Rumah Fiksi Alaika Abdullah
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Judul diatas terinspirasi dari sebuah artikel di blognya sahabat, mba Reni, yang berjudul Indahnya Kebersamaan (saya sengaja tidak mengubah judulnya karena sudah pas banget dengan artikel yang akan saya tulis).. ga pa-pa kan mba Reni jika judulnya sama? Hehe.

Well, terus ceritanya gimana? Akan sama juga dengan isi artikelnya mba Ren? Idih… kalo sama sih namanya nyontek donk? Artinya saya ga kreatif donk. Ogah ah dibilang ga kreatif…
Sesuai judulnya, Kebersamaan, apakah itu dengan orang-orang terkasih (suami, anak, ayah ibu, adik-kakak, atau anggota keluarga terdekat lainnya) atau hanya dengan sahabat lama yang sudah sekian lama tak bersua, tetap saja memberikan nuansa keindahan tersendiri. Benerkan ya?

Kali ini, saya ingin bercerita tentang kebahagiaan yang tercipta di keluarga utama kami, setelah enam bulan lalu dirundung mendung berkepanjangan. Mendung yang membawa badai bagi ibunda tercinta akibat putra kesayangannya (yang telah sekian lama berdomisili di Istambul, Turkey), nekad tetap melanjutkan niatnya menikahi seorang gadis asal Bella Rusia, tentunya setelah si gadis ikhlas menjadi seorang muslimah.

Berbagai upaya yang kami lakukan untuk meluluhkan hati ibunda tercinta agar berkenan merestui pernikahan putra terkasihnya ini sama sekali tidak membawa hasil.

Usia yang kian bertambah, tak juga mampu mengubah karakter keras kepala sang ibunda kami. Kisah saya kini terulang pada Fadjri, menikah tanpa restu orang tua. Beruntung Fajri masih mendapatkan dukungan dan restu dari kami semua (ayahanda, saya/kakaknya, Edo/abangnya dan Rizal/adiknya). Yang tetap berjuang keras melobby ibunda agar luluh merestui. Namun sayang, Allah belum berkenan membuka pintu baja ini.
Dana yang sedianya sudah dicadangkan untuk tiket perjalanan saya dan ayahanda ke Istambul terpaksa kembali duduk manis di rekening Fadjri, karena hanya Edo yang jadi berangkat ke Istambul menghadiri pernikahan adiknya ini.

Saya dan ayahanda terpaksa mengundurkan diri, demi menghargai perasaan ibunda. Juga karena kami tidak ingin diambekin oleh sang ibu berhati baja ini. Duh…Ibuku tercinta….whatever, you are the only mom I do admire!





Berbagai upaya yang kami lakukan jadi patah arang. Tak berarti apa-apa berhadapan dengan ibu yang perkasa. Beliau tetap pada titahnya. Tetap pada pendapatnya, bahwa orang lain boleh saja bermenantukan seorang bule’, seorang mualaf, tapi tidak dengan wanita bernama Fatimah ini. Fatimah orang kampung yang tidak akan menerima menantu non muslim. Padahal sudah berulang-ulang kita jelaskan bahwa si menantu ini telah menjadi saudara seiman, telah muslimah.

Tetap saja, tiada kata-kata pembenaran yang berhasil mengubah pendapatnya. Fadjri harus berlapang dada dan semakin meningkatkan frekuensi dan kualitas berdoanya, mengetuk pintu kasih Ilahi agar berkenan membuka pintu hati sang ibunda. Karena hanya keajaiban dari Allah sajalah yang akan mampu mengubah semua ini.

Kami semua telah menyerah, hanya saran agar Fadjri tetap memperkuat doanya saja yang mampu kami berikan untuk menghibur hatinya. Aku bahkan sempat meneteskan airmata membaca balasan email ayahandaku untuk Fadjri yang diforward Fadjri padaku. Agar Fadjri pantang menyerah, tetap berdoa dan berusaha, bahkan jika tak satupun sms ataupun telpnya yang dijawab oleh ibu.

Hari itu, Senin malam, di penghujung October 2011, Fadjri mengajakku masuk ke kamar hotel tempat dia dan istri cantiknya menginap. Ya, sesuai strategi yang telah kita atur, Fadjri memanfaatkan momen dinasnya ke Jakarta dengan mengubah rute penerbangan, diawali dengan cuti tahunan yang dia manfaatkan untuk usaha super ini. Ditugaskan ke Jakarta selama 5 hari, Fadjri berinisiatif untuk singgah terlebih dahulu di Banda Aceh mencoba meluluhkan hati sang ibu. Jadilah rute penerbangannya menjadi, Istambul – Dubai, Dubai – Kuala Lumpur (7 hari), Kuala Lumpur – Banda Aceh (selama 9 hari), baru kemudian Banda Aceh Jakarta (5 hari), Jakarta – Bali (5 hari), Bali – Kuala Lumpur, Kuala Lumpur – Dubai, Dubai – Istambul.

Masih teringat betapa harunya aku memeluk adikku itu saat pertama kali bertemu. Kangen, terenyuh. Apalagi melihat tubuhnya yang mengurus (aku yakin, batinnya tersiksa karena belum mendapat restu ibuku). Hiks..hiks.. Tak sabar saat itu aku untuk segera bertemu dengan sang adik ipar yang di foto aku lihat seperti boneka Barbie. Dan ya Allah….. Masyaallah… , benar… persis Barbie. Sehingga saat itu Intan langsung berbisik ke telingaku ‘Mi…. cantik banget, kayak Barbie!!, OMG.”

Tak lama setelah kedatanganku, kedua adikku yang lainnya (kami adalah 4 bersaudara, aku anak pertama dan satu-satunya perempuan) menyusul. Dalam keharuan, kami semua memutuskan untuk makan malam di luar sambil mengatur strategi untuk esok harinya. (Scenerio pertemuan Fadjri dengan ibunda).
Berbagai kemungkinan kami kaji. Dari yang terburuk (penolakan) hingga yang menggembirakan (diterima dan diampuni). Disepakati bahwa esok pagi, Fadjri akan ke kantor ayahanda terlebih dahulu demi menghargai hati sang ayah agar tidak merasa didahului, sebenarnya kami sudah sangat ingin mengundangnya untuk pertemuan malam ini, hanya kuatir nantinya beliau tidak sanggup menahan diri dan ujung-2nya malah membocorkan rencana ini pada ibunda, sehingga ‘serangan fajar’ ini jadi gagal sempurna.

Pagi itu, sekitar pukul 10.15 wib saat Fadjri menelphoneku dengan gugup, bahwa ibunda ngamuk, dan akhirnya menangis tersedu di dalam kamarnya tanpa mau mendengarkan Fadjri maupun Rizal. Memang pagi itu Rizal sengaja tinggal di rumah untuk berjaga-jaga, in case terjadi hal-hal seperti ini. Ibunda terus saja menangis histeris, menyesali nasibnya, memarahi Fadjri, dan tetap saja meracau.

Untung meeting pagi itu sudah selesai bagianku updating the progress, sehingga aku leluasa untuk menyelinap dan tega lari dari kantor sejenak. Dan hanya butuh 5 menit by car diriku sudah bergabung dengan Fadjri dan Rizal. Kudapati kini ibunda telungkup di atas spring bednya, dielus punggungnya oleh Fadjri dan Rizal. Terharu hati ini. Tetesan air mata tak mampu tertahan. Kuusap lembut rambut ibuku, sambil menciumnya perlahan.

“Mi…. ssst…. Minum air putih dulu ya…. Tuh udah pilek…” Bujukku.


Rizal menyodorkan segelas air putih yang memang sudah disiapkannya. Tak lama ayahandaku pun tiba. Wajah bijaksana itu tak mampu menahan airmata. Dipeluknya erat Fadjri yang bangkit menyambutnya. Ayahku menangis, tersedu. Aku apalagi? Tak tertahan airmata ini, mengalir sempurna.

Merapat ke tempat ibuku, ayah berkata 

‘Ayah mohon, ampuni Fadjri Mi…, jauh-jauh dia kembali, menjenguk dan memohon restumu…’.

Ibuku semakin menjerit, menangis tersedu. Kucium ibuku, kuusap airmatanya dengan tissue yang disodorkan Rizal.

‘Mi…. Fadjri tetap sayang sama Umi…. Umi satu-satunya ibunya. Memilih Oksana bukan berarti dia mengenyampingkan Umi…’. Lembut kucoba bersuara. Disambut Fadjri antusias.

‘Iya Mi…. ampuni Fadjri…. Fajri kesini untuk Umi, mau nengok Umi… Fadjri tetap sayang sama Umi, sangat.’

Diraihnya jemari ibunda, diciumnya. Ayahku juga sudah duduk di sisi ibundaku, membelai lembut kepalanya. Saat itu, Ibuku tak ubahnya seorang ratu yang sedang tertidur sakit, dan merajuk.. dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya yang berusaha membujuk.

‘Kalo kamu sayang, kamu ga akan membantahku… menyesal kusekolahkan kamu jauh-jauh. Menyesal kuijinkan kamu merantau ke seberang sana jika seperti ini jadinya!’ masih juga meracau.

Berbagai kalimat bujukan tak henti silih berganti mengalir, membujuk sang ratu ini agar luluh. Terbayang situasi yang hampir sama, terjadi saat aku dibuang dari keluarga gara-gara menikah dengan ayahnya Intan. Sulitnya lagi, saat itu, diriku hanya berjuang seorang diri. Seluruh anggota keluarga tak satupun yang mendukung. Perih nian masa-masaku itu. Untung tsunami melanda (setelah 9 tahun diriku tercoret dari keanggotaan keluarga). Allah mengirimkan tsunami ke Aceh untuk membuka pintu baja di kalbu ayah bundaku.

Lelah meracau, dan mungkin termakan oleh serangan bujukan dari kami yang datang silih berganti, suara ibuku melunak, dan mulai mau menjawab obrolan kami. Pertanda baik yang tak kami sia-siakan donk. Aku sendiri lupa bagaimana asal usulnya, tiba-tiba obrolanku adalah tentang rencana mengajak ibunda facial lagi di salon langgananku, yang memuji wajah ibuku yang masih mulus di usia tuanya (60 tahun). Obrolan ini disambut dan dibumbui oleh Fadjri dan lainnya, yang juga secara terselubung memuji ibu, sehingga hatinya jadi berbunga. Hehe….

Ujung-ujungnya beliau bersedia diajak makan bersama di luar rumah, dan berkenan menerima Fadjri kembali. Deg-degan saat kami menanti jawabannya saat Fadjri meminta ijin untuk membawa juga istrinya pulang ke rumah, saat itu adik iparku, Oksana, tinggal di Hotel, sesuai skenerio yang kami susun.

Alhamdulillah, ibunda tak menolak, bahkan merelakan kamar tidurnya untuk sang putra kesayangan dan menantu baru… sungguh ajaib. Dan kuyakini, hanya Mukjizat Ilahi yang mampu merubah kekerasan hatinya itu dan menukarnya dengan situasi baru ini. Oh my God. Engkau sugguh Maha Pengasih dan Perkasa ya Allah.

Kebahagiaan menyelimuti Fadjri dan istrinya (yang tadi malam sudah setengah mati mempersiapkan mentalnya menghadapi kejadian terburuk), menyelimuti hati kami juga tentunya. Ibuku dengan heboh (seperti biasanya dalam menyambut tamu…), minta tolong si mba ku untuk beberes kamar. Demi menyambut sang menantu baru yang cantik jelita.

Detik-detik berikutnya adalah menjadi milik Fadjri dan sang istri, karena kulihat setelah kembali dari makan siang, ibuku sudah berfoto ria dengan Oksana di tengah taman bunga milik ibuku, di pekarangan rumah. Ampun dweh Umiku ini…..

Alhamdulillah atas anugerahmu ya Allah, sehingga seminggu kemudian, Idul Adha kami terasa sempurna oleh lengkapnya kehadiran seluruh keluarga. Berbagai masakan dimasak ibuku walau setiap hari Oksana hanya sanggup menyantap kentang rebus, wortel dan tomat sebagai makanan utamanya. Ampun deh.
Sebuah cincin emas bermotif pintu Aceh dilingkarkan ibuku di jari manis Oksana, plus beberapa helai gamis dan mukena cantik menyambut idul Adha dibelikan ibu untuk menantu cantiknya ini…

Kebahagiaan Oksana dan Fadjri adalah hadiah Allah bagi kami semua tahun ini. Alhamdulillah wa Syukurillah. Semoga kebahagiaan dan kedamaian ini abadi ya Allah. Amiin.

Semoga kebahagiaan ini senantiasa memayungi kami semuanya ya Allah... Amin Ya Rabbal Alamin.
Kisah sebelumnya.....

 

Seekor anak kerang menangis sendu, mengadu pada sang bunda.
“Ibu, badanku sakit sekali…. Perih dan ngilu….. bantu aku ibu… kuakkan kulitku dan keluarkan pasir yang menyusup ke dalam tubuhku….”

Sang bunda hanya dapat memandang ananda dengan tatapan pilu. Perih hatinya, dan penderitaan sang anakpun seakan lekat dirasakannya. Ucapnya..

“Nak…. Maafkan ibumu ini, tak mampu ibu membantumu sayang…. Kita diciptakan sang Maha Kuasa tanpa sepotong tanganpun…., sehingga ibu tak mampu menguak cangkangmu dan mengeluarkan pasir yang menyusup ke dalam tubuhmu itu nak….”

Sang anak semakin merintih, menangis sendu merasakan goresan butiran-butiran pasir yang menyayat tubuhnya.

“Ibu… ini sakit sekali, aku tak mampu bertahan bu…. Apa yang harus kulakukan? Mengapa kehidupan ini begitu kejam? Aku sakit bu….!” Rintihnya, membuat sang ibu ikut menitikkan airmata, merasakan perih yang sedang mendera sang ananda tercinta.

“Sayang…. Tabahkan hatimu…. Kuatkan semangatmu untuk bertahan. Percayalah, dirimu diberi kekuatan untuk bertahan atas cobaan yang sedang diberikanNya bagimu. Tetaplah semangat anakku. Balutlah pasir itu dengan carian perutmu. Percayalah, rasa sakit itu akan berkurang jika kamu menuruti nasehat ibu.”

Anak kerang pun menuruti nasehat sang bunda. Terkadang rasa nyeri itu dirasakan berkurang namun tak jarang rasa nyeri semakin mendera. Namun kekuatan semangat yang selalu disuntikkan sang bunda, adalah penyelamat dan pelipur lara dan deritanya.  Walau kadang kala, saat rasa sakit tiada tara mendera, nasehat sang bunda terpaksa diragukannya. Dengan air mata, dia berusaha bertahan. Bertahun lamanya hingga tanpa disadarinya butiran pasir yang mulai mengeras oleh cairan perutnya, kini semakin terbentuk, halus. Mulus. Makin lama makin halus, mengkilat dan kemilau. Rasa sakit pun mulai berkurang. Butiran pasir yang mengeras itu, ternyata membentuk sebutir mutiara yang kian membesar, indah dan mempesona.

Suatu hari, seorang penyelam menemukan si kerang kecil. Dijumputnya kerang mungil itu dan membawanya ke permukaan. Berserulah dia pada temannya di atas perahu.

“Hei… lihatlah, aku menemukan sebuah kerang dibalik karang, dan ini kerang mutiara!” 
Gembira sekali suara si penyelam. Temannya mendekat, memperhatikan dengan seksama. Sebilah pisau diambil sahabat si penyelam dari perahu, dan dicungkilnya salah satu cangkang si kerang kecil. Tampaklah saat cangkang terkuak…. Sebutir cahaya berkilau indah dari dalam kerang kecil. Sebutir mutiara, tampak menempel indah disana. Begitu menakjubkan, membuat kedua penyelam tersenyum bahagia.

“Terima kasih Tuhan atas berkah ini.” Penantian sang kerang kecil berakhir sudah. Pasir yang mulanya menyakitkan, menderanya tiada henti…kini berubah menjadi sebutir mutiara indah berkilauan.

Sobats….terkadang cobaan terasa memang begitu menyiksa… bahkan terkadang membuat kita putus asa dan bahkan ingin mengakhiri kehidupan. Namun berapa banyakkah diantara kita yang masih menyadari bahwa dibalik cobaan itu ada hikmah? Bahwa dibalik ujian akan ada kemenangan? Bahwa dibalik penderitaan ada kebahagiaan yang telah dipersiapkan?

Banyak dari kita yang langsung menuduh Tuhan tidak adil, saat kita merasa kehidupan kita begitu miris, sementara kehidupan teman kita yang lain begitu terlihat indah?
Berapa banyakkah dari kita yang langsung menuduh Tuhan tidak sayang kita, hanya karena cobaan yang diberiNya terlalu berlarut dan berkepanjangan? Sementara kita melihat teman kita begitu menikmati kehidupannya. Tahukah kita bahwa dibalik kegembiraan atau kebahagiaan yang terlihat dinikmati si teman, ternyata dia juga menanggung penderitaan dalam bentuk lain yang tiada tertahankan jua?

Penantian bagi sang kerang kecil, untuk mengubah pasir menjadi mutiara berharga tentu sangatlah menyiksa. Sang kerang mencoba bertahan tanpa pernah tahu kapan penderitaan itu akan berakhir.
Tidakkah ini mengajarkan kita satu hal? Bahwa untuk mencapai keagungan diperlukan waktu dan kesabaran prima? Untuk menjadi hiasan para ratu dan bangsawan, sang kerang perlu waktu bertahun untuk bertahan dalam penderitaannya? Butuh malam-malam yang penuh doa, rintihan dan tangisan?

Sobats,
Hidup adalah pilihan. Menjadi kerang dengan mutiara indah nan berharga atau hanya cukup menjadi tiram yang dijual murah di pasar ikan? Setiap pilihan tentu penuh resiko dan konsekuensi. Tinggal diri kita yang menentukan pilihan hidup mana yang akan kita tempuh. Iya toh?
Semoga kisah kerang mutiara ini dapat memberi kita hikmah berharga dalam menapaki jalanan kehidupan ya sobs….

Saleum,

Alaika


Kisah sebelumnya di Dongeng Kehidupan I

Sebenarnya Surya sudah familiar dengan kondisi kejiwaan wanita yang sedang hamil. Tiga kali sudah dia menghadapi kehamilan istrinya (kini sudah mantan), dan dia hapal benar sikap ngidam, temperamental dan berbagai perubahan psikis istrinya di masa-masa kehamilan. Sekuat tenaga dia mencoba mentoleransi dan memahami, bahkan mampu meningkatkan rasa kasihnya pada istrinya (dahulu).

Namun, dengan istrinya yang ini? Sungguh Wani membuatnya kewalahan. Sikap cemburunya semakin menjadi-jadi. Sedikit saja dia telat sampai di rumah, setelah mentoleransi durasi kemacetan lalu lintas, Wani pasti mengamuk dan mencerewetinya. Mencurigainya. Bahkan terang-terangan menuduhnya berselingkuh. Tak jarang dan semakin sering kata-kata kasar keluar dari bibir sexy istrinya ini, bahwa Surya sengaja pulang terlambat karena sudah tak suka lagi dengannya yang kini telah berperut besar, buncit dan bertubuh melar. Sudah tidak menarik lagi dan tak mampu lagi memberinya kenikmatan.

Kata-kata yang awalnya membuat Surya malah ingin tertawa, namun juga ingin memeluk mesra istrinya. Mencoba memahami sikap istrinya yang memang masih terlalu muda untuk usia masa kini. Jika di zaman ibunya dulu, mengandung di usia 20 dianggap sudah sangat-sangat pantas, maka mungkin di masa kini, menikah di usia 20 tahun masih termasuk sangat muda. So, he tries to understand her wife feeling lah.
Maka dia tak banyak melawan kata-kata itu, dicobanya untuk menjelaskan sebaik mungkin, searif mungkin, sesabar mungkin. Sambil dalam hati berfikir, itulah resiko menikah dengan wanita yang masih terlalu muda. L

Namun, kadang kala, sikap Wani membuat control emosi nya tak terkendali, ini sering terjadi saat Surya membawa ketiga anaknya dari perkawinan pertamanya, ke rumah ini. Sebagai ayah yang baik, tentu dia rindu donk dengan anak-anaknya, dan ingin mengundang mereka menginap di rumahnya. Ingin juga dirinya selaku ayah, ber-akrab ria dengan darah dagingnya sendiri. Namun, sikap Wani sungguh tidak terpuji. Tak pernah sekalipun istrinya ini mencoba beramah tamah dengan anak-anaknya. Sikap Wani benar-benar mencerminkan sikap ibu tiri zaman dahulu, walau tidak sekejam ibu tirinya Cinderalla sih. Namun sikap tak sukanya itu, jelas membuat anak-anaknya juga tak suka pada Wani.

Sering Bella, putri terkecilnya yang masih berumur 3 tahun, langsung mengajak pulang tak lama setelah mereka tiba di rumah papanya ini. Alasan Bella adalah kangen mama. Padahal jelas-jelas Bella baru saja bersama mamanya. Tentu Surya merasa sangat kecewa dengan sikap Wani. Dia sangat berharap agar Wani tidak menganggap anak-anak ini sebagai saingannya. Bahwa anak-anak hanya akan mengambil kasih sayang Surya sesuai porsinya. Dan Wani tetap akan memperoleh kasih sayang Surya sesuai porsinya pula. Namun Wani tetap saja dengan sikap kekanak-kanakannya itu. Surya hanya bisa mengelus dada, apalagi mengingat Wani sedang berbadan dua.

Pagi ini, Wani kembali mengamuk, sebabnya? Karena sebuah sms di HP Surya…

“Ardo sehat Oom, Alhamdulillah, udah baikan kok Oom, tapi oleh mama belum dibolehin sekolah”

Sms ini membuat Surya menjadi tawanan. Diinterogasi sedetil-detilnya oleh istrinya. Dia sungguh heran, bagaimana mungkin istrinya yang sedang hamil ini, punya kekuatan luar biasa, mencak-mencak tak karuan dan hilang sopan santun seperti ini ya? Ditengah perang batinnya melawan kemarahan oleh rentetan peluru kata-kata dari bibir indah sang istri, batinnya tersentak dan takjub oleh kata-kata pamungkas istrinya itu.

“Jangan-jangan Ardo ini anakmu dengan perempuan lain pula! Makanya begitu akrab!!”

Sadis benar kata-kata itu, diucapkan dengan kata-kata pedas melebihi cabe rawit. Namun kok mengena pula. Surya tak ingin membalas, tak hendak menjawab. Capek deh, pikirnya. Dia lanjutkan aktivitas paginya, menyiapkan pakaian kerjanya sendiri, karena kalo sudah mengamuk, istrinya ini tak akan lagi menyiapkan apapun untuknya.

Justru sikap diam tak melawannya ini, ternyata malah semakin memicu kemarahan Wani. Membentak dia, menghadang Surya yang hendak ke kamar mandi.

“Kenapa mas hanya diam? Ayo ngaku? Siapa dia? Ngomong mas, ngomong!!”

Surya merapatkan gerahamnya. Tuhan, bagaimana mungkin ada seorang wanita hamil yang begini temperamental. Jangan turunkan emosi tak terarah ini pada anakku ya Tuhan… batinnya.

“Dik… tolong jangan marah-marah begitu donk. Mas takut anak kita nanti jadi pemarah seperti ini, please…. !”

Ternyata kalimatnya ini malah semakin memancing si singa menambah amukannya.

“Apa? Bilang aja mas memang ga senang lagi denganku, mas ga cinta lagi denganku kan?” Dan istrinya ini kini menangis tersedu. Surya kewalahan. Oh my God, I need a counselor!

Diraihnya lembut sang istri. Dipeluk dan belai mesra.

“Sayang, mas menikahi kamu karena mas cinta sama kamu. Mas malah makin sayang dan cinta sama kamu sayang, dan ga sabar menanti kelahiran bayi kita. Kamu harus percaya sama mas, dan tolong, beri yang terbaik untuk baby kita… mas mohon. Jangan marah-marah… mas ingin baby kita jadi anak yang tenang, sabar dan cerdas. Be a good mom ya sayang…”

Diciumnya istrinya yang mulai tenang. Surya menghela napas diam-diam. Lelah sebenarnya batinnya, mengingat periodic kejadian seperti ini semakin singkat waktunya. Perulangannya semakin sering saja. Huft.

Tak sabar dia ingin segera barada di ruangan kantornya yang nyaman.
Pekerjaan kantor yang banyak, ditambah sikap Wani benar-benar membuatnya jenuh. Lelah. Maka hanya curhat pada sahabat serta chatting dengan Maya adalah pelariannya. Keakrabannya dengan Maya semakin terjalin sejak tabir itu tersingkap. Tak dapat dipungkiri, pada Maya, ada dua darah dagingnya yang merindukan kasih sayangnya. Yang membuatnya semakin sering berkomunikasi dengan mantan kekasihnya itu. Situasi Maya yang kini menjadi single parent sejak sang suami berpaling, membuatnya prihatin. Terlebih prihatin lagi, karena ayah si kembar sebenarnya adalah bukan si lelaki yang berpaling itu, tapi dirinya. Yang seharusnya bertanggung jawab meringankan beban Maya selaku single parent. Yang berjuang keras membiayai si kembar. Terlebih Ardo, yang lemah dan sering sekali sakit. Prihatin sekali hatinya memikirkan hal ini. Andai berita tentang si kembar lebih dahulu terungkap, dia tak perlu susah-susah mencari calon istri dan menikahinya (Wani). Tentu akan lebih ringkas dan bijaksana menikahi Maya, yang telah melahirkan darah dagingnya. Tapi siapa yang bisa menebak situasi seperti ini? Huft. Pusing kepalanya jadinya.

Apalagi ketika tadi Maya bercerita via telephone, bahwa Ardo kambuh lagi tadi malam, dan Maya berkeinginan untuk membawa putranya itu berobat ke Penang. Ingin rasanya dia menyertai mereka kesana, untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja. Kasian Maya, pasti akan sangat sulit jika harus seorang diri disana. Ardi akan ditinggal di Medan karena juga harus terus bersekolah.

Surya sedang memutar otak mencari alasan yang akan diutarakan pada Wani, untuk bisa berangkat ke Penang, ketika matanya menangkap Alaika is online di layar laptopnya.
Ditangkapnya segera. Biasanya wanita yang satu ini selalu mampu melapangkan hatinya, mencerahkan pikirannya yang sedang mendung tingkat tinggi.

“Dik… can I catch u, please?” ditunggunya sejenak. Belum ada tanda-tanda Alaika is typing a message dari seberang. Ditunggunya dengan sabar. Mencoba mengingat-ingat kebiasaan sahabatnya yang satu ini. Walau belum pernah ketemu secara langsung, tapi banyak kebiasaan wanita yang satu ini diketahuinya. Semisal menghidupkan laptop, semua diset sign in automatic, dan yang punya laptop wara wiri ke tempat lain. Mengambil ini dan itu. Laptop ditinggal mengaktifkan diri sendiri…

Benar saja, beberapa menit kemudian,

“Hai mas….. maaf, aku baru sampe dari meeting di luar, nih baru nyalain laptop, seperti biasa, aku nyalain dan tinggal ke toilet. Kok mau tangkap aku? Emang aku salah apa mas? J”

Tak sanggup dia membalas canda ini. Sebuah icon murung ditampilkannya. L

“Ok mas, whats up? Semuanya baik-baik aja kan? Ardo sehat?”

“Ga dik… Ardo semakin sering sakit. Jantungnya sering kambuh… Maya berencana membawa Ardo ke Penang…”

Icon murung dikirim Alaika untuknya. Ditunggunya Alaika is typing a message itu selesai, tak sabar ingin membaca pesan apa yang terhantar begitu tombol enter di hit.

“Perawatan dan pengobatan disana memang lebih baik daripada disini mas… terus dengan siapa Maya akan kesana? Pasti mas risau ya? Ingin mendampingi tapi Wani juga sedang butuh mas?”

“Iyaaaa…”

“Aku bingung harus ngomong apa ke Wani dik.”

“Gimana kalo berterus terang?” Ide spontan yang membuat Surya melonjak.

“What? It sounds crazy dik. Mana mungkin. Bisa lahir sebelum waktunya nanti anak mas!”

Eh Alaika malah tertawa, icon ngakak pun dikirim, tak tanggung-tanggung, 6 icons. Surya ikutan geli. Dia tau Alaika hanya bercanda. Pikirannya jauh lebih waras darinya malah, dia yakin itu.

“Gila kamu dik. Ayo donk, kasih saran… mas nyesal ga ngawinin kamu. Kalo kamu terima mas waktu itu, tentu masalah ga serumit ini. Kamu pasti akan terima Deny, Alif dan Bella dengan suka cita, dan pasti akan menyayangi mereka….”

“Hush… ga baik ngomong begitu mas. Kita ga jodoh. Buktinya, aku malah kawin dengan masku kan? Ga denganmu, hehe….aku hanya sayang padamu, tidak cinta, ingat itu mas... Aku anggap mas sebagai sahabat, dan klien, cukup donk itu? Ayo mas, ga baik menyesali langkah yang telah diambil.”

“Kamu itu bijaksana banget dik. Harusnya aku mengawini kamu!” eh malah ngeyel. Emang laki-laki ya… sukanya begitu kali ya?

“Udah… yuk balik ke topic. Jadi mas ingin bagaimana? What will you do?”

“Dik, aku bingung banget nih. Aku ingin banget dampingi Ardo. Memberinya semangat agar bertahan dan kuat melawan penyakit yang menggerogotinya… tapi bagaimana caranya?”

“Mas, kalo mas memang ingin dampingi, aku rasa gampang saja. Dengan kapasitasmu sebagai kepala cabang, tentu mas wajar-wajar saja menghadiri rapat di Penang… atau kunjungan dinas kek…. Aku rasa justru Wani harus tau mas ke Penang, karena jika mas mengaku tugas hanya keluar kota, handphonemu ga bisa bohong lho. Menggunakan nomor Indo di sana, jelas akan kena roaming, dan mahal banget. Mending jujur aja tentang keberadaan mas, ya tentu ga perlu bilang menemani Ardo donk…., what do you think?”

Surya langsung setuju. Sebenarnya jalan keluarnya simple, so simple, tapi otaknya yang kalut tak mampu lagi melihat celah jalan keluar. Apalagi karena pertengkaran dengan Wani yang terjadi setiap pagi, sudah seperti kebiasaan dan kebutuhan bagi istrinya itu, sungguh membuat dirinya hampir gila.  Maka saran Alaika dilahapnya mentah-mentah. Segera dia hubungi Maya, membicarakan kemungkinan untuk terbang segera membawa Ardy ke Island Hospital, Penang.

Wani boleh saja marah dan mengamuk, tapi ini menyangkut kesehatan Ardo, darah dagingnya. Rasa berdosa telah menelantarkan kedua darah dagingnya itu tertanam begitu dalam, membuat rasa berdosa ini berhasil mengkontaminasi seluruh rasa lainnya, menghunjamnya, dan membalikkan rasa itu menjadi sebuah rasa ingin menebus kesalahan yang kian menjadi-jadi. Ya, tak ingin dilewatkannya kesempatan ini, memberikan kasih sayang bagi putranya yang lemah digerogoti penyakit. Yang kuat ya nak, batinnya.


~ BERSAMBUNG ~




Hujan masih terus mengguyur bumi. Deras, sejak pagi tadi. Angka digital di sudut kanan bawah monitor laptopnya sudah menunjukkan angka 12.05 wib. Lunch time 5 menit sudah berlalu. Dan only 55 minutes more left. Surya menatap sekeliling, tak satupun koleganya yang beranjak. Enggan menantang hujan yang garang menyirami dunia.
Iseng jemarinya men-double click salah satu teman yang akhir-akhir ini hampir setiap hari saling terkoneksi.

Antonie: alow sayang, gi ngapain? Dah lunch?

Ditatapnya layar menanti if there is a …. Maya is typing a message. Satu menit, tak juga tulisan itu muncul.
Di buzz nya, plus icon smile.
Yes. Maya is typing a message muncul di layar.

Maya: ni sapa? Teman mama ya? Mama lagi di toilet.

Wah, anaknya? Tapi Maya ga pernah cerita kalo dia punya anak…, tapi dia juga ga pernah nanya detailnya sih. Jadi bukan salah Maya lah.

Antonie: Nie anaknya mama ya? Kenalan donk… namanya siapa?"

Maya: "Iya…, anak mama. Om Antonie ya?"

Antonie: "lho kok tau nama Om Antonie? Nama kamu siapa?"

Maya: "ya tau lah, kan keliatan di ym nya…, nama aku ardyan. Om tinggal dimana? Kok Ardy ga kenal?"

Antonie: "Om di Jakarta, iya, Om teman lama mama kamu. Udah lama banget Om ga ketemu sama mama kamu. Umur kamu berapa? Punya adik? Kakak?"

Maya: "o, pantesan aku ga pernah ketemu Om, umur aku 8 tahun, aq punya adik kembar, namanya Ardo, kami cuma berdua, belum punya adik Om. Habis papa juga udah pergi sih… ninggalin kami untuk pacar barunya…"



Deg! Jantung Surya bagai tertohok. Anak umur 8 tahun sudah mulai mengenal dan tahu arti perpisahan dan perselingkuhan… Tuhan… kasihan. Tapi Maya tak pernah bercerita tentang dua makhluk mungil ini. Tak pernah cerita bahwa dia punya anak. Kembar pula…


Pertemuan terakhir dengan Maya via email kira-kira setahun yang lalu, saat dirinya masih menduda dan Maya masih dengan suaminya, kemudian keduanya terputus oleh kesibukan masing-masing hingga sebulan lalu situs pertemanan fesbuk mempertemukan mereka kembali. Dengan info terbaru dari Maya bahwa dirinya diselingkuhi. Setelah itu hampir setiap hari mereka terkoneksi, dan tak dapat dipungkiri masa-masa indah yang terkubur nun jauh di relung terdalam sisi hati, kini mulai terungkit kembali. Binar-binar indah terkadang lupa diredam hingga memendar dan memancarkan sumringah di keduanya. Namun Maya kini jauh lebih dewasa, tau diri dan tak ingin mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain. Apalagi tau Surya baru saja menikah lagi dan sang istri sedang hamil muda.

Sebagai wanita masa lalu yang sempat punya arti dalam kehidupan Surya, tentu saja membuatnya sulit untuk dilenyapkan dari ingatan. Walau telah pernah kesepakatan keduanya untuk saling mengubur dalam-dalam indahnya pelangi kehidupan mereka, namun kini harus diakui, sulit sekali menekan bayangan keindahan masa lalu yang nakal menyeruak ke permukaan itu.

Hari ini, tak seperti biasanya BB Maya dipegang oleh orang lain, yang ternyata adalah anaknya. Dan sungguh diluar dugaan, sianak adalah kembar dan berumur 8 tahun. Wait..8 tahun? 8 tahun? Come on… Delapan tahun yang lalu, bukan delapan tahun, tapi sembilan tepatnya adalah kisah saat keduanya sepakat untuk mengakhiri hubungan cinta kasih mereka dan sepakat pula untuk mengakhiri denyut kehidupan seorang calon manusia yang sedang bertumbuh di dalam rahim Maya. Ya. Itu adalah sembilan tahun yang lalu. Sembilan tahun yang lalu dirinya berangkat ke Amerika, melanjutkan studi meraih S2, yang oleh karenanya membuat dirinya harus mengesampingkan rasa tanggung jawab terhadap buah dari apa yang telah mereka tanam.
Sampai pada analisa ini, Surya merasa degup jantungnya berpacu lebih kencang. Ada desir aneh mengalir di relung hatinya. Tuhan…. Tunjukkan kebenaranMU hari ini…, benarkah bisikan yang mengalir di hati ini? Bahwa si kembar ini adalah anakku?

Bunyi buzz di layar monitornya membuat perhatiannya tersita kembali ke layar.

Ditunggunya Maya is typing a message mengantarkan message untuknya. Dan ini dia,

Maya: Hai mas, masih disana? Ngobrol dengan anakku yach? :-) Ardy ga nakal kan?

Antonie: "Hai sayang, lama banget di toiletnya. Kamu baik-baik aja kan?"

Maya: "ah, ga pa2 kok mas, I m fine kok. Hanya sedang ga kerja nih, cuti, anakku Ardo sakit. Harus dirawat di rumah sakit.
Deg!! Jantung Surya berdetak kencang. Sejak analisa tadi, perasaan seorang ayah di dirinya bergema nyaring, seolah dia merasa yakin sekali bahwa si kembar itu adalah darah dagingnya. Sakit? Oh Tuhan, sakit apa sampai harus dirawat dirumah sakit?"


Antonie: "sakit apa May? Di rumah sakit mana?"

Maya: "Ardo memang sering sakit mas, daya tahannya tak sekuat Ardi, dokter sih mengatakan ada kelemahan di jantungnya, tadi pagi, tiba-tiba saja saat sedang upacara bendera, pingsan, untung segera dibawa ke rumah sakit."


Tuhan… selamatkan Ardo, iya atau bukan dia sebagai anak hamba, selamatkan dia ya Tuhan… pintanya penuh harap.
"Antonie: rumah sakit mana May?"

Maya: "RS. Gleni."

Antonie: "oke, mudah-2an cepat sembuh ya May, bagaimana keadaannya sekarang?"

Maya: "Thx mas. Udah jauh lebih baik kok. Ga pa2, mungkin dalam dua hari lagi udah boleh pulang kok. Thx for your attention. Mas, dokternya masuk nih, aq pamit dulu yach.."

Antonie: "Ok may, keep me inform ya, wishing him all the best. Salam untuk keduanya. Nanti aq boleh ngobrol lagi dengan kamu kan?"

Maya: "Pasti mas. Thx".


Setelahnya, Surya tenggelam dalam campuran aneka rasa. Resah, kuatir, melo dan bingung. Tak secuilpun rasa bahagia disana. Tuhan…. Tunjukkan kebenaranMu. Benarkah mereka darah dagingku? Tapi dia ingat sekali saat Maya memintanya uang untuk aborsi, dan dia memberikannya sejumlah dana untuk itu. Mungkinkah kemudian Maya malah mengubah keputusan itu dan melanjutkan kehamilannya? Tak ada berita tentang Maya lagi, bukan hanya karena dirinya jauh di negeri orang, tapi juga karena kemudian Maya memutuskan untuk pindah ke Sumatera Utara. Disanalah kini dia menjalani kehidupannya, tanpa seorangpun dari sahabat masa lalu mereka yang punya berita terkini tentangnya.

Surya tak sanggup terlalu lama dihinggapi rasa prihatin dan penasaran. Namun tak masuk akal bagi istrinya jika dia harus mengatakan bahwa dia ditugaskan kantornya untuk ke Medan sore itu juga. Langkah paling aman adalah berangkat besok pagi.
Bandara Polonia, penuh sesak bukan hanya oleh para penumpang, pengunjung, supir taksi, pedagang dan orang-orang terkait lainnya, tapi juga sesak oleh suara dan bahasa khas Medan (logat Batak) yang cukup dikenal orang.

Sebuah taksi mengantarkannya langsung ke RS. Gleni, dan setelah mendapatkan info dari pusat informasi, di sinilah kini dia berada. Di sebuah kamar dengan seorang bocah 8 tahun terbaring sebagai pasiennya. Di atas sprei putih khas rumah sakit. Maya sungguh terkaget dan setengah shock mendapati Surya telah berdiri tegak di depan pintu saat dia membukanya tadi. Sungguh diluar dugaan. Allah, inikah kontak batin antara ayah dan anaknya? Hatinya menangis…Haru, pilu.
Maya merasakan tenggorokannya perih, terluka, menahan isak tangis yang hendak pecah. Belum sepatahpun kata yang meluncur dari mulutnya sejak kedatangan Surya tadi, dan dia yakin, tak perlu penjelasan dari bibirnya, karena sepertinya Surya sudah dapat menemukan kebenaran yang telah delapan tahun dicobanya untuk selubungi.

Ardyan yang setia disamping tempat tidur adiknya, menatap Surya sopan. Ramah. Disalaminya tangan Surya santun. Airmata Maya jatuh menitik, menyaksikan kebenaran itu. Ya, hanya dia yang tau pasti kenyataan yang sebenar-benarnya. Bahwa laki-laki ini lah ayah biologis kedua putra kembarnya. Yang telah memberinya uang delapan tahun lalu untuk biaya aborsi janin yang sedang bertumbuh di rahimnya (yang ternyata adalah dua anak kembar ini). Yang oleh lidah lembut dokter yang didesaknya untuk menolongnya aborsi, malah mampu membuka mata hatinya, bahwa adalah lebih baik meneruskan kehamilan itu, memberikan mereka hak hakikinya untuk menghirup udara bumi. Apalagi mengingat usia kehamilan itu juga sudah riskan untuk diaborsi. Jadilah dirinya nekad melanjutkan kehamilan dan memutuskan untuk membuang diri jauh ke rantau orang.

Ardo masih terbaring lemah, tapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Tak ada lagi alat bantu medis yang melekat di tubuh maupun pernapasannya, senyum sopan itu terpancar tulus menyambut Surya. Terlebih saat tangan kanan Surya membelai lembut kepala Ardo.

“Apa kabar nak?”, parau suara itu.

Lagi, Maya menitikkan airmata. Tak perlu penjelasan sama sekali, tapi semua sepertinya paham benar peranan yang harus mereka lakonkan. Tuhan, ini panggung sandiwaraMu. Harus seperti apa endingnya?

Suasana saat itu benar-benar hening, baik Maya maupun Surya sama-sama merasa tercekat tenggorokannya, sementara kedua bocah tampan itu tak menyadari cerita yang sesungguhnya. Hanya saja seperti ada nuansa lain, kedekatan yang begitu mengayomi, dari laki-laki yang baru hadir ini.

“Baik Om. Om siapa?”
“Ini teman mama sayang, udah lama banget ga ketemu, ya kan Om Surya?” Maya menjelaskan segera.
“Iya, Om Surya, teman mama waktu di Jakarta dulu, Ardy apa kabar? Ingatkan kita chat kemarin? Yang mama sedang ke toilet?”

Senyum ramah terkembang di bibir keduanya, mengangguk.

“Jadi Om baru dari Jakarta? Sedang tugas ya Om?” Ardy yang melanjutkan.

“Iya, Om langsung dari Jakarta, khusus menjenguk kalian kok.” Jujur jawabnya.

“Wah, teman mama baik banget ma, jauh-jauh mau nengokin kita. Makasih ya Om!”

Ardo yang berkomentar. Suaranya masih lemah, tapi jauh lebih bersemangat.

Maya hanya mengangguk-angguk, berusaha meredam rasa mello yang menyeruak, hatinya ingin sekali menangis, tapi putra kembarnya tak boleh melihat kepedihan itu. Surya menatapnya penuh simpati, meneduhkan. Ingin sebenarnya dia menyeret wanita itu keluar ruangan, sejenak saja, untuk sebuah kalimat yang jelas tergambar di bola matanya. ‘Mereka anak-anakku kan?’
Tapi tak mungkin melakukan itu melihat bocah-bocah manis itu masih diam-diam memperhatikannya. Hidup, betapa anehnya kehidupan ini. Oh Tuhan. Tak sabar hamba untuk menyingkap kebenaran ini. Tak sanggup lagi menahan rasa, sms menjadi media komunikasi.

‘Tell me dear, Ardy and Ardo are my sons, aren’t they?’
Muncul di layar BB Maya. Tak pelak lagi, Maya sudah tak ingin menghindar lagi, tak ingin menambah penat dan lelahnya memendam sebuah rahasia besar itu semakin lama lagi. Maka ‘Yes mas, they are yours, sorry to cancel the abortion, they have right to survive. Used ur money for their milk’ muncul di layar BB Surya.

Cukup sudah bagi Surya. Walau sudah berada dalam dugaan, dan 80 persen keyakinannya dugaannya benar, namun tetap saja kebenaran ini membuahkan rasa takjub luarbiasa dalam dirinya. Oh Tuhan, sungguh hidupku bagaikan cerita sinetron. Bagaikan kisah dongeng. Tapi kini cerita itu adalah milik hamba ya Tuhan. Milik ku dan Maya. Oh Tuhan. Tak mampu dia berkomentar. Tak ingin dia menjawab sms Maya. Ditatapnya kedua bocah itu penuh kasih. Kini, dihadapannya, adalah dua lagi darah dagingnya. Total dia memiliki 5 anak. 3 dari perkawinan terdahulu, dua dari Maya, dan beberapa bulan kedepan, satu lagi dari Wani, istrinya kini. But how to present them (the twins) to Wani? And Others? Will their accept them? Kalo dirinya, sudah jelas, dia merasakan kasih sayang besarnya menjelma sudah untuk keduanya. Tak akan dia bedakan mereka dengan anak-anaknya yang lain. Tapi masalahnya adalah, bagaimana caranya memperkenalkan/membawa mereka dalam kehidupannya.

Sebuah sms lagi muncul di layar hpnya. ‘saya mohon, mas tidak masuk dalam kehidupan mereka, setidaknya saat ini, sulit untuk menjelaskan siapa dirimu mas, mengapa baru sekarang muncul, dan sebagainya. Saya tidak ingin mereka menilai negative dirimu. How ever, u r their daddy. They have to pay respect on you. Makanya masuk ke kehidupan mereka tidak sebagai ayah, please. I promise that one day, I will tell them the truth.’

Tuhan…. Semua ini terasa bagai dongeng dalam kehidupan hamba. Tunjuki hamba jalan keluar yang baik ya Allah. Beri kami petunjukMu. Lindungi kami dan tuntunlah kami di jalanMU. Amien.
Hanya itu yang mampu dipanjatkan Surya, tak ada lagi kata yang mampu mewakili hiruk pikuk perasaannya, campur aduk rasa hati yang bergolak di dada, dan haru birunya kesedihan yang dirasakannya. Ada kebahagiaan menemukan kembali buah perbuatan masa lalu yang sempat diduganya telah sirna secara paksa, namun ternyata di hadapannya kini keduanya. Walau tak mungkin merengkuh ketiganya, karena Wani jelas telah menjadi pembatas keleluasaannya, namun dia bersyukur, Maya telah memberikannya sebuah kejutan diluar dugaan. Subhanallah.



BERSAMBUNG kesini (tamat)


Kuyakin banyak dari sobats yang sudah pernah membaca renungan ini di milis ataupun BBGroup dimana sobats bergabung…
Aku juga mendapatkannya dari beberapa sumber, baik dari BB Group maupun milis… dan membacanya kembali membuat menoreh haru di hati .....

Kisah yang sebenarnya sudah cukup lama ingin aku abadikan dalam catatan onlineku ini, namun terlupa oleh kesibukan dan satu dua hal lainnya, hingga catatan penuh makna ini, hanya tersimpan rapi, tergeletak tak berdaya di dalam salah satu folderku…

Hari ini, sebenarnya aku ingin posting kisah akan kerinduanku pada ayahanda, namun satu kalimat tentang ibu, mengingatkanku bahwa postingan ini aku perlukan untuk me-link-kan postingan ini dan postingan ini….

Baiklah, walau kisah ini sudah beberapa kali kita baca, juga sudah banyak tersimpan di catatan online para sahabat, aku merasa ingin sekali mengabadikannya juga dalam catatan online pribadiku ini. Karenanya, ijinkan aku untuk menuliskan kembali untaian cerita indah penuh makna ini di baris-baris berikut….. bahwa
seorang ibu adalah pembohong kelas kakap!!


Apa saja yang dilakukannya??? Berikut sebuah kisah yang menginspirasi;


Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar"

---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
 ----------


Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.

Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati ini tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"

---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

----------


Kala memasuki SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.

Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"

---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

 ----------


Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"

---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

 ----------


Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"

----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

 ----------


Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit"

----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM 

----------


Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"

----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH ----------



Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan"

---------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN---------


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.



Sekelumit kisah ini, walau sudah sering kita membacanya, aku yakin tetap akan memberi makna bagi kita, bahwa Ibu... idealnya adalah seorang wanita yang demi anandanya, beliau rela mempertaruhkan nyawa hingga ke tetesan darah penghabisan.


Duh ibu, terima kasih telah melakukan kebohongan-kebohongan ini....
my mom is a big liar!!!
Thanks a lots mom... jasa baik dan jerih payahmu tak akan pernah mampu kubalaskan....
Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahimu bunda sayang........






paragraf sebelumnya cek disini, ya sobs....

ALKISAH


Disebuah desa yang subur, hiduplah dua lelaki bersaudara.
Sang kakak telah berkeluarga dengan dua orang anak, sedangkan si adik masih melajang.
Mereka menggarap satu lahan berdua dan ketika panen, hasilnya mereka bagi sama rata.

Disuatu malam setelah panen, si adik duduk sendiri dan berfikir, "pembagian ini sungguh tidak adil, seharusnya kakakku lah yg mendapat bagian lebih banyak karena dia hidup dgn istri dan kedua anaknya."

Maka dimalam yang sunyi itu diam-diam dia menggotong satu karung padi miliknya dan meletakkanya dilumbung padi milik kakaknya.

Ditempat yang lain, sang kakak juga sedang berfikir, "pembagian ini adil jika adikku mendapat bagian yang lebih banyak, karena ia hidup sendiri, jika terjadi apa-apa dengannya tak ada yang mengurus, sedangkan aku ada anak dan istri yang kelak merawatku."

Maka sang kakakpun bergegas mengambil satu karung dari lumbungnya dan mengantarkan dengan diam-diam ke lumbung milik sang adik.

Kejadian ini terjadi bertahun-tahun. Dalam benak mereka ada tanda tanya, kenapa lumbung padi mereka seperti tak berkurang meski telah menguranginya setiap kali panen?

Hingga disuatu malam yang lengang setelah panen, mereka berdua bertemu ditengah jalan. Masing-masing mereka menggotong satu karung padi. Tanda tanya dalam benak mereka terjawab sudah, seketika mereka saling memeluk erat, mereka sungguh terharu menyadari betapa mereka saling menyayangi.

Beginilah seharusnya kita bersaudara.
Harta tidak menjadi pemicu permusuhan
melainkan menjadi perekat yg teramat kuat diantara saudara.

Allah telah menanamkan cinta pada hati mereka
yg mau lelah memikirkan nasib saudara-saudara mereka.

Allah tak akan membiarkan kita kekurangan
jika kita selalu berusaha mencukupi kehidupan orang lain.
Allah tak akan menyusahkan kita yg selalu berusaha membahagiakan orang lain.

THE POWER OF LOVE....


Sobats maya tercinta.... Renungan ini bersumber dari BB Group yang aku ikuti dan semoga bermanfaat adanya bagi kita semua yaa....
Amin Ya Rabbal Alamin.

paragraph sebelumnya ada disini ya sobs..

Pagi itu, Fachry dan putra putri mungilnya sedang menikmati acara TV pagi hari, sembari menanti sang istri menyiapkan sarapan pagi yang baru mereka beli dari Blang Padang selesai mereka berolah raga.
Adalah kebiasaannya dan keluarga melakukan jogging di setiap Minggu pagi, dan rencananya selesai sarapan di Minggu itu, Fachry akan mengajak anak2nya mandi di laut yang hanya beberapa ratus meter dari rumahnya.

Fachry memang sangat mencintai pantai dengan segala pemandangan indahnya, bertolak belakang dengan sang istri yang sedikit trauma dengan pantai. Itu juga sebabnya sang istri merasa keberatan untuk pindah ke rumah baru yang lokasinya sungguh di bibir pantai. Namun mengikuti suami, sang istri patuh sambil membujuk hati nuraninya untuk mulai bersahabat dengan lingkungan barunya itu. No more complaint. Just follow.

Awalnya Minggu pagi cerah itu sungguh berjalan normal sampai kira-kira jam 8 kurang beberapa menit gempa mengguncang. Awalnya pelan, semakin kuat dan diiringin suara gemuruh dari dalam tanah.
Fachry segera mendekap kedua buah hatinya dan membawa mereka seraya memanggil istrinya untuk segera bergabung bersamanya diluar rumah. Tetangga mereka yang lain juga sudah berkumpul di luar rumah mereka masing-masing. Bahkan mereka tetap berkumpul di luaran hingga gempa telah berhenti, tak satupun dari mereka berani beranjak bahkan untuk men-cek keadaan di dalam rumah.

Gempa kali ini sungguh dasyat dan diluar dugaan. Pikiran resah yang hadir di benak mereka masing-masing benar-benar menimbulkan kecemasan. Mereka tetap bertahan, hingga sebagai penghuni bibir pantai, mereka menjadi saksi pertama sebuah gelombang hitam yang tampak dari kejauhan, yang dalam sekejab telah berdiri menyeramkan, suara menggemuruhnya sungguh menakutkan, dan dalam sekejap telah menyergap, menyeret dan menghempaskan mereka kearah yang tak beraturan. Sekuat tenaga Fachry menggenggam erat tangan istrinya di sebelah kiri dan tangan putra sulungnya di sebelah kanan, sementara putri kecilnya berada di gendongan sang istri, yang ketat dililit kain gendongan.

Sebuah gelombang maut, tak ayal menghantam dan menggulung tubuh mereka dan membuat pegangan tangan mereka saling berlepasan. Saat itulah mereka terpisahkan dan hanya Allah yang tahu kisah nyata mereka selanjutnya. Dirasakannya bahwa gelombang yang menghantamnya lebih dari satu kali hingga akhirnya membuatnya kehilangan kesadaran.

Perkiraannya gelombang pertama saat itu sekitar dua meter, namun gelombang kedua menghantam lebih dasyat lagi sebelum dirinya sempat menyadari segalanya. Dapat diperkirakan ketinggian air saat itu mencapai 30 meter apalagi itu adalah kawasan bibir pantai. Tak lagi kelihatan apapun saat itu selain air laut hitam kelam yang dipenuhi puing dan lumpur. Hanya dalam hitungan menit, gelombang itu merangsek ke arah kota dan membenamkan se¬mua manusia, rumah, toko, dan en¬tah apa lagi yang dilindasnya.

Cukup lama dirasakan dirinya terseret dalam gelombang maut yang arusnya luar biasa kuat, sembari beberapa kali dirinya termi¬num air laut yang penuh lumpur itu terombang ambing entah berapa lama hingga akhirnya terdampar dengan baju compang camping tanpa alas kaki di daerah Lamteumen yang jaraknya kurang lebih 3,5 km dari rumahnya di Ulee Lheu.

Dicobanya berjalan tertatih melewati air berlumpur yang telah mulai surut itu, yang penuh dengan puing dan tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan. Pedih hatinya, beberapa orang dari yang selamat adalah orang-orang yang dikenalnya dan secara bersama mereka mencoba melakukan pencarian terhadap anggota keluarga mereka yang berhilangan.

Dengan tubuh lelah dan penuh luka, berbekal semangat yang masih menyala untuk menemukan anak istrinya, dibalikkannya setiap mayat yang tertelungkup dengan doa bahwa si mayat adalah bukan orang yang dikenalnya, apalagi anak dan istrinya. Tak henti dipanjatkannya permohonan pada Ilahi agar disisi lain tanah ini, anak dan istrinya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan.

Pencarian demi pencarian tidak memberikan hasil yang memuaskan, apalagi saat dia mencapai lokasi rumahnya keesokan harinya, yang telah tak berbekas, tenggelam dalam lautan, perih hatinya.... hilang sudah harapannya, sekuat apa istri dan anaknya melawan gelombang maha dasyat itu? Dia sendiri hampir saja menghadap sang pencipta jika memang tidak diberikan kesempatan kedua oleh Ilahi...

Namun kata ‘kesempatan kedua’ ini menerbitkan harap di kalbunya. Semoga anak istrinya juga diberi second chance oleh sang Pencipta. Tanpa mempedulikan keadaan dirinya yang kian lemah, dia mencoba menelusuri tumpukan demi tumpukan mayat, mencoba mendeteksi sambil berharap agar si mayat tetap bukan orang yang dikenalnya. Dikunjunginya camp pengungsi demi camp pengungsi, rumah sakit demi rumah sakit, namun yang dicarinya tidak juga kunjung bertemu.

Pencarian itu begitu melelahkan, terutama kelelahan batin yang menderanya tak mampu dilukiskan. Siang malam bayangan ketiga wajah manusia terkasihnya itu muncul di pelupuk mata dan menghiasi tidurnya yang tak lagi sempurna. Jeritan minta tolong anak dan istrinya seakan tak pernah sirna, selalu setia mengunjungi di setiap tidurnya.

Sekuat-kuatnya Fachry, dia tetap manusia biasa, sama seperti manusia senasib lainnya (wanita maupun pria), trauma kehilangan anak dan istri/suami menjadi penyakit utama yang setia mendampingi. Hampir saja dia menjadi gila jika tidak mendapatkan trauma healing dari sebuah NGO yang memang specialist dalam melakukan pengobatan psikis akibat trauma.

Pertemuan yang sangat kebetulan di sebuah mesjid antara Fachry dan salah satu staff NGO ini, membawanya berkenalan dengan seorang psikolog luar negeri yang pada masa itu sedang gencar-gencarnya membantu para korban tsunami. Perlahan Fachry berhasil memaafkan dirinya sendiri, dan bersedia untuk kembali memberi dirinya kesempatan melanjutkan kehidupannya, kembali pada pekerjaannya, mencoba menata kembali kehidupannya yang porak poranda.

Fachry dan keluarganya (ayah dan ibunya serta adik-adiknya) yang semuanya berdomisili di luar Aceh, sungguh bersyukur dengan pencapaian Fachry, yang kini telah mampu merajut kembali kehidupannya, kembali pada pekerjaannya, walau untuk membina kembali sebuah rumah tangga, Fachry belum berani.

Ingatannya pada anak dan istri yang telah dibawa gelombang tsunami, membuatnya ingin tetap setia pada mereka, dan tidak ingin membuka pintu hatinya bagi wanita lain dan calon buah hati lainnya.
Miris memang, dan rasanya mustahil ada kenyataan yang seperti ini. Biasanya para pria, yang bernasib  seperti Fachry, banyak yang sudah memulai rumah tangga baru, dan telah ikhlas meninggalkan almarhum anak dan istri mereka. Namun Fachry masih terpaku pada masa lalu. Dan Fachry akan sangat marah jika hal ini diungkit dan diluruskan, karena dia merasa, dia cukup bahagia dengan keadaannya saat ini.

Dan hari ini, tepat pukul 3.25 dini hari, Fachry tersentak kaget, terbangun dari tidurnya, karena mimpi yang sama, yang telah mendatanginya secara berturut-turut setiap tahun setelah peristiwa tsunami, kini kembali hadir. Tak ada yang berubah pada mimpi itu. Persis. Sama persis. Oh Tuhan, apa artinya ini? Masih hidupkah mereka? Beri hamba petunjuk ya Allah....

Hampir gila rasanya Fachry menerjemahkan mimpi ini, apa artinya ya Allah? Beri hambaMu petunjuk ya Allah. Laki-laki itu bangkit dari tidurnya, berlari ke kamar mandi, berwudhu, dan shalat. Bacaan demi bacaan shalatnya dilakukan sambil menangis....

Sungguh menderita batinnya, mimpi itu datang lagi, sungguh jelas, tapi sulit sekali ditebak artinya. Semua yang terlihat di mimpinya persis seperti video recording sebuah kejadian. Kejadian saat gelombang maut itu menggulung mereka. Terlihat jelas dalam mimpi itu saat dia menggendong kedua anaknya dan memanggil istrinya untuk bergabung dengannya diluar rumah. Kemudian rentetan kejadian saat mereka diterjang gelombang hingga akhirnya genggaman tangan mereka saling berlepasan.

Kemudian dalam mimpinya itu terlihat jelas dirinya terseret arus dan terdampar di Lamteumen, sementara istri dan kedua anaknya terombang ambing, terseret ke tengah lautan. Ingin dia melihat lebih jauh, namun selalu saja detik berikutnya setelah istri dan anaknya menangis meminta tolong, dirinya pun terbangun dari mimpi itu.
Oh Tuhan, apa artinya ini? Kemana gerangan mereka ya Allah, masihkah mereka hidup? Jika iya, dimana? Mengapa tiada kabar untuknya? Kalaupun sampai terhempas ke negara lain, pasti istrinya akan mengabari. Atau mungkin terjadi amnesia? Mungkinkah? Oh Tuhan........

Fachry merasa akan menjadi gila setiap mimpi itu mendatanginya. Dan ini adalah kali yang ke ketujuh. Dan tetap tanpa tambahan informasi.
Laki-laki itu menangis tersedu di atas sajadah, tak sanggup berfikir jernih. Nina, adik perempuannya yang kebetulan sedang berkunjung mendengar tangisan itu, dan menyeruak masuk dan memeluk sang kakak.

Sebagai seorang psikolog, si adik sangat faham derita batin yang mendera kakaknya itu. Dibiarkannya sang kakak menangis dipelukannya, menumpahkan segala kepedihan hatinya, baru nanti dia akan mencoba untuk berdialog dengan sang kakak.
Benar saja, tanpa sungkan, Fachry bercerita tentang mimpi yang telah setiap tahun hadir di malam kejadian tsunami. Dan tercengang sang adik mendengarnya...

Sungguh aneh mimpi ini, pertanda apakah? Oh Tuhan... Hanya Engkau yang Maha Tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak-anak dan istri Fachry. Nina tidak menemukan solusi pemecahan persoalan ini, belum pernah ada kasus yang seperti ini dan terlebih dia sendiri kurang begitu percaya dengan mimpi-mimpi, tapi mendengar cerita Fachry, sungguh membuat wanita ini terpengarah, ada apa dibalik semua ini?

Sangat dipahaminya jika sang kakak menjadi so blue, besok adalah hari kejadian itu, hari dimana kakak tercintanya ini kehilangan 3 orang penting dalam waktu yang bersamaan dari kehidupannya. Akan ditemaninya si kakak melaksanakan ritual tahunannya besok pagi. Mengunjungi kuburan massal di Blang Bintang dan Ulee Lheu, menaburkan bunga serta membacakan yasin disana.

Setiap tahun Fachry memang rutin melakukan hal ini, mengunjungi semua kuburan massal yang ada, karena dia tidak tau persis, di kuburan massal yang mana anak-anak dan istrinya bersemayam. Tapi terlebih dahulu, Fachry melakukan ritual pembacaan yasin nya di Mesjid Raya Baiturrahman, baru dilanjut dengan berkunjung ke kuburan massal.

Hari masih pagi, 6.25 Wib. Nina telah bersiap diri, takut ketinggalan oleh kakaknya yang ternyata sesuai dengan dugaannya memang menjadi lebih pendiam, tak banyak bicara. Wajah tampan itu sangat murung. Perih hatinya menyaksikan kemurungan itu. Tak akan percaya dia jika hal ini bukan menimpa kakaknya, bahwa masih ada seorang suami yang begitu setia walau telah tujuh tahun ditinggal mati oleh istrinya. Masih setia tidak ingin menikah lagi. Hari gini? Masih ada? Jika dia tidak menyaksikannya sendiri, dia akan jawab, hari gini? MANA ADA!

Kuburan massal Blang Bintang terlihat ramai dikunjungi para keluarga yang kehilangan anak istri, suami, orang tua, kakak, adik maupun saudara lainnya yang merupakan korban tsunami, yang tidak berhasil terdeteksi keberadaan mayatnya.

Nina mengikuti langkah Fachry, menuju ke sudut kanan pemakaman dan meletakkan untaian melati kesukaan almarhumah istri kakaknya itu disana. Fachry telah mempersiapkan dua untaian melati untuk dua pemakaman massal yang akan dikunjunginya. Nina tak mampu meredam rasa haru yang menyesakkan dadanya. Ini adalah kali pertama dirinya mengikuti ritual tahunan kakaknya sejak sang kakak menjadi seorang duda, duda tsunami....

Fachry bersimpuh, membuka yasin kecil yang tampaknya memang akrab ditangannya itu. Mulai membacanya. Nina hanya menemani sambil melayangkan pandangannya ke berbagai penjuru. Tampak olehnya disudut lain, seorang wanita cantik juga duduk bersimpuh seorang diri, kusyuk membaca sebuah buku kecil ditangannya. Nina yakin itu adalah yasin yang sama seperti yang dipegang kakaknya. Disudut lain lagi, terdapat beberapa keluarga yang juga dengan wajah sendu sedang kusyuk berdoa. Semakin sesak rasa di dada Nina menyaksikan pemandangan syahdu itu, haru yang membiru.......

Tuhan, tabahkan para keluarga yang telah ditinggalkan ini, beri mereka kekuatan untuk melanjutkan kehidupan di the second chance you gave them ya Allah, seperti juga tabahkan dan beri kekuatan pada kakak hamba agar dapat melanjutkan kehidupannya, bukakan pintu hatinya ya Allah agar dapat menemukan dan menerima wanita lain sebagai pengisi dan pendamping hidupnya.

Getar handphone di kantong Nina membuat doa dalam hati itu terhenti sejenak, diambilnya hp dan dibacanya pesan yang ternyata dari sang ibunda yang menanyakan kabar dan kondisi Fachry. Tentu saja bunda sangat kuatir dengan keadaan kakaknya, dan sebagai ibu, tentu bunda dapat merasakan kegelisahan kakaknya sejak tadi malam. Itu juga yang membuat bundanya sudah mengirimkan puluhan sms padanya sejak malam tadi, menanyakan kabar kakaknya itu.

Nina memberikan laporan pandangan mata tentang situasi di kuburan massal dan juga keadaan kakaknya pada sang bunda, dan kemudian melanjutkan perjalanan bersama sang kakak ke kuburan massal lainnya. Juga dengan ritual yang sama. Nina mengikutinya dengan ikhlas dan penuh kesabaran dan kasih sayang. Matanya tersentak saat menangkap bayangan wanita cantik yang tadi dilihatnya kusyuk berdoa di salah satu sudut kuburan massal Blang Bintang kini juga telah hadir di kuburan yang satu ini. Mungkinkah wanita cantik ini juga mengalami nasib yang sama seperti kakaknya?

Helaan nafas panjang Nina adalah ekspressi batin akan kepasrahannya akan garisan nasib yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Siapa yang bisa meramalkan dengan pasti setiap langkah, rezeki, pertemuan dan maut untuk setiap individu? No one, Just Allah the Mighty! Subhanallah ya Allah.....




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Lusina 1
  • Tamparan itu, Keras dan Pedih [Tamat]
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Kamu tetap anak mama sayang!
  • Lusina 2
  • Bawa Aku Pulang!
  • When he had to say Good Bye
  • Tamparan itu, keras dan pedih
  • Gempa dan tsunami lagi? Oh No!! (tamat)
  • Ya Ampun, Mati Kita Nak!!

Categories

  • cerbung 9
  • cerbung: Dongeng Kehidupan 2
  • cerbung: Kisah Sedih di Hari Minggu 2
  • cerita pendek 20
  • cerpen 1
  • edisi kangen Intan 1
  • Flash Fiction 1
  • Gaya Gay 1
  • gempa bumi 3
  • just a note 1
  • Kisah Hidup 6
  • lesson learnt 1
  • non fiksi 3
  • renungan 3
  • rupa-rupa 1
  • true story 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Desember 2017 (6)
  • Oktober 2017 (2)
  • Juli 2017 (1)
  • Juni 2016 (1)
  • April 2016 (3)
  • Maret 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (3)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • Juli 2012 (1)
  • Juni 2012 (1)
  • Mei 2012 (1)
  • April 2012 (2)
  • Maret 2012 (2)
  • Januari 2012 (2)
  • Desember 2011 (4)
  • Oktober 2011 (2)
  • September 2011 (1)
  • Agustus 2011 (2)
  • Desember 2010 (1)
  • November 2009 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Laporkan Penyalahgunaan

Home

  • Home
  • About
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Virtual Corner
  • Zona Misteri

Mengenai Saya

Foto saya
Alaika Abdullah
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Popular Posts

  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Bawa Aku Pulang!
  • Kamu tetap anak mama sayang!

Labels

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes