Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Senin, 26 Desember 2011

Hari ini, tujuh tahun yang lalu

paragraph sebelumnya ada disini ya sobs..

Pagi itu, Fachry dan putra putri mungilnya sedang menikmati acara TV pagi hari, sembari menanti sang istri menyiapkan sarapan pagi yang baru mereka beli dari Blang Padang selesai mereka berolah raga.
Adalah kebiasaannya dan keluarga melakukan jogging di setiap Minggu pagi, dan rencananya selesai sarapan di Minggu itu, Fachry akan mengajak anak2nya mandi di laut yang hanya beberapa ratus meter dari rumahnya.

Fachry memang sangat mencintai pantai dengan segala pemandangan indahnya, bertolak belakang dengan sang istri yang sedikit trauma dengan pantai. Itu juga sebabnya sang istri merasa keberatan untuk pindah ke rumah baru yang lokasinya sungguh di bibir pantai. Namun mengikuti suami, sang istri patuh sambil membujuk hati nuraninya untuk mulai bersahabat dengan lingkungan barunya itu. No more complaint. Just follow.

Awalnya Minggu pagi cerah itu sungguh berjalan normal sampai kira-kira jam 8 kurang beberapa menit gempa mengguncang. Awalnya pelan, semakin kuat dan diiringin suara gemuruh dari dalam tanah.
Fachry segera mendekap kedua buah hatinya dan membawa mereka seraya memanggil istrinya untuk segera bergabung bersamanya diluar rumah. Tetangga mereka yang lain juga sudah berkumpul di luar rumah mereka masing-masing. Bahkan mereka tetap berkumpul di luaran hingga gempa telah berhenti, tak satupun dari mereka berani beranjak bahkan untuk men-cek keadaan di dalam rumah.

Gempa kali ini sungguh dasyat dan diluar dugaan. Pikiran resah yang hadir di benak mereka masing-masing benar-benar menimbulkan kecemasan. Mereka tetap bertahan, hingga sebagai penghuni bibir pantai, mereka menjadi saksi pertama sebuah gelombang hitam yang tampak dari kejauhan, yang dalam sekejab telah berdiri menyeramkan, suara menggemuruhnya sungguh menakutkan, dan dalam sekejap telah menyergap, menyeret dan menghempaskan mereka kearah yang tak beraturan. Sekuat tenaga Fachry menggenggam erat tangan istrinya di sebelah kiri dan tangan putra sulungnya di sebelah kanan, sementara putri kecilnya berada di gendongan sang istri, yang ketat dililit kain gendongan.

Sebuah gelombang maut, tak ayal menghantam dan menggulung tubuh mereka dan membuat pegangan tangan mereka saling berlepasan. Saat itulah mereka terpisahkan dan hanya Allah yang tahu kisah nyata mereka selanjutnya. Dirasakannya bahwa gelombang yang menghantamnya lebih dari satu kali hingga akhirnya membuatnya kehilangan kesadaran.

Perkiraannya gelombang pertama saat itu sekitar dua meter, namun gelombang kedua menghantam lebih dasyat lagi sebelum dirinya sempat menyadari segalanya. Dapat diperkirakan ketinggian air saat itu mencapai 30 meter apalagi itu adalah kawasan bibir pantai. Tak lagi kelihatan apapun saat itu selain air laut hitam kelam yang dipenuhi puing dan lumpur. Hanya dalam hitungan menit, gelombang itu merangsek ke arah kota dan membenamkan se¬mua manusia, rumah, toko, dan en¬tah apa lagi yang dilindasnya.

Cukup lama dirasakan dirinya terseret dalam gelombang maut yang arusnya luar biasa kuat, sembari beberapa kali dirinya termi¬num air laut yang penuh lumpur itu terombang ambing entah berapa lama hingga akhirnya terdampar dengan baju compang camping tanpa alas kaki di daerah Lamteumen yang jaraknya kurang lebih 3,5 km dari rumahnya di Ulee Lheu.

Dicobanya berjalan tertatih melewati air berlumpur yang telah mulai surut itu, yang penuh dengan puing dan tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan. Pedih hatinya, beberapa orang dari yang selamat adalah orang-orang yang dikenalnya dan secara bersama mereka mencoba melakukan pencarian terhadap anggota keluarga mereka yang berhilangan.

Dengan tubuh lelah dan penuh luka, berbekal semangat yang masih menyala untuk menemukan anak istrinya, dibalikkannya setiap mayat yang tertelungkup dengan doa bahwa si mayat adalah bukan orang yang dikenalnya, apalagi anak dan istrinya. Tak henti dipanjatkannya permohonan pada Ilahi agar disisi lain tanah ini, anak dan istrinya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan.

Pencarian demi pencarian tidak memberikan hasil yang memuaskan, apalagi saat dia mencapai lokasi rumahnya keesokan harinya, yang telah tak berbekas, tenggelam dalam lautan, perih hatinya.... hilang sudah harapannya, sekuat apa istri dan anaknya melawan gelombang maha dasyat itu? Dia sendiri hampir saja menghadap sang pencipta jika memang tidak diberikan kesempatan kedua oleh Ilahi...

Namun kata ‘kesempatan kedua’ ini menerbitkan harap di kalbunya. Semoga anak istrinya juga diberi second chance oleh sang Pencipta. Tanpa mempedulikan keadaan dirinya yang kian lemah, dia mencoba menelusuri tumpukan demi tumpukan mayat, mencoba mendeteksi sambil berharap agar si mayat tetap bukan orang yang dikenalnya. Dikunjunginya camp pengungsi demi camp pengungsi, rumah sakit demi rumah sakit, namun yang dicarinya tidak juga kunjung bertemu.

Pencarian itu begitu melelahkan, terutama kelelahan batin yang menderanya tak mampu dilukiskan. Siang malam bayangan ketiga wajah manusia terkasihnya itu muncul di pelupuk mata dan menghiasi tidurnya yang tak lagi sempurna. Jeritan minta tolong anak dan istrinya seakan tak pernah sirna, selalu setia mengunjungi di setiap tidurnya.

Sekuat-kuatnya Fachry, dia tetap manusia biasa, sama seperti manusia senasib lainnya (wanita maupun pria), trauma kehilangan anak dan istri/suami menjadi penyakit utama yang setia mendampingi. Hampir saja dia menjadi gila jika tidak mendapatkan trauma healing dari sebuah NGO yang memang specialist dalam melakukan pengobatan psikis akibat trauma.

Pertemuan yang sangat kebetulan di sebuah mesjid antara Fachry dan salah satu staff NGO ini, membawanya berkenalan dengan seorang psikolog luar negeri yang pada masa itu sedang gencar-gencarnya membantu para korban tsunami. Perlahan Fachry berhasil memaafkan dirinya sendiri, dan bersedia untuk kembali memberi dirinya kesempatan melanjutkan kehidupannya, kembali pada pekerjaannya, mencoba menata kembali kehidupannya yang porak poranda.

Fachry dan keluarganya (ayah dan ibunya serta adik-adiknya) yang semuanya berdomisili di luar Aceh, sungguh bersyukur dengan pencapaian Fachry, yang kini telah mampu merajut kembali kehidupannya, kembali pada pekerjaannya, walau untuk membina kembali sebuah rumah tangga, Fachry belum berani.

Ingatannya pada anak dan istri yang telah dibawa gelombang tsunami, membuatnya ingin tetap setia pada mereka, dan tidak ingin membuka pintu hatinya bagi wanita lain dan calon buah hati lainnya.
Miris memang, dan rasanya mustahil ada kenyataan yang seperti ini. Biasanya para pria, yang bernasib  seperti Fachry, banyak yang sudah memulai rumah tangga baru, dan telah ikhlas meninggalkan almarhum anak dan istri mereka. Namun Fachry masih terpaku pada masa lalu. Dan Fachry akan sangat marah jika hal ini diungkit dan diluruskan, karena dia merasa, dia cukup bahagia dengan keadaannya saat ini.

Dan hari ini, tepat pukul 3.25 dini hari, Fachry tersentak kaget, terbangun dari tidurnya, karena mimpi yang sama, yang telah mendatanginya secara berturut-turut setiap tahun setelah peristiwa tsunami, kini kembali hadir. Tak ada yang berubah pada mimpi itu. Persis. Sama persis. Oh Tuhan, apa artinya ini? Masih hidupkah mereka? Beri hamba petunjuk ya Allah....

Hampir gila rasanya Fachry menerjemahkan mimpi ini, apa artinya ya Allah? Beri hambaMu petunjuk ya Allah. Laki-laki itu bangkit dari tidurnya, berlari ke kamar mandi, berwudhu, dan shalat. Bacaan demi bacaan shalatnya dilakukan sambil menangis....

Sungguh menderita batinnya, mimpi itu datang lagi, sungguh jelas, tapi sulit sekali ditebak artinya. Semua yang terlihat di mimpinya persis seperti video recording sebuah kejadian. Kejadian saat gelombang maut itu menggulung mereka. Terlihat jelas dalam mimpi itu saat dia menggendong kedua anaknya dan memanggil istrinya untuk bergabung dengannya diluar rumah. Kemudian rentetan kejadian saat mereka diterjang gelombang hingga akhirnya genggaman tangan mereka saling berlepasan.

Kemudian dalam mimpinya itu terlihat jelas dirinya terseret arus dan terdampar di Lamteumen, sementara istri dan kedua anaknya terombang ambing, terseret ke tengah lautan. Ingin dia melihat lebih jauh, namun selalu saja detik berikutnya setelah istri dan anaknya menangis meminta tolong, dirinya pun terbangun dari mimpi itu.
Oh Tuhan, apa artinya ini? Kemana gerangan mereka ya Allah, masihkah mereka hidup? Jika iya, dimana? Mengapa tiada kabar untuknya? Kalaupun sampai terhempas ke negara lain, pasti istrinya akan mengabari. Atau mungkin terjadi amnesia? Mungkinkah? Oh Tuhan........

Fachry merasa akan menjadi gila setiap mimpi itu mendatanginya. Dan ini adalah kali yang ke ketujuh. Dan tetap tanpa tambahan informasi.
Laki-laki itu menangis tersedu di atas sajadah, tak sanggup berfikir jernih. Nina, adik perempuannya yang kebetulan sedang berkunjung mendengar tangisan itu, dan menyeruak masuk dan memeluk sang kakak.

Sebagai seorang psikolog, si adik sangat faham derita batin yang mendera kakaknya itu. Dibiarkannya sang kakak menangis dipelukannya, menumpahkan segala kepedihan hatinya, baru nanti dia akan mencoba untuk berdialog dengan sang kakak.
Benar saja, tanpa sungkan, Fachry bercerita tentang mimpi yang telah setiap tahun hadir di malam kejadian tsunami. Dan tercengang sang adik mendengarnya...

Sungguh aneh mimpi ini, pertanda apakah? Oh Tuhan... Hanya Engkau yang Maha Tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak-anak dan istri Fachry. Nina tidak menemukan solusi pemecahan persoalan ini, belum pernah ada kasus yang seperti ini dan terlebih dia sendiri kurang begitu percaya dengan mimpi-mimpi, tapi mendengar cerita Fachry, sungguh membuat wanita ini terpengarah, ada apa dibalik semua ini?

Sangat dipahaminya jika sang kakak menjadi so blue, besok adalah hari kejadian itu, hari dimana kakak tercintanya ini kehilangan 3 orang penting dalam waktu yang bersamaan dari kehidupannya. Akan ditemaninya si kakak melaksanakan ritual tahunannya besok pagi. Mengunjungi kuburan massal di Blang Bintang dan Ulee Lheu, menaburkan bunga serta membacakan yasin disana.

Setiap tahun Fachry memang rutin melakukan hal ini, mengunjungi semua kuburan massal yang ada, karena dia tidak tau persis, di kuburan massal yang mana anak-anak dan istrinya bersemayam. Tapi terlebih dahulu, Fachry melakukan ritual pembacaan yasin nya di Mesjid Raya Baiturrahman, baru dilanjut dengan berkunjung ke kuburan massal.

Hari masih pagi, 6.25 Wib. Nina telah bersiap diri, takut ketinggalan oleh kakaknya yang ternyata sesuai dengan dugaannya memang menjadi lebih pendiam, tak banyak bicara. Wajah tampan itu sangat murung. Perih hatinya menyaksikan kemurungan itu. Tak akan percaya dia jika hal ini bukan menimpa kakaknya, bahwa masih ada seorang suami yang begitu setia walau telah tujuh tahun ditinggal mati oleh istrinya. Masih setia tidak ingin menikah lagi. Hari gini? Masih ada? Jika dia tidak menyaksikannya sendiri, dia akan jawab, hari gini? MANA ADA!

Kuburan massal Blang Bintang terlihat ramai dikunjungi para keluarga yang kehilangan anak istri, suami, orang tua, kakak, adik maupun saudara lainnya yang merupakan korban tsunami, yang tidak berhasil terdeteksi keberadaan mayatnya.

Nina mengikuti langkah Fachry, menuju ke sudut kanan pemakaman dan meletakkan untaian melati kesukaan almarhumah istri kakaknya itu disana. Fachry telah mempersiapkan dua untaian melati untuk dua pemakaman massal yang akan dikunjunginya. Nina tak mampu meredam rasa haru yang menyesakkan dadanya. Ini adalah kali pertama dirinya mengikuti ritual tahunan kakaknya sejak sang kakak menjadi seorang duda, duda tsunami....

Fachry bersimpuh, membuka yasin kecil yang tampaknya memang akrab ditangannya itu. Mulai membacanya. Nina hanya menemani sambil melayangkan pandangannya ke berbagai penjuru. Tampak olehnya disudut lain, seorang wanita cantik juga duduk bersimpuh seorang diri, kusyuk membaca sebuah buku kecil ditangannya. Nina yakin itu adalah yasin yang sama seperti yang dipegang kakaknya. Disudut lain lagi, terdapat beberapa keluarga yang juga dengan wajah sendu sedang kusyuk berdoa. Semakin sesak rasa di dada Nina menyaksikan pemandangan syahdu itu, haru yang membiru.......

Tuhan, tabahkan para keluarga yang telah ditinggalkan ini, beri mereka kekuatan untuk melanjutkan kehidupan di the second chance you gave them ya Allah, seperti juga tabahkan dan beri kekuatan pada kakak hamba agar dapat melanjutkan kehidupannya, bukakan pintu hatinya ya Allah agar dapat menemukan dan menerima wanita lain sebagai pengisi dan pendamping hidupnya.

Getar handphone di kantong Nina membuat doa dalam hati itu terhenti sejenak, diambilnya hp dan dibacanya pesan yang ternyata dari sang ibunda yang menanyakan kabar dan kondisi Fachry. Tentu saja bunda sangat kuatir dengan keadaan kakaknya, dan sebagai ibu, tentu bunda dapat merasakan kegelisahan kakaknya sejak tadi malam. Itu juga yang membuat bundanya sudah mengirimkan puluhan sms padanya sejak malam tadi, menanyakan kabar kakaknya itu.

Nina memberikan laporan pandangan mata tentang situasi di kuburan massal dan juga keadaan kakaknya pada sang bunda, dan kemudian melanjutkan perjalanan bersama sang kakak ke kuburan massal lainnya. Juga dengan ritual yang sama. Nina mengikutinya dengan ikhlas dan penuh kesabaran dan kasih sayang. Matanya tersentak saat menangkap bayangan wanita cantik yang tadi dilihatnya kusyuk berdoa di salah satu sudut kuburan massal Blang Bintang kini juga telah hadir di kuburan yang satu ini. Mungkinkah wanita cantik ini juga mengalami nasib yang sama seperti kakaknya?

Helaan nafas panjang Nina adalah ekspressi batin akan kepasrahannya akan garisan nasib yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Siapa yang bisa meramalkan dengan pasti setiap langkah, rezeki, pertemuan dan maut untuk setiap individu? No one, Just Allah the Mighty! Subhanallah ya Allah.....




13 komentar:

  1. walaupun tidak merasakan secara langsung setiap melihat kejadian itu rasa sedih yang saya rasakan mbak.semoga semua korban bisa diterima sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan dalamkeadaan yang tabah

    BalasHapus
  2. @Lydia: Amin YRA.... semoga tragedi ini tidak terulang kembali ya mb.....

    BalasHapus
  3. Ya Allah...., mbak sedih nian membaca kisah di atas. Aku dapat ikut merasakan beratnya beban penderitaan mereka.
    Trauma... itu hal yang sangat berat ditanggung oleh para korban pasca bencana. Untung saja ada trauma healing, walau seringkali hasilnya tak maksimal ya?
    Sungguh, aku berharap Fachry dapat berjumpa lagi dg anak istrinya...
    Aku jadi ingat dg Hafalan Sholat Delisa mbak... yg diceritakan Delisa akhirnya dapat bertemu kembali dg ibunya tapi hanya dg kerangkanya saja... :((

    BalasHapus
  4. Selalu merinding baca kisah tentang tragedi tsunami Aceh, mbak Alaika.

    Sy harap semua korban yang masih hidup sudah menata dengan baik kehidupannya selama 7 tahun ini.

    Btw, kisah itu kisah keluarga mbak ya? Terus bagaimana ... apa Fachry kira2 mau nikah lagi ?

    BalasHapus
  5. Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa ya Mbak ;)

    Semoga semua keluarga yang mengalami peristiwa ini mendapatkan barokah dari Allah, Aamiin YRA

    BalasHapus
  6. tragedi dahsyat yang tidak akan terlupakan sepanjnag masa, mengingatkan betapa manusia sungguh lemah tak berdaya dihadapan Pencipta
    salam

    BalasHapus
  7. hmm, bila inget itu ngeriii... dan ga bisa ngomong apa apa, yang pasti kita menjadi sadar bahwa kita adalah bagian dari alam ini, begitu kecilnya diri kita dibanding ciptaan Allah lainnya.

    Kita juga menjadi sadar bahwa Allah Maha Berkehendak terhadap apapun di dunia ini.

    Salam

    BalasHapus
  8. Tsunami yang mengerikan. Melindas apa saja yang dilaluinya dalam hitungan menit. Kita, manusia tidak akan pernah siap dengan bencana sebesar itu. Semoga tidak pernah terjadi lagi..Cukup hanya sekali..Penderitaan yg sangat memilukan hati :(

    BalasHapus
  9. Kok aku jadi merinding sendiri begini bacanya @_@

    Ngeri ya kalau ingat tsunami tujuh tahun lalu... Fachry temen mbak kah? o_o

    BalasHapus
  10. rasanya dengan membaca kisah ini jadi lebih bisa memahami apa yang terjadi pasca kejadian tsunami 7 tahun yang lalu.
    terima kasih mbak...

    BalasHapus
  11. Setiap kali saya mendengar/membaca tentang, tsunami Aceh selalu merinding Mbak. Dalam buku 'ketika perempuan di uji' yg saya revew itu juga ada salah satu kisah seorang istri yg suaminya adalah salah satu korban selamat dalam peristiwa tsunami aceh.

    Turut mendoakan agar semua korban selamat tsunami aceh bisa healing dari traumanya. Dan bagi yg meninggal diberikan tempat yg trebaik di sisiNYA. Amin

    BalasHapus
  12. miris sekali kalo inget kejadian ini mbak, meski saya hanya mendengar cerita, atau melihat dari siaran televisi. tetap saja hati ikut merasa perih

    BalasHapus
  13. Siapa yang bisa meramalkan dengan pasti setiap langkah, rezeki, pertemuan dan maut untuk setiap individu? No one, Just Allah the Mighty!

    sebuah quote yang sangat tepat utk dinasehatkan pada kita termasuk utk Fahry, jika menyadari hal itu semoga tdk ada Fachry lain yg merasakan trauma, krn trauma akan menjauhkan keimanan kita pada sang Robb, yakinlah semua takdir sdh tertulis di lauhul mahfus dan tidak ada yg salah dengan takdirnya Allah, walau berat tapi harus dijalani, krn kehidupan akan tetap berjalan.

    cerita yg bagus dan membuatku merinding...

    BalasHapus