Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Selasa, 03 Januari 2012

Selingan Semusim XVI

Kisah sebelumnya klik disini ya sobs....,


Percakapan on phone dengan Novita jelas menghalangi incoming call lainnya. Dan sms ini pasti muncul setelah Shenny berulang kali gagal menghubungi suaminya. Dan benar saja, tak ada alasan yang dapat diterima Shenny untuk kali ini. Jelas saja, udah jam 12 malam sih…., istri mana yang ga curiga mendapati pesan ‘nomor yang anda tuju sedang sibuk’?.

Rentetan interogasi bermotif curiga menghiasi keseluruhan percakapan mereka dan diakhiri dengan putusnya komunikasi by Shenny. Disempurnakan dengan ‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan’ setiap Fajar mendial nomor istrinya. Ini berarti dia harus menunggu esok hari untuk menyelesaikan dan menentramkan hati sang istri.

Bendera perang sepertinya mulai dikibarkan. Mudah-mudahan akan ada jalan meredam amarah istrinya. Atau ini akan menuju ke sebuah solusi bagi permasalahan ini….? Kacau…, sisa tengah malam itu dihabiskan hanya untuk menimbang-nimbang. Menganalisa berbagai kemungkinan-kemungkinan. What if Shenny find out his affairs? What if she leaves him? Dan berbagai what if lainnya. Siapkah dia kehilangan Shenny dan kedua anaknya? Digantikan oleh Novita?...
Oh dear…

Di bagian lain dunia.., Novita juga sedang termangu, gundah gulana menjalari relung hatinya. Hati adalah bagian tubuh yang teramat peka dan tak pernah berhasil dibohonginya. Seperti rasa yang selalu hadir setiap dirinya terhubung berjam-jam ngobrol dengan Fajar.

TTM masa lalu itu selalu saja mampu menghadirkan nuansa indah dan bahagia di setiap sudut hatinya. Tak dapat diingkari jika segenap rasa cinta di masa lalu itu kini hadir sempurna. Jika selama ini dukalara karena kehilangan Arif mendominasi setiap lapisan rasa di hatinya, kini tekadnya untuk tidak akan membuka hati bagi pria lain harus kembali dipertanyakan. Berbagai alasan pembenaran diri pun bermunculan.

Adalah wajar jika wanita seusianya, belum lagi 40 tahun, butuh perhatian dan pendamping hidup setelah lebih dari tujuh tahun terbenam dalam untaian air mata dan kesedihan. Adalah wajar jika dirinya butuh perhatian, kasih sayang dan lindungan seorang suami. Dan berbagai adalah wajar lainnya ….., yang intinya adalah sudah saatnya dirinya membuka diri bagi lelaki lain, dan Fajar adalah lelaki yang telah sejak lama mencuri hati dan perhatiannya. Namun masalahnya tidaklah segampang itu…... Fajar is not a single man! Oh Dear…

******


Sebuah sms yang hadir dilayar hp Fajar telah cukup menjadi jawaban atas kebingungan dan kehilangannya akan Shenny. Istri yang sejak tadi malam menon-aktifkan hp nya itu baru saja meng-aktifkan kembali hpnya. Langsung dengan sebuah sms yang kini terpatri di layar dengan pesan singkatnya: jemput saya di bandara SIM sekarang.
Terbelalak matanya membaca enam suku kata itu.

“Halo ma, beneran nih mama di banda aceh?” Serbunya begitu Shenny menjawab telp.

“Saya tidak suka bercanda untuk hal-hal seperti ini mas. Jemput saya sekarang.” Keras nadanya dan telp terputus.

Tak punya banyak waktu, sebuah mobil teman berhasil dipinjam Fajar yang langsung melaju ke bandara setelah mengabari Vita akan kedatangan istrinya secara mendadak itu. Pikirannya sibuk mengolah alasan apa yang harus dikemukakan jika istrinya curiga nanti.
Tapi curiga apa? Ah sudahlah, pasrah dan hadapi sajalah…

Di sisi lain ruang waktu, Novita termangu. Sungguh di luar dugaan kedatangan istri Fajar ini. Apakah feelingnya sebagai istri dan sense of belongingnya kini bergema? Mengisyaratkan bahwa seorang wanita lain sedang bersiap untuk merampas suaminya dari sisi dirinya?

Kejadian seperti ini juga sudah pernah terjadi di masa dahulu. Saat dirinya dan Fajar mabuk kepayang untuk selalu bertemu setiap Rabu di Berastagi, tiba2 saja di suatu Rabu, Shenny memutuskan untuk ikut Fajar terbang ke Berastagi juga.

Kini, kejadian itu terulang, saat mereka berdua bersiap untuk terbang ke Penang besok pagi, Shenny muncul membatalkan semua ini. Well, sungguh hatinya kecewa, walau komitmen dihatinya mantap untuk tak lagi mengulang perzinahan masa lalu, tapi tujuan mereka ke Penang adalah untuk medical check up Novita atas keluhan sakit pinggang yang kini kerap menderanya. Tak ada kata yang mampu mewakili kekecewaan hatinya…. Tapi dia punya hak apa? Mau marah juga apa pantas? Siapa dirinya? Yang datang itu istri sah Fajar…!

Mesjid Raya adalah tempat pelarian Novita setiap hatinya dipenuhi masalah. Rumah Tuhan satu ini cukup banyak berkontribusi terhadap setiap gundahnya. DihadapanNya wanita ini bersimpuh kini. Di sebuah sudut kiri ruang Mesjid, sengaja menjauh dari tamu Alllah lainnya. Menumpahkan airmata kepedihan dan kegalauan hatinya.

“Ya Allah, apa yang harus hamba perbuat? Hamba mencintainya… menyayanginya…, tapi harus bagaimana Tuhan? Haruskah hampa rampas dia dari wanita itu?” Tangisan diam kini menjelma isakan, berangsur menjadi sedu sedan yang tak lagi tertahankan. Novita benar-benar merasa seorang diri. Terdampar di sebuah sudut sepi tak berpenghuni. Hatinya benar-benar lara, kosong, pikirannya gamang.

******


Sabtu yang hampa jelas terpampang di depan mata. Fajar tak ada kabar berita dan Novita paham benar jika lelaki itu sedang sibuk menghandle istrinya. Tiket ke Medan tak berhasil di refund dan resmi hangus sudah. Novita masih berusaha menghiasi kehampaan hatinya dengan berusaha menyirami dan membersihkan tanaman hiasnya yang memenuhi teras tempat tinggalnya. Sambil hatinya tetap saja mencoba kembali ke kegalauan yang kian terperangkap di lubuk hatinya.

“Tuhan, apa yang harus hamba lakukan? Kegiatan apa yang harus hamba lakukan untuk mengusir kehampaan ini?”

Sejak tsunami merampas kebahagiaannya, Novita hampir tak punya teman dekat. Semua sama dimatanya, just a friend. Yang tak perlu direpotkan dengan curhatan masalah pribadi kehidupannya. Sejak tsunami merampas Arief dan Niken dari sisinya, Novita selalu saja merasa hidupnya kosong, ada sisi kelabu yang tak pernah berhasil diwarnainya. Namun, kehadiran Fajar yang baru beberapa waktu saja, telah mampu merubah warna kelabu itu menjadi lebih cerah bercahaya. Namun kini? Cahaya mentari itu digelayuti awan mendung, penuh digantungi uap air yang siap ditumpahkan ke bumi.

Wanita itu beranjak setelah meninggalkan pacul kecil yang biasa dipakai untuk menggemburkan tanaman begitu saja, membersihkan tangannya di kamar mandi dan langsung berganti pakaian. Benaknya mengarahkannya untuk melawat Arief dan Niken. Sudah lama dia tak mengunjungi makam kedua orang terkasihnya itu (Yang entah dimana). Kali ini, dia akan memulainya dari sebelah Barat. Kuburan Massal di Uleelheu. Cukup dekat untuk diakses. Baru kemudian pelawatan akan dilanjutkan ke kuburan massal Blang Bintang, diakhiri dengan kuburan kecil di bawah jembatan Krueng Aceh (Lamnyong).

Bapak tua penarik becak langganan Novita sudah cukup paham akan ritual ini. Hatinya selalu dan selalu saja teriris menyaksikan kepedihan dan kesenduan ini. Usia tuanya, rasa kebapakan yang dimilikinya, sering membuatnya tak mampu untuk menahan diri, agar tak memeluk Novita dan membawanya dalam pelukan. Ingin sekali dia, andaikan boleh, memberikan kasih sayangnya kepada wanita ini. Atau setidaknya memperlihatkan rasa simpatinya pada wanita ini. Yang demikian tabah menghadapi cobaan ini. Yang dia tau pasti, telah sekian tahun mencoba/memaksa diri untuk tabah. Yang dia tau pasti, sebenarnya, jauh di balik kelopak mata indahnya, wanita ini memendam danau air mata, yang dibendung paksa, yang sewaktu-waktu siap untuk melimpah ruah.

Ingin sekali dia memberikan bantuannya, tapi bagaimana? Kepada istrinya, si bapak tua ini juga telah mencurahkan segala laporan pandangan mata atas ritual yang selalu dilakukan Novita ini, dan untaian airmata sang istri adalah bukti nyata keprihatinan dan simpati sang istri terhadap Novita, yang jelas si istri sendiri tak mengenalnya.

Tak hanya pada sang istri, pada seorang bule langganannya, yang fasih berbahasa Indonesia, si bapak juga mencurahkan cerita tentang Novita, dan membuat si bule sangat ingin berkenalan dengan Novita, in case dia bisa memberikan bantuannya.
Tapi lagi-lagi, bapak tua tak punya kesempatan untuk mempertemukan keduanya.

Kuburan massal Blang Bintang, sunyi sepi. Walau terletak di pinggir jalan raya yang banyak dilalui kenderaan yang menuju bandara international Sultan Iskandar Muda, kuburan tetap saja kuburan. Kesan sepinya, sungguh menyayat hati. Beda jauh dengan kuburan lainnya, yang jelas dapat dihitung jumlah batu nisannya.

Ini? Kuburan massal. Tak banyak daerah yang memilikinya. Dan tak banyak orang yang familiar dengannya. Namun bagi Novita, mata batinnya seakan dapat menembus tulang belulang yang kini bersemayam di bawah tanah ini. Tulang belulang yang sejak awal memang sudah tak dapat dikenali lagi, sehingga diputuskan untuk disemayamkan secara massal karena tak berhasil diidentifikasi.

Berulang kali mata batinnya mencoba melakukan kontak dengan para penghuni di bawah lapisan tanah ini, namun tak pernah sekalipun Arief maupun Niken memberikan sinyal keberadaan mereka. Kegagalan beruntun ini tak pernah memberinya putus harapan. Selalu dan selalu dicobanya untuk memanggil nama keduanya di dalam batinnya, seraya memohon bantuan sang Ilahi Rabbi, namun kiranya, Allah belum berkenan menjawab permohonannya.

~Bersambung~




8 komentar:

  1. hmm potensi konflik tampaknya mulai menggeliat di keluarga Fery.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.... sepertinya begitu mas..., tapi namanya bukan Fery lho, tapi Fajar

      Hapus
  2. Conflict of Fery family just begun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Ririe: yups, seems so sist!
      btw, bukan Fery lho, but Fajar. :)

      Hapus
  3. abis baca reviewnya jeng Ririe, kok jd pnasaran. Permisi ijin baca ya.. Makasih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo silahkan dibaca sampai tuntas mba.... :)

      Hapus
  4. Yah, bersambung.. Bikin penasaran.. Kalo ending-nya Novita sama Fajar, gak rela..

    Btw, who's Fery?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.... iya mba, bersambung beberapa seri lagi deh tuh kayaknya.... Fery? kayakanya mas Satrio dan Ririe salah tulis deh, yang dimaksudkan adalah Fajar.

      lanjutannya sedang dipikirkan nih mba... ada ide ingin mempertemukan tokoh Fachry di cerpenku yang ini: http://fiksi.alaikaabdullah.com/2010/12/hari-ini-enam-tahun-yang-lalu.html dengan Novita.... dan say good bye pada Fajar, tapi belum tau deh, jangan-jangan Fajar malah tetap mendominasi hati Novita... hehe.... yuk kita lihat ntar yaa....

      Hapus