"Kamu itu kenapa sih? bawaan marah mulu?" Wanita itu akhirnya menggeram. Emosi yang tadi masih di level terbawah, kini mulai meninggi. Lelaki ini telah benar-benar membuat amarahnya menggelegak. Dikiranye siape die? batinnya, baru seminggu jadi suaminya eh sudah sok galak. Marah-marah tak menentu. Menamparnya pula!
Pacaran dengannya selama tujuh bulan, tak membuatnya mengenal karakter asli sang suami. Beginikah aslinya Anton? Duh!
Perang sengit itu berlangsung cepat. Hanya butuh waktu 4 detik bagi Rifka untuk menghapus data penting perselingkuhannya yang direkam Lila tadi malam.
Lega hatinya telah memusnahkan file berbahaya itu, dan kini dibiarkannya Lila mengamuk, memukuli tubuhnya bertubi-tubi dengan kepalan tangan mungilnya. Dibiarkannya wanita itu menjerit, menangis dan menyerapahinya. Tak hendak dia melawan. Karena semua memang salahnya.
Nada 'hampa hatiku' nya pasha ungu bergema meriah di hape Winda. Membuat beberapa rekan kerjanya usil meliukkan badan mengikuti irama itu. Disambut tawa meriah teman-teman lain tentunya. Winda hanya tertawa sambil menjawab panggilan sahabatnya, Rika.
"Win, can we meet now? I can't stand anymore..., " suara diseberang sana penuh isak tangis. Winda tak lagi kaget mendengarnya. Hal ini sudah kerab terjadi. Paling-paling berantem lagi sama suaminya. Dan Winda, tempat curhat kepercayaan Rika, saat ini dibutuhkan untuk menampung keluh kesah sang sahabat, walau setelah itu, nasehat/input positif darinya hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan saja bagi sahabat karib itu. ……
Paragraf sebelumnya...
Abdullah Sulaiman
…di dalam kereta api,
Perjalanan Solo
- Jakarta, Rabu, 11 April 2012, 17.11 wib.
Sebuah
nomor asing memanggil di layar HPnya. Lelaki 68-an tahun itu menatap layar
monitor dengan penuh tanda tanya. Nomor tak dikenal, siapa ya? batinnya seraya menjawab
telephone.
“Assalammualaikum Yah… ini
Alaika… pake nomor XL”.
“Waalaikumsalam Wa rahmatullah…
apa kabar nak?”
“Yah… barusan terjadi gempa
dasyat, 8,9 SR. Al sedang di kantor gubernur tadi dan Umi sendirian di rumah.
Al udah sempat sampe rumah tadi tapi Umi ga ada lagi di rumah. Al udah ke
menasah tapi Umi juga ga ada disana. Coba ayah telephone Umi, Al telephone ga
bisa masuk dari tadi. Telkomsel lumpuh disini. Ini pake XL tapi tetap aja ga
bisa hubungi Umi…”
Bergabung
dia dengan bu Nellis, tetangga baik yang memang akrab dengannya. Bu Nellis
beserta Rahmah putrinya dan Pak Muhtar suaminya, malah telah duduk di tanah. Bu
Nellis sendiri malah sedang menangis karena pusing, mual dan trauma. Fatimah
Zahra bergabung dengan keluarga Nellis. Ikutan duduk di atas tanah agar
keseimbangan tubuhnya lebih stabil. Barulah disadarinya bahwa dirinya telah
berlari keluar rumah dengan hanya berbaju kaos lengan pendek dan sehelai kain
sarung melilit bagian bawah tubuhnya. Tanpa jilbab sama sekali. Tapi mau gimana
lagi? Keadaan begitu darurat, tak ada pilihan lain. Nellis juga berpenampilan
sama.
Gempa
mengayun bumi dalam waktu yang lumayan lama…. Hatinya telah was-was akan
terulangnya peristiwa dasyat itu. Tujuh tahun lalu, tsunami diawali oleh gempa
yang seperti ini. Oh Tuhan, jangan lagi, cukup sudah bala itu ya Allah…,
batinnya.
Alaika
baru saja menjejakkan kakinya di ruangan Joint Secretariat, yang berkantor dilantai
tiga salah satu gedung kompleks kantor Gubernur Aceh. Ada sekitar tiga minggu
lebih dirinya tak berkunjung kesini, sejak dirinya harus mendapatkan perawatan
intensive akibat demam berdarah yang menyerangnya beberapa waktu yang lalu.
Jelas saja kunjungannya kali ini membuat anak-anak Joint Secretariat kangen dan
bergembira hati dengan kedatangannya. Sambutan dan canda hangat juga
dilontarkan oleh Pak Zaidan, the head of Joint Secretariat.
“Aduh, kayak bulan purnama deh
ibu yang satu ini… munculnya jarang-jarang banget. Apa kabar Al… mudah-mudahan
udah pulih benar ya?” sapanya akrab.
“Wah mbak Al tau aja kalo lagi
ada rezeki ya? ayo mba… barengan kita makan rujak nih…” seru Ayu
yang sedang rujakan di meja oval yang biasa dipakai meeting.
"Tuhan, tiga tahun sudah Engkau beri ujian ini. Belumkah Engkau ingin menyudahinya? Kucoba untuk bertahan, menerima semuanya dengan mencoba ikhlas. Walau Engkau temukan kemarahan dan ketidakrelaanku, tapi kuyakin bahwa Engkau tahu, diriku mencoba untuk ridho. Tapi ya Tuhanku, untuk ujian-Mu yang kali ini, aku tak sanggup lagi, ya Allah. Bantu aku. Jangan Engkau biarkan anakku putus sekolah. Huhu..." Semakin luruh air matanya, semakin sengau suaranya, membayangkan ancaman putus kuliah bagi putranya jika bayaran SPP yang baginya kini terasa selangit itu tak segera dibayarkan.