Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Sabtu, 01 Agustus 2009

Selingan Semusim III



Kisah sebelumnya di Selingan Semusim II



“Kenapa kamu pukul tuan saya?” sebuah geraman baritone dan agak bergetar, keluar dari mulutnya, yang sama sekali bukan suara khas Fajar, jelas membuat Novita kebingungan. Rasa takutnya menjalar, namun akal sehatnya meyakini bahwa Fajar pasti sedang bercanda. Akting Fajar memang bagus, tapi tak hendak dibiarkannya rasa takut yang menyelinap di hatinya berkembang semakin mekar. Ditatapnya wajah Fajar yang menatap dingin kedua matanya. Bagus deh acting kamu mas, batinnya.
“Udah deh mas, jangan akting begitu ah, kita kan bukan sedang syuting, yuk lanjut jalan!” Ditariknya pelan tangan Fajar, yang malah mencekal kasar tangan Novita. Kuat dan kasar. Novita kaget, dicobanya menatap langsung ke bola mata Fajar, yang semakin tajam dan dingin menatapnya. Kejam sekali pandangan itu, pikirnya. Tapi keyakinannya bahwa Fajar sedang bersandiwara, menenangkan ketakutannya.
“Udah dong mas, cukup sandiwaranya…. Ntar beneran kejadian lho!” bujuknya, seraya mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal kasar oleh tangan kekar Fajar. Cekalan itu malah semakin kuat dan menyakitkan. Ditariknya sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri, namun semakin dia meronta, semakin keras cekalan itu. Novita menunduk refleks, menggigit punggung tangan Fajar kuat hingga laki-laki itu kaget dan melepaskan cekalannya. Wanita itu mundur secepat kilat, pikirannya bimbang, sungguhankah ini? Lelaki itu melangkah maju sementara Novita semakin cepat melangkah mundur. Ketakutan, apalagi saat laki-laki itu dengan langkah sigapnya melangkah maju, mendekatinya dengan tatapan dingin menusuk tulang, dengan ekspressi wajah yang menakutkan. Ingin sekali wanita itu menangis saat dirasakannya kedua kakinya tak mampu lagi bergerak, seakan ada magnit maha kuat yang membuat kakinya lengket ke lapisan besi raksasa di dalam perut bumi, dimana kakinya sedang menjejak. Tamat sudah riwayatnya kini, pikirnya kala Fajar kini hanya beberapa senti di hadapannya. Dalam ketakutan yang merasuki jiwa, dipanjatkannya beberapa doa. Memohon ampunan dan keselamatan dariNya. Pasrah, bahkan untuk berteriak pun dia sudah tak sanggup. Kondisinya ini sama persis dengan kondisi seseorang yang sedang bermimpi buruk, dan tak mampu mengeluarkan suaranya untuk menjerit memohon bantuan.
“Jangan sekali-kali memukul tuan saya lagi!! Ingat itu!” Geraman suara itu terdengar kejam dan dingin. Novita semakin ketakutan. Cerita-cerita seram yang sering dibacanya di majalah Misteri bermunculan di benaknya, membuat keringat dingin mengucur semakin deras. Dan ketika tubuh Fajar  tak lagi berjarak dari tubuhnya, air mata pun menetes perlahan. Novita memang pengecut, tapi dia yakin, seorang pemberani sekalipun, pasti akan dihantui rasa takut tiada tara jika mengalami hal seperti ini, pikirnya. Di tengah alam pegunungan seperti ini, yang jauh dari siapapun, yang jauh dari rombongan, siapa yang akan menolongnya kini? Seorang teman seperjalanan yang harusnya menjadi pelindung, kini justru berubah jadi setan. Duh… semakin deras air mata itu mengalir.
“Oh Tuhan, aku pasrah atas kehendakMu. Disinikah akhir hayatku? Tak bolehkah aku bertemu orang-orang yang kukasihi terlebih dahulu, sebelum aku menghadapMu ya Allah?” Batinnya dalam hati. Air mata kini mengalir deras, dalam diam tanpa suara. Lututnya gemetar dan tak lagi berani menatap wajah dingin yang begitu dekat ke wajahnya. Novita menunduk dan memejamkan mata. Ketakutan tiada tara kian menguasainya.
Namun yang terjadi kemudian, sebuah tangan lembut mengangkat dagunya, dan sepasang jemari mengusap perlahan airmata yang mengalir deras itu.
“Vi… oh My God, I made you crying, I’m so sorry honey!” Itu suara lembut Fajar. Suara asli Fajar. Apa yang sebenarnya terjadi ya Allah? Batin Novita tersentak kaget. Apalagi saat sebuah pelukan penuh rasa sesal merapat ditubuhnya. Kebingungan itu hanya sejenak, digantikan oleh emosi yang spontan menggelegak, menyadari bahwa ternyata tadi memang Fajar sedang bersandiwara, dan sukses membuatnya menangis ketakutan. Hatinya sungguh tersinggung dan marah. Meronta dia melepaskan diri dari pelukan Fajar. Tega-teganya lelaki itu menteror rasa takutnya. Membuatnya gemetaran hingga tak mampu lagi menguasai diri. Kurang ajar bener dia! Untung saja dia tak sampai kencing di celana tadi. Ingin dilayangkannya sebuah tamparan keras ke muka Fajar yang menatapnya penuh penyesalan. Tangan Fajar masih merengkuh kedua bahunya. Keinginan untuk menampar diurungkannya, mengingat dirinya hanya berdua dengan lelaki ini di tengah alam raya yang sama sekali asing baginya. Tak ada gunanya menampar, memukul atau bahkan berteriak, tak akan ada yang mendengarnya. Rombongan teman-teman lain telah jauh di depan, sementara pak Benny cs pasti masih jauh di belakang. Melarikan diri dari Fajar juga tak mungkin, apalagi jika teman-teman lain sampai tau tiba-tiba dia memusuhi Fajar, pasti akan timbul pemikiran yang tidak-tidak nantinya. Akhirnya diputuskannya untuk terus berjalan, selangkah di depan Fajar, yang terus menjejerinya, mencoba berbaikan. Novita sama sekali tak memberi tanggapan.
“Vi, I am so sorry, forgive me, please!”
Novita tak menanggapi, rasa tersinggung yang teramat sangat masih menguasainya. Diteruskannya melangkah, namun kemudian terpaksa harus berhenti karena telah sampai di persimpangan dan harus melihat jejak yang ditinggalkan oleh rombongan terdahulu, berupa kertas yang bertuliskan arah anak panah, yang ditimbpa dengna batu di atasnya agar tidak diterbangkan oleh angin. Keduanya kemudian mengikuti arah anak panah, masih dalam keadaan membisu.
“Vi, mas minta maaf… mas nyesel banget, ga akan mengulangi lagi, janji! Please forgive me! Mas hanya main-main tadi!”
“Main-main?? Kamu bilang main-main? Is that the way you play?” Novita tak mampu mengontrol suaranya.
“Iya, mas salah banget sama kamu. Maafkan mas yaaaa…., please..!”
Novita hanya diam, tak menanggapi, dilanjutkannya langkahnya dalam diam.
“Ayo dong Vi, jangan diam aja, eh kali ini mas serius lho, sebaiknya kamu dekat mas deh, tuh di sudut sana ada tiga yang sedang merhatiin kita. Mas serius, demi Allah!”
Kata demi Allah itu jelas berhasil membuat Novita merapatkan diri kembali ke sisi Fajar, tapi masih dengan wajah cemberut. Dibiarkannya tangan Fajar merangkul pinggangnya erat. Kurang ajar bener nih anak, pikirnya, namun dia tak punya pilihan lain, rasa takut akan alam gaib sungguh membuatnya takluk. Dia yakin Fajar tak akan berani berlebihan, ini alam raya, yang kata orang keramat, ga boleh ada maksiat….
“Sorry deh Vi, mas janji ga akan becanda keterlaluan lagi sama kamu, ok?”
“Kamu jahat, gimana kalo tadi aku sampai mati ketakutan? Anak dan suamiku pasti akan sangat kehilangan!”
“Iya, maaf, ga akan ulangi lagi!” Fajar nyengir, seraya melepaskan tangannya dari pinggang Novita, saat dari kejauhan di depan sana, terlihat rombongan Tony yang telah beristirahat di belokan jalan yang juga masih beraspal. Ada sepuluh orang sedang duduk dan tiduran di jalanan itu. Melepas lelah sambil berfoto ria. Novita mencoba menghapus kekesalan di wajahnya, menggantinya dengan wajah ramah yang disukai oleh teman-teman lainnya.
“Udah lama?” Fajar meyapa mereka ramah.
“Udah pak, udah puas tiduran malah..” Jawat Yanti tertawa.
“Ayo dong kita foto bareng. Sini mba Vita, Pak Fajar, Bapak di tengah sini dong.!” Dan semuanya pasang wajah ceria untuk diabadikan. Setelah puas berfoto ria, rombongan Tony memutuskan untuk melanjutkan langkah, karena merasa tenaganya telah pulih kembali. Meninggalkan Novita dan Fajar kembali berduaan. Sebenarnya Novita ingin sekali mengikuti rombongan Tony, namun tubuhnya masih merasa lelah setelah episode horror satu babak tadi. Wanita itu duduk santai, menyelonjorkan kedua kakinya di atas aspal yang dingin, menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Lega sekali rasanya. Emosi yang tadinya memuncak kini mulai menurun grafiknya. Direbhkannya tubuhnya, melemaskan seluruh otot dan persendian. Menatap langit indah kebiruan dihiasi awan putih cerah yang bergumpal berbentuk aneka rupa. Sungguh indah dan damai. Udara dingin dan segar mengisi rongga pernapasannya. Dinikmatinya alam sepuasnya tanpa mempedulikan Fajar yang duduk tak jauh darinya. Direntangkannya kedua tangannya di atas aspal yang dingin. Dipejamkannya kedua mata seraya menarik napas dalam-dalam, enak sekali rasanya. Belum pernah dia merasakan hatinya sedamai ini. Berada di tengah alam raya, dipayungi langit cerah dan udara gungun yang segar. Fresh sekali rasanya. Pantesan banyak orang yang ketagihan mendaki gunung. Sejenak dia terlupa akan beban kehidupan yang setia mengikuti kemanapun dirinya melangkah.
“Vi….!” Suara lembut Fajar terdengar memanggil, namun wanita itu hanya membiarkannya saja berlalu. Bukan karena masih marah padanya, tapi karena dirinya masih ingin menikmati dan merasakan keramahan alam ini. Posisinya tak beranjak.
“Vi…., kami tidur ya?” Sekali lagi suara lembut itu masuk ke telinganya. Dibukanya mata dan ya ampun, ternyata wajah Fajar begitu dekat, berbaring telungkup dengan kedua tangannya menyangga dagu, memperhatikannya dengan seksama. Tak urung hatinya bernyanyi, deg-degan.
“Apaan sih mas? Aku ga tidur kok!”
“Jadi?”
“Menikmati alam, emang kamu ga suka suasana alam begini? Ga menikmatinya?” Balasnya, bangkit dan menatap Fajar.
“Ya suka banget sih, cuma mas lebih suka ngeliat kamu terbaring seperti tadi. Cantik banget!”
“Ih, gombal banget kamu mas! Yuk ah, jalan!” Segera Novita bangkit, menarik tangan Fajar untuk menyusul rombongan Tony. Bahaya nih kalo dibiarin terus menggombal, batinnya. Namun sebelum mereka jauh melangkah, terdengar suara Pak Benny dan rombongan kecilnya mendekat. Maka mereka menunda sejenak langkah yang hendak ditempuh.
“Puji Tuhan, akhirnya bisa juga hambaMu ini rebahan di tempatMu yang sangat indah ini Tuhan!” Puji Pak Benny takjub. Riang sekali suarnya. Direbahkannya tubuhnya di atas jalanan itu, segembira peserta lain yang rata-rata ukuran tubuhnya seragam dengannya. Gerombolan si berat, nama yang cocok deh untuk mereka. J
“Capek ya pak? Tapi belum jera kan untuk mendaki gunung?” Fajar menyambutnya gembira.
“Capek dikit Pak, sama sekali ga jera kok… kita mah pantang mundur!” Jawabnya ceria, diiyakan oleh teman-teman lainnya.
“Tapi kita mau tidur dulu ah, atau kita disini aja deh nunggu mereka turun!” Pak Jul nampaknya benar-benar lelah. Dan sepertinya memang ingin berhenti sampai disitu saja.
“Hm… gimana kalo kita berfoto bareng dulu, biar semangat lagi…. Yuk, Vi..kamu ditengah coba…!” seru Fajar, mencoba mengalirkan semangat ke Pak Jul yang memang terlihat sangat lelah. Kembali mereka berfoto-foto, ceria dan mulai bersemangat lagi. Baru kemudian Novita dan Fajar melanjutkan perjalanan, meninggalkan pak Benny cs beristirahat sejenak. Keduanya berjalan dalam damai, santai dan rileks. Emosi yang tadinya bersemayam di dada Novita, sirna sudah. Berganti dengan kedamaian hati, yang membuat perjalanan ini terasa ringan, padahal jalanan yang mereka tempuh kini semakin menanjak. Sesekali, tangan Fajar merangkul bahu atau melingkar di pinggang Novita, mesra, tak ubahnya sepasang kekasih. What?? Come on!
Matahari telah rata membagikan cahayanya ke seluruh penjuru bumi. Novita merasakan badannya mulai hangat dan berkeringat. Dibukanya sweater dan mengikatkannya di pinggang. Jalanan yang mereka tempuh tidak lagi semulus sebelumnya, karena mereka telah memasuki areal tanjakan yang penuh batu gunung ayang lumayan tajam bagi kaki Novita yang hanya bersandal jepit. Fajar membimbing wanita itu dengan sabar. Rombongan Tony dan Rey telah meninggalkan jejak yang cukup jelas sehingga peserta lainnya tidak mungkin tersesat. Novita mulai merasakan lelah, diajaknya Fajar untuk kembali beristirahat, apalagi tenggorokannya mulai mongering dan perutnya mulai bergemuruh, lapar sekali rasanya. Tapi Fajar malah membujuknya untuk naik beberapa langkah lagi, karena telinganya menangkap suara teman-teman lain tak jauh di atas tebing.
“Dikit lagi deh, setelah tanjakan ini, kita pasti akan ketemu tanah datar yang bisa kita pakai untuk istirahat. Mereka pasti lagi duduk dan sarapan di atas. Kamu ga dengar suara mereka Vi?”
Novita menajamkan telinga dan samar-samar dapat menangkap suara mereka. Timbul lagi semangatnya untuk mendaki tanjakan yang terdiri dari bebatuan itu. Disambutnya uluran tangan Fajar yang berjalan di depan. Dan benar saja, teman-teman sedang asyik sarapan sambil melepas lelah. Tapi anehnya, tanah datar yang terbentang itu ternyata buntu, ke bawahnya adalah kawah dan kiri kanannya tebing berbatu yang menjulang tinggi.
“Sorry Pak Fajar, kita salah arah nih, kita buntu sampe di sini, ga ada jalan untuk ke puncah!’ Jelas Tony menyambut kedatangan kami. Jelas saja berita itu begitu mengecewakan, wajah-wajah teman lainnya juga menyiratkan hal serupa.
“Yaaaaa…. Masak buntu sih? Kita udah sampe sini! Ayo dong cari cara….!” Ujarku penuh kecewa. Disambut hal yang sama oleh Santi dan Sania.
“Iya nih, masa cuma sampe sini, sia-sia dong pendakian kita!” Sophia menambahkan.
“Udah…. Santai dulu… ga pa-pa lah, walau cma sampai disini, kita harus berbesar hati dong, yang penting kan kebersamaan kita, kekompakan kita, itu yang harus terus dipupuk dan dikenang..”! Fajar mencoba menenangkan.
“Yaa… tapi kan kurang sip, ceritanya ga seru dong kalo ga sampe puncak!” Rajuk Sania dengan wajah cemberut.
“Tenang, rileks dulu lah, ntar kita cari jalan keluarnya, tuh Ayu dan Fadli lagi keliling nyari jalan keluar. Makan-makan dulu lah!” Tony turut menenangkan rombongan yang mulai berisik.
Sepakat dengan saran Tony, Novita ikutan membuka nasi kotak dan mulai sarapan. Fajar duduk disampingnya, ikutan makan dari kotak yang sama, sambil bercerita dengan Tony yang akhirnya duduk di samping Fajar. Ayu kembali dengan wajah kecewa. Tony bangkit, mengajak Rifky menyelidiki ke sisi tenggara. Rombongan Pak Benny yang akhirnya sampai juga, disambut berita mengecewakan itu. Terlihat jelas wajah lelahnya itu kecewa berat. Begitu juga dengan anggota si berat lainnya. Namun Fajar mencoba menenangkan mereka dengan lelucon-leluconnya yang mengundang tawa. Novita telah menghabiskan suap terakhirnya ketika Tony dan Rifky kembali dengan berita baik. Mereka menemukan jalan ke atas. Berarti perjalanan masih dapat dilanjutkan. Yang lain tentu menyambut dengan sukacita.
Fajar mengingatkan bahwa mereka harus sudah sampai hotel jam dua belas untuk berbenah, dan check out pada jam satu tepat. Namun semuanya memutuskan untuk menuntaskan pendakian sampai ke puncak, apapun resikonya. Akhirnya sepakatlah semuanya untuk meneruskan perjalanan sampai ke puncak, dengan penuh semangat pastinya. Jalan yang dilalui semakin payah, banyak tebing yang harus didaki, namun mereka menempuhnya dengan gembira. Rombongan Tony kembali memimpin di depan, mereka berjalan dengan sangat gesit dan penuh semangat, sehingga tanpa terasa rombongan kembali terpecah. Kifli yang tadinya jalan barengan dengan Novita dan Fajr, malah telah menghilang seakan sengajak membiarkan kembali mereka berduaan.
Pak Benny cs tetap sesantai tadi. Lambat tapi pasti, masih menjadi motto dari gerombolan si berat ini. Matahari kian tinggi dan cahaya yang dibagikannya pun terasa mulai menyengat kulit. Fajar membuka topinya dan memberikannya pada Novita. Wantia itu kembali mengenakan sweaternya untuk melindungi kulit lengannya dari lidah matahari, namun tak lama segera membukanya kembali karena merasa sangat gerah. Fajar dengan sabar membimbingnya menaiki bebatuan yang menempel di dinding tebing. Keduanya berhenti sejenak di kawah sulfur yang aromanya menyengak dada namun berpemandangan sangat indah. Lelaki itu mengambil sebongkah batuan indah berbentuk bunga dan memberikannya pada Novita.
“Ini namanya bunga belerang, mungkin bisa jadi koleksimu dalam mengenangku!” Ujarnya. Caileh! Romantis banget nih cowok.
“Thanks mas, cantik juga ya? walau baunya ini sangat menyengat, but I will keep it to keep you in mind!” Jawab Novita tak kalah romantic. Duh!
Keduanya kembali melangkah, semakin keatas cahaya matahari semakin terik, namun hembusan angina yang terasa sangat keras, malah membuat udara terasa dingin. Jelas membuat Novita yang belum terbiasa dengan suasana seperti ini, menjadi kedinginan. Fajarnya malah terlihat santai saja. Dia hanya mengenakan t-shir yang diatasnya dilapisi kemeja katun lengan panjang mulai dari berangkat tadi. Jalanan yang mereka tempuh kian sulit. Tebing batu yang harus didaki semakin tajam. Apalagi bagi kaki yang hanya dilindungi oleh sepasang sandal jepit, tentu harus sangat berhati-hati agar tidak tergores. Keduanya melangkah perlahan, terutama karena Novita jelas tidaklah sesigap Fajar yang memang sudah terbiasa dengan pendakian. Puncak gunung sudah terlihat begitu dekat. Hati Novita bersinar ceria. Sebentar lagi dirinya akan tiba di puncak Sibayak. Subhanallah, akhirnyaaaa….. , jeritnya dalam hati. Namun ternyata mereka salah mengambil jalur. Tebing yang harus didaki terlalu curam, dan Fajar tak ingin mengambil resiko, apalagi mengingat Novita sama sekali tak berpengalaman dalam hal ini. Dengan sedikit kecewa terpaksa mereka berbelok arah. Tangan kekar Fajar tetap menggenggam tangan wanita itu.
“Kita asyik ngobrol sih, sampe salah jalan, kamu mau istirahat dulu Vi?”
“Ga usah deh mas, jadi kita tersesat nih?” Novita sedikit gusar.
“Bukan, hanya salah jalur. Bukit yang kita naikin ini terlalu curam untuk didaki. Coba kamu duduk disini sebentar ya, biar mas keatas, seberapa aman untuk didaki, ok?” Bujuknya, namun lelaki itu segera mengurungkan niatnya mendengar nada takut di suara Novita. Digenggamnya tangan wanita itu lembut seraya menuntunnya menuruni bukit, berjalan ke arah lain. Medan yang kian berat, membuat keduanya tak lagi sempat ngobrol macam-macam. Perhatian terpusat pada batuan tebing yang curam, bagaimaan menjejakkan kaki di atasnya agar tidak terpeleset dan jatuh ke bawah.
Ternyata ini adalah arah yang benar. Dari kejauhan di atas sana telah terlihat arombongan Tony yang juga dengan hati-hati sedang mendaki,  mencapai sebuah menara yang bagai tertancap di atas puncak gunung. Hati Novita bersorak gembira melihat mereka, yang bagai benda-benda kecil merangkak ke atas. Mereka melambaikan tangan seraya berseru gembira melihat Novita dan Fajar dari kejauhan, yang tentu saja dibalas ceria oleh keduanya.
Hati Novita benar-benar takjub tatkala kedua kakinya benar-benar berhasil menjejak di puncak gunung itu. Semua teman-temannya juga merasakan hal serupa, karena tak satupun dari mereka menyangka akan berhasil mencapai puncak gunung yang dari hotel terlihat berdiri gagah menantang. Dan hari ini, siang ini, tepat jam sebelas dua puluh tujuh menit, mereka telah berhasil menjejakkan kaki mereka di puncaknya. Subhanallah!
Setelah merebahkan diri di tanah yang berbatu, mereka pun mulai berpose. Ceklak ceklik tak tertahankan, mengabadikan momen-momen indah itu sebagai dokumen abadi, bukti nyata bahwa mereka telah benar-benar menjejakkan kaki di puncak gunung ini. Fajar tentu saja jadi bintang paling laris saat ini. Ganti berganti mereka berpose dengan sang fasilitator ini. Tak terkecuali Novita. Setelah puas berfoto dan istirahat, maka mereka pun memutuskan untuk turun, karena mereka harus mengejar waktu agar bisa check out on time.
Seperti biasa, waktu yang diperlukan untuk pulang tentu lebih cepat dari yang dibutuhkan saat pergi. Begitu juga kali ini. Rasanya jalan yang ditempuh terasa begitu mudah dan cepat. Hanya saja saat mencapai kawah sulfur, Novita merasakan perutnya begitu mulas, seperti akan haid, dan benar saja, beberapa saat kemudian, wanita itu merasakan seperti ada cairan yang menetes di underware nya. Memang, ini adalah tanggal dimana dia mendapatkan siklus haidnya, namun rasa mulas seperti ini bukanlah hal yang biasa dialaminya. Rasa mulas itu dengan cepat meningkat ke kram perut serta kehilangan rasa pada kedua tangannya. Ya Allah, kenapa pula ini? Pikirnya. Dicobanya untuk terus berjalan. Fajar beberapa langkah dibelakangnya, ngobrol santai dengan Tony. Novita merasakan rasa sakit yang kian kuat menyerangnya, sungguh diluar kebiasaan. Diraihnya tangan Santi yang berjalan di sisinya. Wanita lajang itu kaget merasakan tangan dingin Novita.
“Lho, kak, kok tangan kakak dingin banget, lho, kok wajah kakak pucat banget?” Kaget wanita itu bertanya. Tapi Novita sudah tak mampu lagi menjawab. Wanita itu merosot perlahan, bersimpuh di tanah beraroma sulful itu. Rombonganpun jadi terhenti dan mengelilinginya. Novita meringis menahan sakit.
“Tanganku kehilangan rasa, perutku mulas banget!” rintihnya.
Tony kemudian menggosok-gosok tangan Novita dengan kedua tangannya, mencoba menimbulkan kehangatan dari pergesekan tangan itu. Fajar membuka backpack nya, mengambil sweater hitamnya dan memakaikannya ke tubuh Novita. Dirabanya dahi Novita yang tentu saja terasa begitu dingin. Pak Benny menyarankan agar Novita diangkat ke tempat yang lebih terlindung dari hembusan angina yang memang sangat kencang, yang langsung diresponse Fajar tanpa canggung. Dipindahkannya Novita ke balik batu besar yang memang lebih terlindung, diikuti oleh teman-teman lainnya. Rasa sakit yang kian mendera, membuat Novita tak lagi mempedulikan rasa malu, dibiarkannya saja Yanti mengolesi minyak kayu putih di perut dan dadanya. Fajar menatap wanita itu lama, seolah sedang mendeteksi sesuatu. Dan seakan menemukan kunci yang dicarinya saat Novita membisikinya bahwa dirinya baru saja haid.
Dengan sigap, lelaki itu duduk bersila di hadapan Novita, mulutnya mulai komat kamit membaca doa. Yang lain memperhatikan dengan was-was dan takjub. Dan saat peluhnya yang sebesar-besar jagung itu semakin membasahi dahi dan tubuhnya, Novita merasakan tubuhnya mulai membaik. Perutnya mulai enakan, dan tangannya mulai normal kembali. Fajar menutup doanya dengan meraup tangan ke wajahnya.
“Well, it’s okey now, dia cuma ingin kenalan sama kamu kok, gimana? Udah baikan kan?” Tanyanya, membuat yang lain bergidik. Novita sendiri juga jadi ngeri dan langsung mendekat ke Fajar.  Jika saja dia punya sayap, akan dipakainya segera untuk terbang kembali ke rumah, tanpa ingin mengambil pakaian yang masih tertinggal di kamar hotel. Cukup sekali deh naik gunung! Batinnya. Biarlah kisah pendakian dia nikmati dari buku-buku cerita petualangan saja daripada harus mengalami hal-hal seperti ini.

****

BERSAMBUNG ke Selingan Semusim IV,

4 komentar:

  1. Sepertinya asyik juga ya naik gunung, apalagi jika setelah sampai di atas bisa melihat pemandangan yg luar biasa indah.

    BTW, punya pengalaman naik gunung juga ya mbak?

    BalasHapus
  2. @the others

    yup, aku ikutan dalam pendakian ini lho, makanya punya ide untuk nulis dan ngembangin kisahnya... hehe.

    Eits... tokoh Vita itu bukan diriku ya mba.... haha.... she is a friend of mine...

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Oalah cerita temennya mbak tho.
    Lanjut ah bacanya...

    BalasHapus