Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Minggu, 30 Oktober 2011

Kisah Sedih di Hari Minggu I


paragraf sebelumnya,

Suara Fira yang begitu sendu langsung menuntun akal fikiran saya bahwa dirinya sedang tidak dalam bahagia. Apalagi awal kalimat pembukanya yang tidak seperti biasanya. Tinggal satu mess dengannya selama lebih dari 1,5 tahun membuat saya cukup mengenal teman/kolega masa BRR dulu yang tentunya serumah dengan saya.

‘Mba Alia, ini Fira, Safira yang di BRR dulu’ kalimat pembuka yang awalnya cukup membuatku bahagia. Mendengar kembali suaranya tentu saja memberikan kesenangan tersendiri toh? Namun nada suaranya yang getir membuat feeling saya berkata lain. Saya jawab segera suara getir itu.

“Eh Fira, apa kabarmu? Kemana aja? Sehatkan?’

‘Mba, aq ga baik, aq ingin curhat. Rendi udah 2 bulan ga pulang, ga ingat pun lagi sama anaknya. Aq butuh bantuanmu mendengarkanku, dan juga nasehatmu mba..’


Aq tentu saja kaget, tapi berusaha mengontrol keterkejutanku dengan berusaha balik bicara setenang mungkin.


‘Lho, kok bisa begitu? Gimana ceritanya? Ok, boleh, tapi saya ga bisa ketemu sekarang Fir, masih ada janji yang harus saya penuhi nih….’

‘Mba, aq ingin banget ketemu mba, tapi please, dengarkan aq via telp aja dulu mba, aq benar2 butuh pendapat dan dukunganmu. Mba dulu berobat dimana saat berantem dengan ayahnya Intan? Bantu aq mba!’
suaranya memelas.

Tapi dua kalimat terakhirnya cukup membuatku kaget dan shock. Berobat? Berobat apa maksudnya? Aq sungguh ga paham.

‘Fir, apa maksudnya berobat? Kami tidak sakit. Saya tidak ditinggal tapi saya yang memutuskan meninggalkannya Fir. Berobat apa maksudnya?’

Fira mungkin menyadari telah salah bertanya, dan suaranya terdengar sedikit gundah,
‘maaf mba, kata mba Vina, waktu itu mba ada berobat ke paranormal untuk ngobatin papa Intan.’

Nah loe!

Sembarangan aja, untung ga ada yang mendengarkan, kalo ga saya bisa malu kan ya? Hari gini main dukun? Ya ampuuun. Ini Vina harus diketok nih kepalanya. Fitnah. Huft, awas aja deh.

“Fir, saya itu ga ada ke dukun2an, untuk apa? Wong saya yang memutuskan untuk meninggalkan papanya Intan kok, jadi ngapain saya obatin dia untuk kembali ke saya? Justru untuk memisahkan diri darinya aja saya butuh waktu proses sampai 8 bulan begitu kok.’

Tak ada sambutan dari seberang sana. Fira mendengarkan. Saya lanjutkan kalimat saya,

'Fir, sekarang gini deh, ceritakan masalahmu, mungkin saya bisa bantu berikan pendapat, tapi kalo ingin menanyakan dukun mana yang bisa membantumu, saya ga punya jawaban untuk itu lho.’

Fira mengiyakan dan mulai bercerita. Saya mendengarkan dengan khusyuk. Satu pelajaran yang terpatri kuat di otak saya adalah bahwa inti utama dari konseling adalah kesediaan kita mendengarkan. Mendengarkan dengan baik dan seksama. Itu yang kini saya lakukan.

Bahwa Rendi telah kepincut wanita lain yang sayangnya wanita lain itu adalah seorang wanita panggilan. (sungguh tidak setara dengan istrinya, alias Fira, yang seorang dokter). Hubungan gelap ini berlangsung pada saat Fira pulang ke rumah ibunya di Jakarta untuk melahirkan anak pertama mereka. Rendi tidak bisa ikut serta karena bertugas sebagai seorang Polisi Militer di Banda Aceh. Bahwa Rendi tak bisa lagi terlepaskan dari wanita itu, bahkan disaat Fira dan putra mereka telah kembali ke Banda Aceh dan tinggal kembali bersamanya.

Para tetangga membisikkan padanya bahwa Rendi memang sering terlihat bersama wanita itu, yang adalah seorang pekerja di sebuah café remang2. Berbagai upaya dilakukan Fira untuk membuka mata dan mengembalikan suaminya ke pangkuan dirinya. Tapi tetap saja tidak membawa hasil, malahan pertengkaran demi pertengkaran semakin penuh menghiasi rumah mereka. Tak sedikitpun Rendi malu jika pertengkaran ini didengar oleh tetangga mereka di asrama itu.

Tindakan Fira yang mencoba minta bantuan ayah ibu Rendi malah membuat Rendi semakin kalap. Juga saat Fira sudah tak sanggup lagi menahan amarah dan melaporkan kelakuan Rendi ke komandannya, Rendi semakin tidak terkendali. Beberapa tindakan scorsing yang dilakukan oleh sang komandan malah bukan menyurutkan sepak terjang Rendi merengkuh si wanita simpanan, melainkan membuatnya semakin jauh dari orbit.

Kali pertama laporan, sang komandan masih menugaskan untuk mencari, menangkap dan menempatkannya di sel, tapi setelah itu kelakuan Rendi tidak juga berubah. Malah disinyalir bahwa pengaruh narkoba (shabu-2) telah merasukinya hingga membuatnya semakin gila. Bahkan laki-laki itu sama sekali tak tersentuh hatinya saat putra mereka (saat itu berumur 9 bulan ) terkena DBD. 3 hari putranya di rumah sakit, Rendi tak pernah menjenguknya sekalipun, konon lagi menemani Fira di rumah sakit. Untung mamanya Fira datang dari Jakarta untuk menemani kepedihan hidup sang putri.

Semakin miris hati Fira saat tau bahwa mobil mereka pun telah terjual oleh Rendi untuk kebutuhannya bayar hutang dan kalah judi, ditambah lagi dengan kebutuhannya akan narkoba. Lengkap sudah penderitaan Fira. Apalagi kini Rendi memang tak diketahui dimana rimbanya. Lelah sudah dia mencari namun tak satu temannya pun yang tau keberadaannya. Fira menangis diseberang sana sambil mengakhiri ceritanya.

‘Beginilah mba nasibku, aq ingin banget bicara denganmu, aq tau mba pernah mengalami hal yang hampir sama, mungkin bisa bantu aq mencari jalan keluarnya, please.’

Saya sungguh terenyuh dengan ceritanya ini, apalagi suaranya begitu mengiris batin. Saya tau persis betapa sulit situasi seperti ini. Saya tidak sedang mencoba bersimpati dengan berkata seperti ini, tapi saya memang tau persis bagaimana rasanya penderitaan Fira. Saya pernah mengalami ini 5 tahun lalu. Mungkin kisah saya tidak lah sama persis dengan kisah Fira, tapi bisa dikatakan hampir ada miripnya.

Judulnya adalah tentang pengkhianatan, ketidaksetiaan dan rasa cinta yang terkikis.

Hm…. Kok hari saya jadi terasa mendung ya? Jadi ikutan sedih. Jadi ingat saat mereka pacaran dulu… Rasanya siang tak akan malam dan malam tak akan siang. Sulit banget terpisahkan. Bahkan sampai2 kami harus memberikan warning pada Safira yang kami pandang sudah melalui batas pacarannya untuk kaca mata Aceh. Yang saya maksud disini adalah karena sudah sulit dipisahkan, jam kunjungan sudah ga jelas, dan kami jadi ga enak dengan tetangga sekitar.
Eh kok sekarang, baru 3 tahun menikah kok iya cinta itu sudah memudar, malah berhasil dicaplok oleh wanita lain??

Saya masih belum tau harus bicara apa saat Fira telah mengakhiri kalimatnya diujung sana, hanya desah napas sedih yang berhasil saya dengarkan.

‘Fir, saya benar-benar prihatin dengan apa yang kamu alami ini. Ingin banget saya membantu kamu. Saya tau persis bagaimana sakitnya rasa ini Fir. Honestly I knew how you feel. Satu hal yang saya ingin tau, apa yang kamu harapkan dari Rendi sekarang ini? Masih cintakah kamu padanya?’

Tidak ada suara dari ujung sana. Sejenak, dua jenak… (emang ada dua jenak? Hush!!) hening.

‘Ga taulah mba… aq benar2 hancur sekarang ini. Malu banget aq sama tetangga mba? Taulah kami tinggal di asrama. Malu sama ibu-ibu itu. Suamiku ga pulang-pulang. Mau mati aja aq rasanya mba…’

‘Fir…. Saya ingin tanya satu hal, dan jawab dengan jujur. Kamu seorang dokter, apa kamu rela disetarakan dengan seorang pelacur? Wanita murahan? Kamu masih mau menerima Rendi kembali setelah penghinaannya terhadapmu. Memacari dan meniduri pelacur adalah suatu penghinaan kelas tinggi tuh Fir.’

‘Ya aq sakit hati banget mba, masak sainganku seorang pelacur. Dan tau ga mba, aq dengar perempuan itu juga pemakai shabu mba.’

‘Nah, apa kamu masih mengharapkan Rendi untuk kembali padamu? Setelah tau persis kelakuannya? Satu pertanyaanku yang belum kamu jawab Fir, masih cintakah kamu padanya?’

‘Mba, aq tuh udah sakit hati banget sama dia, aq terhina, aq malu, tapi aq kasian Ragil kalo sampai ga punya bapak….’ Suara tangisan dari seberang sana.

‘Fir…. Jangan pernah membawa-bawa anak dalam urusan seperti ini Fir. Saya sudah pernah mengalami hal ini. Saya juga punya anak. Tapi jangan jadikan anak sebagai penghalang kamu mengambil langkah ke depan untuk menyelamatkan dirimu dan anakmu.’


Saya sengaja diam, membiarkan dia berfikir dan saya yakin dia pasti bingung dengan kalimat saya.

‘Maksudmu mba?’

‘Maksudku begini. Keadaanmu masih jauh lebih mujur dari saya dulu. Kamu masih ada ibu yang siap memberi kasih sayangnya dan menjaga anakmu. Nah, berarti Ragil aman. Sekarang saatnya kamu bereskan dulu urusanmu. Tapi jangan tergesa-gesa. Makanya tadi saya tanya, sebesar apa sisa cintamu pada Rendi. Jawab pertanyaan ini dengan jujur, agar kamu bisa tentukan langkah selanjutnya.’


Masih terdiam, mendengarkan.

‘Kalo kamu ga bisa jawab sekarang, nanti malam coba kamu renungkan baik-baik Fir, tanya hatimu yang paling dalam. Minta jawaban paling jujur. Jika hatimu bingung untuk menjawab, bantu dia dengan membuat sebuah table dua kolom. Kolom kiri berisi list kebaikan Rendi dan kanannya tentang list keburukan. Masih ingat analisa SWOT kan? Nah, analisa SWOT tidak hanya untuk project, tapi juga untuk kehidupan. Karena kehidupan juga sebuah project sebenarnya.’ (gilee juga kalo dipikir2 ceramah saya, hehe).

‘Bener juga ya mba? Terus gmn mba?’

‘Nah nanti berdasarkan list itu, kamu akan menemukan arah. Kamu coba lihat, lebih banyak mana, mana yang unggul antara dua list itu. Jika ternyata kebaikannya lebih besar, kamu masih boleh memaafkannya, peluang untuk berobah ke arah kebaikannya masih terbuka. Tapi jika keburukannya ternyata unggul, maka, kamu sudah bisa membujuk hatimu untuk meninggalkannya.‘


Saya hentikan sementara pembicaraan saya menanti sahabat saya diseberang sana mencerna pembicaraan kami.

‘Iya mba… aq ingin mendengar lebih jauh lagi pandanganmu..’

‘Ok, tentang rasa malumu pada tetangga, coba singkirkan dulu. Tanamkan dalam jiwamu bahwa ibu-ibu itu tidak mencemoohmu, bahwa sebenarnya mereka bersimpati atas apa yang kamu alami, bahwa justru yang mereka pandang buruk adalah suamimu. Bukan kamu. Sejauh kamu sendiri tidak macam2 means you are still a good wife, maka yakinlah bahwa mereka tidak memandang negative terhadapmu. Saya yakin kok, mereka itu kasian padamu."

"So kamu itu HARUS membangun dan mempertahankan positive thinking di dalam jiwa kamu Fir. Jangan berikan sedikitpun celah bagi sisi lain hati kamu untuk menjatuhkan mentalmu. Hanya kamu sendiri yang bisa menolong membenahi mental mu yang down, yang terpuruk ini Fir. Saya bisa bilang begini karena sudah mengalaminya beberapa tahun yang lalu. Sulit sekali untuk tetap bersemangat, untuk tetap positive thinking Fir. Tapi HARUS bisa dan Yakinlah pasti BISA.’

Saya rasakan pembicaraan saya begitu berapi-api, ibarat sedang memberi ceramah motivasi dimana gituu… hehe. Saya lanjutkan karena Safira mendengarkan dengan khusyuk di seberang sana.

‘Jadi Fir, hanya kamu sendiri yang harus segera mengambil tindakan. Jangan buang waktumu untuk terus menangisinya. Jangan sedihkan hatimu dengan berfikir anakmu akan kehilangan bapak. Itu urusan nanti. Apa anakmu akan bangga dengan seorang ayah yang sama sekali tidak peduli padanya? Apa anakmu akan senang dan bahagia mengetahui ayahnya seorang pecandu narkoba, tukang main perempuan dan penjudi?"

"Dia tidak akan kehilangan ayahnya kok, selagi masih hidup di dunia, suatu saat nanti dia akan bertemu dengannya kok, terlepas bagaimana kondisi ayahnya. Ayah tetap ayah, dan tugas kita ibunya adalah menceritakan apa adanya dan siapa ayahnya, nanti jika saatnya. Jadi jangan buang waktumu untuk berfikir hal2 seperti itu. Sebenarnya sebelum membuat table dua kolom itu, yang pertama harus kamu lakukan adalah membuat list of priority. Atau gini Fir, coba buat dulu analisa SWOT kehidupanmu. Kebayang ga?’

Safira menjawab dengan antusias.

‘Mba, kapan aq bisa ketemu denganmu, bantu aq membuat analisa SWOT ini, aq ga bisa sendirian, aq hanya seorang sekretaris, ga paham benar langkah-langkahnya, kapan bisa ketemu mba? Please…’

Oops…. Waktu untuk ketemu ini yang sulit. Senin besok saya masih punya deadline untuk interview dan recruitment consultant untuk project qanun development, terus juga masih harus berkutat dengan beberapa perjanjian kerjasama yang masih belum juga kelar.

Safira masih menunggu penuh harap.

‘Ok say, gimana kalo nanti malam saja kita ketemu. Dimana enaknya ya? Yang tenang dan kita bisa corat coret, kita harus bikin problem assessmentnya dulu, biar gampang. Nah gini, tugasmu sebelum kita ketemu, coba tolong kamu rumuskan dulu point-point persoalan yang kini kalian hadapi, terus juga bikin table dua kolom tentang kebaikan dan keburukan Rendi ya… jadi nanti waktu kita ketemu, kita ga habiskan waktu untuk merumuskan hal itu lagi, tinggal kita review aja, dan lanjut ke SWOT.’

‘Baik mba, aq akan kerjakan sekarang, ntar aq kirim ke emailmu ya mba, in case you have time to read first before we meet.’


Pembicaraan via telephone ini pun kami akhiri setelah janjian akan ketemu di Mesjid Raya nanti malam. Hehe, akhirnya milih Mesjid Raya deh, lebih adem dan menginspirasi, juga saya berharap jika pertemuannya di Mesjid Raya Baiturrahman, Allah akan member saya hidayah agar input-input yang saya berikan nantinya bisa menjadi berkah. Amiin.

Duuuh, kok kayaknya saya ini seorang counselor ya? Padahalkan saya seorang tukang sampah, yang mengurusi masalah persampahan. Hehhe. Ga nyambung deh ih.


BERSAMBUNG


23 komentar:

  1. Loh katanya dokter kok di bawah jadi 'aq hanya seorang sekretaris'?

    Maaf mbak, jadi Mbak Alaika juga cerai ya sama suaminya?
    Huehehe, ibuku juga cerai tapi nyantai aja. Cerai tinggal cerai gapake berantem-berantem dan nangis-nangisan hehehe... cari yang lain lagi~ hahaha...

    Terimakasih ya mbak share ceritanya. Jadi bisa belajar banyak ttg kehidupan~

    BalasHapus
  2. Halo mba Una... hehe, tadinya sempat mau nambahin keterangan dikalimat yang itu, tapi lupa dan keburu posting. Jadi waktu masa emergency paska tsunami dulu itu, BRR NAD Nias, sebuah lembaga yang dibentuk Presiden SBY untuk koordinir dan selenggarakan proses Rehab-rekon Aceh-Nias paska tsunami tuh, merekrut berbagai orang berkualitas untuk bergabung dan membantu proses ini. Nah, dimasa emergency, terkadang posisi tidak lagi sesuai dengan back ground seseorang say, nah, Safira, seorang dokter, apply ke posisi sekretaris untuk direktur pusat pembangunan perumahan kala itu, jauh banget kan dengan back ground dia yang dokter? hehe, kita waktu itu bekerja bahu membahu tanpa latar belakang mba Una. Justru gelar dokter itu jadi nilai plus, sambil jadi sekretaris, Safira juga praktek jadi dokter kapan dibutuhkan. hehe. Itu adalah masa2 emergency, saat dimana pekerjaan mencari karyawan, bukan sebaliknya. Nah kalo sekarang? sulit.... banyak juga kolega saya yang masih menganggur setelah selesai proses rehab rekon ini. Nah saya? Background engineer, sempat jadi asisten counselor dan melakukan trauma healing untuk para korban tsunami mba, tentunya setelah mendapat training khusus dari pakar yang didatangkan dari Portland waktu itu. hehe.. Tambah ilmu deh pokoknya.

    Iya mba Una, saya cerai dari suami pertama, (gimana ya? ibarat sampah (keliatan banget kerja di waste management nih), kalo udah ga bisa direcyling ya harus dibuang toh?), dan sekarang udah cukup bahagia kok dengan suami kedua. hehe. Hidup ini indah dan harus tetap semangat. thanks komennya lho mba Una...

    BalasHapus
  3. Oops, ralat dikit di kalimat 'kita waktu itu bekerja bahu membahu tanpa latar belakang', maksudnya adalah bahwa '...tanpa memandang latar belakang...'. Semangat banget meresponse komen mba Una sampe ketinggalan kata2nya. hehe.

    BalasHapus
  4. hmm,,sayang bener ya, kok bisa nyampe kepincut dgn wanita tdk jelas,,padahal status istrinya lebih tinggi, dokter lagi, ada2 sajarrhot

    BalasHapus
  5. Tadi hampir aja nulis pertanyaan yang sama mba una... untung aja ngebaca commentnya :)

    miris banget ya mba.. tapi kalo saya : saya harus ambil sikap.. dan mendingan sendiri deh.. toh jalan hidup kita, kita yang nentuin mo gimana.....

    BalasHapus
  6. hmm, Ya Allah, kenapa warna ini ada ?
    jejak ini pasti ada hikmahnya entah bagi siapa yang KAU kehendaki dan jujur 'sedih' melihat ini semua.

    BalasHapus
  7. semoga setelah bertemu mbak fira menjadi lebih baik ya apapun keputusan nantinya. Tega sekali ya suaminya

    BalasHapus
  8. @al kahfi: iya tuh mas, ga jelas nih suaminya, ga bisa membedakan antara besi berkarat dan pualam deh ih. Saya aja sebel mas, ga nyangka aja jadi begini, dulu wkt pacarannya wuih.....

    BalasHapus
  9. @Kak Ega: hehehe.... masak dokter jadi sekretaris ya? untung saya udah jawab di komen nya mba Una.... hihi.

    Bener banget Kak Ega, memang harus segera bertindak, ambil keputusan, tapi biarkan Safira berfikir matang dulu, makanya saya minta dia memperhatikan dengan cermat list of kebaikan dan keburukan suaminya itu, biar Fira dapat gambaran jelas what to do next.

    Kalo saya mah, langsung aja say good bye, ibarat sampah kalo udah ga bisa di recycle ya dibawa aja ke TPA untuk dikubur. wkwkwkwk (dasar orang waste management!).

    Makasih kunjungannya lho...

    BalasHapus
  10. @Obrolan Blogger:
    HIdup memang penuh warna lho mas, dan sebenarnya semua warna indah asal pinter menempatkannya. Halah...

    Harusnya memang kita pinter2 mewarnai hidup kita ya mas? Harus pinter2 menjaga kemudi kapal kehidupan yang sedang kita arungi.

    Semoga ada hidayah yang akan menuntun langkah sahabatkku ini, amiin.

    Makasih komen dan kunjungannya ya mas.

    BalasHapus
  11. Baca cerita dan baca koemnnya tidak banyak yang bisa aku katakan di dalam postingan ini, kecuali...orang sabar itu emang selalu di disayang tuhan dan balasannya pun pasti luar biasa.

    BalasHapus
  12. @Lidya:
    amiin mba... semoga Fira dapat menemukan jalan terang ya....

    Nanti tak posting lanjutannya ya mba, setelah pertemuan dengan saya... hehe.

    BalasHapus
  13. @Ibu Dini:

    Makasih kunjungannya Bu Dini, iya... saya aja kalo dulu tidak mengalami kisah yang hampir serupa, akan speechless, ga tau kasih komen apa saat Fira menangis dan mengadukan halnya. Untung udah pernah ngalami dan berhasil bangkit dari keterpurukan. Alhamdulillah sedikit tidaknya bisa memberi cahaya bagi hidupnya yang memang terlihat sangat galau.

    Semoga Fira bisa bangkit dari keterpurukan ini ya bu...

    BalasHapus
  14. mba alaika nasehatnya ngena banget pasti untuk mba safira. itu nasehat yang apa adanya tapi bermakna :") semoga mba safira cepat mendapat petunjuk terbaik bagi dia dan anaknya.

    BalasHapus
  15. Berpisah (baca:cerai) dengan jalan baik-baik pun memang tetap saja bukan hal yg mudah. Namun ketika mempertahankan kebersamaan tdk akan membuat hidup jd lebih baik (justru fatal eror)..pilihan berpisah di pilih utk hari esok yg lebih baik. Mgk kira-kira begitu ya Mbak. Maaf, masih sekedar pengamat dunia pernikahan. Tp org terdekat saya (kakak saya) jg m'ambil langkah pisah dari suaminya ketika ternyata ada wanita lain dalam hidup (mantan) kakak ipar saya tersebut. Life is about how to make the right choice...

    BalasHapus
  16. @Kinanthi: akhirnya sampai juga di rumah saya yang ini ya? hehe..welcome and have a seat.. (halah.. apa coba?).
    Iya mba, intinya adalah begitu. Perpisahan (walau sulit) terkadang menjadi jalan terbaik bagi suatu rumah tangga sudah sangat sulit untuk dipertahankan. Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya toh?
    Trims atas kunjungan dan komennya ya mba....

    BalasHapus
  17. @Sheno:
    Yup, mudah-mudahan kata-kata saya bisa membuka mata dan pikiran Safira untuk berfikir jernih dalam mengambil langkah kehidupannya ke depan ya...

    BalasHapus
  18. Sebelum menulis komen, aku ingin usul mbak. Aku merasa lebih nyaman membaca tulisan di kotak komentar ini (background putih tulisan coklat) daripada yang di postingan (background putih tulisan hijau). Mataku kan silindris, jadi silau banget membacanya mbak...

    Nah, utk komen... aku sama spt yg lain2 pada awalnya mempertanyakan pekerjaan yg berbeda antara dokter dan sekretaris. Tapi sudah clear tuh.

    Soal masalahnya mbak Fira itu, aku bisa berempati. Kebetulan aku juga sering mendengar kisah2 serupa dimana istri menderita batin karena perlakuan suami tapi demi 'nama baik' dan citra keluarga harmonis sang istri memilih utk bertahan. Apalagi kalau alasannya utk menjaga perasaan sang anak, meski berdarah-darah sang istri tetap bertahan. Menyedihkan...

    Ya jelas, Mbak Fira pasti sakit hati banget karena yang 'mengalahkannya' adalah bukan 'wanita baik2'. Harga dirinya pasti sangat terluka.

    Mengingat segala yg telah dilakukan suaminya, maka menurutku memang jalan terbaik adalah berpisah. demi kesehatan mental mbak Fira beserta anaknya. Pilihan utk tetap bersama suaminya itu tetap tak akan memberikan kebahagiaan, karena bayang2 pengkhianatan itu terlalu sulit utk dilupakan. Aku khawatir, itu akan menjadi pemicu pertengkaran demi pertengkaran mereka nantinya. Kalau sudah begitu, rumah bukan lagi surga bagi mereka, apalagi bagi anaknya yg masih sangat kecil. Kasihan bukan?

    Aku salut dg mbak Alaika, yang bisa menempatkan diri sbg konselor yg baik. Memang benar mbak, tak setiap orang mempunyai kemampuan utk menjadi pendengar yg baik tapi mbak Alaika mampu melakukannya.
    Aku gak heran jika meskipun mbak punya background engineer, sempat jadi asisten counselor dan melakukan trauma healing untuk para korban tsunami... tapi bisa juga menjadi konsultan pernikahan hehehe.

    Mantap mbak semoga berkat Mbak Alaika, mbak Fira bisa menemukan jalan keluarnya.

    Ups... ganti aku yg minta maaf karena komennya kepanjangan... :)

    BalasHapus
  19. kalau saya boleh menambahkan, minta agar safira melakukan sholat istikharah (apabila dia muslimah) sebelum memutuskan segala sesuatunya. Semua keputusannya mudah2an merupakan keputusan yang diberikan oleh Allah...semoga safira diberi kekuatan lahir dan batin.

    BalasHapus
  20. @Mba Reni: makasih masukannya, sdh saya ubah, mudah-mudahan sekarang ini jauh lebih baik, tidak menyilaukan mata mba Reni dan sobat lainnya, jika masih kurang nyaman, ntar deh hari Sabtu or MInggu saya oprek2 lagi. hehe..

    Yup, trims juga masukannya tentang masalah Fira mba... saya akan usahakan untuk bisa memberikan input2 berarti baginya sehingga Fira dapat segera bangkit dari keterpurukannya ya mba..

    Hehe... saya suka kok dikomen yang panjang seperti ini... tapi ga bermaksud 'balas dendam'kan ya? hehehe...

    BalasHapus
  21. @Necky:
    makasih atas kunjungan dan sarannya mas, akan saya sampaikan pada Safira nanti ya mas... trims again.

    BalasHapus
  22. wahh mbak turut prihatin sama fira. kasihan banget,meni segitunya.

    saya suka dengan kata-kata mbak yang ini.
    "Tapi jangan jadikan anak sebagai penghalang kamu mengambil langkah ke depan untuk menyelamatkan dirimu dan anakmu"

    memang benar itu mbak, daripadasi mbak fira,terus seperti itu.

    kunjungtan pertama. salam kenalya mbak ^^/

    BalasHapus
  23. @k[A]z

    makasih atas kunjungan dan komennya Sep.. salam kenal kembali ya... dan maaaf jawabannya telat banget. hehe

    BalasHapus