yang sedang dihadapi sang sahabat ini. Dibujuknya Nina untuk kuat dan tabah, sambil disabarkan agar dapat berpikir tenang demi mencari solusi permasalahan ini. Nada khas panggilan masuk nokia entah ringtone nomor berapa berbunyi nyaring di handphone Nina. Sigap wanita itu membuka flip hapenya dan melihat sebuah nomor tak dikenal is calling. Dijawabnya panggilan yang ternyata cukup singkat itu. “Ma, telp kesini ya.”
Oh Tuhan, itu suara Kansa. Secepat kilat diredialnya nomor itu dan segera Kansa berbisik dari seberang.
“Ma, Kansa kangen mama. Kansa mau sama mama.”
“Kansa dimana nak? Biar mama jemput..” Tentu saja bocah itu tak akan tau persis dimana dirinya sedang berada.
“Oke, sekarang Kansa tanya alamat lengkap sama teman main Kansa disitu, kirim alamatnya kesini ya, biar mama segera jemput.”
Putri cerdasnya bergerak cepat dan smart. Sekejap kemudian Nina sudah menerima alamat yang harus dituju.
“Ok, mama segera kesana, sekarang Kansa pura-pura asyik bermain dulu ya nak, nanti kalo Kansa liat mobil Innova hitam mendekat, Kansa lari ke jalan pelan-pelan, pura-pura mau ambil apa gitu di luar pagar, ok? Nanti segera masuk mobil. Paham saying?”
Sopir bosnya dan Wilda langsung bersedia bekerjasama. Maka tak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di TKP. Kansa sesuai arahan, telah cukup berperan aktif. Gadis kecil itu berlari mendekat begitu melihat sebuah kijang innova hitam menuju kea rah rumah dimana dirinya sedang berada.
Adegan itu benar-benar seperti di dalam sinetron. Mengharukan. Nina tak sabar membuka pintu mobil begitu Kansa telah tepat menjejeri pintu tengah mobil itu. Dan tak dilepasnya lagi putrinya ketika gadis manis itu telah berada di dalam mobil. Keduanya berpelukan, penuh haru, rindu, sedih dan kangen. Bahkan Romy dan Wilda jadi ikut meneteskan air mata.
Satu persoalan setidaknya sudah teratasi. Kansa sudah di tangan mamanya. Namun kelegaan itu tak bertahan lebih dari 15 menit. Karena menit berikutnya kegaduhan terjadi di ruangan bosnya Nina. Firman, dengan nekad mendobrak masuk. Melewati pos penjagaan karena dia mengaku sebagai suami Nina dan perlu untuk mengambil sesuatu dari Nina, jadi dari pos keamanan dia lepas dan dapat akses menuju ruangan Nina. Kegaduhan itu tentu saja mengundang perhatian para kolega. Bahkan dari ruangan lainnya, karena tarik menarik antara Firman dan Nina terhadap diri Kansa membuat putri kecil itu menangis kesakitan dan ketakutan. Wilda tak mampu berkata-kata. Bahkan tak sanggup menuruti permintaan Nina untuk menelpon pos sekuriti melalui telp yang tergeletak di atas mejanya. Peristiwa itu begitu cepat dan mencengangkan. Hanya ada Nina, Wilda dan Kansa saat Firman mendobrak masuk. Sungguh unpredictable. Jeritan Kansa yang mengundang perhatian dan kedatangan para rekan kerja Nina otomatis membuat perebutan dan tarik menarik itu terhentikan. Firman marah-marah tak karuan. Nina meminta satpam untuk mengusir suaminya. Kejadian ini sungguh membuatnya malu. Kurang ajar Firman. Lagi-lagi mencoreng arang di keningnya. Dulu pertengkaran seperti ini juga terjadi di kantornya yang lama. Bikin malu saja.
Seorang polisi yang sedang menjadi tamu di ruangan sebelah menyarankan agar Nina melaporkan saja kejadian ini pada Polisi, karena di kepolisian kini sudah dibentuk unit khusus untuk KDRT. Dan dengan ditemani seorang satpam, akhirnya Nina dan Kansa berangkat ke kantor polisi, melaporkan kejadian ini. Firman sungguh sudah keterlaluan, harus diberi pelajaran.

BERSAMBUNG

9 komentar:

  1. wow, nice story, tp lanjutannya manaaaa? kok nanggung sih?

    BalasHapus
  2. yaaaa, kok bersambung sih mbak...segera donk lanjutannya..:-)

    BalasHapus
  3. mbak, ceritanya bagus deh. ditunggu lanjutannya yach..

    BalasHapus
  4. fit, is that ur true story? but everything is okay now kan?
    vina.

    BalasHapus
  5. hey dear...aq baru baca tulisanmu nih, u start in a good way, keren permulaannya tuh. keep writing. hey...jgn2 ini kisahmu ya say? o..ow..makanya mengalir banget gaya penulisannya..., rifky.

    BalasHapus
  6. fit, kok baru sekarang publish ini, kan kita udah nunggu2 sejak lama nih, I m sure ini pengalaman pribadi nih, mudah2an banyak yang bisa dipelajari dari kisah ini ya. Lala.

    BalasHapus
  7. sedih banget mba fit cerita nya, tapi lanjutan nya mana nih...., fikri.

    BalasHapus
  8. Great story. I really like your blog. The title and the header of your blog is looking great.

    BalasHapus
  9. buruan lanjutannya y mba, dah g sabar nih.... udah 2 cerita yg kubaca, 22nya luarbiasa banget deh, top markotob

    BalasHapus