Rumah Fiksi Alaika Abdullah
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

“Assalammualaikum Nak…”. Lelaki tua itu menyapa si lelaki muda yang baru saja menemuinya di depan pintu. Tatap mata muda itu terlihat dingin. Rahangnya terlihat keras dan kaku.

“Alaikumsalam! Ada apa bapak kemari?” Dingin suara itu. Tak ada secercah kehangatan pun terlintas di modulasi itu.

Miris benar keping hati tua itu. Harusnya dipatuhi saja wejangan istrinya tadi pagi. Harusnya diurungkan saja niat untuk menyambangi laki-laki muda ini. Namun kini, dia telah berdiri di depan pintu rumahnya, berdiri tegak di hadapan lelaki tampan itu.

“Fik, bapak ga ingin mengganggu, hanya singgah karena lewat di depan rumahmu. Terus bapak ingat, mau minta alat teraphy itu untuk bapak, kalo boleh. Kan Fikri tidak menggunakannya kan?” Lirih suara itu. Diusahakannya sekuat tenaga menahan air mata yang mulai beriak, mendanau di kelopak matanya yang telah menua.

“Kayla…., Kay….!” Bukannya menjawab si lelaki tua, lelaki muda ini malah berteriak memanggil istrinya. Seorang wanita muda pun keluar. Menatap datar si lelaki tua.
“Ya bang?”

“Tolong ambilkan foot therapy itu, kasihkan untuk binatang tua ini biar cepat dia pergi.! Harusnya sudah di neraka tapi kok masih saja ada di dunia ini!” Mengakhiri kalimat busuknya itu, lelaki muda berwajah tampan itu membalik tubuh, melangkah menjauh.

Tinggallah si wanita muda, menatap datar si lelaki tua yang airmatanya langsung luruh. Tak tertahankan lagi. Tersedu dia, tak kuasa menahan diri. Harusnya dia dengar kata-kata istrinya tadi pagi. Jangan kesana, jangan kesana. Tapi langkah kaki dan panggilan hatinya memang mengharuskannya hadir untuk mendapatkan serapah ini. Oh Tuhan, apa salah hamba hingga anak kandung yang begitu penyayang itu kini berubah drastis. Kembalikan putra kami ya Allah, doanya dalam tangis.

Meutia tersentak dari tidurnya. Masih tengah malam ternyata, namun mimpi itu begitu nyata. Jelas sekali adegan itu terlintas di dalam tidurnya.
Ya Allah, selamatkan batin ayahandaku, selamatkan keping hati ibundaku… Jangan tambah lagi penderitaan mereka ya Allah, hamba kuatir mereka semakin tak berdaya… Ampuni adik hamba ya Allah, kembalikan dia pada kami. Sadarkanlah dia ya Allah….

Tak sabar dia menanti subuh. Sulit memejamkan kembali matanya yang tak mampu dia ajak kompromi. Akhirnya, via skype from ipadnya, dia call adiknya Fadjri. Menceritakan mimpinya, lalu keduanya sepakat, untuk mencarikan alat therapy kaki, menggantikan yang pernah diberi Fikri untuk ayah bundanya.
*****

Sebuah sms masuk memecahkan keheningan. Nadya mengambil dan membacanya.
“Nady dan Fadjri anakku, trims atas hadiahnya. Ayah bahagia sekali atas perhatian kalian berdua nak. Terima kasih anakku sayang. Sumo Foot Therapy nya sudah sampai nih nak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.” Sms dari ayahandanya, dikirim untuknya dan adiknya Fadjri di belahan lain dunia.

Dua tetes air bening mengalir dari mata indahnya.

Ini hanya sebuah hadiah kecil Yah, sama sekali tak sepadan dengan apa yang telah ayah bunda berikan pada kami….. semoga bermanfaat… kami sayang ayah dan bunda… teramat sangat!
Sms sent!
Alarm jam 6 pagi belum lagi berbunyi ketika ketukan di pintu kamar mengusik lelap tidurku.

Ada apa ya? Tumben Uwak (ibu kost) naik ke atas, pagi-pagi seperti ini pula. Bergegas, walau masih dengan mata menyipit dan berat oleh kantuk... bangkitlah diriku menyeret langkah, perlahan kubuka pintu seraya tersenyum manis.
Tapi senyum manis ini tertahan, terpana, bengong antara nyata atau penampakan.

Tapi suara itu nyata di telinga, it's not a dream!

"Good morning my dear!" Tangannya meraba lembut pipiku lalu wajahnya mendekat, mencium lembut keningku. Real. Ini bukan mimpi. Oh My God. Again!

"Ih mas! Kapan datang kok ga bilang-bilang? Mas ini ya!" Kupeluk dia penuh bahagia. Lagi dan lagi dia bikin kejutan. Hatiku berbunga, mekar berseri! Lelaki ini menyimpan banyak sekali ide dalam memberi kejutan manis pencerah hari-hari kami. Terima kasih ya Allah.

Kuraih backpack di punggungnya, lalu membawanya masuk ke kamar, sementara dia membuka sepatu. Senyum riang terpancar begitu langkahnya memasuki kamar ini, langsung rebahan seraya menyalakan televisi via remote yang tergeletak di atas tempat tidurku.

Masih ada tanya di hati kenapa dia bisa muncul sepagi ini. Setahuku sih penerbangan KL - Bandung by Airasia belum ada yang sepagi ini sih. Apa dia datang tadi malam? Tapi nginap dimana? Ah ntar aja deh aku tanyakan. Aku shalat shubuh dulu deh.. Baru setelah itu turun ke bawah, bikin susu coklat kesukaan kami berdua.

Dua cangkir coklat hangat terhidang, tapi dia malah meraihku ke dalam pangkuan, memeluk erat dan menghadiahiku kecupan mesra. Dan.... Ting! Hm... Terpaksa disensor deh adegan selanjutnya sobs. Hihi...

Have a great week end sobs!
Powered by Alaika's OnyxBerry®

Miranti bertingkah aneh. Berawal dari matanya yang membaca sebuah pesan di smartphonenya, lalu wanita itu berlari ke kamar putrinya. Mendapati anaknya yang sudah tertidur pulas, wanita itu hanya mampu menatap. Memandang dengan perasaan mengharu biru. Terenyuh, Ingin sekali dia memeluk tubuh putri semata wayangnya itu, yang kini telah bertumbuh masuk usia 5 tahun.

Air bening mulai mengalir dari kedua pelupuk matanya. Tak terhentikan, berkolaborasi dengan aneka rasa bersalah yang berkecamuk di sanubari, membuat air bening itu semakin deras mengalir.




Apa sih yang sebenarnya sedang aku lakoni? Apa yang sedang aku cari? Kebahagiaan? Come on! Do I look happy? No.

Aku sudah muak dengan ketidakpastian ini. Aku muak dengan ketidakberanian kamu mas. Cinta ga sih sebenarnya kamu padaku? Empat tahun sudah aku terbelenggu dalam janjimu yang terkesan suci. Kunanti engkau tunaikannya dengan sepenuh hati sebesar jiwa. Tapi apa? There is no progress at all. Kita, terutama kamu, masih menapak di tempat yang sama. Tak terlihat indikasi untuk mulai mengambil langkah

Maumu apa sih mas? Perlukah aku yang turun tangan? Mendatanginya dan beritahu bahwa kamu, suaminya, telah mendua hati?
Perlukah aku mendatanginya dan perkenalkan diri, sebagai istri kamu juga?

Mas, aku lelah. Its already four years lho. Mas telah melampau batas. Aku tak bisa lagi mengulur waktu. Aku ingin mas action, jangan tunggu sampai aku kehilangan respect terhadapmu. Jangan tunggu sampai aku berlalu, karena aku tak punya banyak waktu untuk menunggu.

Ok mas, sepertinya yang muda memang harus mengalah. Ijinkan aku berlalu, lepaskan aku dari ikatanmu, agar aku mudah melangkah membawa diri, mencari peruntunganku sendiri...
Terima kasih atas waktu indah kita selama ini...


Lelaki setengah baya itu terbelalak, membaca kata demi kata yang terkesan dirangkai dengan penuh keteguhan...
Tak sengaja dia menemukan file itu di dalam document, di laptop istri mudanya itu. Kecut hatinya. Dia paham benar, anita itu begitu teguh, komit. Do what she said. Gawat!

gambar pinjem dari sini
Meuthia terjaga dari tidurnya oleh alunan lembut nada dering smartphonenya. Enggan, dan masih dalam kantuk yang teramat sangat, diraihnya benda mungil yang terletak di atas bed boxnya, dan tak jadi menjawab begitu mendapati nomor yang tertera di layar HP adalah nomor yang tidak dikenal. Orang iseng,! Gangguin orang tidur saja! Gerutunya dalam hati. Namun sebuah sms yang masuk membuatnya kembali meraih smartphonenya dan membaca rangkaian kata yang berjejer rapi membentuk kalimat penuh arti.

 “Mba Meuthia, ini Nadine… maaf banget mengganggumu di tengah malam begini, aku lihat dirimu masih online, so aku beranikan diri menelphonemu …. Please, I need a help.”
Nadine? Nadine yang di fesbuk? Yang tinggal di Makasar? Ada apa nekad nelphone malam-malam begini ya? batinnya.
“Ada apa mba Nadine? What can I do for you?” Balasnya.
Alunan lembut panggilan masuk segera mengalun, menampilkan sederetan angka tak dikenal yang tadi juga muncul di layar. Ditekannya icon gagang telephone berwarna hijau itu dan sebuah sapaan lembut pun terdengar dari seberang.
“Assalammualaikum mba Meuthia….”
Nadine, sang sahabat maya yang dikenalnya setahun lalu via fesbuk, kini memperdengarkan suaranya. Lembut, pasti selembut orangnya nih, pikir Meuthia.
“Waalaikumsalam mba Nadine…., apa kabar? Belum tidur jam segini?” Jawabnya masih dengan suara yang masih berat.
“Kabar baik mba, belum bisa tidur nih… Dan maaf banget jadinya malah mengganggu tidurmu nih mba… sedang tidur nyenyak ya mba? Maaf yaa..” Rasa bersalah terlihat jelas di nada suara wanita itu.
“It’s okay, ga papa kok mba, ym saya memang selalu terlihat online, tapi orangnya sih udah di alam mimpi… hehe. Apa yang bisa saya bantu nih mba Nadine?” Ramah dan ceria kini suara Meuthia.
“Hm… anu mba… to the point aja ya mba… biar ga terlalu banyak menyita waktunya mba Thia.., aku ingin tau apa mba Thia kenal dengan Arthur?”
Arthur? Arthur siapa? Jangan bilang Arthur ayahnya Farah deh…. batinnya.
“Itu lho, Arthur yang tinggal di Padang…, ada di list pertemananku jika mba ingin melihatnya. Aku tak berhasil menemukannya di tempat mba, mungkin mba memang ga berteman dengannya?. Aku penasaran mba!”
Ya ampun, malam-malam begini menelephone hanya untuk investigasi seorang cowok? Ckckckck… Please deh!
“Ntar ya mba, coba saya lihat dulu di fesbuk mu mba..”
Meuthia bangkit, menjangkau ipad dan login ke akun fb nya, langsung menuju halaman fb nya Nadine. Dicarinya sebuah nama, Arthur, dan klik. Tepat seperti feelingnya, Arthur yang dimaksud adalah sang nahkoda bahtera kehidupannya, dulu, yang telah memberinya seorang permata hati. Nahkoda yang karena satu dan alasan lainnya, terpaksa dia turunkan ditengah pelayaran kehidupan mereka.
“Gimana mba? Mba Thia mengenalnya kah?” penuh penasaran Nadine mengejar dari seberang.
“Yup, saya mengenalnya mba…. Tapi kok bisa Mba Nadine bertanyanya ke saya? Angin apa nih yang mengantarmu bertanya padaku?” Ramah suara Meuthia menutup rasa penasarannya sendiri. Rasa kantukpun hilang dengan sendirinya.
“Hm.. ini mba, tadinya ga kepikiran untuk bertanya padamu sih mba, cuma beberapa hari ini mas Arthur tuh sering banget nanyain ke aku, darimana aku mengenal mba? Sudah berteman berapa lama? Pernah ketemu belum? Ya gitu deh, aku jadi penasaran sendiri mba, kok sepertinya mas Arthur mengenal mba, dan ingin tau banyak sejauh apa aku mengenalmu, sementara aku lihat di fb mba, mba ga berteman dengannya. Makanya aku beranikan diri untuk mengganggumu mba…”. Nadine menghentikan penjelasannya, memberi ruang pada Meuthia untuk berbicara.
“Gitu toh? Terus kalo boleh aku bertanya nih, mba Nadine sendiri udah sejauh apa mengenal Arthur ini? My feeling says that you are in love lho with him! Hayo ngaku!”
Dan benar saja. Nadine memang sedang mabuk kepayang pada pria bernama Arthur itu, yang telah dikenalnya sejak lima bulan silam. Yang di profile fbnya tertulis sebagai seorang wakil direktur di sebuah perusahaan. Yang telah mengencaninya setiap malam via cyber world maupun hubungan telephone selluler.
Kebersamaan yang benar-benar mampu membuat Nadine terpanah asmara, kebersamaan yang mampu mengalihkan cinta dan perhatian Nadine pada sang suami serta putri tercinta. Sungguh kaget dan terpana Meuthia mendengar curahan hati Nadine, yang begitu yakin akan cinta dan perhatian Arthur padanya, seyakin keyakinannya bahwa bersama Arthur, dia akan bisa hidup bahagia, berkecukupan. Padahal bertemu orangnya secara nyata saja Nadine belum pernah! Oh my God! Naif benar dirimu Nadine!
Begitu kuat jerat asmara yang ditebar Arthur, hingga membuat Nadine, yang notebene adalah istri dari seseorang, bisa berpaling, dan bersiap ke pengadilan agama demi menggugat cerai. Masak sih segitunya? Masyaallah, Astargfirullah deh.
Tak hendak menghakimi Nadine, tapi feelingnya berkata bahwa perselingkuhan ini dapat terjadi, tentu karena keharmonisan rumah tangga Nadine sendiri yang sedang goyah? Sehingga celah sempit saja dapat berakibat fatal jika badai menerpa? Entahlah. Sekilas rasa penasaran untuk juga mengenal suami Nadine melintas di benaknya. Seperti apa ya suami Nadine, hingga membuat istrinya bisa berpaling? Kalah pamor dari Arthur? Kalah ‘baik’ dari Arthur? Mbuh.
Meuthia masih mendengarkan dengan khidmat, walau hatinya sempat panas kala Nadine menceritakan tentang Arthur, yang diselingkuhi oleh istrinya (yang artinya adalah dirinya). Emosinya hampir meledak. Enak saja Arthur mengatakan pada Nadine bahwa istrinya telah membawa lari mobil mewah, menguasai rumah mereka… Mobil mewah apa? Rumah mana? Wong selama mereka berumah tangga kehidupan mereka begitu pas-pasan, bahkan mendekati kemelaratan gitu kok. Namun Meuthia meredam emosi yang berkelebat itu, dicobanya bersikap tenang dan mulai bicara.
“Ok, baiklah, mari aku ceritakan siapa Arthur yang sebenarnya, karena kebetulan, aku mengenalnya luar dalam….” Sengaja dihentikannya sejenak kalimatnya, menanti reaksi lawan bicaranya terhadap penekanan kata ‘luar dalam’ yang diucapkan tadi.
“Mengenalnya luar dalam? Maksud mba?” Polos Nadine bertanya.
“Yup, aku mengenalnya luar dalam mba Nadine, karena akulah wanita yang difitnahnya itu. Arthur itu adalah mantan suamiku mba!”
“Ya ampun, Masyaallah… maaf mba, aku ga bermaksud membangkitkan luka lama di hatimu, aku sama sekali tak pernah menyangka seperti ini…. Apalagi mas Arthur bilang istrinya itu orang Sunda. Mba kan orang Sumatera…?”
“Hehe….nyantai aja mba… ga ada luka kok, udah sembuh. Mari aku ceritakan menurut versiku, siapa Arthur sebenarnya, dan kenapa aku terpaksa harus meninggalkannya…, nanti untuk lebih menguatkan ceritaku, aku perkenalkan mba pada adik perempuan Arthur, jadi mba bisa bertanya juga padanya..”
Maka mengalirlah sebuah kisah kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, tentang Arthur si pencuri hati. Yang terpaksa ditinggalkan oleh Meuthia karena jurang perbedaan prinsip berumah tangga yang kian melebar. Sikap tak bertanggung jawab dan suka enteng memandang setiap persoalan, rasa tidak hormat terhadap orang tua yang suka menusuk hati, ditambah kebiasaan Arthur berselingkuh dan mengkonsumsi narkoba, yang semakin sulit ditangani, membuat berbagai pertimbangan berujung pada perpisahan sebagai solusi terbaik.
Kupas tuntasnya terhadap Arthur, ternyata benar-benar membuka mata Nadine. Wanita itu seakan baru saja kembali dari kegelapan. Cahaya terang yang kini menyinarinya sungguh membuatnya menyesali diri, dan mengutuki kebodohannya selama ini. Kok bisa-bisanya dia begitu percaya pada orang yang sama sekali belum pernah dia lihat wujudnya secara nyata. Secara langsung. Betapa bodoh dirinya! Nadine mengutuki diri.
“Mba Thia, aku benar-benar berhutang budi padamu, entah bagaimana aku membalasnya ini mba… makasih banget lho, dan maaf banget telah mengganggu tidurmu.. aku sungguh ga bisa menahan diri, batinku merongrongku untuk segera mencari informasi lebih dalam tentang dia. Oh ya mba, kalo boleh tanya, aku lihat dirimu berteman dengan Heru Prakoso, gimana menurutmu mas Heru ini mba?”
Nah loe, selesai tentang Arthur, kini pindah ke Heru… ada misteri apa lagi ini?
“Heru Prakoso?… yang tinggal di Makassar juga? Hayo… kalian saling mengenal yaaa? Atau jangan-jangan….. Mba.. apa dia juga menjeratmu dengan rayuan mautnya?” Setengah histeris pertanyaan itu terlontar dari mulut Meuthia…
 “Hehe… bukan itu mba… aku hanya ingin tau tentang dia, menurut kacamatamu, gitu lho..?”
Meutia terdiam sejenak, penasaran juga dia dengan pertanyaan Nadine. Curiga, tapi ga mungkinlah jika mas Heru itu sifatnya seperti Arthur, suka menjerat hati wanita. Terbukti, lima tahun bersahabat dengannya, tak sekalipun lelaki itu mencoba merayu atau bersikap tidak sopan padanya, walau Heru tau persis bahwa dirinya adalah seorang janda. Janda kembang malah. Tapi Heru memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh penghargaan. Maka menjawablah Meuthia sejauh yang dia tau tentang Heru.
“Hm… gimana ya? aku ga bisa menilai secara rinci karena belum pernah ketemu langsung. Tapi sejauh kami bercengkerama di ym dan fesbuk, mas Heru ini termasuk laki-laki yang cukup sopan kok, dan baik. Kamu jatuh cinta padanya ya? Hayo ngaku!”
Nadine malah tergelak di seberang sana, barulah setelah tawa itu reda, sebuah kalimat meluncur bebas dari mulutnya. Kalimat yang membuat Meuthia kembali terbelalak.
“Hehe, mas Heru itu suamiku mba…. “
What? Masyaallah, Subhanallah…
Duhai, betapa sempitnya dunia…. Heru adalah sahabat maya Meuthia, dan Nadine adalah istrinya Heru, Nadine berselingkuh dengan Arthur, yang adalah mantan suami Meuthia. … Oh my God, what a small world! Bahkan dunia maya pun begitu sempitnya…. Amboi… Rentang jarak yang demikian jauh boleh saja memisahkan raga mereka, namun lingkaran dunia maya membuat mereka saling terkoneksi.  Subhanallah.
*****
Meuthia sudah bersiap hendak melajukan kendaraannya ketika alunan nada panggil bergema di smartphonenya. Diraihnya benda mungil itu seraya melihat nama yang tertera di layar.
“Halo mas Heru… Assalammualaikum!” sapanya ramah mengetahui adalah Heru yang menelephone. Pasti membawa kabar dan update info tadi malam nih., batinnya, penasaran.
“Waalaikumsalam Thia… masih dikantor? Mengganggu ngga nih say?”
“Udah mau pulang nih mas… ah, sama sekali ga mengganggu kok. Aku udah di mobil sih, tapi go on… piye kabare mas?”
Maka setelah berbasa basi sejenak, mengalirlah rangkaian kalimat dari bibir Heru, menceritakan tentang kejadian tadi siang. Bahwa istrinya telah kembali ke rumah, langsung mencarinya yang sedang shalat di ruang tengah.
Seperti yang dijanjikannya tadi malam pada Meuthia, Nadine memang bersimpuh di kaki suaminya, memohon pengampunan akan kekhilafannya selama beberapa bulan terakhir ini. Memintanya untuk memberinya kesempatan kedua, untuk menunjukkan pada sang suami bahwa dirinya masih layak dan mampu mendampingi Heru, juga masih layak menjadi ibu yang baik bagi Mira, putri semata wayang mereka.
Nadine bercerita seutuhnya tentang pertemuannya dengan Arthur yang ternyata adalah mantan suami Meuthia, tentang pembicaraannya tadi malam dengan Meuthia sampai kemudian pencerahan yang diperolehnya dari percakapan itu. Sungguh mengharukan.
“Thia… aku ga tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu…, kamu adalah dewa penolongku. Aku sangat mencintai istriku.. dan sungguh tak ingin kehilangannya. Bagiku, dia adalah jiwa dan semangat hidupku. Aku dan Mira sangat membutuhkannya. Hampir saja mutiaraku itu direnggut oleh orang lain. Untung ada kamu Thi, yang mampu membuka matanya hingga menyadari kekhilafannya. Dari awal perkenalan kita, feelingku mengatakan bahwa kamu dikirim Tuhan untuk menjadi adikku. Trims adikku sayang… Aku sungguh menyayangimu dan Farah. Please keep being my sister ya Thi…”
Meuthia menyeka airmata haru yang menggenangi bola matanya, anggukannya kuat, “Yes mas Heru, You will be always my brother! Walau kita belum pernah bertemu muka” Batinnya.
*****
pict from here
Annisa duduk diam menatap halaman facebook yang terpampang menantang di layar monitor laptopnya. Wanita itu terlihat online kini. Tak sabar dia hendak menyapa dan memarahinya. Memberondongnya dengan beragam kecaman dan cercaan. Karena menurutnya hanya itu yang pantas diberikan kepada wanita penggoda. Yang telah menggoda dan membuat suaminya kehilangan perhatian padanya. Yang telah membuat suaminya menjauh darinya dan sepertinya juga telah berpaling.
Namun, misinya akan gagal total jika dia segera mewujudkan bisikan amarah itu. Investigasinya akan kacau sempurna membuahkan nihil, jika dia tak mengajak hati panasnya untuk berkompromi. Andai saja bisa memasukkan sebongkah es ke dalam hatinya, akan dilakukannya dengan segera, sehingga dia bisa menjalankan misi ini dengan hati dan kepala yang dingin.
Dihirupnya napas dalam-dalam melalui hidungnya, dan melepaskan secara perlahan melalui mulutnya yang membentuk huruf O. Perlahan ada kelegaan terasa di lubuk hati. Diulangnya kembali langkah itu, merasakan kelegaan yang mulai membesar. Kelegaan semakin nyata kala terapi itu berlanjut beberapa kali, dan siaplah dia kini untuk memulai investigasi yang memang telah dirancangnya dua minggu silam.
Wanita itu kini telah menjadi temannya di facebook. Tanpa curiga menerima ajakan berteman darinya dan bahkan menyatakan begitu gembira memiliki teman dari Aceh. Langkah awal yang mulus, batinnya kala itu.
Kini investigasi akan segera dimulai. Berbekal password Indra, sang suami, login lah dia ke akun suaminya. Mencoba mengundang kembali Ningsih (yang telah dengan sengaja dikeluarkannya dari list pertemanan Indra seminggu lalu), meng-add nya kembali tentu akan memungkinkan mereka bisa berkomunikasi langsung atau chat kembali.
Kembali tanpa ragu Ningsih menerima ajakan pertemanan itu dengan gembira. Sebuah pesan manja langsung nangkring di inbox suaminya, yang sukses membakar kembali api cemburu yang tadinya mulai padam di hati Annisa.
Pesan yang di mata orang lain, adalah pesan biasa yang tak ‘bermuatan’, namun di matanya yang diamuk emosi, adalah sangat membakar jiwa. Dibiarkannya pesan itu tergeletak begitu saja, hingga sapaan Ningsih menyapa ‘Indra’ (yang sedang diperankan oleh dirinya sendiri).
“Mas…. Kok jarang online sekarang? Sibuk terus kah?”
“Iya nih, banyak banget pekerjaan akhir-akhir ini. Jadi jarang buka fb deh”. Balasnya meniru gaya bahasa Indra.
“Sudah kuduga mas sibuk banget. Untung saja mas masih sempat menyapaku via sms. Kalo tidak, aku akan sangat kangen denganmu mas!”
Kalimat ini sukses membuat mata Annisa terbelalak. Satu informasi dicatat sudah di memory nya. Bahwa ternyata Indra sering ber sms-an dengan Ningsih. Dan ini mengindikasikan bahwa pengakuan Indra mentah sudah, bahwa antara dia dan Ningsih sudah tak ada hubungan istimewa lagi, hanya sekedar silaturrahmi antar sepupu. Instingnya benar. Ada udang di balik batu.
“Kalo sms kan ga harus konek ke internet, cukup ketak ketik di hp saja.” Jawabnya datar, tak rela menyelipkan kata-kata mesra dalam kalimat itu.
“Iya sih mas…. Bisa sambil tiduran lagi, hehe..” Terbayang dimatanya senyum Ningsih pasti mengembang mengetikkan kata demi kata itu.
“Iya donk, bisa sambil tiduran dan hayalin kamu!” Balasnya, merelakan hatinya teriris oleh kalimat yang baru saja dihantarkannya. Biarlah, demi kelancaran perannya sebagai detektif swasta bagi dirinya sendiri, dia harus kuat!
Sejenak beralih dia ke browser Safari, dimana dia login ke fb dengan menggunakan akun pribadinya. Digunakannya kesempatan ini untuk juga chat dengan wanita itu. Berterima kasih karena telah berkenan menjadi temannya di facebook dan beberapa kalimat pembuka lainnya, layaknya teman baru. Kalimat-kalimatnya mengalir natural, membuat Ningsih membalas dengan ramah dan hangat. Sama sekali tak menyadari jika lawan chat nya ini adalah ‘polisi’ yang sedang mengintai, meng-investigasi dan pada saat yang tepat nanti akan bertindak menghakiminya. Lalu kembali dia ke akunnya Indra dan mendapati kalimat Ningsih yang sukses membuatnya seperti orang kesetrum.
 “Ih mas ini, emang mas sering menghayalkan aku? Hehe. Mas…! aku kangen suaramu!”
Memuncak emosi Annisa membaca kalimat genit Ningsih. Akal sehatnya menyimpulkan bahwa memang telah cukup akrab dan diluar normal hubungan Indra dan Ningsih. Feelingnya mulai membenarkan bahwa keduanya memang berselingkuh. Tapi sabar dulu, investigasi baru saja dimulai….
Ditinggalkannya Mozilla dan pindah ke Safari, menjadi dirinya sendiri dan melanjutkan chat dengan Ningsih. Percakapan hangatpun terjalin hingga kemudian Ningsih bercerita bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat dia sayangi, dulu pernah bekerja di Aceh. Di tempat yang sama dimana Annisa dulu pernah bekerja. Ningsih dengan yakin mengatakan bahwa Annisa pasti mengenal kakak yang dimaksudnya itu, karena Ningsih melihat bahwa sang kakak, Indra, tertera nama dan fotonya di list pertemanan Annisa. Dan Annisa mengiyakan bahwa benar dia mengenal Indra, tapi hanya sebatas teman satu kantor, yang jarang ketemu karena Indra tugasnya di luar kota Banda Aceh.
Terkesan sekali betapa bersemangatnya Ningsih berbicara tentang Indra, bahkan semakin sumringah saat Annisa sengaja memancing seperti apa sebenarnya hubungan antara Indra dan Ningsih. Kakak atau kakak ketemu gede? Ningsih malah menanggapi dengan sumringah, bahkan langsung dengan excitednya melaporkan pembicaraan antara dirinya dengan Annisa pada Indra, yang sebenarnya akunnya sedang dijalankan oleh Annisa. Wanita yang sedang dimabuk kepayang itu sama sekali tak menyadari bahwa dirinya sedang masuk dalam perangkap. Perangkap seorang wanita cerdas, yang sedang mengintai dan mencari tau perselingkuhan suaminya, dengan seorang wanita lain yang adalah cinta pertama sang suami.
“Mas… aku sedang chat dengan salah satu rekanmu di BRR dulu lho. Perempuan asli Aceh bernama Annisa. Pasti mas kenal deh! Orangnya baik dan ramah lho” Lapor Ningsih ceria, dan Annisa pun mengarang bebas membalasnya. Menggunakan gaya bahasa sang suami agar penyamarannya sempurna.
“Oya? Annisa? Annisa yang mana tapi ya? kenal darimana kamu sayang?” sengaja diselipkannya kata sayang di ujung kalimat Indra.
“Ya kenal dari fesbuk lah honey. Annisa meng-add aku sebagai temannya, dan bertemanlah kami sekarang ini. Coba deh mas lihat di list pertemanan mas, aku melihat dia ada disitu. Pasti mas kenal. Cakep orangnya!” Kata honey jelas membakar api cemburu, namun Annisa mengalihkannya dengan meninggalkan akun suaminya sejenak, beralih dia ke akunnya sendiri, membaca percakapan yang ditinggalkan Ningsih untuknya.
 “Aku asli Madiun Nis… dah pernah belum main ke Madiun? Kamu cantik deh Nis, mirip orang Pakistan lho!” Tak urung jawaban Ningsih di Safari membuat hati wanita itu berbunga.
 “Ah masak sih mba? Jadi blushingdotcom nih dapat pujian dari mba Ningsih. Belum mba… ingin juga sih sekali-sekali nanti main ke Madiun, mba Ningsih juga cantik lho, J” balasnya seraya pindah ke Mozilla, menjadi INDRA dan membaca balasan Ningsih.
“Piye mas? Kenalkan dengan Anis?”
Dibalasnya segera.
“Wah kalo dia mah semua kenal. Dia kan Executive Assistantnya big boss. Dan semua staff juga kenal dia tuh… apalagi yang cowok… pasti senang banget jika harus ke tempat bigboss, bisa lewat mejanya mba Anis tuh. Orangnya cakep dan baik.”
“Mas juga dong kalo begitu….. ?? Mas akrab dong sama dia?” Kejar Ningsih.
“Mau akrab gimana? Mas tuh segan sama dia. Habis orangnya pendiam, baik sih, cuma berkelas gitu deh. Membuat anak-anak segan dan ga berani sembarangan.” Balas Annisa lancar dengan gaya bahasa Indra.
“Hm…, mas, kok Anis bisa nanya mas itu masku atau mas ketemu gede ya? Sepertinya dia bisa membaca sesuatu deh tentang hubungan kita mas!” Tanpa curiga Ningsih terus bercerita pada Indra, tak pernah terbayangkan dibenaknya bahwa adalah orang lain yang sedang menyamar sebagai kekasihnya itu. 
“Hm… masak sih? Jangan-jangan kamu yang cerita kali?” Balasnya sebagai Indra, lalu berpindah ke akunnya sendiri. Beberapa deretan pertanyaan dari Ningsih telah berjejer rapi disana.
 “Hehe… senang deh dipuji kamu, btw, aku ga pake embel-embel mba nih untuk kamu Nis, habis keliatannya kamu pasti lebih muda dariku, berapa umur kamu Nis?”
“Hm… kepala 4 pas nih mba… kalo mba berapa?” ketiknya cepat.
“Berarti aku lebih tua 5 tahun dong dari kamu. J Kerja dimana sekarang Nis?”
“Aku hanya pekerja kontrakan mba... Hehe”
“Ih kamu tuh ya… orang tanya serius lagi.., profile kamu cerita banyak itu lho.”
“He..he, aku pekerja kemanusiaan mba… kerjanya di NGO… LSM International gitu deh. Seperti yang tertulis di profile”
“Oya? Asyik donk, gajinya pasti gede ya? btw, suamimu kerja dimana Nis? Di Banda juga kah?”
“Ga mba… suamiku di Brunei, jauuuh… hiks…hiks…”
“Wah asyik dong, banyak duit tuh… kok Anis ga ikutan? Btw Mas Indra juga di Brunei lho!” Jelas Ningsih mulai membawa Indra kembali ke dalam percakapan.
“Asyik apanya mba? Ga enak lagi tinggal terpisah… emang sih duitnya lumayan…. Masku sebenarnya udah ga sabar agar aku ikutan pindah kesana, tapi aku juga masih terikat kontrak disini…, L.” Annisa menekan ENTER dengan perasaan exciting.
“Jadi Pak Indra di Brunei juga ya mba?” Lanjutnya.
“Iya…btw, kamu kok bisa beranggapan mas Indra itu punya hubungan khusus denganku sih?” Mulai deh, penasaran kelas tinggi nih pastinya jeng Ningsih, batinnya.
“Hehe, penasaran ya? aku kan psikolog mba…. Dan pernah di training khusus oleh counselor top dari Portland agar mampu membantu proses trauma healing para korban tsunami kemarin itu. Jadi untuk membaca pikiran atau makna kalimat yang diucapkan seseorang itu, gampang banget. Apalagi dalam menangkap rasa kasih yang terpancar dari kalimat-kalimat yang mba ketikkan. I know you have special feeling for Pak Indra kan?” Ketiknya panjang lebar.
Tak ada jawaban dari Ningsih dalam beberapa detik. Pasti lari ke Indra, pikirnya. Segera dia beralih ke akunnya Indra di Mozilla, dan benar saja,  beberapa kalimat dari Ningsih telah nangkring disana.
“Mas…..Annisa itu psikolog ya? Dia benar-benar bisa membaca feelingku terhadapmu. Mas, beneran ga pernah cerita apa-apa tentang kita sama dia kan?”
Annisa menyiapkan balasannya sebagai INDRA.
“Mau cerita gimana sayang… kan mas udah bilang kalo mas segan sama mba Anissa…”
“Dia memang psikolog, dan dengar-dengar sih di masa-masa emergency, mba Annis bergabung dalam program trauma healing untuk para korban tsunami…”
Dihentikannya ketikannya menanti response dari Ningsih. Sengaja dibubuhkannya kata-kata sayang dalam kalimat INDRA agar meyakinkan aktingnya.
“Hm…., hebat deh Anis ini, bisa mengetahui hubungan kita hanya dari membaca kalimat-kalimatku. Aku kok suka dengan wanita ini. Mas, suaminya Anissa juga kerja di Brunei lho.” Kalimat selanjutnya dari Ningsih.
“Oya? Dia sudah married lagi toh?” Balas Indra melalui jemari Annisa.
“Lho, emang dulu waktu mas disana dia masih single?” Penasaran Ningsih bertanya.
“Ngga, kabarnya sih dia cerai dari suami pertamanya… punya anak satu, kalo ga salah gitu deh”.
Sambil menanti jawaban Ningsih, Anis beralih ke akunnya sendiri, yang ternyata belum ada jawaban dari Ningsih. Diputuskannya untuk say goodbye pada Ningsih sebagai Annisa dan akan fokus menjadi INDRA.
“O gitu toh, jadi suaminya yang di Brunei itu adalah suami kedua.?” Kalimat Ningsih telah menantinya di akunnya Indra.
“Kabarnya sih begitu. Mas kan ga tau persis. Risa apa kabarnya? Ada pulang?” Sengaja dia (bertindak sebagai INDRA) mengalihkan topik, berharap agar pembicaraan berikutnya dapat menyingkap tabir hubungan Indra dan Ningsih sejauh ini. 
Ide brilliantnya melibatkan sepupunya, Lisa, untuk ikutan berteman dengan Ningsih benar-benar membuahkan hasil yang bagus. Dari Lisa dia dapat mengetahui lebih banyak tentang Ningsih. Yang adalah seorang guru SMP, hidup menjanda, memiliki satu-satunya anak perempuan yang saat ini sedang kuliah di Malang. Selain mengajar, wanita ini juga punya kegiatan sampingan yaitu berjualan aneka asesoris, dompet dan kerudung yang dikreditkan ke para guru di sekolahnya. Beberapa minggu sekali Risa anaknya mudik ke Malang atau sebaliknya. Informasi ini tentu lebih dari cukup dalam memuluskan investigasinya.
“Ada tuh kemarin mudik…, sekalian bawa asesoris dari malang untuk daganganku... sekarang sih udah balik lagi ke Malang. Mas… Risa merengek terus tuh minta dibelikan BB, bantuin dong…, J”.
What? Membuncah emosi Anis membaca kalimat itu. Berani-beraninya Ningsih minta dibelikan sesuatu pada suaminya. Tapi… tiada asap tanpa api. Kalo suaminya ga ngasih harapan, tentu Ningsih ga akan berani. Pasti hubungan mereka telah lebih dari akrab. Cinta lama telah bersemi kembali? Analisa di pikirannya mulai berjalan. Memang sih Indra pernah cerita jujur padanya, bahwa Ningsih, yang adalah anak dari paman Indra, pernah menjadi cinta pertamanya, bahkan hubungan mereka telah disetujui oleh kedua belah pihak, namun karena Indra kelamaan menyelesaikan studinya di Amerika, akhirnya Ningsih kepincut laki-laki lain. Walau tak mendapat restu kedua orang tuanya, Ningsih nekad kawin lari dengan laki-laki pujaan hatinya itu. Namun sayang, perkawinan itu tak berumur panjang, setelah memiliki satu putri yang berumur 7 tahun, merekapun bercerai. Indra memang bercerita apa adanya pada Anis, lupa bahwa informasi ini suatu saat nanti malah akan sangat berarti bagi istrinya.
“Nanti donk, sekarang mas sedang banyak keperluan nih, Edwin dan Rika sedang butuh banyak nih untuk keperluan kuliahnya.” Balasnya sebagai INDRA, Edwin dan Rika adalah putra putri Indra dari mantan istri pertamanya.
“Yaa mas… iya deh, aku manut mas wae… demi cintaku padamu….hehe.” Nah ini dia. Tak dapat dipungkiri, hati Annisa panas - membara. Sensitif sekali hatinya untuk kata-kata seperti ini. Cemburu tak terbendung.
“J” Hanya sebuah icon ‘tersenyum’ yang dikirim INDRA. Tak rela Annisa mengetikkan kata-kata mesra (selaku INDRA) untuk wanita itu.
“Kok cuma senyum sih? Ga seperti biasanya di ym…, mesra!” 
Nah, ketahuan lagi deh kalo mereka suka ym-an. Suasana hati Anis kian panas. Ingin rasanya diputuskan dengan segera percakapan ini dan menelphone serta memberondong suaminya, minta penjelasan. Tapi akal sehatnya masih mampu mengendalikan tindakannya. Dicobanya melanjutkan percakapan. Pasti akan lebih banyak lagi informasi yang diperolehnya nanti jika dia mampu mengontrol emosinya. Maka, lanjutnya…
“Sorry, mas sedang bikin presentasi nih.”
“Oh, okd sayang. Jadi presentasinya Selasa besok?”
Jadi? Sebegitu akrabnya hubungan mereka, hingga Ningsih juga dibagi informasi sedetil itu oleh Indra. Temperatur otaknya kian meninggi, namun Anis mencoba meredamnya.
“Iya, jadi donk… doakan sukses yaa….” Tulisnya as INDRA
“Pasti dong, untuk calon suami pasti lah doaku sepenuh hati…”
Dug!!! Meledak sudah emosinya. Anis menjauhi laptopnya sejenak. Meninggalkan Safari dan Mozilla dengan segera, karena jika masih berdekatan dengan kedua browser  itu, otomatis dia akan membalas penuh emosi dan terhentilah investigasinya, atau malah langsung men-dial nomor Indra, dan kacaulah jadinya.
Bangkit dia menuju dapur, membuka kulkas dan meneguk langsung air sedingin es itu dari botolnya. Hatinya dingin seketika, namun kepalanya masih panas. Diteguknya beberapa tegukan lagi, hingga menghabiskan setengah botol, kembali dia ke kamar, duduk di depan laptop dan membaca sebaris kalimat yang telah nangkring disana.
“Mas… kok malah diem? Sedang fokus dengan presentasi ya?”
“Iya!” balasnya, mulai pelit dalam mengumbar kata.
“Okd kalo begitu, mas lanjut dulu deh, aku juga mau siap-siap ke kursus. Mas… aku kangen banget sama mas. Berharap banget mas tugas ke Semarang lagi, jadi bisa mampir nengokin aku seperti kemarin….”
Tuh kan? Ketahuan lagi! Tercabik hati Annisa membaca kalimat ini. Dibalasnya dengan ketus.
“Kok bisa kangen sih? Mas aja ga kangen sama kamu!” Penasaran ditunggunya balasan dari Ningsih. Benar seperti dugaannya…kalimat kontradiktif ini tentu membuat Ningsih kaget, spontan.
“Ih mas kok ngomong gitu? Tega banget. Kejam!!”
“Beneran kok…. Mas ga kangen sama kamu. Mas sedang sibuk banget ini. Lagian mas kan cuma iseng aja kemarin itu…!”
“Apa? Iseng gimana? Teganya mas berbuat seperti itu! Ga mungkin deh, mas pasti bercandakan? Masku ga mungkin menyakiti hati. Tapi becandamu udah keterlaluan ini mas! Aku tersinggung!!.”
“Mas serius kok. Mas ga ada maksud istimewa sama kamu. Mas hanya ingin supaya kamu tau bagaimana rasanya sakit hati mas saat kamu tinggal kawin dulu itu. Sakit kan?”
“Masyaallah, mas, aku ga percaya mas tega lakukan ini padaku. Lalu apa artinya pertemuan kita di Semarang kemarin itu? Apa artinya candle light dinner dan lamaran mas disitu? Itu juga main-main?!!”
SATU LAGI INFORMASI hadir, sangat penting dan sukses menusuk jantung Annisa. Jadi Indra dan Ningsih sudah pernah ketemu lagi? Mengambil tempo di sela-sela kesibukan kunjungan tugas Indra ke Semarang dua bulan lalu itu? Hm… Kurang ajar. Dasar laki-laki. Buaya! Emosinya meluap, cukup sudah informasi yang diperlukannya hari ini. Dan saatnya memberitahukan Ningsih bahwa INDRA telah berumah tangga lagi dua tahun lalu, agar tak hanya hatinya yang disakiti Indra, namun Ningsih juga harus terpukul batinnya. Maka, menarilah jemarinya merangkai kata, lincah dan cepat sekali.
“Mas minta maaf sudah mempermainkan kamu, sebenarnya mas ga ingin berbuat seperti ini, tapi terkadang hati mas masih sakit oleh perbuatan mu dulu itu. Mas harus berterus terang sama kamu Ni… bahwa sebenarnya mas sudah berumah tangga lagi, mas menikah 2 tahun lalu, dengan Annisa Astrid, teman barumu itu. Dan suami yang dia maksud di Brunei adalah mas….Mas yakin Anis ga tau kalo kamu adalah mantan pacar mas...” Annisa menghentak tombol ENTER sepuas hati. Rasain loe!! Batinnya.
“Apa? Tega sekali kamu mas! Aku ga nyangka sebusuk itu hatimu! Dasar laki-laki buaya!”
Annisa memutuskan untuk tidak membalas lagi. Cukup sudah. Segera di copynya seluruh percakapan investigasinya ke Microsoft word, menyimpannya untuk dikirimkan ke Indra.Tanpa pamit pada Ningsih dia segera log out dari akunnya Indra. Tak membuang waktu, sign in dia ke gmail, compose a message untuk Indra lengkap dengan lampiran berupa Microsoft word hasil percakapannya dengan Ningsih tadi.

Dear mas,
Hari ini, sebuah bisikan menuntunku untuk melakukan investigasi akan anehnya sikapmu akhir-akhir ini terhadapku. Feelingku kuat berkata bahwa dirimu sedang bermain api dengan Ningsih, cinta pertamamu itu. Walau keras mas membantah bahwa dirimu tak mencintainya lagi, apalagi hendak menjalin hubungan dengannya, namun fakta berkata lain. Kepercayaanku terhadapmu luntur sudah, Ningsih tanpa sadar telah membantuku memberi informasi jujur tentang sejauh mana hubungan kalian.
Tak pernah kusangka jika mas tega berselingkuh di belakangku, dan ternyata sesuai yang kuperkirakan. Bahwa perselingkuhan itu telah bermula dua bulan lalu, saat sikap mas mulai berubah terhadapku. Tak perlu membantah sekuat tenaga apalagi bersitegang urat leher, silahkan baca percakapan terlampir, dan aku yakin saat ini Ningsih mu sedang menangis tersedu mendapati hatinya tersakiti.
Aku juga tak berharap mas kembali padaku, bujuklah cinta pertamamu itu, mungkin dia masih bersedia menerima mas dan berkenan menjadi istrimu setelah kita bercerai.
Nb: maaf terpaksa menyamar sebagai dirimu dalam melaksanakan investigasiku.
Wassalam,
Annisa Astrid

Tak terperi sakitnya hati Annisa, seperih luka hati yang dirasakan Ningsih di Madiun sana. Jika Annisa melarikan lara hatinya dengan mencorat coret selembar kertas manila, menekan dan menarik garis-garis itu dengan tekanan kuat, Ningsih malah memeluk guling dan menangis tersedu.
*****
Disaat yang sama, di sebuah mall di Brunei Darussalam, Indra mendengar notifikasi email masuk di BB nya. Dihentikannya kegiatan membolak balik buku yang hendak dibelinya, mengambil HPnya dari kantong celana dan membaca nama si pengirim. Dari istrinya. Tumben Anis kirim email, biasanya langsung lewat BBM saja. Heran hatinya. Segera dibacanya email itu dan kacau balaulah hatinya.
Gawat. Anis telah membongkar perselingkuhannya dengan Ningsih, dan dia harus bersiap kehilangan istrinya. Sanggupkah dia? Anis yang tegas, masih bisakah dia menjangkau hatinya? Tegas ancaman Anis di email, “Aku juga tak berharap mas kembali padaku, bujuklah cinta pertamamu itu, mungkin dia masih bersedia menerima mas dan berkenan menjadi istrimu setelah kita bercerai.”
Oh Tuhan, dia tak ingin kehilangan Annisa. Wanita itu begitu berarti dalam hidupnya. Keluasan pikirannya, ketegasannya, kehangatan dan kasih sayangnya begitu berarti baginya. Bersama Anis, dia bisa berdiskusi panjang lebar dan mendapat banyak masukan demi kemajuan pekerjaannya. Pada Anis, dia dapat melarikan segala kepenatan pikiran akibat pekerjaan yang mentok dan belum menemukan jalan keluar. Pada wanita itu, dia dapat mendapatkan kehangatan dan gairah cinta membara yang selalu membuatnya merasa tetap muda. Pada Anis, dia dapat meneduhkan kepalanya yang terasa panas akibat ragam persoalan hidup yang dihadapinya.
Sanggupkah dia kehilangan wanita ini? TIDAK. Dia TAK SANGGUP. Segera dia keluar dari toko buku, dicarinya tempat yang rada sepi dan langsung men-dial nomor istrinya, namun Annisa tak hendak menjawabnya. Dicobanya berulang kali namun tetap saja tak berjawab, malah kemudian terdengar the number you are calling is not active or out of coverage area.
Gelisah rasa hatinya. Tak guna menghubungi Nanda, putri tirinya yang masih di sekolah jam segini… diulangnya lagi menelphone Annisa tapi tetap tidak aktif. Ditulisnya pesan singkat di BBM untuk istrinya. Cha…. Mas minta maaf, mas mengaku salah. Mas khilaf, beri mas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mas…, mas ga sanggup kehilangan kamu dan Nanda, mas sayang kalian berdua”.
Sebuah sms masuk dari Ningsih. Tega sekali kamu mas! Disiapkannya sebuah jawaban singkat,
“Mas minta maaf atas semua ini, mas tau telah melukaimu terlalu dalam, maafkan mas, sejujurnya, setelah mas pikirkan, cinta kita hanya cinta pertama, mas ga sanggup kehilangan Anis. Maafkan mas….”
Dia sadar kalimatnya semakin melukai Ningsih, tapi mungkin itu akan lebih baik bagi Ningsih, kebencian yang timbul akibat sikap dan perkataannya mungkin akan lebih mudah bagi Ningsih melupakannya daripada kata-kata lembut mendayu.
Indra masih sangat kuatir dengan Anis yang sama sekali tak mengaktifkan HPnya sampai tengah malam. Dicobanya menghubungi Nanda, dan saat gadis remaja itu memberikan Hpnya ke ibunya, malah wanita itu langsung mematikannya.. Duuh… sebuah pesan dari Nanda di BBM nya membuat hatinya pedih.
“Pa, Papa berantem sama mama ya? Jangan sampai berpisah dong pa, Nanda sayang mama papa…”.
“Nanda sayang, Papa ga akan pisah dari mama, papa sayang kalian berdua, banget!, Nanda tenang aja ya sayang, Mama sedang marah sama papa dan jadi sensitif.” Balasnya menenangkan putri tirinya yang sudah duduk di kelas dua SMU itu.
Menjelang subuh waktu Indonesia dicobanya lagi, dia tau pasti, saat ini Annisa tentu sudah bangun dan sudah shalat subuh.  Ya Allah, luluhkan hati istri hamba ya Allah, lunakkan hatinya untuk memaafkan hamba dan menerima hamba kembali, pintanya. Dicobanya men-dial nomor Annisa, aktif, tapi wanita itu tak sudi mengangkatnya. Dikirimnya sebuah pesan di BBM.
“Cha… tolong jawab telephone mas, mas bisa mati kalo kamu biarkan begini terus. Mas sayang kamu. Mas sudah sms Ningsih dan tinggalkan dia. Ampuni mas… jangan tinggalkan mas, mas sayang kamu dan Nanda. Mas pulang hari ini dan kita bicara, kamu boleh apakan mas, tapi jangan minta pisah dari mas. Beri Mas kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan Mas”


Suatu hari di bulan Ramadhan, dua hari lagi menjelang Idul Fithri
gambar dari sini
Cahaya mentari mulai redup ketika aku mengijinkan Intan menggelar tikar di bawah pohon rindang di depan rumah, untuk bermain rumah-rumahan bersama seorang putri tetangga sebelah. Kala itu, Intan masih berumur 4,5  tahun, sementara si putri tetangga berumur 3 tahun setengah.  Sesekali kuintip keduanya yang sedang bermain, damai tanpa berselisih paham. Seperti biasanya, sebagai anak yang lebih tua, Intan memimpin permainan. Kulihat mereka bermain boneka beruang. Aman-aman saja.
Aku melanjutkan pekerjaanku di dapur, menyiapkan penganan berbuka puasa sembari meneruskan menggoreng kacang tojin, selaku salah satu penganan wajib menyambut Idul Fithri.
Intan asyik sendiri dan akupun asyik sendiri. Hidup ini terasa begitu indah dan aku begitu menikmati suasana saat itu. Kulanjutkan pekerjaanku sambil bernyanyi-nyanyi kecil walau sebenarnya suaraku sama sekali tidak merdu. Tapi peduli amat, paling yang dengar juga Intan dan temannya, sementara Ayahnya Intan yang sering protes dan minta aku berhenti menyanyi sedang tidak di rumah. Asyik, aku lah sang penguasa. Hehe.
Aku terus asyik dengan pekerjaanku sambil melanjutkan dendangan, dunia terasa begitu menyenangkan…  hingga kemudian aku teringat belum melongok keluar untuk melihat Intan dan temannya. Kutinggalkan sejenak penggorengan, bergegas aku mengintip dari ruang tamu, dan keduanya tak lagi terlihat di bawah pohon rindang. Sementara si Mickey Mouse dan beruang Teddy kesayangan Intan masih tergeletak dalam damai di atas tikar.
“Lho, kemana tuh anak-anak?” pikirku seraya menajamkan telinga. Tak terdengar bunyi apapun selain music lembut dari tetangga sebelah. Ibunya Siska, si teman Intan bermain. Kuarahkan kakiku ke kamar, yang pintunya terbuka. Kusibak gorden pintu, perlahan agar tak mengganggu keasyikan mereka bermain atau malah jangan-jangan keduanya sudah tertidur pulas di tempat tidurku……
Tapi ya Allah…. Terbelalak aku menatap penampakan yang terpampang di depan mata….
Astaurgfirullahhalazim….. Masyaallah, mati kita…..
“Ya ampun sayang! Mati kita Nak!”
Kurebut perlahan gunting ditangan Intan yang sedang asyik menggunting rambut Siska, bak seorang tukang salon kawakan yang sedang menggunting rambut pelanggannya. Masyaallah, rambut Siska jadi cobel-cobel dibuat Intan. Bagian tengah kepalanya malah hanya tinggal 2 cm dari  kulit kepalanya. Mati aku, bagaimana harus menjelaskan pada ibunya Siska ini? Oh my God… Ampun deh anakku ini….
Sebenarnya ingin tertawa terpingkal-pingkal melihat hasil kreasi Intan di kepala Siska, namun mana mungkin rasa geli ini memenangkan rasa kuatir yang langsung bersemayam dan menguasai jiwaku, membayangkan amarah dan amukan ibunya Siska nanti…..?
Aku segera berlari mematikan api kompor, kacang tojinku ternyata telah sukses berwarna coklat tua. Biarin deh. Tak lagi kuangkat kacang itu, kubiarkan saja berenang dalam minyak panas dan aku kembali ke Intan dan Siska. Intan kecil masih belum menyadari perbuatannya. Dia malah masih tersenyum bangga akan kreasinya. Aku mengurut dada. Ya ampun nak… sebenarnya ini bukan kali pertama putri kecilku berakting sebagai seorang tukang salon. Pernah poniku jadi korban saat tidur siang dengannya. Entah bagaimana dia bisa mengambil gunting rambut (yang biasa aku pakai untuk menggunting rambut Intan), yang aku simpan di laci lemari, dan saat tertidur lelap, rambutku pun jadi korbannya.
Amarahku hampir tak teredam kala itu, mengetahui poniku telah terpangkas sempurna oleh tangan mungilnya Intan. Tapi mau apalagi, tak guna mengamuk pada anak kecil yang kala itu baru berumur 3 tahunan. Eh sekarang kejadian lagi, dan korbannya adalah anak tetangga sebelah. Oh my God. Help me….
Kugendong Siska yang masih senyum bangga dengan hasil guntingan Intan. Anak kecil ini tak menyadari betapa menurunnya penampilannya akibat rambutnya yang telah cobel-cobel dibuat Intan. Dasar anak-anak. Kutuntun Intan dan kami bertiga menuju rumah Siska.
Kuketuk pintu perlahan, dan pasti sobats bisa membayangkan betapa kaget dan marahnya ibunya Siska mendapati putri cantiknya telah berambut amburadul seperti itu?
Walau masih menjawab salamku dengan khidmat, wanita itu tak urung terlihat kaget, dan mulai marah. Yang tentu saja kuterima dengan lapang dada, tanpa sedikitpun kucoba membela diri. Apa yang mau dibela coba sobs, seutuhnya salahku, yang membiarkan mereka berdua bermain tanpa pengawasan.
Aku minta maaf sebesar-besarnya pada ibunya Siska, menyatakan bahwa semua ini adalah salahku yang terlalu asyik di dapur, dan terlalu yakin bahwa keduanya masih aman damai bermain di bawah pohon. Seperti keadaan yang aku dapati setiap aku ke depan untuk melihat dan memastikan bahwa mereka bermain dengan baik dan damai.
Tapi siapa sangka, di saat-saat terakhir, saat aku menunda untuk melihat mereka lagi, justru mereka telah pindah tempat. Masuk ke kamarku dan senyap. Aku kira malah sedang tidur, eh siapa sangka jika sedang main salon-salonan.
Aku minta maaf yang sebesar-besarnya dan Alhamdulillah ibunya Siska juga berjiwa besar. Memaklumi jika semua ini adalah karena mereka hanya anak kecil yang belum tau apa-apa. Dan aku juga berjanji tak akan membiarkan Intan main gunting-guntingan lagi. Untung hanya rambut yang dipangkas, oh Tuhan, aku jadi ngeri sendiri membayangkan hal-hal lainnya. Lindungi kami ya Allah, doaku kala itu.
Selanjutnya kuajak ibunya Siska membawa Siska ke salon dekat rumah, untuk menyempurnakan hasil guntingan Intan. Dan jadilah Siska seperti prajurit yang baru lulus ABRI, hehe. Dipangkas catam mengingat rambut terpendeknya di tengah kepala tak bisa diapa-apain lagi. Huft.
Pelajaran paling berharga bagiku hari itu, keep watching your child even though you think that she/he is okay and in good environment. Anak-anak bisa berbuat apasaja, belum tau pasti mana yang baik dan buruk. Tetap perhatikan, terlebih jika sedang bermain dalam keadaan senyap. Curigai itu, jangan-jangan sedang asyik dengan sesuatu yang membahayakan. J
Well sobs,
Begitulah kisah kekonyolan yang dilakukan Intanku, pernahkah putra putri sobats menghadiahkan ‘sesuatu’ yang bikin jantung sobats berdegup kencang? J
kembali ke paragraf awal....

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Lusina 1
  • Tamparan itu, Keras dan Pedih [Tamat]
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Kamu tetap anak mama sayang!
  • Lusina 2
  • Bawa Aku Pulang!
  • When he had to say Good Bye
  • Tamparan itu, keras dan pedih
  • Gempa dan tsunami lagi? Oh No!! (tamat)
  • Ya Ampun, Mati Kita Nak!!

Categories

  • cerbung 9
  • cerbung: Dongeng Kehidupan 2
  • cerbung: Kisah Sedih di Hari Minggu 2
  • cerita pendek 20
  • cerpen 1
  • edisi kangen Intan 1
  • Flash Fiction 1
  • Gaya Gay 1
  • gempa bumi 3
  • just a note 1
  • Kisah Hidup 6
  • lesson learnt 1
  • non fiksi 3
  • renungan 3
  • rupa-rupa 1
  • true story 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Desember 2017 (6)
  • Oktober 2017 (2)
  • Juli 2017 (1)
  • Juni 2016 (1)
  • April 2016 (3)
  • Maret 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (3)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • Juli 2012 (1)
  • Juni 2012 (1)
  • Mei 2012 (1)
  • April 2012 (2)
  • Maret 2012 (2)
  • Januari 2012 (2)
  • Desember 2011 (4)
  • Oktober 2011 (2)
  • September 2011 (1)
  • Agustus 2011 (2)
  • Desember 2010 (1)
  • November 2009 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Laporkan Penyalahgunaan

Home

  • Home
  • About
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Virtual Corner
  • Zona Misteri

Mengenai Saya

Foto saya
Alaika Abdullah
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Popular Posts

  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Bawa Aku Pulang!
  • Kamu tetap anak mama sayang!

Labels

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes