Rumah Fiksi Alaika Abdullah
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
credit
Mobil yang sedang dikemudikan Fachry itu melaju kencang, sementara Dian yang duduk disampingnya ikutan melantunkan lagu yang sedang diperdengarkan oleh salah satu radio dengan hati riang. Fachry juga ikutan bersenandung, riang dan gembira. Hingga di sebuah tikungan jalan, keduanya menangkap prilaku aneh seorang pemuda seusia Fachry, yang sedang berjalan kencang seraya meloloskan satu-satunya penutup tubuh bagian bawah miliknya.

Mata keduanya terbelalak, bukan saja oleh perlakuan aneh dan nekad si pemuda, tapi karena tubuh dan wajah si pemuda itu terasa begitu familiar di hati dan mata mereka.

"Mas! Itu Indra! Indra itu mas!" Seru Dian, kaget, kendaraan yang sedang melaju kencang itu serta merta diperlambat Fachry, seraya memutar kepalanya untuk meyakinkan pemandangan yang baru saja disaksikan oleh matanya.

"Ya Allah, bener Di, itu Indra! Masyaallah, kenapa dia jadi seperti itu?"

Secepat kilat dipinggirkannya kendaraan, dan sigap keduanya turun. Mengejar si lelaki yang telah telanjang bulat dan berjalan cepat bak anak panah yang dilepas dari busur itu. Kencang sekali Indra berjalan, hingga mata Fachry dan Dian kehilangan jejak. Fachry mencoba menelefon kantor mereka, yang diterima oleh security unit, dan langsung menerima laporannya dan akan segera mengirimkan bantuan.

"Mas, kita naik mobil aja, balik arah, kencang banget si Indra jalannya, kayak dikejar setan!" Usul Dian ngos-ngosan. Selain sudah lama tak berjalan dengan cepat, jarak Indra juga sudah terentang jauh, sehingga akan mudah bagi mereka mengejarnya dengan mobil saja.

Kerumunan orang di dekat pos polisi itu memberi sinyal keberadaaan Indra. Pasti Indra yang sedang dikerumuni orang-orang itu, batin keduanya. Dan benar saja, terlihat Indra dengan wajah aneh, sedang berdiri, meronta minta dilepaskan. Dua orang polisi sedang membujuknya untuk duduk, dan mengajaknya bicara. Namun Indra berkeras minta dilepas, katanya dia ada janji dengan seorang wanita di mesjid raya, padahal dirinya adalah seorang non muslim. Ya ampun, kesurupan apa dia?

"Maaf Pak, ini teman kami, kalo boleh biar kami antar pulang saja." Ucap Dian, mendekati kedua polisi  yang langsung menarik napas lega.

"Oh, mba mengenalnya? Orang mana ini mba?"

"Namanya Indra pak, salah satu kolega kami di PT. Anugerah Alam Perkasa, di jalan M. Thamrin 26 Pak, kami sudah laporkan juga pada security unit, tentang hal ini pak, dan kebetulan kami yang paling dekat dengan lokasi, maka biar kami saja yang membawanya pulang."

Dian memperlihatkan name tag dirinya selaku staf di perusahaan yang disebutkan olehnya tadi, juga Fachry turut memperlihatkan name tagnya, membuat kedua polisi itu yakin dan dengan senang hati menyerahkan Indra pada mereka. Tak lama, sebuah Toyota Innova Silver berhenti, yang ternyata adalah dua orang security guard yang dikirim oleh kantor mereka untuk menjemput Indra.

Indra masih meronta, tak ingin masuk ke mobil dan inginnya jalan kaki saja. Katanya dia telah ditunggu di Mesjid Raya oleh seorang gadis.

"Ndra, coba lihat diri kamu, masak mau ketemu seorang gadis kamu pake sarung seperti ini? Malu donk... ayo kita pulang dulu ke rumah kamu, ganti pakaian, baru kamu ke Mesjid Raya.. yuk!" Bujuk Dian. Saat itu Indra telah dibekali selembar kain sarung oleh pemilik warung yang berada dekat pos polisi tadi.

"Tapi saya sudah ditunggu jeng!" Aneh sekali nada suara Indra. Dan panggilan Jeng itu, sungguh aneh. Indra belum pernah memanggilnya Jeng, biasanya cuma manggil Di saja. Dian menatap Fachry yang juga tak kalah herannya. Bergidik bulu kuduk Fachry menyadari pemikirannya sendiri. Jangan-jangan Indra dirasuki makhluk halus. Hiiii.

Selain itu, tubuh Indra mengeluarkan bau tak sedap yang aneh. Membuat Dian dan yang lainnya harus mengernyitkan hidung mereka berkali-kali. Akhirnya, setengah paksa, berhasil juga mereka menaikkan Indra ke dalam mobil. Di dalam mobil dia masih meronta dan meracau. Katanya gadis yang akan ditemuinya telah lama menunggu di pintu mesjid raya. Hiii.... Aneh.

Mereka tak membawa Indra pulang ke kost, melainkan melarikan Indra ke rumah sakit jiwa. Ya, Indra, yang suhu tubuhnya begitu panas dan berkeringat yang baunya sungguh tak sedap itu, terus saja meracau, hingga satu-satunya jalan keluar adalah membawanya ke rumah yang satu itu. Pada Indra sendiri, mereka tak menyebutkan akan ke rumah sakit jiwa, melainkan ke rumah pak Eddy, salah satu guard yang ikut di dalam mobil mereka. Untuk mengambil baju bagi Indra biar cepat bisa ke Mesjid Raya. Indra patuh tapi terus meracau.

"Ayo Pak Indra, masak udah sampai ke rumah saya Pak Indra ga mau mampir... ayo masuk dulu atuh pak!" Bujuk Pak Eddy berlagak sebagai tuan rumah. Akhirnya Indra menurut dan ikut berjalan ke pelataran rumah sakit dan masuk ke dalam. Yang telah ditunggu oleh beberapa petugas, yang telah diberitahu via sms saat mereka masih dalam perjalanan tadi.

"Ndra, kamu capek banget deh, ayo sambil menunggu pak Eddy ke dalam ambil berkas, kamu istirahat dulu deh disini... tuh bisa tiduran disitu tuh Ndra... kan kamu capek, tuh lihat, tubuh kamu aja keringatan begitu... " Dian begitu piawai membujuk dan mensugesti. Anehnya, Indra patuh, berjalan ke tempat tidur beroda yang telah disiapkan oleh petugas. Dan begitu lelaki itu membaringkan tubuhnya, petugas pun membawanya ke sebuah ruangan untuk diperiksa secara medis.

Ternyata, Indra tak hanya mengalami kondisi psikis yang memprihatinkan, tapi juga fisiknya sangat lemah. Hasil pemeriksaan darah yang dilakukan menunjukkan lelaki yang begitu down staminanya itu terkena typus, dan harus dipulihkan terlebih dahulu sebelum kemudian dilakukan pengobatan terhadap jiwanya yang sedikit terganggu. Penjelasan psikiater, bahwa kondisi seperti ini bisa menimpa seseorang yang sedang mengalami stress berat atau depresi, membuat Fachry mencabut dugaannya bahwa Indra kesurupan atau diganggu makhluk halus. Penjelasan medis, membuka wawasannya, bahwa banyak fikiran, stress, depresi dan kegagalan mengelola emosi dan kejiwaan bisa berakibat seseorang menjadi seperti orang gila. Ih, jangan sampai deh, batinnya.

"Mas Fachry, Mba Dian, makasih banget lho mba, mas, atas bantuan dan perhatiannya terhadap Indra. Kalo tidak mas temukan waktu itu, mungkin kami akan kehilangan Indra untuk entah sampai kapan. Kan sering tuh kita dengar, ada orang yang menjadi sakit jiwa, dan menghilang dari rumah dan hilang jejaknya karena tidak membawa identitas... Ih, ga terbayang deh gimana jadinya jika Mas Fachry dan mba Dian ga melihat Indra waktu itu." Kakak perempuan Indra, yang terbang hari itu juga ke Palangkaraya, dimana Indra berada, tak henti berterima kasih pada Dian dan Fachry, dan membuat keduanya sedikit jengah.  Bukankah itu gunanya sahabat, jadi tidak perlu lah berterima kasih sampai berulang kali...

"Sama-sama mba, jangan terlalu banyak makasihnya... hehe. Itu sudah kewajiban setiap orang, setiap sahabat. Kebetulan Tuhan menuntun Indra melalui kami. Jadi mari kita berdoa semoga Indra bisa kembali sehat seperti semula ya mba... ." Fachry menjawab dengan santun.

Indra masih terkulai di atas tempat tidur rumah sakit, dengan tangan yang berinfus dan pandangan setengah kosong. Masih perlu waktu dan penanganan baik secara fisik [medis] maupun psikis [jiwa] untuk mengembalikan lelaki ini ke Indra yang dulu. Yang penuh semangat dan ceria.

"Ngeri juga ya mas, kalo stress yang berlebihan seperti itu. Kayaknya Indra stress oleh masalah uang yang kebobolan itu deh." Dian mengutarakan pemikirannya, saat mereka kembali dari menjenguk Indra di suatu hari.

"He eh, awalnya mas kira, Indra kesambet atau kesurupan gitu deh. Ternyata karena terlalu banyak beban jiwa ya... Makanya kamu tuh jangan terlalu banyak pikiran.... jangan terlalu dipaksa, harus banyak rileks...dan harus sering-sering sama mas!"

Ujung kalimat Fachry langsung menimbulkan protes dari wanita cantik itu.

"Yeee.. apa hubungannya dengan sering-sering sama mas? Malah sering-sering sama mas bikin kita sering berantem. Emang mas senang bersamaku?"

"Ya senang banget donk... Di, can I say something?" Nada Fachry mulai serius. Dian mulai curiga dan deg-degan. Tatapannya mengiyakan dan menanti kelanjutan kalimat lelaki itu.

"Will you be mine, please? I love You."

Dian terpana. Apa? Fachry baru saja mengatakan cinta, di sebuah perjalanan pulang dari rumah sakit, di dalam mobil dan sungguh bukan dalam suasana romantis? Ooooh!

Namun, debar hati itu, semakin terasa, dan binar indah itu membuat wajahnya sumringah dan bibirnya tersenyum merekah. Fachry menggenggam jemari Dian dengan tangan kirinya, lembut. Dibawanya ke mulutnya dan dikecupnya dengan mesra.

"Will you babe?" Anehnya, kalimat itu jadi terdengar begitu romantis, tempat pernyataan yang hanyalah di dalam sebuah mobil, tak lagi terasa penting. Yang dirasakannya, hatinya begitu indah berbunga.

Anggukan dan tatapan lembut itu adalah jawaban IYA atas pertanyaan Fachry.

written by Alaika Abdullah
Bandung, 2 Maret 2013


credit
Lelaki bermata biru itu kini benar-benar hadir di hadapannya. Benar-benar nyata, dan sama sekali bukan mimpi. Friska bengong, terpana, karena memang dia tak pernah bermimpi untuk bertemu secara langsung dengannya, setelah dia menghujat keras lelaki itu serta ‘perang dingin’ yang kemudian melanda mereka. Bahkan pesan yang ditinggalkan lelaki berambut coklat itu di emailnya, bahwa dia akan berkunjung ke Surabaya, sama sekali tak ditanggapi serius olehnya. Bohong! Pasti bohong!

Bahkan jabatan tangan lelaki tampan kisaran 38 tahunan itu, yang terasa hangat di jemarinya, tetap membuatnya gamang. Tak percaya. This is not real!

“Alhamdulillah, finally I can see you in real life babe!”
Sapaan pertama si mata biru yang terdengar begitu teduh. Pancaran bahagia terdengar nyata di suara itu. Sama sekali tak menunjukkan indikasi bahwa mereka sedang saling melancarkan perang dingin selama dua bulan terakhir. Bahkan, terlihat jelas bahwa hujatan Friska yang begitu tajam terhadapnya, sama sekali tak melukai hatinya.

Friska hanya tersenyum, membiarkan tangannya dicium lembut dan takzim oleh Daniel, si lelaki berambut coklat bermata biru itu. Diajaknya lelaki itu menuju mobilnya, menghindarkan tatapan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.

“You know, I do happy to meet you babe. I am so glad. Finally I can meet you my love! Don’t you feel the same?” Kalimat pertama kala mobil yang dikemudikan Friska bergerak meninggalkan Juanda International airport.

“Hm… Ah….. I don’t know Dan. I don’t know how my feeling is after you broke my trust…”. Friska yang selalu transparan, memang tak mampu menyembunyikan rasa yang berkecamuk di hatinya. Juga jujur diakuinya, dia tak tau bagaimana rasa hatinya yang kini bergelora. Dia bingung dan masih belum percaya kenyataan ini.

Bahwa, akhirnya, lelaki yang sempat menyita seluruh perhatian, dan membuatnya menumpahkan seluruh kepercayaannya akan kesungguhan niat mereka, untuk saling mengenal, saling menjajaki dan akhirnya membawa hubungan mereka kearah yang lebih serius itu, ternyata hanya seorang penipu! Seorang scammer! Dia benci bagaimana laki-laki ini memperdayanya. Bagaimana laki-laki ini dengan suksesnya membangun karakter dirinya, dan menanamkannya ke dalam benak Friska. Bagaimana lelaki ini dengan sukses meraih hati dan kepercayaan Friska, bahwa Daniel memang serius dengan hubungan mereka. Bahwa Daniel mencintainya. Sehingga lamaran lelaki itu via chatting, yang tentu saja sebagai lamaran pembuka, diterimanya dengan sesungguh hati. Lalu asmara diantara mereka pun [terlihat] terjalin dengan mesra. Mereka merasa saling cocok satu sama lain. Saling Click! Setidaknya itulah yang dirasakan Friska.

Namun tak dipungkiri, di sisi lain hatinya, sebuah alarm peringatan sering kali menyala memperingatkannya. Untuk tidak terlalu gampang mempercayai seseorang dari dunia maya. Sebuah dunia antah berantah yang siapa pun bisa mengaku sebagai siapa pun yang diinginkannya. It is too good to be true! Alarmnya memperingatkan bahwa banyak sekali penipu alias scammer yang berkeliaran di negeri yang satu ini.

Itu juga yang sering membuatnya waspada, setiap Daniel bercerita tentang sesuatu yang menyangkut hadiah atau uang. Karena biasanya, modus operandi para scammer kan begitu, menjerat wanita atau pria [jika scammernya wanita], pura-pura kenalan, bersahabat baik, jatuh cinta, melamar, mengirim hadiah, lalu hadiahnya tertahan di bea cukai [custom] suatu negara, lalu si penerima paket atau parcel diminta untuk mengirimkan sejumlah uang. Dan karena keluguannya, si penerima mengirimkan uangnya, sejumlah yang diminta, lalu muncul lagi permintaan mengirimkan uang lanjutan dengan alasan lainnya, misalnya untuk mengeluarkan sertifikat terhadap isi paket yang ternyata adalah barang-barang berharga. Untung saja Friska banyak membaca kasus-kasus penipuan seperti ini, sehingga dia cepat ngeh saat Daniel mulai mengarah kesana.

"Babe, please forgive me. Apologize me. Aku sungguh jatuh cinta sama kamu. Memang, beberapa minggu aku mencoba untuk lupakan kamu. Membiarkan kamu berlalu, tapi aku ga bisa babe. I do fall in love with you. Maafkan aku!" Suara Daniel terdengar begitu penuh penyesalan. Mencoba meraih jemari tangan kiri Friska yang memegang transpeneling mobil.

Friska masih diam, mencoba melepaskan jemarinya dari remasan Daniel. Belum ingin menjawab. Karena dia masih belum tau persis rasa hatinya sendiri. Mobil yang dikemudikan Friska kini melaju ke halaman Novotel, meluncur ke depan lobby, lalu keduanya turun setelah Friska menyerahkan kunci mobil ke tangan petugas vallet. Daniel menurut saja, karena ini memang kunjungan pertama kalinya ke Indonesia, tepatnya di kota Surabaya. Dibiarkannya wanita cantik yang telah sungguh-sungguh menawan hatinya itu membawanya, kemanapun. Ke hotel mana pun.

Dan menatap wanita ini secara langsung, setelah selama ini hanya melihatnya via foto dan satu dua kali via webcam, sungguh membuatnya terkagum. Ternyata Friska jauh lebih cantik dibandingkan dengan foto maupun webcamnya. Dan wanita ini ternyata jauh lebih keras sifatnya serta lebih blak-blakan dari yang dikenalnya selama ini via internet! Wanita ini menyimpan magnet yang luar biasa baginya. Gila, dia, yang selama ini telah mempermainkan dan membuat puluhan wanita terjerembab dan kehilangan uang mereka, tapi kini malah bertekuk lutut oleh wanita yang gagal ditipunya! Gila!

Seorang room boy mengantarkan mereka ke kamar, dan meninggalkan mereka berdua setelah menyimpan tas koper kecil milik Daniel di dekat bed table. Friska berdiri, agak gugup. Selain belum menemukan rasa yang kini bersemayam di hatinya, juga sedikit kuatir pada lelaki bermata biru yang tampan ini. Diakuinya, Daniel memang setampan yang ada di foto, juga di cam. Dalam hal ini, lelaki ini  tidak berbohong, dia tidak menggunakan foto orang lain seperti yang biasa scammer gunakan. Namun untuk hal lainnya, Friska sama sekali tak mempercayai lelaki ini lagi.

Daniel tau situasi yang melanda hati Friska. Maka dengan sopan dipersilahkannya wanita itu duduk. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk wanita itu. Ada sebuncah kerinduan yang mengaduk hatinya, setelah perang dingin memisahkan mereka, menjauhkan mereka dari saling berkomunikasi. Rindu itu malah berkembang subur dan sulit sekali diredam. Ditekannya rindu yang menggebu itu agar Friska tak menjauh.

"Babe..."
Panggilan itu memang telah dimulai sejak awal perkenalan mereka. Daniel belum pernah sekalipun menyebutkan nama Friska. Baginya, 'babe' adalah panggilan yang sangat pantas untuk wanita itu. Walau sebelumnya, panggilan itu juga dia bubuhkan untuk wanita-wanita lain yang menjadi korban penipuannya. Namun untuk Friska, panggilan ini terasa keluar jauh dari relung hatinya. Tak ingin dia menggantinya.

Friska hanya menoleh. Kini wanita itu telah duduk sopan di sofa. Memperhatikan Daniel yang memanggilnya lembut. Lelaki itu mendekat. Mencoba duduk di sofa sebelahnya.

"Aku salah besar sama kamu babe, tapi, pleaseeeee.... maafkan aku. Aku serius mencintai kamu."

Justru kalimat ini yang menggelegakkan emosi Friska. Wanita itu bangkit. Berdiri di hadapan lelaki jangkung yang duduk sopan di hadapannya.

"Kamu tidak mencintaiku Daniel! Kamu penipu. Scammer! Kamu pembohong besar!" Teriaknya. Wajahnya garang. Daniel malah takjub menatapnya. Tanpa sadar, dia ikutan bangkit dan berdiri berhadapan dengan wanita itu. Tanpa sadar pula, diraihnya jemari Friska.

"Babe, I told you, I do sorry. I am so sorry, please, forgive me. I love you so much!"

Friska tak mempan oleh kalimat itu. Disentaknya dengan kasar tangan Daniel yang mencoba mencium lembut kedua tangannya.

"Cinta? Kamu ga akan menipu aku jika memang mencintaiku, ga akan memperdaya aku seperti itu. Kamu membuat aku seperti wanita bodoh! Kamu membuat aku terhina!" Jeritnya.

Daniel tidak membantah, dengan sabar dan prihatin, direngkuhnya kedua bahu Friska. Mencoba menenangkannya. Rasa kasih yang begitu tulus di lubuk hatinya, mengisyaratkannya untuk mengambil tindakan pengamanan. Dibawanya wanita itu ke dalam pelukannya, perlahan dan lembut sekali.

"Aku tau kamu marah besar padaku. Aku pasrah, marahlah, luapkan emosi kamu babe, tapi maafkan aku setelahnya." Bisiknya, perlahan sekali.

Friska tak hendak menikmati pelukan itu. Dengan kedua tangannya didorongnya dada bidang lelaki itu.

"Stay away from me! Bertindaklah sopan, jangan mencoba memelukku. Keep your attitude!"

Tegas sekali suara itu, jari telunjuknya yang menunjuk jelas ke wajah Daniel, membuat laki-laki itu terkesiap. Membuatnya serasa tertampar. Tapi lagi-lagi hatinya bukannya merasa tersinggung oleh amarah dan sikap tegas Friska. Daniel malah merasa makin takjub. Tak sampai sejauh ini bayangannya terhadap Friska. Di bayangannya, walau memang terkesan tegas dan blak-blakan, namun Friska tetaplah seorang wanita, yang dengan sentuhan lembut tentu akan luluh. Namun kali ini, sepertinya dia berhadapan dengan seekor singa padang pasir. Garang, bertatapan tajam.

"Dengar Daniel! Aku masih marah sama kamu. Kamu tunggu dulu disini, aku mau ke tempat shalat sebentar, setelah itu kita keluar, makan siang, ok?"

Daniel mengangguk dan tetap mengarahkan tatapannya pada punggung wanita itu yang menghilang di balik pintu. Oh my God! Dirinya merasa benar-benar kena batunya. Kali ini dia terjerembab, terkena karma. Menghilang dan menghapus jejak serta melupakan Friska setelah dia ketahuan sebagai scammer oleh wanita itu, hanya mampu dilakukannya tiga minggu. Setelah itu, hati nuraninya menjerit minta kembali berhubungan dengan wanita itu. Sungguh sebuah rasa yang aneh dan menyiksa. Apalagi mendapati Friska yang sama sekali tak tertarik untuk berhubungan lagi dengannya, bahkan untuk menjadi sahabatnya saja, sekalipun. Tapi untunglah, kenekadannya untuk berkunjung ke tanah air Friska, membuat wanita itu luluh, setidaknya bersedia untuk menemui dan menjemputnya.

***

"Kamu ga perlu bawakan ini untukku Dan. You don't have to! Kan sayang uang kamu!" 

Friska berusaha menolak tegas pemberian Daniel. Sebuah Ipad 4 di dalam kotaknya yang masih bersegel, serta sebuah Iphone 5. Benda mahal itulah dulu yang sempat menjadi 'isi' di dalam parcel yang kabarnya dikirimkan Daniel untuknya. Kala laki-laki itu melancarkan aksi scam nya. Dan kini, mungkin untuk menebus rasa bersalahnya, Daniel mewujudkannya ke alam nyata.

"Aku tulus membelinya untuk kamu babe, aku pernah berjanji akan mengirimkannya untukmu kan? and here I am, keeping my promises!" Daniel memaksanya, meletakkan dua kotak berisi gadget mahal itu di atas meja, karena Friska menolak untuk menerima di tangannya. 

"Itu untuk kamu babe. Jangan takut, aku gunakan uang halal untuk itu. Dan aku janji, aku akan berubah. I quit from that dirty work! I did!" Sebuah pengakuan yang menggelitik hati Friska dan mencuatkan sebentuk senyum di bibirnya. Daniel melihat senyum itu. 

"So, apa yang akan kamu lakukan untuk menopang hidup kamu? How will you survive? What will you do to support your life?" Biasanya Friska selalu berusaha menjaga etika, namun berhadapan dengan Daniel yang terlanjur dicatat sebagai penipu, scammer, oleh hatinya, membuat dirinya tak lagi menerapkan etika. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir indahnya ibarat anak panah dan pisau tajam. Namun, tampaknya sama sekali tak mengiris apalagi melukai Daniel. Lelaki itu terlihat sabar menghadapi Friska. 

"Ok, terima dulu barang-barang ini babe, and let me talk, let me explain every thing about me, ok?" 

Friska tak bereaksi.

"Ok babe? Say Yes, please!" Bujuknya dengan mimik memelas namun senyum menawan yang ditampilkan bibirnya berhasil menularkan kehangatan dan rasa jenaka di hati Friska. Wanita itu tersenyum, merekah. Daniel gembira sekali melihat senyum itu. 

"Say Yes babe then I will start." Bujuknya, dengan senyum dan tatapan mata menawan.

"Ok, ok, Yes, go on, talk honestly about your self!" Perintah Friska, berlagak galak.

Dan Daniel memang telah menyiapkan segalanya. Lelaki tampan itu terlihat bijak dan sangat meyakinkan, menguraikan semua strategic plannya ke depan. Bahwa selama ini dia memang seorang arsitek, namun disela tugas-tugasnya, dia terjerumus ke dunia maya dan menemukan kesenangan tersendiri dengan menjadi scammer. Ada rasa exciting tersendiri di hatinya setiap dia berhasil menjatuhkan korban. Seakan ajang itu adalah ajang untuk melatih kemampuan lain yang dimilikinya. Apalagi uang yang dia hasilkan dari perbuatan itu, lumayan banyak. Jadi tanpa disadari, dia begitu terlena dan senang dengan peluang baru itu, bahkan sama sekali tak terfikirkan olehnya betapa menderita dan besarnya kerugian yang menimpa wanita-wanita yang dijadikan korbannya. 

Intonasi suara Daniel, makin terdengar menurun, lirih. Jika tadi dia memulainya dengan nada dan volume suara yang normal, namun seiring dengan content pembicaraannya, suara itu menjadi kian lirih, sedih. Dan akhirnya lelaki itu malah menitikkan air mata penyesalan. Suaranya mengandung tangis. 
Friska menyodorkan tissue yang diraihnya tak jauh di atas meja. 

Daniel memencet hidungnya dengan tissue yang diberikan Friska, berusaha mengeluarkan cairan yang tiba-tiba saja mengalir di hidung mancungnya itu. Sebongkah rasa menyesal tiba-tiba saja menyesaki dadanya. Sungguh sebuah rasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. 

"Aku sungguh menyesal melakukan semua itu. Aku sama sekali tak mempertimbangkan kerugian yang mereka derita. Aku hanya menikmati semua itu, bagai seorang yang sakit jiwa." Kalimat terakhir itu justru membuat dirinya sendiri tersentak.

"Babe, apa menurutmu aku sakit jiwa? Oh my God!" Lanjutnya cepat, menatap Friska yang terbengong sendiri. Wajah tampan itu, ekspressi yang muncul disana, pengakuannya, kejujurannya, semua itu membuat Friska terpana. Lelaki dari dunia maya itu, yang sempat mencuri hatinya, kini ada di hadapannya. Oh, it is like a dream, but it is not!

"Apa aku sakit jiwa babe?" Ulang Daniel lagi. Friska terperangah. Tersadar.

"Hm... kamu sendiri, setelah menyadari semua ini, apa yang akan kamu lakukan? Sanggup ga berhenti dari itu?" Tanyanya bak seorang psikolog, padahal dia hanya seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi. 

"I told you babe, I quit already. I stopped it after failed on you, dan ga ingin ulangi lagi." Tegas sekali jawaban Daniel.

Friska tersenyum. "Berarti kamu udah ga sakit jiwa lagi donk. Kamu sudah sembuh Dan."

Daniel tersenyum, ingin sekali dia meraih jemari Friska, namun takut dibentak lagi oleh wanita itu. 

"Babe, I miss your babe word. Please don't call me Dan, or Daniel, but call me babe, as you called me before, please...". Bujuknya memelas. Mata biru itu begitu mempesona. Friska hanya tersenyum. Kekakuan hatinya mencair. 

"Let's see, how long the 'babe' word will come back, ok?" 

Jawabnya dengan senyum menggoda. Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah rasa bahagia tiba-tiba menyeruak, berpendar. Hidup ini begitu unpredictable... Cara Tuhan menjawab doa setiap hambaNya memang sungguh tidak terduga. Siapa sangka jika ternyata, pangeran dari dunia maya itu, kini sungguh nyata kehadirannya. 

written by Alaika Abdullah, 
Bandung, 26 February 2013
Credit

“Maaf Din, aku ga bisa… aku ga mampu…” Suara Benny terdengar gemetar, antara malu dan sedih. Dihadapannya, di atas tempat tidur empuk itu, istrinya tergolek, tanpa busana, sama seperti dirinya. Sebuah malam pertama yang menyedihkan.

Dinar mencoba memaklumi dengan kebesaran jiwa dan keluasan cinta yang dimilikinya untuk Benny, kekasih hati yang sejak tadi siang telah resmi menjadi suaminya. Alasan yang dikatakan Benny cukup masuk akal, Benny nervous, karena ini adalah yang pertama untuk mereka berdua.

Namun di malam-malam berikutnya, hal yang sama terulang kembali. Benny lagi lagi tak mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tak mampu lagi mencari alasan yang masuk akal, akhirnya sebuah kejujuran pun menghampar nyata. Dan langsung membuat Dinar shock, pingsan. Benny ternyata telah berubah haluan. Laki-laki yang dulu begitu jantan, kini telah menjadi seorang gay dan menjadi kekasih Michael, lelaki 50an tahun yang adalah atasannya, si pemilik rumah mode dan perancang mode ternama di Kota Jakarta ini. Yang telah menuntunnya menjadi seorang laki-laki pecinta sesama jenisnya. Gay. Oh My God!

Namun rasa cinta yang begitu besar di hati Dinar, mampu membesarkan jiwa dan meluaskan hati wanita itu, untuk terus menerima Benny sebagai suaminya, dan bersandiwara, menyembunyikan kenyataan itu dari siapa pun, termasuk dari Jay, kakak kandungnya, yang adalah juga sahabat Benny.

Benny pun lega, bahagia karena tak ada lagi kebohongan diantara mereka, juga lega karena kini dia bisa dengan lebih bebas melayani Michael, sang kekasih hatinya, yang telah mengubahnya menjadi seorang gay, yang juga telah mencukupi kebutuhan materinya selama ini, juga telah meng-upgrade dirinya yang dulunya adalah seorang laki-laki kampung yang miskin, menjadi seorang yang handal dalam membantu Michael mengurus usahanya.

Dinar yang terpuruk dalam kekecewaan, yang lelah menyabarkan diri, yang membujuk hatinya sendiri untuk cukup puas dengan usaha 'foreplay' luar biasa yang disajikan Benny untuk memuaskan istrinya, akhirnya mendapatkan seorang sahabat baik yang penuh perhatian. Maya, tetangga sebelahnya. Seorang wanita yang hangat dan penuh perhatian. Yang setia menemani hari-harinya yang sepi. Yang menjadi tempat curahan hatinya. Yang diterimanya dengan hati terbuka tanpa curiga. Curiga apa coba, toh Maya itu seorang wanita, jadi ga akan macam-macamlah.

Hingga suatu hari, kala Dinar membuka tabir rumah tangganya dengan Benny. Pelukan hangat Maya berubah menjadi pelukan mesra seorang kekasih yang kasmaran. Dinar tersentak, namun kepiawaian Maya menyentuh hati dan tubuhnya yang haus belaian, menghipnotisnya untuk menikmati saja perlakuan wanita itu. Tanpa sadar, dirinya sedang ditarik ke suatu lembah menyesatkan. Ke sebuah hubungan terlarang. Maya sedang menariknya menjadi seorang lesbian!


Penggalan Cerita di atas ditulis ulang dengan gaya khas Alaika Abdullah, 
Penasaran akan cerita lengkapnya? Baca di Novel Gaya Gay, karya Dann Julian. atau disini



credit
Dear Maya,

Maafkan jika mas mengejutkan kamu dengan email ini ya May, but I can’t wait anymore. Mas ga bisa menahan rasa ini jauh lebih lama.
Terserah Maya mau percaya atau tidak pada mas, tapi demi Allah, Mas masih cinta banget sama kamu May! Seperti dulu, saat kita masih pacaran. Dan mas tau persis, bahwa selama ini Maya membohongi mas, bahwa Maya bersuami. Mas tau persis bahwa Maya sudah bercerai dengannya sejak dua tahun lalu, benerkan May?

May, will you let me fill your heart back? Would you please accept me to be part in your life? Will you marry me May?

Lots of love,
Firman

Kalimat-kalimat itu berjejer rapi di layar BBnya, dan sungguh membuat wanita itu tersentak. Sial! Darimana Firman bisa tau tentang statusnya? Padahal informasi ini disimpannya rapat-rapat selama ini dari lelaki itu. Pasti ada teman yang membocorkannya. Kurang asem! Tapi bukan itu yang utama. Ada sebuah rasa lain yang tiba-tiba saja menyeruak dari relung hatinya. Sebuah rasa yang teramat menyakitkan! Ya Allah, rasa itu kambuh lagi. Sakit! Mengiris relung hatinya.

Notifikasi BBM kini berbunyi. Refleks hatinya menebak. Pasti dia. Dan benar saja.

May, maaf mas terpaksa kirim email, udah baca kan?

May, please, answer me… masuk lagi BM baru karena tiga menit Maya tak menjawab.

Sudah terima mas, maaf saya ngantuk banget, mau tidur duluan yaaa…. 

Balasnya, dan langsung meng-off kan hape-nya. Suatu hal yang jarang-jarang sekali dilakukannya.

Dan dua hari berlalu dalam kebekuan, karena Maya sama sekali tak ingin meresponse BM maupun email Firman. Dan hari ini, entah angin apa yang membawanya hadir di bandara ini, mengiyakan begitu saja kala Firman memintanya untuk menjemput kedatangannya.

“Thanks May, senang banget bisa ketemu kamu lagi!” Firman hanya berhasil menjabat erat tangan wanita itu, padahal begitu ingin dia mencium pipi kiri dan kanan mantan kekasih masa lalu itu.

“Sama-sama mas! Angin apa yang membawamu kesini?” Sebuah umpan empuk yang salah, karena membuat Firman dengan gampang bisa menjawabnya.

“Angin rindu meniupku kemari May. Rindu banget sama kamu!”

Sial, Maya salah mengajukan pertanyaan!

“Kita makan siang dulu yuk May, mas laper nih!”

Dan Maya hanya bisa mengiyakan. Obrolan hangat tak terhindarkan, walau Maya masih berusaha menjaga jarak. Rasa sakit yang kian menjadi di hatinya, sungguh menyiksa. Dan Firman menangkap itu.

“May, mas tau kamu pasti menyimpan dendam sama mas. Tapi maukah kamu memaafkan mas? Mas ga punya pilihan lain ketika itu. Mas lakukan itu demi ibu mas, bukan karena cinta pada Lastri. Mas masih menyimpan cinta yang sama terhadap kamu. I swear!” 

Kalimat itu menghiasi candle light dinner yang begitu romantis.

Maya tidak menjawab, juga tak menemukan nuansa indah yang hadir di hatinya oleh romantisnya suasana. Tidak, tidak ada suasana indah dihatinya. Ada yang salahkah dengan dirinya? Dicobanya mencari, sedikit saja, namun tak secuil pun keindahan di hatinya mendengar kalimat Firman. Yang ada hanya cemoohan yang muncul dari lubuk hatinya. Cibiran terhadap Firman. Oh my God!

“May, mas paham jika kamu masih sakit hati pada mas. Kamu ga harus menjawab sekarang kok, mas akan tunggu dengan sabar. Ok? Yuk kita makan yuk!”

Dan Firman memang berhasil menciptakan nuansa persahabatan yang indah, obrolan hangat pun tercipta, namun sepertinya tidak untuk celah cinta. Hingga beberapa minggu sesudahnya, ,sebuah email dari Maya hadir untuknya.

Dear Mas Firman,
This email is to reply your email below. Maafkan jika aku tak berhasil membuka pintu hatiku kembali untukmu. Aku sudah coba menggali kembali kenangan-kenangan indah kita dahulu, mencoba membangun kembali rasa cinta yang pernah begitu besar hadir di hati ini, namun aku gagal total mas! Aku menguburnya terlalu dalam hingga tak lagi menemukan jejaknya. Maafkan aku ya mas, yang tak mampu mencintaimu kembali. 

Email ini juga untuk memberitahu mas, bahwa pintu hatiku kini malah terbuka untuk seorang pria asing yang baru saja aku kenal. Doakan kami ya mas, agar dapat terus saling mencinta. ☺
Untukmu, aku terus berdoa agar dirimu mendapatkan penggantinya Lastri. Wishing you all the best Mas Firman! Keep the spirit!

Hug and Kiss
Maya.

Maya kini sukses membuatnya terjerembab, dan merasakan hal yang sama yang pernah dia berikan pada wanita itu di masa lalu.

minjem
Nie, kami cerai!

Sebuah sms super singkat dari Wani yang serta merta membuat Ninie terbelalak. Bagaimana tidak? Baru tiga bulan lalu sebuah sms dari sobatnya itu juga membuatnya terbelalak, terhenyak!

'Nie, maaf aku ga ngabar-ngabarin kamu, aku di Jakarta sekarang, just got married, ini fotoku dan suami'.

Itu adalah bunyi smsnya tiga bulan lalu, mengabarkan pernikahannya dengan seorang lelaki yang ditemukannya di dunia maya. Dan kini? Sms yang mengabarkan mereka telah bercerai nangkring manis di layar hapenya.

Memang sih, menemukan jodoh di dunia maya bukan hal yang mustahil. Apalagi jika mengingat aktifitas mereka di dunia maya yang begitu tinggi. Namun ini terjadi pada Wani, sahabatnya yang buta akan dunia maya, yang selama delapan belas tahun terperangkap dalam tempurung.

Ya ampun Wan... ada apa lagi? Kenapa bercerai? terulang lagikah? 

Balasnya segera. Ingin dia menelefon tapi ga enak masih jam kerja, rasanya ga etis aja menggunakan waktu kerjanya untuk membahas urusan seperti ini di dalam ruangan.

Mau gimana lagi Nie, aku udah mencoba bersabar, tapi dia semakin ga menghargaiku. Boleh aku telefon kami Nie?

Akhirnya wanita itu beranjak dari meja kerjanya, memutuskan untuk menelefon Wani, yang mungkin sedang kalut di ujung sana. Tapi feelingnya berkata, Wani masih sekuat dulu.

"Kenapa lagi Wan? ada apa? kok bisa cerai sih?" Cecarnya begitu sobatnya itu menjawab.

Sedikit tidaknya dia merasa ga enak karena Dinda, putrinya lah yang telah memperkenalkan Wani dengan fesbuk. Dinda lah yang telah create account fesbuk untuk Wani. Dan sejak itu, Wani bagai orang yang baru keluar dari bui, baru keluar dari kungkungan, langsung merambah ke seantero jagad maya.
minjem


"Dengar aku dulu Nie, jangan marah dulu. Dia ga menghargaiku. Sebenarnya masalahnya sepele Nie. Aku marah padanya karena dia semakin jarang pulang. Dia ngelayap entah kemana, dan saat kutanyakan, jawabannya bikin sakit hati. Dia ga menghargaiku. Tadi malam kami berterngkar hebat dan dia suruh aku pulang saja ke Medan. Dia ga suka lagi denganku!"

Ninie bukannya terenyuh mendengar penjelasan Wani, malah jadi kesal pada sahabatnya itu. Dari awal dia sudah mengingatkan, jangan mudah percaya pada para hidung belang yang bertebaran di dunia maya itu. Jangan percaya, mereka mencari mangsa!

"See???? Kamu sih Wan, dari awal aku udah ingatkan kan? Apalagi saat kamu kenalkan aku pada suamimu di fesbuk. Aku udah obrak abrik wall dia tuh Wan, aku udah lihat belangnya. Seminggu sebelum nikah sama kamu, dia masih menggalau dan menggatal di fesbuk gitu kok. Makanya aku heran banget kok kamu bisa begitu terlena dan percaya sama dia sih?"

Wani sama sekali tidak tersinggung dengan cecaran Ninie. Memang salahnya, tidak selektif. Deraan batin dan beratnya beban hidup di Medan sana, membuatnya nekad untuk sesegera mungkin menemukan calon suami baru. Dan tanpa proses panjang, dia langsung mengiyakan ketika si Abdya ini melamarnya. Seorang duda beranak satu, yang lebih muda lima tahun darinya.

"Iya Nie, aku salah. Aku ga selektif, main percaya-percaya aja. Tapi mau gimana lagi Nie, semua sudah terjadi. Ini sedang minta dia kembalikan uangku. Dia usir aku dari rumahnya, sesegera mungkin. Tapi aku bertahan, baru besok akan keluar. Aku tunggu dia kembalikan uangku dulu."

"Apa? Kurang ajar bener tuh laki-laki. Uang apa Wan? Kamu memberikannya uang? Apa ga salah? Ga terbalik? Duh kamu tuh ya Wan, Ih, untung kamu ga dihadapan ku sekarang ini Wan... ingin rasanya menghantammu lho, gerem dengan kenekadan kamu itu. Huh dasar kamu yaaa! Bandel!!"

Wani malah tertawa ngakak di seberang sana. Terpingkal-pingkal membayangkan Ninie yang geram dan ingin menggempurnya.

"Hahaha, bukan kamu aja Nie yang ingin melakukannya. Barusan Si Enno juga ingin menjambakku. Si Nas malah ingin menjewerku. Hahahaha. Aku memang salah Nie. Aku sebenarnya sedih, tapi mau kuapakan lagi, aku ingat pesanmu. Hidup ini akan penuh air mata jika kita membiarkan air itu tumpah di mata, dan hidup akan penuh warna jika kita membiarkannya berwarna. Semua tergantung kita. Aku ingat pesanmu itu Nie, makanya aku bisa tertawa nih."

"Iya sih, ya sudahlah. Jadi sekarang apa rencanamu?"

"Aku akan lihat dulu, jika dia minta maaf...." Tapi Ninie tak membiarkan Wani melanjutkan, langsung dipotongnya.

"Wan, no more chance untuk laki-laki seperti itu. Cukup Wan. Cukup. Keluh kesahmu selama ini tentang dia, cukup mengindikasi bahwa dia bukan suami yang bisa kamu harapkan Wan. Wake up. Buka mata. Masih banyak kesempatan diluar sana Wan. Jangan masuk ke dalam tempurung lagi. Aku ga sanggup membalikkan tempurung lagi untuk mengeluarkanmu!"

Wani malah tertawa ngakak.

"Hahahahahahaha..... bener Nie, bener! Hahahahahah... untung kamu datang balikkan tempurung yang udah delapan belas tahun memerangkapku yaaa? Hihihihi.... , iya sih. Memang kalo difikir-fikir, ngapain juga aku bertahan dengan dia ya Nie. Penurunan derajat sebenarnya ini mah.... Masak yang dulu aja aku bisa bersuamikan kontraktor, sekarang malah turun ke kuli bangunan? Hahahahahaha!"

"Makanya! Buka matamu! Aku beneran lho, ga akan datang membantumu membalikkan tempurung lagi kalo kamu masih nekad menjerumuskan diri ke lubang yang ga jelas. Ya kalo lubangnya empuk, penuh madu dan harta karun. Ini? Lumpur hidup! Aku ga mau bantu lagi, ntar malah aku ikut kehisap!"

"Hahahahahahahaha..... iya Nie... aku ga akan masuk lumpur hidup lagi. Aku udah pegangan di tali yang diikat ke sebuah pohon kokoh nih, mau keluar. Tunggu aku di samping pohonnya yaaa, hahahahahahah".

Ninie tertawa geli. Salut dengan keceriaan sahabatnya yang memang sungguh unik ini. Wani memang mengganggapnya sebagai juru selamat, yang datang membawa pelita dalam kegelapan hidupnya. Bersuamikan seorang suami yang bangkrut, yang tenggelam dalam judi dan kian pemalas. Tak pernah lagi mencari nafkah dan bahkan malah menghabiskan uang hasil berjualan kue basah yang dilakoni istrinya setiap hari.

Wani, lulusan akademi sekretaris itu bukannya menjadi sekretaris, malah menyandarkan hidupnya dengan berjualan kue-kue yang dititipkan di beberapa kantin kampus. Dari situlah wanita ini menghidupi dirinya, bahkan suaminya. Namun semakin lama, si suami semakin pemalas dan penjudi, yang kian getol mengeksploitasi dirinya.

Berdiskusi dengan Ninie, akhirnya mengantarkannya pada sebuah keputusan, memisahkan diri dari si pemalas, penjudi dan pemabuk itu. Pukulan telak menjelang magrib, kala itu, adalah sebab klimaks yang menyudutkannya untuk segera menyeret sang suami ke pengadilan agama. Dan beberapa bulan kemudian, gugatan ceraipun dikabulkan dan bebaslah dirinya, berpredikat janda.

Eh...... bukannya menikmati kebebasan, malah terjerat seorang lelaki hidung belang, brondong, miskin pula, di dunia maya. Menikah diam-diam, karena Ninie dan beberapa sahabatnya yang lain melarang keras. Dan kini? Persis seperti yang digambarkan Ninie!

"Ya sudah, besok kamu keluar aja dari rumah  itu. Rencanamu mau kemana Wan?"

"Aku mau ke Yogya aja, tempat Mas Windu, ngaso dulu sambil bikin plan baru!"

"Oke, sip kalo begitu. Ingat ya, kali ini harus benar-benar jadi Plan nya, dan harus SMART!"

"Pastinya Nie, ya udah sana kamu kerja lagi gih, I m okay now. Just wanna share this to you!"

minjem



Sedari pagi wanita enam puluhan tahun itu telah sibuk. Didesaknya suaminya untuk mengantarkannya ke pasar. Hari ini, dia akan membuatkan penganan khas Aceh, Timphan asoe kaya, kesukaan putra tercinta. Mimpinya tengah malam tadi begitu jelas. Seorang kakek tua berjanggut putih, mampir di beranda. Menyapanya kala dia sedang menyulam. Obrolan singkat yang misterius terjadi dalam sekejap, dan si kakek menghilang kala pesan yang disampaikannya tertangkap jelas.

"Mama.... itu kan hanya mimpi ma... bunga tidur!"
"Ga pa, ini pertanda...mama yakin Arman akan kembali. Mimpi itu begitu jelas. Ayo donk pa, antar mama ke pasar!" Tak guna membantah, istrinya tak akan berhenti sebelum iya mengiyakan.

Penuh cinta wanita itu mengadon tepung, menggilas pisang dan mengurut daun. Membuat Timphan kesukaan ananda. Peluh yang menitik di dahi tak membuatnya lelah. Komat kamit bibirnya mengalirkan zikir, bermohon agar impian itu mewujud nyata. Suaminya berharap-harap cemas. Sungguh kuatir hatinya akan kekecewaan yang akan melanda, jika ternyata impian itu hanya sebuah bunga tidur belaka. Ditelefonnya putrinya yang tinggal di kota lain, diam-diam.

"Masak sampai segitunya pa?" Modulasi Meta terdengar heran, kaget dan setengah tak percaya. Dibayangkannya ibunya yang sedang mengadon tepung. Perih hatinya. Bagaimana jika Arman tak datang? Ibunya akan kecewa dan semakin terluka..

"Iya Met, ibumu begitu yakin akan mimpinya. Kakek yang berpakaian serba putih itu mengatakan Arman akan datang sehabis azan Isya nanti, dan ibu mu begitu percaya. Papa jadi sedih Met..,, takut ibumu kecewa nanti.."

Meta merasakan kekuatiran yang dalam di suara ayahnya. Semakin miris hatinya. Duh Arman, kemana kamu yang dulu dik? Mengapa jadi sekacau ini? Tidakkah kamu kasihan pada papa dan mama? Pulanglah adikku. Pulang sayang.... kembalilah jadi Arman kami yang dulu...


*****

Waktu terus berlalu. Kumandang azan Isya terdengar syahdu. Suami istri enam puluhan tahun itu telah begitu rapi. Sang suami sebenarnya tak begitu yakin, namun menghargai dan menjaga hati sang istri, diturutinya permintaannya. Duduk berdua mereka di kursi teras. Sengaja lampu teras dimatikan agar cahaya tak terlalu terang. Tiga puluh menit setelah azan usai, tak juga ada pertanda. Lelaki tua itu mulai resah. Was-was membayangkan air bening akan luruh dan menelaga di mata istrinya. Kuatir membayangkan keping hati tua mereka semakin berlumur duka....

Benar saja, dua jam mereka bersabar menanti. Namun pertanda satu pun tiada. Meta tak sabar menanti berita, ditelefonnya nomor ibunya.

"Assalammualaikum mama... gimana ma? Mama baik-baik saja kan?" Tak tau harus berkata apa. Pedih hatinya.

"Waalaikumsalam Meta... iya nak, mama baik-baik saja. Kenapa sayang? Arman belum datang. Mungkin sebentar lagi nak, nanti mama kabari ya.." Lembut tapi gusar suara itu.

Meta menitikkan air mata. Tuhan, jangan tambah duka lara mama, ringankan beban ini ya Allah. Bolehkah kami minta Arman kembali? Please...

“Assalammualaikum Nak…”. Lelaki tua itu menyapa si lelaki muda yang baru saja menemuinya di depan pintu. Tatap mata muda itu terlihat dingin. Rahangnya terlihat keras dan kaku.

“Alaikumsalam! Ada apa bapak kemari?” Dingin suara itu. Tak ada secercah kehangatan pun terlintas di modulasi itu.

Miris benar keping hati tua itu. Harusnya dipatuhi saja wejangan istrinya tadi pagi. Harusnya diurungkan saja niat untuk menyambangi laki-laki muda ini. Namun kini, dia telah berdiri di depan pintu rumahnya, berdiri tegak di hadapan lelaki tampan itu.

“Fik, bapak ga ingin mengganggu, hanya singgah karena lewat di depan rumahmu. Terus bapak ingat, mau minta alat teraphy itu untuk bapak, kalo boleh. Kan Fikri tidak menggunakannya kan?” Lirih suara itu. Diusahakannya sekuat tenaga menahan air mata yang mulai beriak, mendanau di kelopak matanya yang telah menua.

“Kayla…., Kay….!” Bukannya menjawab si lelaki tua, lelaki muda ini malah berteriak memanggil istrinya. Seorang wanita muda pun keluar. Menatap datar si lelaki tua.
“Ya bang?”

“Tolong ambilkan foot therapy itu, kasihkan untuk binatang tua ini biar cepat dia pergi.! Harusnya sudah di neraka tapi kok masih saja ada di dunia ini!” Mengakhiri kalimat busuknya itu, lelaki muda berwajah tampan itu membalik tubuh, melangkah menjauh.

Tinggallah si wanita muda, menatap datar si lelaki tua yang airmatanya langsung luruh. Tak tertahankan lagi. Tersedu dia, tak kuasa menahan diri. Harusnya dia dengar kata-kata istrinya tadi pagi. Jangan kesana, jangan kesana. Tapi langkah kaki dan panggilan hatinya memang mengharuskannya hadir untuk mendapatkan serapah ini. Oh Tuhan, apa salah hamba hingga anak kandung yang begitu penyayang itu kini berubah drastis. Kembalikan putra kami ya Allah, doanya dalam tangis.

Meutia tersentak dari tidurnya. Masih tengah malam ternyata, namun mimpi itu begitu nyata. Jelas sekali adegan itu terlintas di dalam tidurnya.
Ya Allah, selamatkan batin ayahandaku, selamatkan keping hati ibundaku… Jangan tambah lagi penderitaan mereka ya Allah, hamba kuatir mereka semakin tak berdaya… Ampuni adik hamba ya Allah, kembalikan dia pada kami. Sadarkanlah dia ya Allah….

Tak sabar dia menanti subuh. Sulit memejamkan kembali matanya yang tak mampu dia ajak kompromi. Akhirnya, via skype from ipadnya, dia call adiknya Fadjri. Menceritakan mimpinya, lalu keduanya sepakat, untuk mencarikan alat therapy kaki, menggantikan yang pernah diberi Fikri untuk ayah bundanya.
*****

Sebuah sms masuk memecahkan keheningan. Nadya mengambil dan membacanya.
“Nady dan Fadjri anakku, trims atas hadiahnya. Ayah bahagia sekali atas perhatian kalian berdua nak. Terima kasih anakku sayang. Sumo Foot Therapy nya sudah sampai nih nak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.” Sms dari ayahandanya, dikirim untuknya dan adiknya Fadjri di belahan lain dunia.

Dua tetes air bening mengalir dari mata indahnya.

Ini hanya sebuah hadiah kecil Yah, sama sekali tak sepadan dengan apa yang telah ayah bunda berikan pada kami….. semoga bermanfaat… kami sayang ayah dan bunda… teramat sangat!
Sms sent!
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Gempa dan tsunami lagi? Oh No!! (tamat)
  • Lusina 1
  • Pangeran dari negeri Maya
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Kamu tetap anak mama sayang!
  • When he had to say Good Bye
  • Ya Ampun, Mati Kita Nak!!
  • Tirai Yang Tersingkap
  • Tamparan itu, keras dan pedih
  • Senandung Cinta : The Power Of Love

Categories

  • cerbung 9
  • cerbung: Dongeng Kehidupan 2
  • cerbung: Kisah Sedih di Hari Minggu 2
  • cerita pendek 20
  • cerpen 1
  • edisi kangen Intan 1
  • Flash Fiction 1
  • Gaya Gay 1
  • gempa bumi 3
  • just a note 1
  • Kisah Hidup 6
  • lesson learnt 1
  • non fiksi 3
  • renungan 3
  • rupa-rupa 1
  • true story 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Desember 2017 (6)
  • Oktober 2017 (2)
  • Juli 2017 (1)
  • Juni 2016 (1)
  • April 2016 (3)
  • Maret 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (3)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • Juli 2012 (1)
  • Juni 2012 (1)
  • Mei 2012 (1)
  • April 2012 (2)
  • Maret 2012 (2)
  • Januari 2012 (2)
  • Desember 2011 (4)
  • Oktober 2011 (2)
  • September 2011 (1)
  • Agustus 2011 (2)
  • Desember 2010 (1)
  • November 2009 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Laporkan Penyalahgunaan

Home

  • Home
  • About
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Virtual Corner
  • Zona Misteri

Mengenai Saya

Foto saya
Alaika Abdullah
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Popular Posts

  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Bawa Aku Pulang!
  • Kamu tetap anak mama sayang!

Labels

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes