Rumah Fiksi Alaika Abdullah
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

paragraf sebelumnya.....
Bergabung dia dengan bu Nellis, tetangga baik yang memang akrab dengannya. Bu Nellis beserta Rahmah putrinya dan Pak Muhtar suaminya, malah telah duduk di tanah. Bu Nellis sendiri malah sedang menangis karena pusing, mual dan trauma. Fatimah Zahra bergabung dengan keluarga Nellis. Ikutan duduk di atas tanah agar keseimbangan tubuhnya lebih stabil. Barulah disadarinya bahwa dirinya telah berlari keluar rumah dengan hanya berbaju kaos lengan pendek dan sehelai kain sarung melilit bagian bawah tubuhnya. Tanpa jilbab sama sekali. Tapi mau gimana lagi? Keadaan begitu darurat, tak ada pilihan lain. Nellis juga berpenampilan sama.
Gempa mengayun bumi dalam waktu yang lumayan lama…. Hatinya telah was-was akan terulangnya peristiwa dasyat itu. Tujuh tahun lalu, tsunami diawali oleh gempa yang seperti ini. Oh Tuhan, jangan lagi, cukup sudah bala itu ya Allah…, batinnya.

Paragraf sebelumnya...

Alaika, at Joint Secretariat
Rabu, 11 April 2012 ; 15.30 wib.

Alaika baru saja menjejakkan kakinya di ruangan Joint Secretariat, yang berkantor dilantai tiga salah satu gedung kompleks kantor Gubernur Aceh. Ada sekitar tiga minggu lebih dirinya tak berkunjung kesini, sejak dirinya harus mendapatkan perawatan intensive akibat demam berdarah yang menyerangnya beberapa waktu yang lalu. Jelas saja kunjungannya kali ini membuat anak-anak Joint Secretariat kangen dan bergembira hati dengan kedatangannya. Sambutan dan canda hangat juga dilontarkan oleh Pak Zaidan, the head of Joint Secretariat.
“Aduh, kayak bulan purnama deh ibu yang satu ini… munculnya jarang-jarang banget. Apa kabar Al… mudah-mudahan udah pulih benar ya?” sapanya akrab.
“Wah mbak Al tau aja kalo lagi ada rezeki ya? ayo mba… barengan kita makan rujak nih…” seru Ayu yang sedang rujakan di meja oval yang biasa dipakai meeting.

Photo taken by Zenfone 2, editing zero. #daunkering
A post shared by Alaika Abdullah (@alaikaabdullah) on Jul 26, 2015 at 4:14am PDT


Larasati tergugu, luruh dalam doa dan air mata.

"Tuhan, tiga tahun sudah Engkau beri ujian ini. Belumkah Engkau ingin menyudahinya? Kucoba untuk bertahan, menerima semuanya dengan mencoba ikhlas. Walau Engkau temukan kemarahan dan ketidakrelaanku, tapi kuyakin bahwa Engkau tahu, diriku mencoba untuk ridho. Tapi ya Tuhanku, untuk ujian-Mu yang kali ini, aku tak sanggup lagi, ya Allah. Bantu aku. Jangan Engkau biarkan anakku putus sekolah. Huhu..." Semakin luruh air matanya, semakin sengau suaranya, membayangkan ancaman putus kuliah bagi putranya jika bayaran SPP yang baginya kini terasa selangit itu tak segera dibayarkan.

Hari baru beranjak senja ketika tiba-tiba jemari Shinta dengan lincah menggeser layar touch screen si ramping hitam tipis kesayangannya. Mengetik empat huruf awal nama sahabat terbaik yang selama beberapa bulan ini terasa begitu akrab dengannya. Namun mata cantik itu membulat, kedua alis ikut terangkat. Tak lagi ditemukan empat huruf awal yang diketikkannya itu. Rash is no more in her contact list. Penasaran, diketiknya nama lengkap lelaki itu. Rasha Darmawan. Teteup, lenyap tanpa bekas! Lagi dan lagi dicobanya, tetap membuahkan hasil yang sama.

Ih, ada apa ini? Apa salahku? Kenapa tiba-tiba aku didelete? Muram wajahnya gambarkan rasa hati yang tersakiti. Memang sih, Rasha hanyalah seorang sahabat, tak lebih. Namun kedekatan antara keduanya selama ini, cukup memberikan rasa nyaman yang begitu berarti baginya. Dan dia yakin jika rasa yang sama juga bersemayam di hati Rasha. Tapi angin apa yang tiba-tiba berhembus, hingga tanpa tedeng aling-aling, Rasha malah menghilang begitu saja.

Ah, paling BBnya error! Ga mungkin Rasha menghapusnya begitu saja. Diyakinkannya hatinya. Namun sebuah rasa tak tenang semakin nyata mengusik ulu hatinya. Cekatan, dirangkainya beberapa kata, menjelma sebagai sms dan meluncur ke nomor hape Rasha. Membuat lelaki yang sedang asyik di sudut lain kota ini, meraih hapenya.

Hai hai, diriku kena removed dari contact list BB kamu ya? :) Singkat, membuat Rasha tercekat.

Cekatan lelaki itu memainkan jemarinya, meluncurkan sms balasan.

Ya, mohon maaf. Calonku belum mengerti semua. Dia belum bisa mentoleransi semua teman cewekku.

Dhug! Sebuah kejujuran pernyataan yang sengaja diciptakan untuk menikam ulu hati sang sahabat? Entahlah. Hanya Rasha sendiri yang tau pasti tujuannya. Namun, Shinta tak hendak membiarkan sakit itu meluas. Hei, kamu bukan siapa-siapa dia, Shinta! Jangan tersinggung apalagi sakit hati. Bujuk hatinya sendiri. Namun sebuah rasa lain, sekonyong-konyong hadir dan sulit diredam! Rasa itu adalah respek yang berkurang! Ya, Kalimat yang dirangkai Rasha, sukses membuat penghormatannya selama ini terhadap lelaki itu, rasa kagumnya terhadap lelaki ini, merosot tajam.

Rasha yang selama ini dianggap sebagai lelaki bijaksana, pecinta alam tangguh yang sangat cinta damai, ternyata tak lebih dari seorang manusia dewasa berfikiran kanak-kanak! Picik! Dirinya salah menilai. Pantesan saja istrinya menggugat cerai dan beberapa kekasih setelah itu, mundur teratur. Kini, posisinya jauh lebih aman, tak harus mengundurkan diri lebih dahulu karena Rasha sendiri telah memelorotkan apresiasi darinya. Lancar, cekatan, dibalasnya sms itu.

Hehe, okd. Dimengerti. Sukses ya! Aq hanya ingin tanya kelanjutan rencana pekerjaan yang kita bicarakan kemarin itu. Ada update kah? Atau aku boleh dapat nomor contact personnya agar bisa follow up langsung saja? 

Tak menunggu lama, sebaris angka 11 digit masuk ke inboxnya, via sms. Nomor hape dari contact person yang dimaksud, berikut dengan pin BB, kini hadir sesuai pintanya tadi.

Ok, thanks a lots ya, for every thing! Sukses selalu untukmu, dia dan aku! Salam. :) 

Besaran umur ternyata bukan jaminan kematangan jiwa seseorang! Tulisnya di selembar post it dan bertengger rapi pada kaca riasnya kini.

 Dokter bilang ibunya terkena depresi. Surat cinta ini kah penyebab semua ini? 

Courtesy Alaika Abdullah 
Siapa sebenarnya si Kapten Bhirawa ini? Kekasih masa lalu? Jauh sebelum ayah menikahi ibu? Atau selingkuhan ibu? Astargfirullah!  Tersadar akan buruk sangkanya, gadis belia itu ber-istirgfar beberapa kali, namun tak urung, misteri surat itu kian mendorong hatinya untuk menyelidiki. Untungnya dia menemukan surat ini di dalam laci meja rias ibunya. Telah remuk dengan amplop yang sudah amburadul. Bermodalkan alamat dan nomor telefon yang tertera di sana, mulailah dia menginterogasi dan berinteraksi dengan sang kapten Bhirawa yang ternyata berdomisili di kota Surabaya. Dan hasilnya? Kini ibu tiri yang dia sayangi itu terbelalak dan hampir saja meledak. "Farida? Untuk apa lelaki itu datang kesini? Beraninya kamu menerimanya. Bawa dia keluar! Pergi dari sini!" 

Intonasi suara Marni sungguh melengking. Amarahnya terlihat nyata. Gemetar wanita itu meraih kursi rodanya, bersusah payah untuk turun dari ranjang dan pindah ke kursi roda yang telah menjadi teman setianya sekian tahun sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang disebabkan oleh wanita simpanan Arief, yang mendorongnya dari anak tangga paling tinggi rumah mereka. Dan akibatnya adalah cedera tulang ekor yang berujung pada kelumpuhan kedua kakinya. Lalu mampukah dengan gampang dirinya melupakan dan memaafkan perbuatan mereka? Terutama Arief, yang malah memilih untuk pergi mengikuti wanita laknat itu? Untung saja Tuhan mengirimkan ayah Farida sebagai malaikat pengganti baginya, walau kemudian Tuhan memanggilnya kembali. Farida terbelenggu dalam diam, dengan tetesan air bening yang langsung mengaliri pipi. Terlebih melihat perlawanan ibunya, yang menolak dibantu oleh si Kapten Bhirawa untuk pindah ke kursi rodanya. 

"Sayang, ampuni aku, lepaskan dendam itu. Aku yang salah, sayang. Aku yang salah. Tolong, beri aku kesempatan untuk berbakti kepadamu. Hanya kepadamu. Aku masih sangat menyintaimu. Sungguh!" Suara itu terdengar nyaring, bergetar. Bahkan Farida sendiri dapat mendengar getaran itu. Marni yang masih meronta, juga menangkap hal senada. Terdiam hatinya. Menelaah kalimat yang tiba-tiba saja berhasil menggetarkan jiwanya. Ah, benarkah apa yang dirasakannya ini? Dendam itu mencair begitu saja? Tidak mungkin! Dirinya tak boleh memaafkan begitu saja, bisik sisi buruk hatinya. Namun sisi baik hatinya, masih mencoba untuk bereaksi positif terhadap senandung cinta yang baru saja didendangkan. Benarkah The Power of Love tak butuh logika? 

Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta



credit
"Ngga, apa ga bisa difikirkan lagi nak? Mau apa   kamu ke Cairo ? Papamu bagaimana? Kamu baru saja mulai membantunya di perusahaan kita? Apa kamu ada konflik dengan Papa?"

Wanita itu tak habis pikir mengapa putra pertamanya itu nekad untuk hengkang hingga keluar negeri, ke Cairo pula. Tanpa woro-woro terlebih dahulu pada dirinya dan suaminya, selaku orang tua Angga.

"Ma, Angga enggak punya konflik dengan Papa, hanya Angga menemukan bahwa ternyata passion Angga bukan di bidang itu Ma. Angga kurang tertarik untuk bekerja di perusahaan Papa. Angga ingin mandiri. Ingin lepas dari bayang-bayang Papa."

Dialog panjang itu tak mampu mengendurkan kekukuhan pendirian Angga. Tak peduli akan diijinkan atau tidak, dia tetap akan melanjutkan niatnya. Hijrah ke Cairo, dimana beberapa temannya telah menanti, menyediakan tempat baginya, dan mencoba memulai hidup barunya di sana.

"Angga, apa Mama dan Papa punya salah sama kamu nak? Bicarakan baik-baik, jangan main pergi seperti ini? Dan juga, Papamu belum tau tentang hal ini. Hargai Papamu, bicarakan dulu dengannya. Ada apa sih Ngga, kok kamu ngeyel banget?"

Angga hanya bisa mengurut dada. Jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat ingin tinggal bersama keluarganya. Tidak ada konflik sama sekali yang mengharuskan dirinya angkat kaki dari rumah di mana dia telah menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga masa kini. Namun, dia harus segera pergi. Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyembuhkan diri. Berita yang disaksikannya di televisi tadi, sungguh membuatnya takut. Tidak, dia tidak ingin mengalami kejadian seperti itu. Jangan Tuhan, selamatkan hamba, sembuhkan hamba, batinnya.

Ibunya masih berwajah duka. Mencoba terus membujuknya namun tak berhasil membuka mulut putranya itu untuk sebuah alasan akurat. Juga sang ayah, yang begitu heran dengan keputusan mengejutkan yang disampaikan putra pertama, penerus perusahaan keluarga ini.

"Pa, Angga sama sekali ga punya masalah dengan Mama-Papa, dengan Fira mau pun Ardi. Hanya saja Angga ingin belajar mandiri. Passion Angga bukan di perusahaan Papa, Angga ingin berusaha di bidang yang Angga minati."

Kalimatnya terdengar tegas, tak ingin dibantah, hingga akhirnya sang ayah tak sanggup lagi menahan diri.

"Ok, Papa enggak melarang kamu belajar hidup mandiri Ngga, apalagi kamu sudah besar, sudah dewasa, kamu punya hak untuk memutuskan langkah kehidupanmu sendiri. Silahkan?"

Tajam suara itu namun nada kesedihan terdengar nyata. Terselip kekecewaan tiada tara di balik nada tajamnya. Angga sungguh merasa batinnya tersayat. Di satu sisi, dia begitu ingin memenuhi harapan ayah ibunya. Namun di sisi lainnya, dia harus menyembuhkan dirinya sendiri. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Penyakit ini semakin membuatnya terluka dan was-was. Apalagi berita tadi siang di televisi, sungguh membuat nyalinya ciut. Malam harinya, setelah memastikan luggagenya telah dipacking sempurna, diputuskannya untuk menyalakan laptopnya. Sebuah email yang akan dia set untuk terkirim besok pagi pun dia persiapkan.


Ke haribaan Mama dan Papa,

Assalammualaikum Wr. Wb,
Maafkan Angga, yang tak berhasil menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, seperti yang Mama-Papa idamkan selama ini. Angga minta maaf yang sebesar-besarnya, karena telah menjadi anak 'sakit jiwa' dengan hati yang tersesat. 

Ma, Pa, tak cukup keberanian Angga untuk berterus terang pada Mama-Papa. Angga malu dan takut. Angga sudah berusaha keras untuk meredam rasa ini Ma, Pa. Tapi Angga tak mampu. Rasa ini begitu aneh, liar dan jelas nyeleneh. Angga tau ini terlarang, dan terkutuk. Namun Angga tak kuasa meredamnya. 

Angga sudah browsing di internet, mencari tau apa hanya Angga yang mengalami hal ini? Ternyata tidak Ma, Pa. Kelainan/penyakit terkutuk ini menghinggapi 15 persen penduduk dunia. Mencintai saudara kandungnya sendiri secara seksual! Dan penyakit itu kini menghinggapi anak Mama-Papa ini. Ampuni Angga Ma, Pa, yang sudah bikin Mama-Papa kecewa. Angga sudah berusaha meredam rasa ini, Angga berusaha merubah kasih sayang dan cinta Angga terhadap Fira, layaknya cinta dan kasih seorang kakak terhadap adiknya. Namun Angga tidak berhasil Ma, Pa. Menjadi pengawal Fira kesana kemari selama bertahun-tahun, membuat kedekatan itu, kasih sayang itu, berangsur berubah arah. Dua tahun sudah Angga berperang melawan rasa ini, berusaha keras mengembalikannya pada jalur yang benar, namun Angga belum mampu. Sisi buruk hati Angga sangat mencintai Fira, dan ingin sekali menjadikannya sebagai kekasih. Dan Angga tau persis itu adalah SALAH dan TERLARANG.

Kemarin sore, Angga melihat berita di TV, tentang seorang adik yang dibunuh oleh kakak kandungnya karena si adik menolak cinta si kakak. Ya Allah, betapa menjijikkan kenyataan itu. Dan Angga jadi takut sendiri. Angga harus menjauh dari Fira Ma, Pa. Ijinkan Angga pergi, mencoba menyembuhkan diri Angga. Doakan Angga. Angga ingin menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, as always.

Pesan Angga, jangan ciptakan kebersamaan antara Ardi dan Fira BERLEBIHAN, karena begitulah awal kisah ini terjadi. Tidak, Angga tidak menyalahkan Mama-Papa. Tidak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Doakan Angga ya Ma, Pa. Semoga di negeri baru nanti, Angga bisa mengubah rasa nyeleneh ini menjadi rasa yang seharusnya untuk Fira. Angga cinta dan sayang banget pada Mama-Papa, Fira dan Ardi.

Wassalam ananda,
Angga Ryanto.


Written by Alaika Abdullah
Inspired from  kata kunci 'cinta terlarang'
Bandung, 7 Maret 2013



gambar dikirim oleh seorang teman ke wall fb penulis
Dua orang itu terpana menatapku. Aku juga tak kalah heran. Ini orang, udah ngebunyiin bel dan dibukain pintu kok malah bengong ya?

"Maaf Pak, mencari siapa ya?" Akhirnya kuputuskan untuk memecah situasi vakum yang membingungkan itu. Si bapak sambil masih meletakkan tangan kanannya di atas bahu anak perempuan usia ABG itu, menyunggingkan senyuman.

"Assalammualaikum nak. Maaf jika kami mengganggu... hm.... apa ibu pemilik rumah ini masih tinggal disini?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang aneh, yang diucapkan dalam bahasa Indonesia berlogat Aceh yang begitu kental.

"Hm... maksud bapak? Ibu yang mana ya?"
Jawabku balik bertanya, menggunakan bahasa Aceh agar si Bapak gampang berkomunikasi. Namun aku meningkatkan status kesiagaan. Siaga I. Secara akhir-akhir ini kan banyak sekali penipuan. Aku mulai menjaga jarak, jangan-jangan tukang gendam or hipnotis deh ini. Hiii, serem. Tapi menatap wajahnya yang terkesan ndeso itu, gaya bahasanya serta putrinya yang lugu itu, keping hatiku meredam prasangka buruk itu berkembang jauh.

"Maaf nak, bapak tidak tau persis siapa nama ibu itu, karena juga belum pernah ketemu, anak bapak ini... delapan tahun yang lalu, selamat di teras rumah ini dari hempasan gelombang tsunami. Dan dirawat dengan baik oleh ibu pemilik rumah ini sampai akhirnya dijemput oleh tim penyelamat."

Penjelasan itu serta merta membuat aku sungguh merasa bersalah atas prasangka jelek yang telah terlanjur tercipta tadi. Oalah, Astargfirullah ya Allah..., aku langsung teringat cerita ibuku, bahwa di teras lantai dua rumah kami ini, dulu sempat selamat 10 orang yang terbawa oleh gelombang tsunami.

"Sebentar ya Pak, mari masuk dulu... saya panggil ibu saya."

Kupersilahkan keduanya masuk, dengan hormat seraya menyalahkan hatiku yang syakwasangka tadi.

"Ma, mama... ada tamu nih ma..." Aku berseru, masih enggan meninggalkan kedua tamu yang kini telah duduk di sofa ruang tamu. Bukan apa-apa, di jaman sekarang ini, waspada kan harus ya?

"Iya, sebentar." Suara ibuku terdengar lembut, seperti biasanya. Ga lama, wanita enam puluhan tahun itu pun muncul.

"Ayah... benar ini neneknya...!"

Si anak perempuan itu berseru kegirangan, seraya bangkit menyerbu ibuku. Disalaminya ibuku seraya memeluk beliau erat. Kesan kaget terlihat nyata di wajah ibuku, apalagi dia belum bisa melihat wajah si anak perempuan itu, yang terus saja memeluknya erat.

Si bapak tua bangkit, menyalami ibuku yang masih saja dipeluk erat oleh anak perempuan tadi. Barulah kemudian si anak melepaskan pelukannya ketika tangan ayahnya menggapainya lembut. Ibuku masih terlihat kaget, juga sepertinya daya ingatnya belum mampu untuk mengingat si anak perempuan yang memanggilnya nenek itu.

"Ibu, saya ayahnya Siti, dan Siti adalah anak yang sempat diselamatkan tiang teras rumah ibu waktu tsunami dahalu. Kami tinggal di Tibang bu, dan waktu itu saya sedang melaut, Siti dan ibunya di rumah ketika tsunami datang. Siti hanyut hingga kesini dan menggapai tiang teras rumah ibu untuk menyelamatkan diri."

Kini wajah ibuku terlihat sangat mengerti. Dengan sempurna kini memorynya memaparkan tentang Siti. Anak yang kala itu usia delapan tahunan, ditemukannya sedang menggigil, terbaring di lantai teras atas rumah ini. Tak hanya menggigil, tapi anak itu terkena diare hingga pakaian dalamnya terkena kotorannya sendiri. Mengigau memanggil ibu dan ayahnya.

Suasana memang sangat mencekam kala itu. Tsunami baru saja melanda, merampas nyawa-nyawa manusia dan hewan ternak, serta meremukkan apa saja yang menghadang di hadapannya. Ibuku sendiri, kala itu malah memutuskan untuk lari meninggalkan rumah, bersama ayahku, yang memilih untuk menyelamatkan diri di Musholla berlantai dua, tak jauh dari rumah. Dan disanalah mereka berdua serta warga lainnya selamat dari hantaman gelombang.

Dan saat mereka telah aman dan kembali ke rumah yang telah porak poranda lantai bawahnya, penuh lumpur dan banyak ikan yang terkapar tewas, ayah dan ibuku menemukan ada 10 survivor di lantai atas rumah kami. Kesepuluh orang yang selamat itu, dalam deritanya masing-masing. Ada seorang ibu yang sedang hamil tua, terbaring lemah sama sekali tak mampu bergerak. Ada anak balita umur 2 tahun yang sedang menangis dan ditenangkan oleh seorang pemuda yang adalah bukan kerabatnya. Ada bapak tua yang kakinya patah. Ada juga si anak ini, Siti, yang dibaringkan di lantai teras, karena masih mengucurkan kotoran akibat diare.

Kedatangan ibu dan ayahku selaku pemilik rumah, menambah perasaan senasib sepenanggungan dengan kesepuluh survivor itu. Dari semua yang ada disitu, hanya ibuku yang staminanya masih prima, karena hanya beliau yang tak tersentuh gelombang, sementara ayahku sendiri, sempat terombang ambing dihanyutkan gelombang, hingga kemudian beliau tersangkut di atas sebatang pohon kuda-kuda sebagai tangan Tuhan, penyelamat hidupnya.

Jadilah malam itu, yang gelap gulita dan hanya diterangi cahaya lilin yang memang tersedia di lantai atas itu, ibuku bertindak sebagai perawat. Terutama bagi Siti yang menggigil dan terus diare, juga bagi si ibu yang hamil tua, yang juga mulai demam, juga bagi si bocah kecil dua tahun yang menangis minta susu. Malam yang menyentuh kalbu, menyayat hati dan menimbulkan kenangan tak terlupakan.

Dan kini? Siti, salah satu survivor itu, hadir di hadapan ibuku, setelah delapan tahun tragedi itu berlalu. Berlinang air mata ibuku menatapnya.

"Apa kabar kamu nak? Sehatkan? Sudah kelas berapa?" Tanya ibuku, Siti memilih duduk disampingnya.

"Alhamdulillah sehat nek. Siti udah kelas 2 SMU." Senyum hormat tersinggung di bibirnya, menjawab pertanyaan ibuku.

"Bu, kami datang untuk berterima kasih pada ibu. Allah menyelamatkan anak saya melalui rumah ibu, dan terima kasih banyak, ibu sudah merawat Siti malam itu dengan sangat baik. Sebenarnya kami sudah lama ingin kesini, tapi karena kami tidak lagi tinggal di Banda, dan saya selalu melaut, jadi ga sempat turun kesini bu."

Si ayah yang berbicara. Aku sungguh terharu mendengarnya. Kuyakin ibuku pun memiliki perasaan serupa. Sungguh kehadiran mereka sama sekali tak pernah kami duga. Bahkan tak pernah kami kira jika kemudian salah satu dari the survivor akan kembali ke rumah ini, untuk berterima kasih pada ibuku. Subhanallah.

"Subhanallah... Alhamdulillah pak, saya sungguh gembira bisa bertemu lagi dengan Siti. Sungguh sama sekali tidak menyangka akan bertemu kamu lagi nak. Nenek senang sekali mendapat kunjungan kamu dan Bapak. Oh ya, bagaimana halnya dengan ibu Siti pak?" Tanya ibuku kemudian.

"Hm.... sayangnya, Ibunya Siti tidak selamat Bu, kami menemukan jenazahnya di kampung sebelah. Gelombang membawanya hanyut sampai kesana." Lirih suara itu.

"Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun." Aku dan ibuku serempak melafazdkan kalimat itu.

"Dan sekarang Bapak dan Siti tinggal dimana Pak?" Tanya ibuku lagi.

"Kami di Aceh Selatan sekarang Bu, makanya jarang sekali turun ke Banda Aceh. Dan ini juga karena Siti telah menabung sekian lama, katanya uang tabungannya ingin dipakai untuk mengunjungi Ibu dan melihat rumah ini."

Masyaallah. Sungguh tersentak dan terharu hatiku. Juga aku yakin ibuku merasakan hal serupa. Seorang anak muda, anak seorang nelayan, yang mungkin untuk mencukupi kehidupan mereka sendiri pun sulit, tapi bertekad kuat untuk kembali ke rumah ini, untuk bertemu dengan pemilik rumah yang telah merawatnya kala itu. Subhanallah ya Allah, masih ada anak muda yang seperti ini, yang selalu mengingat jasa orang lain.

Ibuku terlihat begitu terharu dan sulit untuk berkomentar. Hingga kemudian suara lembutnya berujar,

"Aduh Siti, kenapa harus repot-repot kesini nak... Asal Siti dan Bapak sehat, kami sudah cukup bahagia. Terus di Banda tinggal dimana pak? Kapan datang?"

"Kami baru sampai bu, langsung kesini, itu pun meraba-raba dulu, karena Siti ga begitu ingat lagi. Yang dia ingat adalah dekat kantor Brimob, jadi bayangan saya, adalah disini. Cuma Siti juga ga ingat sama sekali nomor rumah ini, jadi hanya mengandalkan daya ingatnya saja."

"Iya nek, Siti ingatnya tiang rumah ini. Masih sama seperti dulu." Imbuh Siti riang.

"Kami berencana untuk langsung pulang malam ini bu, karena besok saya harus melaut lagi. Hari ini sengaja prei, untuk mengantar Siti. Sudah lama sekali dia ingin kesini."

Sungguh sebuah penjelasan yang semakin membuat kami terharu.

"Pak, apa ga bisa tinggal disini barang semalam? Jangan buru-buru kembali, kan capek di dalam perjalanan tadi malam pak? Menginaplah di tempat kami nanti malam, besok baru pulang kembali..." Bujuk ibuku tulus.

"Iya pak, lagian Siti kan juga ingin jalan-jalan di Banda kan? Wong udah sampe sini kok pak, masak secepat itu kembali?" Tambahku.

"Maaf bu, nak, inginnya begitu, tapi maklum lah, saya hanya nelayan, yang mengandalkan penghidupan dari hasil melaut. Kalo banyak prei nya, nanti kami ga makan, hehe."

Jawaban yang membuat kami bungkam. Tertohok rasanya hati ini mendengar perjuangan mereka. Aku sungguh terharu.

"Iya nek, kami pulang nanti malam saja. Ayah harus melaut, dan Siti kan harus sekolah besok. Juga Siti jualan kue-kue lho nek, dititipkan di kantin sekolah." Penjelasan yang bernada riang itu, semakin membuatku terenyuh. Betapa mereka menghadapi hidup ini dengan penuh perjuangan dan ikhlas.

Dan pertemuan yang sungguh tak pernah diduga oleh ibuku, apalagi olehku itu, berakhir setelah keduanya makan siang, istirahat sejenak dan kemudian mereka pamitan, ingin mengunjungi bekas kampung halaman mereka, baru malam harinya, singgah sebentar di rumah kami, dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kampung mereka yang baru.

Subhanallah... sungguh Tamu istimewa telah Engkau kirimkan kepada kami ya Allah. Bagaimanakah nasib ke 9 survivor lainnya? Wallahu Alam.




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Gempa dan tsunami lagi? Oh No!! (tamat)
  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Pangeran dari negeri Maya
  • Kamu tetap anak mama sayang!
  • When he had to say Good Bye
  • Ya Ampun, Mati Kita Nak!!
  • Senandung Cinta : The Power Of Love
  • DONGENG KEHIDUPAN I
  • Tirai Yang Tersingkap

Categories

  • cerbung 9
  • cerbung: Dongeng Kehidupan 2
  • cerbung: Kisah Sedih di Hari Minggu 2
  • cerita pendek 20
  • cerpen 1
  • edisi kangen Intan 1
  • Flash Fiction 1
  • Gaya Gay 1
  • gempa bumi 3
  • just a note 1
  • Kisah Hidup 6
  • lesson learnt 1
  • non fiksi 3
  • renungan 3
  • rupa-rupa 1
  • true story 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Desember 2017 (6)
  • Oktober 2017 (2)
  • Juli 2017 (1)
  • Juni 2016 (1)
  • April 2016 (3)
  • Maret 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (3)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • Juli 2012 (1)
  • Juni 2012 (1)
  • Mei 2012 (1)
  • April 2012 (2)
  • Maret 2012 (2)
  • Januari 2012 (2)
  • Desember 2011 (4)
  • Oktober 2011 (2)
  • September 2011 (1)
  • Agustus 2011 (2)
  • Desember 2010 (1)
  • November 2009 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Laporkan Penyalahgunaan

Home

  • Home
  • About
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Virtual Corner
  • Zona Misteri

Mengenai Saya

Foto saya
Alaika Abdullah
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Popular Posts

  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Bawa Aku Pulang!
  • Kamu tetap anak mama sayang!

Labels

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes