Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Senin, 09 Juni 2014

Bawa Aku Pulang!

credit
Aku punya rancangan khusus untukmu,  aku yakin kamu pasti akan suka deh. Aku kangen banget sama kamu Shin! Jangan lupa lho, besok siang ya!

Isi BBM Fariz yang sukses mengukir senyum di bibir Shinta. Siapa sih yang ga senang dihadiahi pakaian yang dirancang khusus untuknya? Fariz memang baik banget. Ada saja perhatian yang diberikannya untuk Shinta. Tak pelak, rasa kangen pun kini menyeruak di hatinya untuk lelaki tampan itu. Gimana ya tampangnya sekarang? Lebih ganteng daripada di webcam atau ga ya? Batinnya.

Tapi aku ga mau rancangan yang norak lho! Aku mau yang elegan.  Sebuah icon lidah menjulur [tongue out] pun dia bubuhkan disamping kalimatnya dan sent to Fariz.

Haha, kamu kira aku designer murahan? Ya pasti elegan lah, untuk my dearest darling hunny bunny masak yang norak sih? Warnanya abu-abu muda silky, elegan banget deh. Aku juga udah siapkan hijabnya lho. :)

Senyum kian merekah di bibir Shinta, membayangkan dan yakin sekali jika hadiah yang disiapkan Fariz untuknya memang elegan. Fariz memang perancang busana handal. Rancangan-rancangannya laris manis. Geleng-geleng kepala dia setiap mengingat lelaki yang satu ini. Seorang arsitek yang malah lari ke dunia fashion. Ngapain coba capek-capek kuliah di Teknik? Capek-capek begadang mengerjakan tugas yang sulit dan seabrek-abrek, jika setelah wisuda, malah lari ke dunia fashion. Emang sih, masih sama-sama mendisain, tapi object yang didisain, beda jauuuuh!

But that is life. Who can predict? Seperti kali ini, tiba-tiba saja atasannya memintanya untuk hadir di Workshop ini untuk mewakili perusahaan mereka. Sebuah perintah yang membuatnya bahagia lah pastinya. Toh tugas yang diemban juga bukan hal yang sulit. Adalah tugas yang memang selama ini dihandlenya. Jadi ya no problem at all lah. Toh suaminya juga mendukung banget. Kapan lagi mau ke Bangkok, gratis pula. :)

Dan sambil mendayung, dua tiga pulau terlampaui, inilah yang sedang dilakukannya. Selesai workshop tiga hari yang merupakan agenda utama, maka besok siang, dia akan bertemu dengan Fariz. Sahabat karib yang sudah lima belas tahun tak pernah bertemu muka lagi, secara langsung.

Namun, who can predict the future? Janji yang telah disepakati terpaksa urung. Pertemuan yang dicanangkan di apartemen Fariz, karena lelaki itu sedang kurang sehat malah harus mengalami perubahan. Kondisi Fariz makin parah and admitted to hospital. Shinta pun was-was.

Shin, masih lama ga say? Berapa menit lagi? Aku ga tahan lagi nih, trombo ku merosot tajam.

Pesan yang hadir di layar BB nya semakin membuat Shinta kuatir. Ya Tuhan, mengapa jadi seperti ini? Selamatkan dia ya Allah. Belasan tahun tak bertemu muka dengannya, mengapa Kau pertemukan kami dalam kondisi seperti ini? Batinnya miris.

Jalanan macet ternyata tak hanya milik Jakarta. Bahkan kota besar dan megah seperti Bangkok pun terkena virus yang satu ini. Tak sabar Shinta menanti perjalanan ini sampai ke tujuan, ke Bumrungrad Hospital, yang terletak di tengah kota Bangkok. Namun karena tempatnya mengikuti Seminar tiga hari ini letaknya agak ke pinggiran, maka perjalanannya menjadi sangat-sangat jauh dan lama. Juga setelah sambung menyambung beberapa moda transportasi. Hingga akhirnya....

Fariz terkulai layu. Lemas dan sangat tak bersemangat. Panasnya meninggi lagi. Tiga orang temannya, pria berparas oriental menyingkir, setelah terlebih dahulu menyambutnya, menyalami dan mengobrol sebentar dengan gaya ramah dan bersahabat.

Tinggallah kini mereka berdua, di ruangan rumah sakit yang walau terkesan mewah, tetap saja bernama rumah sakit, dan menyebar aroma dan nuansa sickness. Shinta duduk di sisi kanan bed Fariz. Mengelus tangan kanan yang berinfus itu dan akhirnya membawa jemarinya ke jemari Fariz. Tangan itu panas sekali. Terenyuh hatinya, pilu. Wajah tampan itu begitu pucat, pias. Kemana darahnya? Kenapa Fariz sampai sepucat ini? Begitu mengerikan kah demam berdarah yang dideritanya? Shinta sendiri pernah diteror oleh penyakit mematikan yang satu ini. Tapi penanganan yang cepat dan benar di rumah sakit waktu itu, mampu menyelamatkannya. Dan Fariz? Masak rumah sakit semegah ini, dengan dokter-dokternya yang terlatih dan kompeten, tak mampu menyelamatkan pria tampan ini?

Mata Fariz menelaga. Cairan bening menggenang di kedua bola mata lelaki macho ini. Tunggu, sebenarnya tidak terlalu macho sih, sedikit melambai. Shinta memindahkan jemarinya, membelai rambut hitam lurus milik Fariz. Hatinya ikutan sedih, juga takut.

"Fai... keep your spirit please. Mari berdoa yuk..., yakinlah, Allah akan menyembuhkanmu..." Ucapnya lembut. Membelai rambut lelaki itu. Dahi Fariz terasa panas. Airmata malah kian deras mengalir dari kedua telaga bening itu. Berubah menjadi sesunggukan. Shinta bangkit. Dengan tissue yang disambarnya dari atas bed table, dihapusnya air mata yang kian deras itu.

"Shin... aku takut. Takut banget! Aku bergelimang dosa. Huhuhu...." Tangannya yang bebas dari infus bergerak, mencari jemari Shinta dan menggenggamnya erat, mencari penguatan.

"Ssh.... ssh... jangan ngomong begitu, kamu harus semangat, harus kuat, ok?" 

"Shin, aku takut, aku takut neraka menantiku... bantu aku kembali padaNya... kamu pasti tau bagaimana aku disini... aku penuh dosa Shin.." Semakin menjadi tangisan itu. Shinta dapat menangkap nuansa takut yang begitu kental di suara sahabatnya itu.

"Aku semakin parah Shin. Semakin bergelimang maksiat yang aku tak mampu keluar darinya. Aku homo. Huhuhuhu...." Terputus dan serak sekali suara Fariz. Tangisannya makin menjadi.

"Ssh... setiap dosa pasti ada tobatnya... makanya sembuhlah, semangatlah untuk sembuh, biar kamu bisa segera bertobat, ok?" 

Tak ada keterkejutan di wajah Shinta mendengar pengakuan Fariz, karena selama ini dia telah banyak mendengar hal itu dari teman-teman lainnya. Bahwa Fariz kian melambai. Dan bukanlah waktu yang tepat untuk memarahi apalagi menghakiminya? Setiap orang punya jalan masing-masing.

Fariz persis anak kecil, menangis semakin tersedu, sesunggukan dan ketakutan. Membuat Shinta tak tau harus berbuat apa untuk mendiamkannya. Apakah dia melihat malaikat maut yang hendak menjemputnya? Cepat-cepat Shinta menghalau pertanyaan yang melintas kilat itu. Ya Allah, jangan dulu ya Tuhan kami, beri Fariz waktu untuk bertobat... pintanya dalam doa.

"Ssh... Allah maha pengampun Fai... jika kamu memang sadar bahwa jalan mu selama ini salah, Allah pasti membuka pintu ampunanNya.. yakinlah..."

"Tapi aku sudah tak punya waktu Shin... aku takut...aku takut... aku takuuuuut...., Shin... ambil BBmu"

Shinta sungguh kaget dengan ujung kalimat Fariz. Refleks, diraihnya BB dari dalam tasnya. Menanti lanjutan dari Fariz.

"Catat alamat rumahku di kampung. Jl. AR. Hakim, Blok VIII, No. 114, Kompl. Perumahan Permai Sejahtera, Medan Marelan." 

Batin Shinta tersentak kaget, rasa takut menguasai hatinya. Wasiatkah ini? Batinnya, namun diturutinya tanpa berkata-kata.

"Shin, jika aku mati, bawa aku pulang, please... aku ingin pulang, bersamamu!"

Sendu sekali permintaan itu dan sukses membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Tangan Fariz terasa panas sekali. Terpana dia, ditatapnya wajah yang kian pucat dan pasi itu. Gawat ini, pikirnya. Tak bersuara, ditinggalkannya Fariz sejenak. Berlari dia ke pintu, membukanya dan mendapati ketiga teman Fariz tadi yang masih berdiri di luar kamar. Ketiganya ikutan masuk dan terpana melihat Fariz yang kian pucat itu.

Salah satunya menekan tombol di sisi tempat tidur, memanggil perawat. Perawat masuk dalam sekejap, dan mencoba memeriksa Fariz. Suhu tubuhnya kian tinggi, tapi masih ingin melanjutkan wasiatnya.

"Mike, it seem that I have to go. Let me rest in my hometown, and let Shinta takes me home. Help her financing my journey, and every thing, part of them is for you and others go to my mom at home."

Kalimat itu terdengar lirih, Shinta membeku. Laki-laki yang dipanggil Mike menangis. Persis wanita. Merangkul Fariz tapi Suster dan dokter yang baru saja masuk, memintanya untuk menjauh karena mereka ingin memeriksa Fariz lebih intense.

Shinta menebak, Mike mungkin kekasih Fariz. Dan ini soal harta benda. Dan dia, Shinta, dibebani beban berat, teramat berat. Membawa mayat Fariz ke kampung halamannya. Oh Tuhan.... No...
Tersentak wanita itu dengan pemikirannya sendiri. Ya Allah, berilah kesembuhan bagi Fariz ya Allah, beri dia kesempatan untuk bertobat.... pintanya, tak kuasa menahan airmata.

Fariz makin lemah, mulai menggigil, dan meminta Shinta mendekat.

"Shin, take me home, please. Aku percaya padamu. Take me home!" Dan proses itu berlangsung dengan sangat cepat. Fariz menutup matanya. Shinta kaget, diserbunya Fariz, tepat di telinga kanannya.

"Fai... ikuti aku.... La Ilaha Illallah... La Ilaha Illallah.... " Shinta menuntunnya. Mulut lelaki itu komat kamit, kesulitan, terbata... tapi mengikuti apa yang diucapkan Shinta. Shinta menangis seraya mengelus lembut rambut Fariz.

"Muhammadarrasullullah..... Muhammadarrasulullah.... " Lanjutnya, perlahan, tepat di telinga kanan lelaki itu.

Fariz mengikuti, terbata, berat dan sulit sekali. Shinta mengangguk kuat, meremas tangan Fariz yang ada di genggaman tangan kirinya. Fariz membuka mata, air bening menggenang disana...

"Take me home..." Dan mata itu terpejam, dadanya tak lagi bergerak. Semua yang menyaksikan itu terpaku. Termasuk dokter dan perawat yang sama-sama berwajah oriental itu.

32 komentar:

  1. Kasihan mas homo itu ya.
    Bagus ceritanya karena ambil jurusan lainn
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dhe.. kasian ya... kisah ini terinspirasi dari seorang sahabat yang memang 'melambai'. Beliau meninggal dunia karena sakit. Ga tau gimana kisah perjalanan terakhirnya, andaikan seperti yang saya gambarkan, alangkah indahnya ya...
      apapun itu, semoga beliau rest in peace ya Dhe... trims.

      Hapus
  2. huwaaaaa....mba Al bikin tercengang aja. jd gmn tuh jadinya, apakah shinta akhirnya membawa jenazah Fai ke kampung halamannya ?

    ditunggu kelanjutannya hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sepertinya jadi mi, nanti aku tanya yaaa? hahahahaa.....

      Hm... nanti bikin sequelnya yaaa... tunggu ya mi!

      Hapus
  3. hhh..tahan nafas ...secara pernah menghadapi DB ini ..
    angkat jempol deh ..,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, aku juga nahan napas bikin endingnya tuh kak Monda... hihi

      Hapus
  4. Imajinasinya Mba Alaika memang juara :) bahkan dari kisah sedih seorg teman jd cerita yg indah dan mengharu biru ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.... makasih Ir... tiba-tiba teringat almarhum dan jadi pengen nulis deh. :)

      Hapus
  5. ka alaika emang juara mengobrak-abrik emosi si pembaca, u always make me feel "in" to the story,, setiap kata mampu mengekspresikan setiap makna, hihii !!! four thumbs up for u ka al,, mmmuuuaacchh ;*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe. thanks Alya.... hope you will always enjoy the stories yaaa... :)

      Hapus
  6. Duh.... T___T

    Btw itu... ngomongin arsitek yang pindah jalur itu... ngomongin tentang saya ya..?

    *ge er tudemaks*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... kok tepat banget dugaan mba RedCarra yaaa? hihi

      Hapus
  7. Ini kisah nyata mba? Sedihnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hm... kisah nyata yang dipoles menjadi fiksi mba... :(

      Hapus
  8. Bagus, Mbak Alaika, mengangkat cerita yang tidak biasa dan dan jarang dilakukan penulis.

    BalasHapus
  9. kok aku deg degan bacanya. huufftt

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi ga sampai jantungan kan, mbak? :)

      Hapus
  10. Itu si Fariz meninggal dengan dipeluk Shinta ya.

    Aduh jadi *ngiler nih baca tulisannya mbk Alaika.

    Mak nyosss deh.

    *Ambil tisuue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hm, bukan dipeluk sih, tapi dalam belaian tangan dan hantaran kalimat syahadat yang dituntun oleh Shinta. :)
      NIh saya kasih tissue lagi yaa. :)

      Hapus
  11. Langsung teringat sahabat-sahabat yang homo dan lesbi, mom..
    :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. :(, begitulah kehidupan ya Gie. Macem2.

      Hapus
  12. hik hik hiks jadi pengen nangis.

    BalasHapus
  13. keren mbak ceritanya bagus sekali,mbak pinter dech bikin pembaca jadi penasaran dan alhasil pembaca jadi merasakan apa yang mbak ceritakan,,sukses

    BalasHapus
  14. wah ceritanyaa sungguh kereen sekaliii sangaat membuat penasaran

    BalasHapus
  15. Hidayah di penghujung nyawa ya mi. Semoga kita yang masih hidup bebas bernafas ini selalu dilimpahkan hidayahNya dan kita pun terus berubah menjadi lebih baik, aamiin.

    BalasHapus
  16. Sempat ngira di awal cerita "Jangan-jangan nggak jurusan doang nih yang oindah jalur, orientasi seksual juga."

    Eh beneran, dan karena terinspirasi dari kisah nyata juga. Semoga ia tenang di sana. aamiin ya Rabb.

    BalasHapus
  17. Ini kisah nyata, ya, Mbak Al..
    Semoga Fariz, bisa tenang di alam sana ya..

    BalasHapus
  18. Jalan ceritanya menarik. Semoga Fariz-Fariz lain di luar sana mendapat hidayah juga.

    BalasHapus
  19. Alur ceritanya cukup menegangkan skaligus inspiratif. Semoga bisa jadi hikmah bagi siapa saja

    BalasHapus
  20. Merindiiing...

    Bagaimana rasa Shinta yng mendapat kejutan di depan mata.
    Akan bagus kalau pakai teknik solilokui, nih. (ah, saya sedang mabuk solilokui)

    BalasHapus
  21. Niat bw, tapi maafkan aku nggak sanggung baca sampai akhir. Hiks. T.T

    BalasHapus