Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Jumat, 31 Juli 2009

Selingan Semusim II


kisah sebelumnya di Selingan Semusim I

,
“Cantik banget ya? Tuhan pinter banget menciptakan alam ini!” Komentarnya sembari menyudahi sarapannya. Disambut anggukan setuju oleh Novita, lalu kedua nya pun meneruskan langkah, sebelum tersusul oleh rombongan Pak Benny yang nampaknya masih jauh tertinggal di belakang. Jalanan semakin mendaki, untungnya jalannya termasuk mulus, sehingga aman bagi kaki Novita yang hanya bersandal jepit. Memang, karena tak punya planning khusus untuk mendaki gunung, kebanyakan para peserta wanita hanya bisa bersandal jepit (itu pun sandal jepitnya hotel), karena sepatu yang mereka pakai adalah jenis high heel atau pansus. Jadi impossible banget dong untuk diajak mendaki gunung. Pemandangan alam yang tersaja di kiri kanan jalan benar-benar indah, walau semuanya masih Nampak samar tertutup kabut. Angin yang berhembus dingin menusuk tulang, tak mampu memaksa mereka untuk mempercepat langkah. Keduanya tetap melangkah santai menikmati perjalanan dan pemandangan indah sambil terus bercerita. Ada-ada saja bahan yang menjadi obrolan.
“Kamu tau ga Vi? Di sekitar sini banyak lho yang sedang menatap kamu!” Fajar berbisik, sambil mendekatkan dirinya lebih rapat ke Novita.
“Maksud mas?” Sambut wanita itu tidak mengerti akan kalimat Fajar.
“Ya, satu, dua, tiga, empat dan lima yang di balik pohon sana, semuanya sedang memperhatikan kita, terutama yang di balik sana itu tuh, kayaknya suka sama kamu deh!” Bisiknya lagi.
Penjelasan itu langsung membuat wanita itu merapatkan diri seraya memeluk tangan kiri Fajar erat. Bulu kuduknya mulai berdiri, merinding dan merasa seram. Kepercayaannya akan adanya alam gaib, memang tak bisa disingkirkan, apalagi di tempat-tempat seperti ini, yang notebene nya adalah habitatnya mereka. Hal lainnya adalah bahwa Fajar, sang fasilitator muda ini, bukan hanya mumpuni dalam hal memberikan mereka pelatihan, tapi juga piawai akan ilmu gaib. Jadi wajar saja jika apa yang dikatakannya itu membuat Novita menelannya mentah-mentah alias percaya penuh. Hiii.. Seram!
“Gimana dong mas? Aku takut nih, aku ga punya pegangan apa-apa di tubuhku….!” Bisiknya semakin mempererat gayutannya di tangan Fajar. Fajar membalas dengan menggenggam erat jemari Novita, menenangkan wanita itu.
“Ga pa-pa, kan ada mas!” bisiknya perlahan.Terlihat bibir Fajar berkomat kamit dalam tanpa suara. Tapi tetap saja Novita yang memang penakut, terbelenggu dalam rasa takutnya.
“Udah.. ga papa kok, udah aman, Insyaallah!” Bisiknya, meremas jemari Novita, mencoba mengalirkan kehangatan pada jemari yang terasa sekali dingin karena ketakutan.
“Bener?” Bisik Novita, seraya masih menggenggam erat jemari Fajar yang dibalas dengan anggukan kuat oleh Fajar. Iba hatinya melihat wanita ini dicekam rasa takut.
“Iya Vi, udah aman kok. Mereka sudah pergi…”
“Mas kok bisa nampak sih? Berguru sama siapa?” Bisiknya penasaran.
“Ada deh, rahasia dong, ntar kalo tau, kamu malah ingin berguru pula… !” selorohnya.
“Ih, aku tanya serius lho mas, kok malah becanda sih?”
“Ceritanya panjang sih sebenarnya… awalnya aku ga yakin akan hal-hal begituan. Kamu pasti ga percaya kalo aku bilang bahwa dulunya aku tuh sangat bandel. Sering bolos, suka mabuk, gonta ganti cewek dan lebih parahnya lagi, aku tuh suka banget jajan. Tau kan jajan?” Fajar menatapnya penuh arti.
“Main perempuan!” cetus Novita setelah terlebih dahulu menganggukkan kepala.
“Yup, pinter!” Tangan Fajar menjawil kembali menjawil hidung Novita, mesra.
“Masak sih mas? Waktu itu umur kamu berapa emangnya?” Rasa penasaran terlihat jelas di mata Novita.
“Yah… lagi puber-pubernyalah, kira-kira dari SMP sampai kuliah tingkat dua. Wah, saat itu aku memang bandel banget. Ayahku sampai kehabisan akal dalam menghandle ku. Ibuku… duh, sering jantungan oleh ulahku. Aku suka banget kebut-kebutan di jalanan. Sering tabrakan. Belum lagi hobbyku naik gunung yang kian mendarah daging. Gunungnya yang angker-angker pula lagi!”
Laki-laki itu berhenti mendadak, membuat Novita merapat kembali ke tubuh Fajar, ketakutan. Eh ternyata, Fajar hanay bermaksud memetik sekuntum bunga hutan berwarna kuning yang sangat indah, dan dengan penuh percaya diri, bak seorang pangeran, menyelipkannya di belakang teling kanan Novita. Wanita itu begitu terpana, takjub sendiri akan keromantisan yang baru saja tercipta.“Kamu makin cantik dengan bunga ini Vi!” Pujinya.
Ucapan itu jelas melambungkan perasaan Novita ke awan, belum pernah se umur-umur dirinya mengalami hal seindah ini. Belum pernah ada cowok yang nekad menyelipkan setangkai bunga di telinganya. Hatinya makin terjerat oleh pesona Fajar, membuat pikirannya tak karuan dan bahkan lupa akan topic yang sedang mereka perbincangkan.
“Eh, ceritanya bersambung aja ya, mas kebelet pipis nih, mau pipis dulu di balik batu itu, kamu tunggu disini aja, aman deh!” Bujuknya.
“Ga mau, aku takut mas!” Bisiknya, berkeras tak mau ditinggal oleh Fajar. Berat sekali rasanya melepaskan tangan laki-laki itu.
“Yeee… gimana dong, mas kebelet nih, sebentar aja…. !” Novita malah menggelek bak anak kecil yang takut ditinggal oleh ayahnya.
“Ya udah, ikut ke balik batu itu yuk!” Tarik Fajar lembut. Novita menurut saja, begitu lebih baik daripada dia ditinggal sendirian dan tau-tau Fajar menghilang pula di balik batu itu. Ih, amit-amit deh! Wanita itu segera membalikkan tubuhnya manakala Fajar bersiap-siap untuk melepaskan hajat kecilnya. Baru kemudian Novita kembali membalikkan tubuhnya, membantu Fajar mengambil botol aqua yang berada di backpack nya Fajar.
“Kamu ga sekalian Vi?” Tanya Fajar yang langsung disambut gelengan kepala oleh Novita. “Belum ada panggilan!” Jawabnya dalam canda.
Keduanya melanjutkan perjalanan seraya Fajar meneruskan kisahnya.
“Aku memang benar-benar berandalan kala itu. Mendaki gunung adalah hobby utama yang rasanya tak akan bisa terpisah lagi dari kehidupanku. Suatu kali, kami mendaki gunung Pangrango untuk kesekian kalinya. Perginya sih aku fit-fit aja, eh pulangnya kok rasanya pundakku seperti digantungi beban yang sangat berat, belum lagi leherku yang seperti mau patah. Ga bisa miring kiri kanan. Yang tadinya aku sanggup jalan cepat, ini sebentar-sebentar harus berhenti, sampe teman-temanku heran dan mulai curiga. Apalagi ketika kemudian aku harus ditandu, karena pinggangku pun ikut-ikutan berat dan sakit. Aneh banget. Teman-temanku mulai menduga, ada yang tidak beres dengan pendakian kami kali ini. Herannya lagi, hanya aku yang mengalami seperti ini.” Fajar berhenti sejenak menanti reaksi Novita yang dengan serius mendengarkannya. Dan melanjutkan kala wanita itu mengisyaratkan agar Fajar segera melanjutkan ceritanya.
“Sesampai di rumah, oleh ayahku, yang selama ini kemampuan supranaturalnya aku remehkan, aku dideteksi. Benar saja, sejumlah makhluk halus bersemayam di pundak, leher dan pinggangku. Mereka suka dengan tubuhku, nyaman, adem dan lapang. Parahnya lagi, mereka keberatan untuk keluar dan bahkan berebutan sesamanya untuk menghuni ragaku. Ayahku harus berperang mengeluarkan mereka. Mereka itu, adalah jin non muslim, yang jahat. Kalau ga dikeluarkan segera, mereka akan bersemayam selamanya di tubuhku dan aku akan mati dalam dua kali dua puluh empat jam. Serem banget! Aku sendiri udah ga sadar kala itu. Taunya juga dari cerita teman-teman dan ibu serta kakakk-kakakku yang menyaksikan peristiwa itu.” Fajar kembali menghentikan ceritanya, Novita menanti lanjutannya dengan tak sabar, tangan kanannya masih saja bergayut erat di lengan kiri Fajar. Situasi yang menyeramkan membuatnya tak ingin melepaskan gayutan itu.
“Akhirnya ayah berhasil juga mengusir mereka dari tubuhku. Kemudian aku dipaksa ayah untuk mulai mempelajari beberapa ajian dan trik untuk menjaga diri. Soalnya besar kemungkinan akan terulang kejadian seperti itu. Aku mulai sholat, dari yang bolong-bolong sampai akhirnya bisa full. Apalagi saat aku mulai bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib, aku jadi meyakini seutuhnya akan keberadaan makhluk ini. Lebih takjub lagi saat ajay menurunkan seluruh ilmunya padaku, dan aku mulai mampu menembus alam mereka. Wah… betapa kuasaNya Tuhan yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dan seluruh isinya.” Fajar berhenti sejenak dan melanjutkan,
“Sejak itu, aku mulai merubah diri, kuliahku yang hampir terancam DO aku selamatkan. Aku mulai menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Kemudian aku mengenal Shenny, dan kami pacaran, begitu tamat kuliah dan mulai bekerja, aku beranikan diri mengawini Shenny. Shenny masih harus melanjutkan kuliahnya kala itu, baru setahun kemudian dia pun tamat, kerja dan kemudian kami memiliki Bella, disusul Adli dua tahun berikutnya. Tamat deh ceritanya. Eh … apa itu?”
Lelaki itu mengakhiri ceritanya sambil berlari kaget. Setengah mati Novita ikut kaget dan menyusulnya dalam sekejab, sambil menjerit. Eh dia malah tertawa geli. Tentu saja wanita itu jadi malu, geram dan refleks saja tangannya melayangkan sebuah pukulan karate ke perutnya, membuatnya membungkuk menahan sakit akibat serangan tiba-tiba itu.


BERSAMBUNG ke Selingan Semusim III


7 komentar:

  1. Kok terinspirasi nulis yg ada cerita mistiknya mbak? heheheehe

    BalasHapus
  2. wah kok aku jd ikutan deg2an nih.. hihi.. makin pnasaran.. lanjut ah

    BalasHapus
  3. @catatan kecilku
    hahaha...kebanyakan baca majalah 'misteri' waktu itu mba.... hihi

    BalasHapus
  4. Walah aku udah ketakutan.
    Ternyata Fajarnya bercanda.
    Lanjut ah...
    Aku baru sempat baca lagi nih mbak. :D

    BalasHapus