sebelumnya di
Lusina 3
 |
| grabbed from this site |
Hand in Hand Community, bukan sebuah komunitas biasa. Tak mudah mengaksesnya karena untuk menjadi anggotanya dibutuhkan persyaratan khusus yang tak seorang pun akan rela memenuhinya jika bukan karena suratan takdir. Iyalah, siapa sih yang mau kehilangan tangan atau kaki, atau terlebih dahulu mengidap HIV/Aids, hanya untuk menjadi anggota komunitasnya? Tidak, tidak ada yang mau donk.
Juga Badai. Sebesar apapun keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang komunitas yang dibentuk oleh wanita imaginer itu, dia tak akan rela jika harus memenuhi syarat utama itu terlebih dahulu.
cerita sebelumnya di
Lusina 2
Badai terhenyak mendengar penuturan Linda, Pak Ilham dan Bu Rosa, yang secara terbuka menerima kedatangannya dan berbagi informasi tentang almarhumah putri mereka. Kekagumannya terhadap wanita yang tak sempat dikenalnya secara langsung itu semakin membahana. Lusina seperti dugaannya. Wanita hebat. Hanya saja dia tak menyangka jika wanita itu adalah seorang penyandang cacat dan pengidap HIV!
Batinnya miris mengetahui Lusina yang adalah seorang perawat, kehilangan sebelah kakinya pada saat melakukan pekerjaan sosial. Tertimpa salah satu sisi bangunan yang roboh ketika gempa susulan di Yogya beberapa tahun lalu. Tak terbayangkan olehnya bagaimana proses wanita itu dalam upaya bangkit kembali, menyemangati dirinya dan menyambung kehidupannya, yang pastinya akan terasa sangat pahit.
cerita sebelumnya baca
disini
Badai larut dalam doa bersama yang dipimpin oleh pak ustadz, yang belakangan diketahui sebagai ayahnya almarhumah Lusina. Setulus hati, lelaki muda itu turut mengamini.
Sebuah rasa kehilangan yang teramat sangat penuhi relung hatinya. Bahkan membuat dirinya sendiri heran, kok bisa? Pertemuan yang begitu singkat, bahkan tak sempat saling bertegur sapa, tapi kepergian wanita yang hanya dikenalnya melalui status-status di FB dan instagram itu, bisa hadirkan sebuah rasa kehilangan yang begitu luar biasa. Yang dia sendiri sulit untuk melukiskannya.
Entah sejak kapan Badai mengidap kebiasaan itu. Yang jelas dia begitu getol mengintip status wanita yang sama sekali tak dikenalnya secara langsung itu. Entah sejak kapan pula nama itu ada di friend list fesbuk dan instagramnya. Dia sama sekali tak ingat. Yang dia tahu adalah bahwa status-status wanita itu selalu mampu menimbulkan rasa penasaran di hatinya dan kian membuatnya geregetan.
klik disini untuk membaca kisah sebelumnya..
 |
| pict grabbed from here |
Seminggu berlalu setelah tamparan itu. Marissa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan pagi, menyediakan pakaian yang sebaiknya dipakai Anton untuk ke kantor, di atas tempat tidur kamar sebelah dimana Anton terpaksa mengungsi sementara waktu.
Lelaki galak itu, seperti shock oleh tamparan balasan dari istrinya. Sama sekali tak menduga jika sang istri yang lemah lembut itu, punya kekuatan tersembunyi, yang sungguh membuatnya terbang semangat karena kaget..
 |
| Pict grabbed from here |
"Kamu itu kenapa sih? bawaan marah mulu?" Wanita itu akhirnya menggeram. Emosi yang tadi masih di level terbawah, kini mulai meninggi. Lelaki ini telah benar-benar membuat amarahnya menggelegak. Dikiranye siape die? batinnya, baru seminggu jadi suaminya eh sudah sok galak. Marah-marah tak menentu. Menamparnya pula!
Pacaran dengannya selama tujuh bulan, tak membuatnya mengenal karakter asli sang suami. Beginikah aslinya Anton? Duh!
Paragraf sebelumnya...
Abdullah Sulaiman
…di dalam kereta api,
Perjalanan Solo
- Jakarta, Rabu, 11 April 2012, 17.11 wib.
Sebuah
nomor asing memanggil di layar HPnya. Lelaki 68-an tahun itu menatap layar
monitor dengan penuh tanda tanya. Nomor tak dikenal, siapa ya? batinnya seraya menjawab
telephone.
“Assalammualaikum Yah… ini
Alaika… pake nomor XL”.
“Waalaikumsalam Wa rahmatullah…
apa kabar nak?”
“Yah… barusan terjadi gempa
dasyat, 8,9 SR. Al sedang di kantor gubernur tadi dan Umi sendirian di rumah.
Al udah sempat sampe rumah tadi tapi Umi ga ada lagi di rumah. Al udah ke
menasah tapi Umi juga ga ada disana. Coba ayah telephone Umi, Al telephone ga
bisa masuk dari tadi. Telkomsel lumpuh disini. Ini pake XL tapi tetap aja ga
bisa hubungi Umi…”
Bergabung
dia dengan bu Nellis, tetangga baik yang memang akrab dengannya. Bu Nellis
beserta Rahmah putrinya dan Pak Muhtar suaminya, malah telah duduk di tanah. Bu
Nellis sendiri malah sedang menangis karena pusing, mual dan trauma. Fatimah
Zahra bergabung dengan keluarga Nellis. Ikutan duduk di atas tanah agar
keseimbangan tubuhnya lebih stabil. Barulah disadarinya bahwa dirinya telah
berlari keluar rumah dengan hanya berbaju kaos lengan pendek dan sehelai kain
sarung melilit bagian bawah tubuhnya. Tanpa jilbab sama sekali. Tapi mau gimana
lagi? Keadaan begitu darurat, tak ada pilihan lain. Nellis juga berpenampilan
sama.
Gempa
mengayun bumi dalam waktu yang lumayan lama…. Hatinya telah was-was akan
terulangnya peristiwa dasyat itu. Tujuh tahun lalu, tsunami diawali oleh gempa
yang seperti ini. Oh Tuhan, jangan lagi, cukup sudah bala itu ya Allah…,
batinnya.
Paragraf sebelumnya...
Alaika, at Joint Secretariat
Rabu, 11
April 2012 ; 15.30 wib.
Alaika
baru saja menjejakkan kakinya di ruangan Joint Secretariat, yang berkantor dilantai
tiga salah satu gedung kompleks kantor Gubernur Aceh. Ada sekitar tiga minggu
lebih dirinya tak berkunjung kesini, sejak dirinya harus mendapatkan perawatan
intensive akibat demam berdarah yang menyerangnya beberapa waktu yang lalu.
Jelas saja kunjungannya kali ini membuat anak-anak Joint Secretariat kangen dan
bergembira hati dengan kedatangannya. Sambutan dan canda hangat juga
dilontarkan oleh Pak Zaidan, the head of Joint Secretariat.
“Aduh, kayak bulan purnama deh
ibu yang satu ini… munculnya jarang-jarang banget. Apa kabar Al… mudah-mudahan
udah pulih benar ya?” sapanya akrab.
“Wah mbak Al tau aja kalo lagi
ada rezeki ya? ayo mba… barengan kita makan rujak nih…” seru Ayu
yang sedang rujakan di meja oval yang biasa dipakai meeting.