Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Senin, 05 Desember 2011

When he had to say Good Bye


Klik disini untuk paragraf sebelumnya yaa..,

Jadilah Kania ikut aku sejak saat itu, dan Alhamdulillah tak lama setelah kedatangannya dan sering kubawa ke kantorku, terbuka juga sebuah peluang baginya untuk bisa bergabung menjadi salah satu pekerja kemanusiaan di tempatku bekerja. Mendapatkan gaji yang sangat lumayan, sehingga dia bisa mulai membantu ayah ibunya. Perjalanan hidupnya semakin baik dan cerah, berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tanggaku yang akhirnya berhasil aku patahkan setelah berjuang cukup lama di pengadilan, membebaskan diri dari prahara rumah tangga yang tak lagi mampu terselamatkan.

Aku menyayangi Kania setulus hatiku. Bagiku, dia tetap keponakanku walau hubunganku dengan Oom nya, adik kandung ibunya telah resmi putus. Kania masih kubawa kemanapun aku tinggal hingga kemudian dia menikah. Menikah dengan Raja yang juga bekerja di lembaga yang sama. Aku adalah orang pertama yang diinterogasi oleh ayah ibunya saat Kania memberitahu mereka bahwa kini dia pacaran dengan Raja. Aku adalah orang pertama yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga Kania. Karena akulah yang membawanya kemari.

Dan aku adalah orang pertama yang berbahagia mengetahui Raja meminang Kania, dan merencanakan untuk menikah ditahun berikutnya. Aku tulus mencintai keduanya, bahkan hubunganku dengan Kania terasa lebih akrab dibandingkan hubunganku dengan adik2ku sendiri.
Kedekatan hubunganku dengan Kania, dan keakrabanku dengan mantan kakak-2 iparku, justru membuat ayah Intan marah dan memusuhi mereka. Hingga tak mau hadir saat pernikahan Kania dan Raja dilangsungkan.


Kuhantar mereka ke pelaminan. Kusaksikan bahagianya sorot mata keduanya saat aku meng-capture foto2 perkawinan mereka di kamar tidur.


Kepindahan Kania ke rumah suaminya, telak membuatku kesepian, karena Intan masih tinggal di Medan kala itu. Aku otomatis tinggal seorang diri di rumah yang kami sewa. Kania juga terasa jauh sejak itu, namun kucoba memaklumi karena pasti dia sedang menikmati rumah tangganya yang baru saja dia masuki.

Tentu keindahan dan kebahagiaan yang mewarnai kehidupan mereka membuat pikiran tak sempat lagi terbagi. Ada sebuncah kesedihan ditinggalkan, tapi aku tentu tak boleh cemburu. Kebahagiaan mereka adalah hal utama, apalagi kemudian Kania diterima bekerja di sebuah perusahaan Negara terkemuka di negeri ini. Kantor kami selesai masa baktinya. Aceh dan Nias selesai direcovery. Maka kamipun harus pindah haluan. Mencari pekerjaan baru untuk melanjutkan kehidupan.

Kania kemudian pindah ke Palembang, sementara Raja menjadi dosen di sebuah Universitas terkemuka di Banda Aceh ini. Kesibukan semakin membuat kami tidak pernah lagi saling menyapa. Bahkan di yahoo messenger pun aku jarang mendapatkan sapaan hangat dari keponakanku itu. Mungkin dia sibuk.
Hingga kemudian kudengar berita, bahwa Raja sakit. Leukemia. Berita itupun kudapat dari Sonya, mantan adik iparku (yang sampai kini masih seperti adik kandungku sendiri), dan sayangnya juga telah lama dilupakan oleh Kania. Padahal setauku Sonya juga sangat sayang pada Kania.

Tak satupun dari kami, juga teman2nya yang pernah menyangka bahwa Raja mengidap penyakit maut ini. Sewaktu di lembaga kami yang dulu, Raja terlihat begitu sehat, gagah, ceria dan sigap. Sungguh diluar dugaan jika Leukemia ini ternyata telah mencengkramnya diam-diam. Pilu hatiku mendengarnya. Apalagi saat Sonya menginfokan padaku bahwa ibunya Kania sudah menangis tersedu karena dokter telah memvonis bahwa Raja tak akan mampu bertahan lama lagi.

Perjalalan hidup seorang anak manusia memang telah diatur sedemikian rupa. Raja mampu bertahan, pasang surut dalam penderitaannya. Sayangnya aku hanya berkesempatan bertemu dengannya sekali dua kali saja, karena walaupun Kania telah kembali pindah ke Banda Aceh, tapi hubungan kami tetap sejauh dulu, saat dia di Palembang.
Aku berusaha untuk tidak berkecil hati, walau sebenarnya hatiku pilu. Bukan. Bukan aku ingin mengungkit budi baikku terhadapnya. Bukan. Hanya sedih saja, karena aku menyayanginya setulus hati. Namun aku tetap berusaha menyakinkan dan membujuk hatiku bahwa Kania sedang sibuk. Banyak hal yang harus dihadapinya. Jadi aku harus maklum. Apalagi suaminya sedang sakit.

Bisa dihitung dengan jari pertemuan kami, walau sebenarnya jarak tempat tinggal kami sangat dekat. Bahkan di hari raya Idul Fithri maupun Idul Adha pun, keduanya tidak lagi mengunjungiku atau setidaknya Umiku, orang yang telah menerimanya saat pertama kali masuk kota Banda Aceh ini. Orang yang telah merawatnya kala asam lambungnya kumat. Ya sudahlah, mungkin dia sibuk. Mungkin Raja sakit, makanya Kania ga bisa bergerak kemana-mana.

Hari ini, kali ketiga aku kembali ke rumah ini. Rumah Kania yang indah.
Kali pertama aku hadir disini adalah untuk mengantar dirinya yang saat itu jadi pengantin. Aku sebagai ‘tante’nya tentu harus hadir.
Kemarin adalah kali kedua rumah ini aku kunjungi. Untuk melayat setelah mendapatkan kabar duka, bahwa Raja telah berpulang ke rahmatullah.
Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.

Bahkan kabar duka ini tidak aku dapat dari Kania, melainkan dari Sonya di Medan. Aku maklum, mungkin Kania kalut, panic. Tak perlu aku berkecil hati, apalagi ini masalah dukacita. Segera kujemput Umiku untuk mengunjungi rumah duka kemarin.

Barulah aku dapat info lengkap, bahwa Raja telah sepuluh hari di Penang sana, untuk Kemoterapi. Kali ini kepergian Raja ditemani oleh ibundanya, karena bulan lalu sudah ditemani oleh Kania. Tentu Kania tidak bisa sembarangan meninggalkan pekerjaannya, sehingga haruslah bergantian dengan sang ibu mertua dalam menemani Raja berobat ke Penang sana.

Dan dua hari lalu, setelah Kemo, Raja merasakan dadanya sesak, sehingga segeralah ibundanya membawanya ke rumah sakit yang butuh waktu 1 jam an untuk mencapainya. Sayangnya di tengah perjalanan, Raja tak mampu lagi bertahan. Menghembuskan napas terakhirnya dan menghadap sang Pencipta.

Hari ini, kali ketiga aku kembali ke rumah ini.
Menetes airmataku menatap ketabahan Kania. I still love you dear. I do care for you….


Tak tahan rasanya membendung airmata ini, apalagi saat mba Ira, tantenya Kania, mantan kakak iparku membisikkan bahwa tadi siang Kania sempat pingsan, saat BB Raja diserahkan ibu mertuanya pada Kania. Membuka dan membaca beberapa sms2 terakhirnya yang sudah terkirim padanya, langsung dari sumbernya.
Merinding rasanya mendengarkan isi sms2 itu yang diantaranya Raja meminta agara Kania nanti dandan yang cantik saat dia kembali. Agar Kania tersenyum manis menyambut kedatangannya.
Oh My God, sepertinya dia telah tau bahwa dia akan segera pergi. Pantas saja Kania pingsan.

Penunjuk waktu di BBku telah menunjukkan angka 6.25 pm saat bunyi sirine ambulance di luar rumah. Kami menanti dengan perasaan tak menentu. Aku duduk disamping kedua mantan kakak iparku (mba Ira dan Mba Silvi, mamanya Kania), sementara Kania duduk di samping mamanya diapit oleh ibu mertuanya di sebelah kirinya.
Di hadapan kami telah terbentang sebuah kasur yang dipersiapkan untuk menerima peti jenazah yang sebentar lagi akan masuk.
Kuyakin Kania telah bersiap untuk memberikan senyum terindahnya bagi suami tercinta, sebagaimana juga dia telah berdandan cantik sesuai permintaannya.


Salut dengan kekuatan dan ketabahan yang dimiliki oleh Kania. Tak kulihat lagi setetespun air mata di pipinya. Justru airmata itu kini pindah ke mataku. Merebak dan berjatuhan tak terbendung. Intan menggenggam jemariku, juga tak mampu menahan airmatanya. Segera kuhapus airmataku, takut tertular pada Kania. Sementara airmata yang lebih deras mengalir dari pipi ibunda Raja dan kakak perempuannya yang duduk di sebelah kiri.

Peti jenazah diusung perlahan, dan kini tepat dibaringkan disamping kasur, sedianya nanti, tubuh Raja akan diangkat dan dibaringkan sejenak di atas kasur di hadapan kami.
Kutatap peti yang terbungkus rapi oleh kain putih itu. Seseorang yang tak kukenal kemudian menyerahkan passport dan beberapa berkas lainnya milik Raja pada Kania. Wanita itu menyambutnya sementara tangan kirinya tak lepas memindahkan biji tasbih dari satu ke yang lainnya. Berzikir menguatkan hati agar tangisnya tak tumpah.

Tutup peti jenazah kemudian dibuka, dan serta merta menyeruak bau yang agak menyengat. Aku sama sekali tak menutup hidungku. Beginilah akhir perjalanan kita, pada saatnya nanti. Bau menyengat tentu saja, mengingat Raja baru berhasil sampai di rumahnya ini setelah tiga hari menghembuskan napas terakhirnya.

Perjalanannya cukup panjang. Setelah ditinggalkan oleh ruhnya sekitar jam 5 sore waktu Malaysia, jasadnya harus menjalani berbagai proses prosedural untuk bisa kembali ke tanah air. Jasad ini harus menempuh perjalanan panjang dari Penang ke Kuala Lumpur, urusan prosedural di KBRI Kuala Lumpur, lalu harus menunggu pesawat yang available membawanya ke Medan. Tak ada pesawat airbus yang available membawanya langsung ke Banda, sehingga harus via Medan. Dari Medan harus pindah pesawat lagi, ke Banda Aceh. Hingga baru di hari ketiga inilah, jasad Raja berhasil sampai di rumahnya, untuk disemayamkan sejenak di rumah duka, lalu lanjut ke masjid untuk dishalatkan, baru kemudian dibawa ke peristirahatannya yang terakhir.

Pilu hatiku menyaksikan ini semua. Apalagi saat pihak keluarga memutuskan untuk tidak jadi mengeluarkan jasad Raja dari dalam peti untuk dibaringkan di atas kasur, mengingat ini sudah hari ketiga, kasian jika harus diangkat2 berulang kali. Maka akhirnya, peti jenazahnya lah yang akhirnya ditempatkan di atas kasur, untuk kemudian dibuka kain kafan bagian wajahnya, agar Kania, ibunda Raja dan keluarga dekat lainnya dapat melihat dan mencium untuk terakhir kalinya.
Tak mampu kutahan airmataku saat Kania, dengan tabah tanpa setetes airmata pun mencium kening dan wajah suaminya yang terlihat membiru.
Justru aku yang tersedu sedan. Kutahan isak tangis sekuat tenagaku. Ingatanku melesat jauh. Aku yang membawa Kania kesini, dan mempertemukannya dengan Raja, kini Raja telah pergi, dan Kania tinggal seorang diri. Oh Tuhan….


Dulu kuhadir di pesta meriah perkawinan mereka, kini ku hadir lagi setelah sekian lama tak pernah saling bersua, untuk menghantar kepergian Raja, selamanya.


Pedih hatiku. Sesak dan sakit tenggorokanku menahan isak tangis yang menyiksa ini.
Kania masih mampu bertahan, dengan tabah ikut serta mengikuti jenazah yang diangkat oleh beberapa pemuda, menuju masjid. Aku yang sedang tidak boleh Shalat), Intan, mba Ira dan mamanya Kania memutuskan untuk tinggal di rumah, bersama beberapa sanak keluarga Raja yang lainya.

Sungguh kami salut dengan ketabahan Kania menghadapi musibah ini, dan mempersembahkan senyum termanisnya untuk sang kekasih hati. Mba Silvi dan mba Ira bilang bahwa mereka memang menguatkan Kania sejak dia siuman tadi dengan beberapa sugesti. Bahwa Kania harus kuat, karena sayang banget jika sampai pingsan, artinya Kania ga akan punya kesempatan untuk melihat Raja terakhir kalinya. Apalagi Raja berpesan agar Kania memberinya senyum manis saat dia kembali, artinya Kania harus mampu meluluskan permintaan terakhir Raja…

Aku setuju dengan semua itu, dengan kebanggaan itu. Karena aku sendiri juga bangga dengan ketabahan Kania. Tapi aku kuatir, dibalik itu semua, dibalik keteguhan dan ketegarannya, Kania justru sedang menghadapi reruntuhan hatinya yang porak poranda. Ilmu trauma healing yang diajarkan oleh atasanku di Medical Team International dulu cukup membekas di hati. Bahwa seseorang bisa saja bersikap tegar, menunjukkan sikap kokoh, tapi seorang manusia, sekuat apapun dia, sehebat apapun dia, pasti akan hancur hatinya jika harus kehilangan seseorang yang dikasihinya.

Jadi adalah sangat lumrah, jika ekpressi kehilangan itu disalurkan keluar, baik melalui tangisan, tulisan, atau media lainnya. Yang penting disalurkan keluar. Tidak dipendam di dalam hati, karena itu akan menjadi bibit penyakit yang siap untuk menghantam dan menghancurkan dirinya.
Itu juga sebabnya, kenapa kami menggelar kegiatan trauma healing bagi para korban tsunami kala itu. Karena para korban tsunami yang telah mengalami bencana dan kehilangan satu, dua, tiga atau bahkan seluruh anggota keluarganya itu, perlu difacilitasi untuk bisa menyembuhkan trauma batin itu. Ya itu tadi, dengan memancing, memfasilitasi agar deraan batin ini bisa disalurkan keluar.

Kuutarakan hal itu pada kedua mantan kakak iparku, bahwa, sebaiknya, besok lusa, atau bahkan nanti malam, jika Kania mengutarakan rasa hatinya, kegalauannya, kesedihannya, jangan dilarang untuk menangis, biarkan dia mengeluarkan kepiluan batinnya. Agar rasa sakit kehilangan itu bisa keluar dan tidak mengendap menjadi penyakit batin yang justru dapat membahayakan jiwanya. Kalo perlu pancing dia untuk bisa menangis, tapi tentu jangan sampai keterlaluan donk.


Kucontohkan sebuah kisah yang pernah kubaca, bagaimana seorang istri yang begitu tabah mengantar kepergian sang suami selamanya, dengan sebuah senyum ikhlas, ketegaran yang membuat siapapun berdecak kagum, tak pernah menangis. Wanita itu berubah menjadi seorang yang pendiam, kosong pandangannya, dan akhirnya menjadi sakit jiwa.

Mba Silvi sangat kuatir mendengar kisahku itu, dan berjanji akan menjaga Kania dengan baik dan akan memancingnya untuk mengeluarkan segala kepahitan dan kepedihan yang dirasakannya.

Penunjuk waktu di BB ku telah menunjukkan angka 8.45 malam, saatnya aku mengantar mba Ira ke terminal bus, karena beliau harus kembali ke Medan, besok harus kembali bekerja. Dan ternyata mba Silvi, malah minta ikut segala karena takut sendirian berada di kamar Kania dan Raja. Para pengantar jenazah tentu masih lama kembali,

Aku geleng-2 kepala, Intan tertawa geli sampai aku cubit lembut tangannya agar berhenti tertawa. Gak enak kan di lihat keluarga Raja, orang musibah kok ketawa2. Gimana ga coba sobs, masak mba Silvi, sama menantunya kok takut. Emang mba yang satu ini terkenal penakut. Apalagi sama hantu. Masalahnya ini kan menantunya gitu lho. Masak takut sih.

Well sobats, setiap kita memang telah punya kisah perjalanan tersendiri, yang bahkan kita sendiripun tak mampu menebaknya. Kehidupan kita adalah sebuah lakon kehidupan, yang hanya diketahui persis oleh sang penulis skenerionya, sang Maha Kuasa, Allahu Rabbi. Semoga goresan kisah kehidupan kita hendaknya dapat berakhir indah ya sobats… dapat meninggalkan manfaat bagi sanak keluarga, handai tolan, agama dan bangsa ini. Amin.

Kepada keponakanku Raja, semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT, lapangkanlah kuburnya ya Allah, tempatkan dia di tempat yang layak disisiMu ya Rabbi. Berikan juga ketabahan dan kekuatan bagi Kania dan keluarga keduanya dalam menghadapi cobaan ini. Amin Ya Rabbal Alamin.

Rest in peace my dear nephew...

34 komentar:

  1. Wah Mbak, seprtinya tidak hanya Mbak Alaika yg jd meneteskan air mata. saya juga terbawa haru membaca ulasan cerita ini. Mengingatkan saya pada peristiwa saat sepupu saya meninggal akibat kecelakaan tragis di pagi hari. JUga kepergian teman SMA saya setahun lalu setelah bertahan dgn kanker yang dideritanya. Finally, kita semua akan kembali padaNYA. How, when and where...that's big secret we'll never know.
    Saya juga salut dengan ketabahan Mbak Kania yg menghadapi kepulangan suaminya dan mempersembahkan senyum termanisnya untuk sang kekasih hati. Dan saya juga yakin dibalik ketabahannya, Mbak Kania tetep butuh 'pelepasan' dukanya...we're still human being, kehilangan seseorang yg teramat di kasihi tentu butuh waktu dan proses untuk healing...

    BalasHapus
  2. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...
    Waduw itu Mb Silvi ada-ada aja sih. Eh tapi aku kalo jadi dia juga pasti takut hihi~
    Semoga Mas Raja diterima di sisi Tuhan dan segala amal baiknya diterima...

    BalasHapus
  3. Innalillahi,turut berduka cita ya.Semoga mbak Kania bisa melalui cobaan ini dengan sabar

    BalasHapus
  4. Huhu.... Sedih banget saya bacanya, Mbak.... Bener-bener sedih.... Saya jadi ingat dengan adik saya yg sudah pergi mendahului saya. Dia meninggal saat masih remaja, dlm usia yg masih muda.....
    Semoga amal ibadah orang-orang yg kita cintai yg telah pergi mendahului kita bisa diterima di sisi-Nya, dan semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa duka tersebut. Amin....

    BalasHapus
  5. Terbukti lagi betapa lembutnya dan sayangnya dirimu pada Kania, walo jelas warna yang ada.

    Hebat kamu De.
    Salam

    BalasHapus
  6. Innalillahi wa'innaillaihi roji'un, semoga Raja mendapatkan tempat terbaiknya ya Mbak, juga buat keluarga terutama Kania semoga diberi kekuatan...

    Iyaa Mba, kita punya jalan yang sudah diatur oleh-Nya, semoga kita bisa melewati setiap tahapan ini dengan indah hingga menggapai khusnul khotimah ya, Aamiin...

    BalasHapus
  7. ikut berduka dan jadi bersedih lho mbak membacanya..semoga ini menjadi hikmah buat kami disni :)

    BalasHapus
  8. ikut berduka ya Mbak, merinding baca cerita ini.
    Mudah2an Kania memang benar2 kuat ya ..

    BalasHapus
  9. @Mba Ririe: bener banget mba....
    we never know this big secret. banyak pembelajaran di tersaji di depan mata, semoga kita termasuk orang-2 yang dapat mengambil pelajaran dari semua ini ya mba...
    makasih banget atas kunjungan, doa tulus dan empatinya...

    BalasHapus
  10. @Una: amin YRA...
    makasih ya Na atas kunjungan, doa dan empatinya...

    BalasHapus
  11. @Lydia: makasih atas kunjungan, perhatian, doa dan empatinya ya mba....

    BalasHapus
  12. @Ditter: amin Ya Rabbal Alamin....

    makasih atas kunjungan, perhatian dan doanya ya mba...

    semoga kita arwah orang2 yang kita cintai, yg telah mendahului kita dapat beristirahat tenang dalam damai di sisi Allah Yang Maha Kuasa...

    BalasHapus
  13. Ikut berduka... saya ikut sedih baca cerita mba... Sayang mba pada Kania luar biasa... walo sepertinya ada rasa kecewa yang dalam... tapi ngga mengubah rasa sayang mba...

    Moga juga Kania tabah dalam menghadapi cobaan ini... dan semoga Raja diterima disisi Tuhan YME..Diberi tempat yang paling indah....

    BalasHapus
  14. Semoga Kania diberikan ketabahan oleh Allah.....

    BalasHapus
  15. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, moga arwah nya mendapat tempat yang terbaik di sisi ALLah SWT & moga yang ditinggalkan bisa tabah. Btw ini Nia yg dulu tgl di tempatmu kan? yg sempat mo ke Sigli? So touching :(

    BalasHapus
  16. Innalillahi wa'innaillaihi roji'un, turut berduka cita Mba. Semoga selalu diberikan kekuatan dan ketabahan bagi yang ditinggalkan.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  17. mbak aku menangis loh baca postingnmu ini...hiks...speechless..

    BalasHapus
  18. innalillahi wa inna ilaihi rojiun. menyedihkan...tak kuasa aku membacanya...smoga keluarga di berikan ketabahan. salam

    BalasHapus
  19. @Ega: makasih atas kunjungan dan doanya ya Ga...
    Amiin ya Rabbal Alamin...

    iyaaa.... kecewa yang terukir tak mampu mengalahkan rasa sayangku padanya, apalagi disaat dirinya mengalami kemalangan seperti ini....

    BalasHapus
  20. @Nandobase: amin. thanks atas kunjungan dan doanya ya sob.

    BalasHapus
  21. @Mas Satrio: hehe... makasih atas perhatiannya mas...

    BalasHapus
  22. @Yunda: bener mba, setiap kita sudah punya perjanjian tertulis yang bahkan kita sendiri lupa apa saja isi perjanjian itu, yang pasti akan kita lakoni hingga halaman terakhir buku kehidupan kita...

    semoga kita dapat menjadi manusia2 yang selalu dikasihi dan senantiasa dalam perlindungan dan pertunjukNya ya mba...

    makasih atas kunjungan, perhatian dan doanya ya mba...

    BalasHapus
  23. @Ketty: makasih banget mba atas doa dan perhatiannya.

    amin...

    BalasHapus
  24. @dey: amin mba... makasih atas kunjungan dan doanya yaaa....

    BalasHapus
  25. @Nana: amin YRA....
    Iya Na, bener, ini Nia yang ikut bersamamu survey di Sigli dulu......

    BalasHapus
  26. @Ejawantah: Amin YRA...
    makasih atas kunjungan, perhatian dan doanya ya mas....

    BalasHapus
  27. @Mba Pu: sama mba, aku teriris dan menetes airmataku menuliskan cerita ini. Sungguh suatu kisah nyata yang menyayat hati... hiks..hiks..

    BalasHapus
  28. @tunsa: Amin....
    makasih atas kunjungan, perhatian dan doanya ya mba...

    BalasHapus
  29. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...

    Semoga Almarhum diterima segala amal ibadahnya, iman Islamnya, diampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat yg indah. Amin...

    Aku maklum kalau mbak hubungan mbak dengan Kania lebih akrab daripada adik2 kandung sendiri, karena mbak kan gak punya adik kandung perempuan ya?

    Alow mbak apa kabar? Seneng bisa mampir kesini lagi :)

    BTW, template nya ganti ya mbak? Lebih keren sekarang lho.

    BalasHapus
  30. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

    teh kania perempuan tegar ya mbak? keponakan mbak itu sangat hebat. ketegaran dan keteguhan hatinya bisa jadi panutan. bila Asep ada di posisi teh kania, rasanya hal itu adalah sebuah pukulan yg selalu membekas,dan akhirnya saya pun ketika membaca kejadian ini, sangat merinding. gak bisa di pungkiri meski saya laki laki, tetapi hati saya terteguh dan berkaca kaca melihat sebuah pelajaran kehidupan seperti ini. Apalagi ketika almarhum mengirimkan pesan itu T__T

    Allah selalu mempunyai rencana lain. InsyaAllah selalu ada hikmah di balik semua ini.

    dan semoga, arwah masRaja di berikan tempat yang layak di sisi Allah SWT.

    #maaf mbak saya ketinggalan jauh nih update postingan mbak . hehe

    BalasHapus
  31. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...
    Turut berduka cita mbak Alaika... semoga beliau diberi tempat yang layak disisi Allah SWT

    BalasHapus
  32. Innalillahi wainna ilaihi rojiun, turut berduka cita atas meninggalnya Raja, semoga istri dan seluruh keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kekuatan. Amin

    BalasHapus
  33. innalillahi wa inna ilahi rojiun..
    turut berduka ya mb..

    BalasHapus
  34. Huaaaaa,....Mba Alaika membuat air mataku menetes sepagi ini :(

    Semoga Kania diberikan ketabahan yg luar biasa, dan keikhlasan menerima takdir ini.
    Untuk raja, smg dia tdk dalam kesakitan lagi, amin

    BalasHapus