Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Minggu, 03 Maret 2013

Kamu tetap anak mama sayang!

credit
Gundukan tanah merah itu masih basah. Taburan kembang setaman menutupi gundukan itu hampir sepenuhnya. Para pengantar jenazah banyak yang sudah mengundurkan diri, setelah melaksanakan fardhu kifayah mereka selaku umat muslim bagi saudara mereka yang telah terlebih dahulu dipanggil menghadap sang Khalik.

Saskia, Sinta, Radith dan Pram masih berjongkok di sisi kanan dan kiri gundukan tanah basah itu. Airmata tak berhasil diredam di delapan pasang mata yang tertuju pada kuburan baru itu. Seakan mencoba menembus lapisan tanah merah itu untuk menatap jenazah yang telah dibaringkan di baliknya. 

Skenerio Ilahi memang tak pernah mampu kita prediksi. Boleh saja kita menyusun segala rencana. Se-strategis mungkin, se-taktis mungkin, namun siapa yang bisa mengintip LRPM [Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut] yang mutlak telah ditentukan oleh sang Khalik?

Siapa yang mengira jika Lesmana yang tadi pagi masih segar bugar, berpamitan dengan ciuman mesra di kening Saskia dan anak-anak, ternyata akan kembali dalam keadaan tak lagi bernyawa? Siapa kira jika ciuman pagi tadi itu adalah the good bye kiss? Segalanya terjadi begitu saja, tanpa pertanda. Dimulai dengan telefon tak dikenal yang ternyata berasal dari rumah sakit, mengabarkan kecelakaan yang dialami Lesmana dalam perjalanan menuju kantor tadi pagi, dilanjut dengan kedatangannya yang tergopoh dan jerit histeris kala dia mendapati tubuh suaminya yang telah terbujur kaku. Sungguh sebuah shock teraphy yang membuatnya ambruk. Pingsan. 

Untung saja pada saat bersamaan, Pramudia, yang mendapatkan kabar dari Saskia tentang kecelakaan itu, juga langsung menuju ke rumah sakit, dan tepat berada di samping kakaknya itu sebelum si kakak rubuh. Refleks Pramudia menangkap tubuh sang kakak yang terkulai lemah. Dan perhatian terpaksa beralih ke Saskia yang tak lagi sadarkan diri. Semuanya berlangsung begitu cepat. Sisa kekuatan yang masih tersisa di dalam diri Saskia, meningkat kala mengingat jenazah suaminya harus segera dipertemukan dengan sang tanah. Ya, Lesmana harus segera dikebumikan, begitulah selalu yang dicetuskan Lesmana jika dia suatu saat kelak mendahului Saskia. Lesmana ingin segera dikebumikan, agar tubuhnya segera bertemu kembali dengan unsur asal muasal dirinya. 

"Mbak, kita pulang yuk...!"

Bisik Pramudia, lirih seraya memeluk Radith, keponakannya yang masih berusia 4 tahun. Bocah lucu itu tentu belum begitu mengerti arti kenyataan hidup yang sedang terhampar di hadapannya. Yang dia tau, Papanya telah meninggal, dan ditanam di bawah gundukan itu, tapi belum terjangkau di fikirannya bahwa dia nanti akan sangat kehilangan sosok itu.

Saskia mengangguk. Dengan lembut dicobanya meraih pundak Sinta, putri Lesmana dari hasil perkawinannya terdahulu, yang telah benar-benar dianggap anak kandung oleh Saskia. Pedih hatinya menatap Sinta. Diyakininya bahwa bukan hanya duka lara yang sedang berkecamuk di hati putri ABG nya ini, namun juga sebuah rasa gamang, bingung dan kehilangan arah, tentu sedang melanda hati Sinta. 

"Sayang, kita pulang yuk nak, besok kita kunjungi papa lagi, ya, nak?"

Luruh sudah air mata itu. Sinta menangis tersedu seraya memeluk Saskia. Baginya, inilah ibu yang sebenar-benarnya baginya sejak lima tahun ini. Ibu tiri dengan kasih sayang dan ketulusannya melebihi ibu kandungnya sendiri. Sebutan 'nak' itu, selalu saja mampu menyentuh sanubarinya yang terdalam, dan serta merta meluapkan rasa kasih paling tulus bagi Saskia. Namun sebutan 'nak' kali ini, sungguh membuatnya takut. Takut jika sebentar lagi dia akan kehilangan kasih sayang Saskia, karena tali penghubung itu telah pergi. Ya, ayahnya telah pergi. Otomatis Mama Saskia tak lagi menjadi istri Papanya, dan otomatis tak lagi menjadi mamanya. 

Air mata itu mengalir deras, tanpa sepatah kata pun yang mampu diluncurkannya untuk mewakili perasaannya. Remaja putri itu begitu takut, dia baru saja kehilangan seorang ayah yang begitu penyayang, dan akankah juga dia harus kehilangan Mama terbaiknya? 

"Ssst, sayang..., kita harus ikhaskan kepergian papa, ingat kan ajaran papa, bahwa setiap makhuk Allah akan mati, tidak ada yang kekal. Dan jika saatnya tiba, yang ditinggalkan harus mengikhlaskannya, ya kan sayang?"

Dipeluknya penuh kasih remaja putri yang masih saja membenamkan wajahnya di dadanya. Tapi putrinya itu mengangguk, membenarkannya. Pramudia hanya bisa mengelus dada, terenyuh. Sedih, terharu. Dipeluknya Radith kian erat. Lalu mereka pun melangkah menjauh, meninggalkan Lesmana di 'rumah baru' nya. 


*****

"Dik Saskia, mungkin sudah saatnya saya utarakan niat ini, Mas Les sudah tujuh hari meninggalkan kita semua. Saya tidak ingin membebani Dik Saskia dengan mengurus dan membesarkan Sinta. Biarlah saya yang mengurus dan membesarkan Sinta, Dik, karena Sinta adalah tanggung jawab saya." Wanita itu berbicara dengan lembut dan teratur. 

Pramudia mengangkat dan memalingkan wajahnya ke arah di mana kakaknya dan wanita itu sedang duduk. Seorang pria yang adalah suami wanita itu, juga duduk santun di kursi tamu, tepat di samping wanita itu, yang tak lain adalah ibu kandungnya Sinta, mantan istrinya Lesmana. Pramudia hanya bisa menjadi penonton, karena dia tak punya hak untuk menentukan, mengingat dirinya hanyalah adik semata wayang Saskia, yang tinggal menumpang di rumah sang kakak. Namun rasa kasihnya terhadap Sinta yang tulus dianggap sebagai keponakannya, sudah lebih dulu merasakan kehilangan jika Sinta diambil oleh ibu kandungnya. 

Jalinan kasih sayang yang terjalin di antara mereka selama ini sudah begitu kuat. Saling sayang dan bahu membahu. Pram hanya hidup berdua dengan kakaknya setelah ayah ibu mereka meninggal dunia. Begitu juga Lesmana, hanya memiliki dua orang saudara, yang keduanya malah tinggal jauh di Australia. Sehingga saat kematian Lesmana, Saskia memutuskan untuk tidak lagi menunggu kedatangan saudara-saudara suaminya, melainkan mohon ijin mereka untuk langsung mengebumikan jenazah almarhum. 'Miskin' saudara, akhirnya membuat jalinan kasih sayang diantara mereka semakin erat. Pram sangat menyayangi Lesmana, begitu juga sebaliknya. Dan kini, lelaki baik itu telah pergi, menyisakan dua cindera mata, yaitu Sinta dan Radith. Haruskah kini, dia dan Saskia juga kehilangan Sinta? 

Saskia belum bisa memberikan jawaban. Hatinya pilu. Sedih. Baginya, Sinta adalah putri pertamanya. Walau remaja itu tak lahir dari rahimnya, namun kasih sayangnya tak dapat dibedakan dengan kasihnya terhadap Radith. Dia tulus menyayangi dan berniat untuk membesarkan keduanya tanpa perbedaan. Dia tak ingin kehilangan Sinta. Tapi dia juga tak boleh egois, dia harus melihat dan mempertimbangkan kemauan Sinta juga. Baginya kebahagiaan Sinta adalah segalanya.

"Mbak, saya sama sekali tidak merasa berat apalagi terbebani dalam membesarkan Sinta. Bagi saya, Sinta adalah putri pertama saya. Saya menyayangi dan menyintainya sama seperti kasih sayang saya terhadap Radith. Jadi jika Mbak ingin mengambil kembali Sinta karena takut membebani saya, tolong jauhkan hal itu dari pemikiran Mbak, karena saya sama sekali tidak merasa terbebani."

"Tapi Dik, sudah saatnya Sinta tinggal bersama orang yang memiliki hubungan darah dengannya. Jika selama ini dia bersama Dik Saskia, itu kan karena ada ayahnya disini. Tapi kini..., Mas Les telah pergi. Saya tidak ingin dia menjadi beban disini Dik, tolong mengerti."

"Mbak, saya memang tak punya hak apa-apa terhadap Sinta. Benar kata Mbak, tidak ada setetes pun darah saya yang mengalir di dalam tubuh Sinta, tapi cinta saya padanya, kasih sayang saya padanya adalah kasih sayang seorang ibu Mbak. Saya tulus menyayanginya. Menurut hemat saya, daripada kita berlarut-larut membahas masalah ini, mengapa tidak kita coba berbicara pada Sinta saja nanti Mbak? Saya yakin, kita akan melakukan apa pun untuk kebahagiaannya kan? Jadi mari kita tanyakan padanya nanti setelah dia pulang ujian."

Saskia mencoba berbicara setenang mungkin, walau sebenarnya ada rasa tersinggung di hatinya mendengar kalimat ibunya Sinta, bahwa antara dirinya dan Sinta tidak ada pertalian darah. 

"Benar juga Dik, baiklah, kalo begitu, kami permisi dulu ya dik, besok atau lusa kami akan kembali, kita lihat kapan Sinta bisa kita ajak bicara ya? Mungkin biarkan dia fokus pada ujiannya dulu, ya Dik?"

Saskia mengangguk, teramat sangat setuju. Dalam hati, dia akan coba untuk bicara sebijak mungkin pada Sinta, seraya mencoba mensugestikan putrinya itu untuk tetap memilihnya, untuk tetap bersamanya. Baginya, Sinta adalah putri pertamanya, dan rasanya dia tak sanggup kehilangan dua orang sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan.

*****

"Ma, apa Mama merasa berat jika Sinta tetap bersama Mama?"

Akhirnya keluar juga suara itu, setelah tenggelam dalam airmata. Sinta duduk tegak di hadapan Saskia. Mendengarkan dengan serius ucapan ucapan Saskia yang mengupdate tentang kedatangan ibu kandung Sinta. 

"Sayang, Mama sangat sayang sama kamu Nak. Apa pernah selama kita bersama, Sinta merasakan Mama menjadikan Sinta anak tiri Mama? Apa setiap Mma marah padamu, itu menunjukkan Mama tidak sayang pada kamu Nak?"

Sinta menggeleng, bangkit dan memeluk Saskia erat.
"Nggak Ma, Mama itu seperti Mama kandung bagi Sinta. Sinta sayang banget sama Mama. Mama juga marahi Adith kalo dia nakal. Sinta sayang Mama. Sinta ga mau kehilangan Mama!"

Suara itu mengandung tangis, dan menjadi sedu sedan lagi dalam sekejab.

"Tapi kalo Mama memang ingin mengembalikan Shinta pada Mama Wati, Sinta ga bisa menolak Ma, Sinta harus tau diri. Sinta ga mau memberatkan Mama. Papa sudah pergi, tentu Mama harus bekerja lebih keras untuk membesarkan Adith."

Suara itu sungguh menyayat hati. Sukses mengoyak hati Saskia yang begitu lara.

"Sayang, Mama ga pernah merasa berat untuk membesarkan kamu. Mama sayang banget sama kamu Nak. Sinta dan Adith adalah anak-anak Mama, tak peduli Papa masih ada atau sudah pergi, Sinta dan Adith adalah anak-anak Mama. Kamu anak Mama sayang!"

Tergugu Sinta memeluk ibu tirinya. Diciumnya pipi Saskia hingga airmatanya turut membasahi wajah wanita itu. Saskia gelagapan merasakan pelukan erat itu. Dibalasnya pelukan Sinta.

"Sekarang Mama tanya, Sinta mau tetap tinggal bersama Mama? Mau ikut Mama kemana pun Mama pergi? Kalo pun misalnya kita pindah ke kota lain?"

Anggukan mantap dari remaja putri itu adalah jawaban tegas atas pertanyaannya. 

"Iya Ma, Sinta siap untuk dampingi Mama. Bantu Mama dan Oom Pram juga. Boleh, ya, Ma Sinta tetap jadi anak Mama?"

"Iya sayang, kamu tetap anak Mama!" 

Written by Alaika Abdullah
Bandung, 27 February 2013


43 komentar:

  1. Balasan
    1. mba ceritanya nyentuh bgt saya suka bgt sm ceritanya :')
      waktu baca ceritanya saya jadi ikut terbawa dalam isi ceritanya
      pokokny bagus bgt ceritanya hiks :')

      Hapus
  2. hiikzz....hiikkzz...
    ibu tiri ga semuanya jahat ... byk contoh dilingkungan mimi, dan tryta mereka malah lebih sayang drpd ibu kandungnya sendiri.

    #elap tissue utk ke 7x..trus mandi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mi, apalagi ibu tiri jaman sekarang, yang pendidikannya juga jauh udah lebih tinggi, baik pendidikan moral, agama maupun lainnya, jadi rasanya kuno dan ga gaul aja jika ada ibu tiri yang masih berlagak spt ibu tirinya cinderella ya mi?

      eits, kok sampai mandi? hayo habis ngapain hayoo! wkwkw

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. waduh,,,,,
    sedu sedan deh tangisku
    hiks . . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks... aku juga menuliskannya sambil terharu mba... tapi tak sampai tersedu, takut airmata merusak lappie tersayang. :)

      Hapus
  4. hmmmm......hanya bisa menghela nafas panjang usai membacanya....hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, makasih atas kunjungannya Sep!

      Hapus
  5. aq jg nemu ibu tiri yg baik bgt ma anak tirinya, malah kasihnya lbh d bnding ibu kndungnya. #nyambi elap ingut n air mata

    BalasHapus
  6. aq jg nemu ibu tiri yg baik bgt ma anak tirinya, malah kasihnya lbh d bnding ibu kndungnya. #nyambi elap ingut n air mata

    BalasHapus
  7. aq jg nemu ibu tiri yg baik bgt ma anak tirinya, malah kasihnya lbh d bnding ibu kndungnya. #nyambi elap ingut n air mata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak juga di alam nyata ibu tiri yang baik ya Jiah... :)

      Hapus
  8. Mbak Al... Terharu sangat... Cerita ini meyakinkan aku kembali bahwa, ibu/ ayah kandung tidak selamanya adalah ibu/ ayah yg terbaik bagi seorang anak... :-)

    Mbak, aku cuma mo tanya satu nih, di paragraf awal aku baca nama "Tegar" tp selanjutnya dia gak disebut2 lg dlm cerita.. Apa mgkn Tegar itu adalah Radith? :-D

    Nice story mbak Al ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thia.... thanks atas kecermatanmu, udah diedit, Tegar itu adalah Radith. Jadi lupa deh karena nulisnya sambil ditinggal-tinggal. :)

      Ayo semangat, masih banyak kebaikan di muka bumi ini... :)

      Hapus
  9. Saskia, Sinta, ....#spechless jadinya mau komen gmana....a part of this story will be mine in next few days

    BalasHapus
    Balasan
    1. I believe that you will be the best mom for them Rie! :)

      Hapus
  10. Bahagia dan damai....
    Aku punya ibu tiri yang sayang banget sama aku dan saudara2ku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba! Happy for you and families... :)

      Hapus
  11. nangissss ...*ambil tissue

    ibu kandung saya adalah juga ibu tiri buat 2 kakak pertama saya. Tapi si kk selalu bilang ke orang, ngga ada ibu tiri sebaik ibu saya. Hiks, terharu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan mba... ga salah kan saya nulis fiksi ini... karena di bayangan saya tuh, ibu tiri itu banyaaaak lho yang baik dan tulus hatinya... :)

      Hapus
  12. Mbk al...knp harus haru biru gini ceritanya huhuhuhu
    **nggk ada tisu ambil anduk :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... handuk kecil aja cukup kan mba Hanna? :)

      Hapus
  13. mbak idenya tak curi, sori baru ijin... good banget ceritanya//...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. silahkan Sak... develop it positively ya... :)

      Hapus
  14. ketulusan, itu yang kita dapat di cerita ini, mbak al :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh.... bener banget mba Rochma. :)

      Hapus
  15. Haduuh... terharu aku membacanya mbak. Ketulusan dalam mencintai seringkali memang tak hanya datang dari orang tua kandung kita ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. he eh mba.... kasih sayang adalah tali pengikat, yang mampu mengikat sesama walau tanpa hubungan pertalian darah sekalipun ya mba...

      Andaikan banyak ibu tiri yang seperti ini, anak2 akan bahagia... :)

      Hapus
  16. terharu bgt mbk.. mpe berkaca2 mataku.. Mbak Al pinter bgt deh bikin fiksinya.
    Memang ga smua ibu tiri itu jahat dan pilih kasih.. Itu kembali pd pribadi masing2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, makasih mba Cova... udah setia membaca fiksi2ku. :)
      semoga bisa menghibur dan bermanfaat ya..

      Hapus
  17. malem mingguan baca blognya mba Al sambil nemenin hubby yg lagi atit...semangat nulis terus yah mbaaak muach

    BalasHapus
  18. Keren karakternya Saskia Mba Al. :)

    BalasHapus
  19. sukseess bikin saya nangiis dikantor :))

    kereeeen...

    BalasHapus
  20. sukseess bikin saya nangiis dikantor :))

    kereeeen...

    BalasHapus
  21. saya bukanalah ibu tiri juga tidak dikarunia anak sebagai ibu kandung namun saya mempunyai anak sahabat yang saya asuh dari kecil bersama ibunya yang janda kini sdh melebihi anak kandung hubungan kami dan kini dia juga mempunyai calon istri yang saya anggap betul sebagai anak kandung jg , saya ppunya anak yang dekat perempuan yang sangat saya kasihi. semua anak anakku memanggil aku bunda . saya akan merasakan dgn batinn bila mereka sedih ,sakit atupun bahagia. sebagai orang hindu kami percaya mereka adalah anak anak masa ;a;u saya .

    BalasHapus
  22. happy ending, very nice and flow story :)

    BalasHapus
  23. setuju..krena jahat/ tdknya bukan karena dia ibu tiri/ bukan, itu semua tergantung dari karakter yg bersangkutan.

    BalasHapus
  24. "Menetes air mata ini...."
    Respon yang dapat saya berikan
    sesaat setelah membaca fiksi ini..
    Dalam cerita fiksi ini tidak terdapat karakter tokoh antagonis namun sudah cukup membuat pembaca "Emosi" hingga menitihkan air mata...terus berkarya mbak al.

    BalasHapus