Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Selasa, 20 September 2011

Alkisah Chapter I





Paragraf sebelumnya klik disini yaaaa

Fadjri,

Bapak sedih, terharu dan bangga terhadapkamu nak….
Sedih karena kamu jauh sangat dengan bapak secara fisik, dari fotomu tertangkap kegundahan diwajahmu walau kamu nampak tersenyum dan tertawa.
Disaat seharusnya kamu senang bergembira ria dengan sang istri, justru hal ini tak sepenuhnya dapat kamu nikmati, ini tercermin dengan keadaan wajah dan posturmu yang kian kurus.
Bapak harus berterus terang, bahwa dulu kamu adalah anak yang paling di banggakan oleh ibumu, namun kita malah sebaliknya nak. Ibumu begitu ingin menghilangkan nama dan keberadaan dirimu dari kami semua.

Fadjri,
Saran bapak, lanjutkan shalat Tahajjud dan berdo'a semoga Allah SWT yang maha Kuasa berkenan membuka hati ibumu, dan semoga menjelmakan rasa rindunya untuk ingin melihatmu dan menerimamu kembali.
Bapak yakin do'a yang ikhlas di sulus akhir, dimana manusia lain tidur kamu sedang bermunajad kepada sang Chaliq memohon do'a, mudah-mudahan Allah akan mendengar dan akan mengabulkannya, Insya Allah, Amin.

Anakku, jangan bosan-bosan kamu mengirimkan sms kepadanya, walaupun diwaktu sms masuk muncul namamu dan secepat kilat sms itu dihapuskan dan tidak dibaca. Usahakan untuk mengirimkan sms dengan tidak muncul nama kamu.

Isi sms harus ada unsur mohon maaf dan mohon dikasihani, dan ucapan terima kasih atas usahanyamengasuh, menjaga,memberi pendidikan dan kasih sayangnya sejak dalam kandungan,balita sampai kini.

Terharu dan bangga, kamu masih bisa kosenterasi terhadap tugas dan prilakumu. Bapak juga turut berdo'a, semoga doa'kamu di dengar dan dikabulakan oleh Allah SWT. Amin.

Fadjri anakku, this is all for now, I can’t continue more karena hati Bapak gundah memikirkanmu nak. Be a good boy nak and good husband, doa Bapak selalu menyertaimu. Amin.
.
Ayahandamu

Abdullah Hanafi

Ya Allah, Kabulkan doa tulus kami, kabulkanlah doa2 yang beruntun dipanjatkan adikku dan juga ayahandaku ini, bukakan pintu hati ibundaku yang memang begitu membaja. Hanya dengan ijinMu ya Allah semua ini bisa terlaksana. Amin ya Allah, Amin ya Rabbal Alamin.

Readers,
Tadinya aku fikir hanya diriku dan kehidupanku yang unik dan sangat lain dari yang lain, penuh onak berduri yang memang aq ciptakan sendiri, namun ternyata, kini adikku mengikuti langkah yang hampir sama. Terbuang dari keluarga hanya karena pasangan hidup yang dipilih tidaklah sesuai dengan harapan ibunda.

Banyak hal yang sebenarnya ingin aku bagi, namun waktu dan kesempatan yang masih belum dapat aku temukan sehingga kisah yang sudah begitu menggelitik hati dan lama bersemayam di sanubari harus menunggu dan menunggu untuk dibukukan.

Well readers,

Will back to you for next paragraph yaa…….

4 komentar:

  1. ayo donk lanjutannya mba, ditunggu nih.

    Mira

    BalasHapus
  2. Mira: hadoh Ra... maaf, belum sempat ngupdate lanjutannya euy, masih berkutat dengan pekerjaan kantor yang seabrek. hiks..hiks..

    BalasHapus
  3. wah2 ternyata berbakat buat cerita nih,, buat novel aja mbak..di tunggu kelanjutannnya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah... akhirnya doa2 itu terjawab juga. Sebuah kesabaran yg berbuah manis :)

    BalasHapus