Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Jumat, 13 Maret 2015

Daun Kering

drying leave
Larasati tergugu, luruh dalam doa dan air mata.

"Tuhan, tiga tahun sudah Engkau beri ujian ini. Belumkah Engkau ingin menyudahinya? Kucoba untuk bertahan, menerima semuanya dengan mencoba ikhlas. Walau Engkau temukan kemarahan dan ketidakrelaanku, tapi kuyakin bahwa Engkau tahu, diriku mencoba untuk ridho. Tapi ya Tuhanku, untuk ujian-Mu yang kali ini, aku tak sanggup lagi, ya Allah. Bantu aku. Jangan Engkau biarkan anakku putus sekolah. Huhu..." Semakin luruh air matanya, semakin sengau suaranya, membayangkan ancaman putus kuliah bagi putranya jika bayaran SPP yang baginya kini terasa selangit itu tak segera dibayarkan.

Wanita itu diambang putus asa. Segala usahanya seakan sia-sia. Belum juga bersambut. Kemana lagi dia harus mencari? Sungguh merasa seorang diri. Putranya belum yatim, tapi lebih-lebih dari seorang yatim, karena sang ayah, yang masih menari-nari di atas bumi ini sama sekali tak peduli.

Baginya, hidup ini begitu penuh onak berduri, kini. Sulit sekali melepaskan diri. Entah di mana kesalahannya, hingga Allah menghukumnya seperti ini. Gelar sarjana dan pengalaman kerjanya bahkan tak mampu lagi memberinya sebuah kontrak kerja pun. Sungguh membuatnya heran sendiri. Di mana letak kesalahannya? Di mana letak kealpaannya? Entahlah. Tak hendak dia menelaahnya lagi. Karena malam ini, otaknya serasa lumpuh dan tak mampu lagi diajak bekerjasama. Bersujud dan mengadu pada sang Khalik, hanya satu-satunya cara menumpahkan segala beban yang menghimpit diri.
"Tuhan, kubagaikan daun kering, kini
Lepas, jatuh, layu, mengering dan terkulai tak berdaya. Tak banyak yang kupinta lagi, bantu hamba menyelamatkan pendidikan anak hamba, ijinkan dia untuk tetap menuntut ilmu, dengan apa pun cara-Mu, ya Rabbi. "

Senin, 09 Juni 2014

Respect itu.

Hari baru beranjak senja ketika tiba-tiba jemari Shinta dengan lincah menggeser layar touch screen si ramping hitam tipis kesayangannya. Mengetik empat huruf awal nama sahabat terbaik yang selama beberapa bulan ini terasa begitu akrab dengannya. Namun mata cantik itu membulat, kedua alis ikut terangkat. Tak lagi ditemukan empat huruf awal yang diketikkannya itu. Rash is no more in her contact list. Penasaran, diketiknya nama lengkap lelaki itu. Rasha Darmawan. Teteup, lenyap tanpa bekas! Lagi dan lagi dicobanya, tetap membuahkan hasil yang sama.

Ih, ada apa ini? Apa salahku? Kenapa tiba-tiba aku didelete? Muram wajahnya gambarkan rasa hati yang tersakiti. Memang sih, Rasha hanyalah seorang sahabat, tak lebih. Namun kedekatan antara keduanya selama ini, cukup memberikan rasa nyaman yang begitu berarti baginya. Dan dia yakin jika rasa yang sama juga bersemayam di hati Rasha. Tapi angin apa yang tiba-tiba berhembus, hingga tanpa tedeng aling-aling, Rasha malah menghilang begitu saja.

Ah, paling BBnya error! Ga mungkin Rasha menghapusnya begitu saja. Diyakinkannya hatinya. Namun sebuah rasa tak tenang semakin nyata mengusik ulu hatinya. Cekatan, dirangkainya beberapa kata, menjelma sebagai sms dan meluncur ke nomor hape Rasha. Membuat lelaki yang sedang asyik di sudut lain kota ini, meraih hapenya.

Hai hai, diriku kena removed dari contact list BB kamu ya? :) Singkat, membuat Rasha tercekat.

Cekatan lelaki itu memainkan jemarinya, meluncurkan sms balasan.

Ya, mohon maaf. Calonku belum mengerti semua. Dia belum bisa mentoleransi semua teman cewekku.

Dhug! Sebuah kejujuran pernyataan yang sengaja diciptakan untuk menikam ulu hati sang sahabat? Entahlah. Hanya Rasha sendiri yang tau pasti tujuannya. Namun, Shinta tak hendak membiarkan sakit itu meluas. Hei, kamu bukan siapa-siapa dia, Shinta! Jangan tersinggung apalagi sakit hati. Bujuk hatinya sendiri. Namun sebuah rasa lain, sekonyong-konyong hadir dan sulit diredam! Rasa itu adalah respek yang berkurang! Ya, Kalimat yang dirangkai Rasha, sukses membuat penghormatannya selama ini terhadap lelaki itu, rasa kagumnya terhadap lelaki ini, merosot tajam.

Rasha yang selama ini dianggap sebagai lelaki bijaksana, pecinta alam tangguh yang sangat cinta damai, ternyata tak lebih dari seorang manusia dewasa berfikiran kanak-kanak! Picik! Dirinya salah menilai. Pantesan saja istrinya menggugat cerai dan beberapa kekasih setelah itu, mundur teratur. Kini, posisinya jauh lebih aman, tak harus mengundurkan diri lebih dahulu karena Rasha sendiri telah memelorotkan apresiasi darinya. Lancar, cekatan, dibalasnya sms itu.

Hehe, okd. Dimengerti. Sukses ya! Aq hanya ingin tanya kelanjutan rencana pekerjaan yang kita bicarakan kemarin itu. Ada update kah? Atau aku boleh dapat nomor contact personnya agar bisa follow up langsung saja? 

Tak menunggu lama, sebaris angka 11 digit masuk ke inboxnya, via sms. Nomor hape dari contact person yang dimaksud, berikut dengan pin BB, kini hadir sesuai pintanya tadi.

Ok, thanks a lots ya, for every thing! Sukses selalu untukmu, dia dan aku! Salam. :) 

Besaran umur ternyata bukan jaminan kematangan jiwa seseorang! Tulisnya di selembar post it dan bertengger rapi pada kaca riasnya kini.

Bawa Aku Pulang!

credit
Aku punya rancangan khusus untukmu,  aku yakin kamu pasti akan suka deh. Aku kangen banget sama kamu Shin! Jangan lupa lho, besok siang ya!

Isi BBM Fariz yang sukses mengukir senyum di bibir Shinta. Siapa sih yang ga senang dihadiahi pakaian yang dirancang khusus untuknya? Fariz memang baik banget. Ada saja perhatian yang diberikannya untuk Shinta. Tak pelak, rasa kangen pun kini menyeruak di hatinya untuk lelaki tampan itu. Gimana ya tampangnya sekarang? Lebih ganteng daripada di webcam atau ga ya? Batinnya.

Tapi aku ga mau rancangan yang norak lho! Aku mau yang elegan.  Sebuah icon lidah menjulur [tongue out] pun dia bubuhkan disamping kalimatnya dan sent to Fariz.

Haha, kamu kira aku designer murahan? Ya pasti elegan lah, untuk my dearest darling hunny bunny masak yang norak sih? Warnanya abu-abu muda silky, elegan banget deh. Aku juga udah siapkan hijabnya lho. :)

Senyum kian merekah di bibir Shinta, membayangkan dan yakin sekali jika hadiah yang disiapkan Fariz untuknya memang elegan. Fariz memang perancang busana handal. Rancangan-rancangannya laris manis. Geleng-geleng kepala dia setiap mengingat lelaki yang satu ini. Seorang arsitek yang malah lari ke dunia fashion. Ngapain coba capek-capek kuliah di Teknik? Capek-capek begadang mengerjakan tugas yang sulit dan seabrek-abrek, jika setelah wisuda, malah lari ke dunia fashion. Emang sih, masih sama-sama mendisain, tapi object yang didisain, beda jauuuuh!

But that is life. Who can predict? Seperti kali ini, tiba-tiba saja atasannya memintanya untuk hadir di Workshop ini untuk mewakili perusahaan mereka. Sebuah perintah yang membuatnya bahagia lah pastinya. Toh tugas yang diemban juga bukan hal yang sulit. Adalah tugas yang memang selama ini dihandlenya. Jadi ya no problem at all lah. Toh suaminya juga mendukung banget. Kapan lagi mau ke Bangkok, gratis pula. :)

Dan sambil mendayung, dua tiga pulau terlampaui, inilah yang sedang dilakukannya. Selesai workshop tiga hari yang merupakan agenda utama, maka besok siang, dia akan bertemu dengan Fariz. Sahabat karib yang sudah lima belas tahun tak pernah bertemu muka lagi, secara langsung.

Namun, who can predict the future? Janji yang telah disepakati terpaksa urung. Pertemuan yang dicanangkan di apartemen Fariz, karena lelaki itu sedang kurang sehat malah harus mengalami perubahan. Kondisi Fariz makin parah and admitted to hospital. Shinta pun was-was.

Shin, masih lama ga say? Berapa menit lagi? Aku ga tahan lagi nih, trombo ku merosot tajam.

Pesan yang hadir di layar BB nya semakin membuat Shinta kuatir. Ya Tuhan, mengapa jadi seperti ini? Selamatkan dia ya Allah. Belasan tahun tak bertemu muka dengannya, mengapa Kau pertemukan kami dalam kondisi seperti ini? Batinnya miris.

Jalanan macet ternyata tak hanya milik Jakarta. Bahkan kota besar dan megah seperti Bangkok pun terkena virus yang satu ini. Tak sabar Shinta menanti perjalanan ini sampai ke tujuan, ke Bumrungrad Hospital, yang terletak di tengah kota Bangkok. Namun karena tempatnya mengikuti Seminar tiga hari ini letaknya agak ke pinggiran, maka perjalanannya menjadi sangat-sangat jauh dan lama. Juga setelah sambung menyambung beberapa moda transportasi. Hingga akhirnya....

Fariz terkulai layu. Lemas dan sangat tak bersemangat. Panasnya meninggi lagi. Tiga orang temannya, pria berparas oriental menyingkir, setelah terlebih dahulu menyambutnya, menyalami dan mengobrol sebentar dengan gaya ramah dan bersahabat.

Tinggallah kini mereka berdua, di ruangan rumah sakit yang walau terkesan mewah, tetap saja bernama rumah sakit, dan menyebar aroma dan nuansa sickness. Shinta duduk di sisi kanan bed Fariz. Mengelus tangan kanan yang berinfus itu dan akhirnya membawa jemarinya ke jemari Fariz. Tangan itu panas sekali. Terenyuh hatinya, pilu. Wajah tampan itu begitu pucat, pias. Kemana darahnya? Kenapa Fariz sampai sepucat ini? Begitu mengerikan kah demam berdarah yang dideritanya? Shinta sendiri pernah diteror oleh penyakit mematikan yang satu ini. Tapi penanganan yang cepat dan benar di rumah sakit waktu itu, mampu menyelamatkannya. Dan Fariz? Masak rumah sakit semegah ini, dengan dokter-dokternya yang terlatih dan kompeten, tak mampu menyelamatkan pria tampan ini?

Mata Fariz menelaga. Cairan bening menggenang di kedua bola mata lelaki macho ini. Tunggu, sebenarnya tidak terlalu macho sih, sedikit melambai. Shinta memindahkan jemarinya, membelai rambut hitam lurus milik Fariz. Hatinya ikutan sedih, juga takut.

"Fai... keep your spirit please. Mari berdoa yuk..., yakinlah, Allah akan menyembuhkanmu..." Ucapnya lembut. Membelai rambut lelaki itu. Dahi Fariz terasa panas. Airmata malah kian deras mengalir dari kedua telaga bening itu. Berubah menjadi sesunggukan. Shinta bangkit. Dengan tissue yang disambarnya dari atas bed table, dihapusnya air mata yang kian deras itu.

"Shin... aku takut. Takut banget! Aku bergelimang dosa. Huhuhu...." Tangannya yang bebas dari infus bergerak, mencari jemari Shinta dan menggenggamnya erat, mencari penguatan.

"Ssh.... ssh... jangan ngomong begitu, kamu harus semangat, harus kuat, ok?" 

"Shin, aku takut, aku takut neraka menantiku... bantu aku kembali padaNya... kamu pasti tau bagaimana aku disini... aku penuh dosa Shin.." Semakin menjadi tangisan itu. Shinta dapat menangkap nuansa takut yang begitu kental di suara sahabatnya itu.

"Aku semakin parah Shin. Semakin bergelimang maksiat yang aku tak mampu keluar darinya. Aku homo. Huhuhuhu...." Terputus dan serak sekali suara Fariz. Tangisannya makin menjadi.

"Ssh... setiap dosa pasti ada tobatnya... makanya sembuhlah, semangatlah untuk sembuh, biar kamu bisa segera bertobat, ok?" 

Tak ada keterkejutan di wajah Shinta mendengar pengakuan Fariz, karena selama ini dia telah banyak mendengar hal itu dari teman-teman lainnya. Bahwa Fariz kian melambai. Dan bukanlah waktu yang tepat untuk memarahi apalagi menghakiminya? Setiap orang punya jalan masing-masing.

Fariz persis anak kecil, menangis semakin tersedu, sesunggukan dan ketakutan. Membuat Shinta tak tau harus berbuat apa untuk mendiamkannya. Apakah dia melihat malaikat maut yang hendak menjemputnya? Cepat-cepat Shinta menghalau pertanyaan yang melintas kilat itu. Ya Allah, jangan dulu ya Tuhan kami, beri Fariz waktu untuk bertobat... pintanya dalam doa.

"Ssh... Allah maha pengampun Fai... jika kamu memang sadar bahwa jalan mu selama ini salah, Allah pasti membuka pintu ampunanNya.. yakinlah..."

"Tapi aku sudah tak punya waktu Shin... aku takut...aku takut... aku takuuuuut...., Shin... ambil BBmu"

Shinta sungguh kaget dengan ujung kalimat Fariz. Refleks, diraihnya BB dari dalam tasnya. Menanti lanjutan dari Fariz.

"Catat alamat rumahku di kampung. Jl. AR. Hakim, Blok VIII, No. 114, Kompl. Perumahan Permai Sejahtera, Medan Marelan." 

Batin Shinta tersentak kaget, rasa takut menguasai hatinya. Wasiatkah ini? Batinnya, namun diturutinya tanpa berkata-kata.

"Shin, jika aku mati, bawa aku pulang, please... aku ingin pulang, bersamamu!"

Sendu sekali permintaan itu dan sukses membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Tangan Fariz terasa panas sekali. Terpana dia, ditatapnya wajah yang kian pucat dan pasi itu. Gawat ini, pikirnya. Tak bersuara, ditinggalkannya Fariz sejenak. Berlari dia ke pintu, membukanya dan mendapati ketiga teman Fariz tadi yang masih berdiri di luar kamar. Ketiganya ikutan masuk dan terpana melihat Fariz yang kian pucat itu.

Salah satunya menekan tombol di sisi tempat tidur, memanggil perawat. Perawat masuk dalam sekejap, dan mencoba memeriksa Fariz. Suhu tubuhnya kian tinggi, tapi masih ingin melanjutkan wasiatnya.

"Mike, it seem that I have to go. Let me rest in my hometown, and let Shinta takes me home. Help her financing my journey, and every thing, part of them is for you and others go to my mom at home."

Kalimat itu terdengar lirih, Shinta membeku. Laki-laki yang dipanggil Mike menangis. Persis wanita. Merangkul Fariz tapi Suster dan dokter yang baru saja masuk, memintanya untuk menjauh karena mereka ingin memeriksa Fariz lebih intense.

Shinta menebak, Mike mungkin kekasih Fariz. Dan ini soal harta benda. Dan dia, Shinta, dibebani beban berat, teramat berat. Membawa mayat Fariz ke kampung halamannya. Oh Tuhan.... No...
Tersentak wanita itu dengan pemikirannya sendiri. Ya Allah, berilah kesembuhan bagi Fariz ya Allah, beri dia kesempatan untuk bertobat.... pintanya, tak kuasa menahan airmata.

Fariz makin lemah, mulai menggigil, dan meminta Shinta mendekat.

"Shin, take me home, please. Aku percaya padamu. Take me home!" Dan proses itu berlangsung dengan sangat cepat. Fariz menutup matanya. Shinta kaget, diserbunya Fariz, tepat di telinga kanannya.

"Fai... ikuti aku.... La Ilaha Illallah... La Ilaha Illallah.... " Shinta menuntunnya. Mulut lelaki itu komat kamit, kesulitan, terbata... tapi mengikuti apa yang diucapkan Shinta. Shinta menangis seraya mengelus lembut rambut Fariz.

"Muhammadarrasullullah..... Muhammadarrasulullah.... " Lanjutnya, perlahan, tepat di telinga kanan lelaki itu.

Fariz mengikuti, terbata, berat dan sulit sekali. Shinta mengangguk kuat, meremas tangan Fariz yang ada di genggaman tangan kirinya. Fariz membuka mata, air bening menggenang disana...

"Take me home..." Dan mata itu terpejam, dadanya tak lagi bergerak. Semua yang menyaksikan itu terpaku. Termasuk dokter dan perawat yang sama-sama berwajah oriental itu.

Rabu, 05 Juni 2013

Senandung Cinta : The Power Of Love

 Dokter bilang ibunya terkena depresi. Surat cinta ini kah penyebab semua ini? 

Courtesy Alaika Abdullah 
Siapa sebenarnya si Kapten Bhirawa ini? Kekasih masa lalu? Jauh sebelum ayah menikahi ibu? Atau selingkuhan ibu? Astargfirullah!  Tersadar akan buruk sangkanya, gadis belia itu ber-istirgfar beberapa kali, namun tak urung, misteri surat itu kian mendorong hatinya untuk menyelidiki. Untungnya dia menemukan surat ini di dalam laci meja rias ibunya. Telah remuk dengan amplop yang sudah amburadul. Bermodalkan alamat dan nomor telefon yang tertera di sana, mulailah dia menginterogasi dan berinteraksi dengan sang kapten Bhirawa yang ternyata berdomisili di kota Surabaya. Dan hasilnya? Kini ibu tiri yang dia sayangi itu terbelalak dan hampir saja meledak. "Farida? Untuk apa lelaki itu datang kesini? Beraninya kamu menerimanya. Bawa dia keluar! Pergi dari sini!" 

Intonasi suara Marni sungguh melengking. Amarahnya terlihat nyata. Gemetar wanita itu meraih kursi rodanya, bersusah payah untuk turun dari ranjang dan pindah ke kursi roda yang telah menjadi teman setianya sekian tahun sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang disebabkan oleh wanita simpanan Arief, yang mendorongnya dari anak tangga paling tinggi rumah mereka. Dan akibatnya adalah cedera tulang ekor yang berujung pada kelumpuhan kedua kakinya. Lalu mampukah dengan gampang dirinya melupakan dan memaafkan perbuatan mereka? Terutama Arief, yang malah memilih untuk pergi mengikuti wanita laknat itu? Untung saja Tuhan mengirimkan ayah Farida sebagai malaikat pengganti baginya, walau kemudian Tuhan memanggilnya kembali. Farida terbelenggu dalam diam, dengan tetesan air bening yang langsung mengaliri pipi. Terlebih melihat perlawanan ibunya, yang menolak dibantu oleh si Kapten Bhirawa untuk pindah ke kursi rodanya. 

"Sayang, ampuni aku, lepaskan dendam itu. Aku yang salah, sayang. Aku yang salah. Tolong, beri aku kesempatan untuk berbakti kepadamu. Hanya kepadamu. Aku masih sangat menyintaimu. Sungguh!" Suara itu terdengar nyaring, bergetar. Bahkan Farida sendiri dapat mendengar getaran itu. Marni yang masih meronta, juga menangkap hal senada. Terdiam hatinya. Menelaah kalimat yang tiba-tiba saja berhasil menggetarkan jiwanya. Ah, benarkah apa yang dirasakannya ini? Dendam itu mencair begitu saja? Tidak mungkin! Dirinya tak boleh memaafkan begitu saja, bisik sisi buruk hatinya. Namun sisi baik hatinya, masih mencoba untuk bereaksi positif terhadap senandung cinta yang baru saja didendangkan. Benarkah The Power of Love tak butuh logika? 




Kamis, 07 Maret 2013

Ijinkan Aku Pergi

credit
"Ngga, apa ga bisa difikirkan lagi nak? Mau apa   kamu ke Cairo ? Papamu bagaimana? Kamu baru saja mulai membantunya di perusahaan kita? Apa kamu ada konflik dengan Papa?"

Wanita itu tak habis pikir mengapa putra pertamanya itu nekad untuk hengkang hingga keluar negeri, ke Cairo pula. Tanpa woro-woro terlebih dahulu pada dirinya dan suaminya, selaku orang tua Angga.

"Ma, Angga enggak punya konflik dengan Papa, hanya Angga menemukan bahwa ternyata passion Angga bukan di bidang itu Ma. Angga kurang tertarik untuk bekerja di perusahaan Papa. Angga ingin mandiri. Ingin lepas dari bayang-bayang Papa."

Dialog panjang itu tak mampu mengendurkan kekukuhan pendirian Angga. Tak peduli akan diijinkan atau tidak, dia tetap akan melanjutkan niatnya. Hijrah ke Cairo, dimana beberapa temannya telah menanti, menyediakan tempat baginya, dan mencoba memulai hidup barunya di sana.

"Angga, apa Mama dan Papa punya salah sama kamu nak? Bicarakan baik-baik, jangan main pergi seperti ini? Dan juga, Papamu belum tau tentang hal ini. Hargai Papamu, bicarakan dulu dengannya. Ada apa sih Ngga, kok kamu ngeyel banget?"

Angga hanya bisa mengurut dada. Jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat ingin tinggal bersama keluarganya. Tidak ada konflik sama sekali yang mengharuskan dirinya angkat kaki dari rumah di mana dia telah menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga masa kini. Namun, dia harus segera pergi. Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyembuhkan diri. Berita yang disaksikannya di televisi tadi, sungguh membuatnya takut. Tidak, dia tidak ingin mengalami kejadian seperti itu. Jangan Tuhan, selamatkan hamba, sembuhkan hamba, batinnya.

Ibunya masih berwajah duka. Mencoba terus membujuknya namun tak berhasil membuka mulut putranya itu untuk sebuah alasan akurat. Juga sang ayah, yang begitu heran dengan keputusan mengejutkan yang disampaikan putra pertama, penerus perusahaan keluarga ini.

"Pa, Angga sama sekali ga punya masalah dengan Mama-Papa, dengan Fira mau pun Ardi. Hanya saja Angga ingin belajar mandiri. Passion Angga bukan di perusahaan Papa, Angga ingin berusaha di bidang yang Angga minati."

Kalimatnya terdengar tegas, tak ingin dibantah, hingga akhirnya sang ayah tak sanggup lagi menahan diri.

"Ok, Papa enggak melarang kamu belajar hidup mandiri Ngga, apalagi kamu sudah besar, sudah dewasa, kamu punya hak untuk memutuskan langkah kehidupanmu sendiri. Silahkan?"

Tajam suara itu namun nada kesedihan terdengar nyata. Terselip kekecewaan tiada tara di balik nada tajamnya. Angga sungguh merasa batinnya tersayat. Di satu sisi, dia begitu ingin memenuhi harapan ayah ibunya. Namun di sisi lainnya, dia harus menyembuhkan dirinya sendiri. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Penyakit ini semakin membuatnya terluka dan was-was. Apalagi berita tadi siang di televisi, sungguh membuat nyalinya ciut. Malam harinya, setelah memastikan luggagenya telah dipacking sempurna, diputuskannya untuk menyalakan laptopnya. Sebuah email yang akan dia set untuk terkirim besok pagi pun dia persiapkan.


Ke haribaan Mama dan Papa,

Assalammualaikum Wr. Wb,
Maafkan Angga, yang tak berhasil menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, seperti yang Mama-Papa idamkan selama ini. Angga minta maaf yang sebesar-besarnya, karena telah menjadi anak 'sakit jiwa' dengan hati yang tersesat. 

Ma, Pa, tak cukup keberanian Angga untuk berterus terang pada Mama-Papa. Angga malu dan takut. Angga sudah berusaha keras untuk meredam rasa ini Ma, Pa. Tapi Angga tak mampu. Rasa ini begitu aneh, liar dan jelas nyeleneh. Angga tau ini terlarang, dan terkutuk. Namun Angga tak kuasa meredamnya. 

Angga sudah browsing di internet, mencari tau apa hanya Angga yang mengalami hal ini? Ternyata tidak Ma, Pa. Kelainan/penyakit terkutuk ini menghinggapi 15 persen penduduk dunia. Mencintai saudara kandungnya sendiri secara seksual! Dan penyakit itu kini menghinggapi anak Mama-Papa ini. Ampuni Angga Ma, Pa, yang sudah bikin Mama-Papa kecewa. Angga sudah berusaha meredam rasa ini, Angga berusaha merubah kasih sayang dan cinta Angga terhadap Fira, layaknya cinta dan kasih seorang kakak terhadap adiknya. Namun Angga tidak berhasil Ma, Pa. Menjadi pengawal Fira kesana kemari selama bertahun-tahun, membuat kedekatan itu, kasih sayang itu, berangsur berubah arah. Dua tahun sudah Angga berperang melawan rasa ini, berusaha keras mengembalikannya pada jalur yang benar, namun Angga belum mampu. Sisi buruk hati Angga sangat mencintai Fira, dan ingin sekali menjadikannya sebagai kekasih. Dan Angga tau persis itu adalah SALAH dan TERLARANG.

Kemarin sore, Angga melihat berita di TV, tentang seorang adik yang dibunuh oleh kakak kandungnya karena si adik menolak cinta si kakak. Ya Allah, betapa menjijikkan kenyataan itu. Dan Angga jadi takut sendiri. Angga harus menjauh dari Fira Ma, Pa. Ijinkan Angga pergi, mencoba menyembuhkan diri Angga. Doakan Angga. Angga ingin menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, as always.

Pesan Angga, jangan ciptakan kebersamaan antara Ardi dan Fira BERLEBIHAN, karena begitulah awal kisah ini terjadi. Tidak, Angga tidak menyalahkan Mama-Papa. Tidak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Doakan Angga ya Ma, Pa. Semoga di negeri baru nanti, Angga bisa mengubah rasa nyeleneh ini menjadi rasa yang seharusnya untuk Fira. Angga cinta dan sayang banget pada Mama-Papa, Fira dan Ardi.

Wassalam ananda,
Angga Ryanto.


Written by Alaika Abdullah
Inspired from  kata kunci 'cinta terlarang'
Bandung, 7 Maret 2013



Minggu, 03 Maret 2013

Kamu tetap anak mama sayang!

credit
Gundukan tanah merah itu masih basah. Taburan kembang setaman menutupi gundukan itu hampir sepenuhnya. Para pengantar jenazah banyak yang sudah mengundurkan diri, setelah melaksanakan fardhu kifayah mereka selaku umat muslim bagi saudara mereka yang telah terlebih dahulu dipanggil menghadap sang Khalik.

Saskia, Sinta, Radith dan Pram masih berjongkok di sisi kanan dan kiri gundukan tanah basah itu. Airmata tak berhasil diredam di delapan pasang mata yang tertuju pada kuburan baru itu. Seakan mencoba menembus lapisan tanah merah itu untuk menatap jenazah yang telah dibaringkan di baliknya. 

Skenerio Ilahi memang tak pernah mampu kita prediksi. Boleh saja kita menyusun segala rencana. Se-strategis mungkin, se-taktis mungkin, namun siapa yang bisa mengintip LRPM [Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut] yang mutlak telah ditentukan oleh sang Khalik?

Siapa yang mengira jika Lesmana yang tadi pagi masih segar bugar, berpamitan dengan ciuman mesra di kening Saskia dan anak-anak, ternyata akan kembali dalam keadaan tak lagi bernyawa? Siapa kira jika ciuman pagi tadi itu adalah the good bye kiss? Segalanya terjadi begitu saja, tanpa pertanda. Dimulai dengan telefon tak dikenal yang ternyata berasal dari rumah sakit, mengabarkan kecelakaan yang dialami Lesmana dalam perjalanan menuju kantor tadi pagi, dilanjut dengan kedatangannya yang tergopoh dan jerit histeris kala dia mendapati tubuh suaminya yang telah terbujur kaku. Sungguh sebuah shock teraphy yang membuatnya ambruk. Pingsan. 

Untung saja pada saat bersamaan, Pramudia, yang mendapatkan kabar dari Saskia tentang kecelakaan itu, juga langsung menuju ke rumah sakit, dan tepat berada di samping kakaknya itu sebelum si kakak rubuh. Refleks Pramudia menangkap tubuh sang kakak yang terkulai lemah. Dan perhatian terpaksa beralih ke Saskia yang tak lagi sadarkan diri. Semuanya berlangsung begitu cepat. Sisa kekuatan yang masih tersisa di dalam diri Saskia, meningkat kala mengingat jenazah suaminya harus segera dipertemukan dengan sang tanah. Ya, Lesmana harus segera dikebumikan, begitulah selalu yang dicetuskan Lesmana jika dia suatu saat kelak mendahului Saskia. Lesmana ingin segera dikebumikan, agar tubuhnya segera bertemu kembali dengan unsur asal muasal dirinya. 

"Mbak, kita pulang yuk...!"

Bisik Pramudia, lirih seraya memeluk Radith, keponakannya yang masih berusia 4 tahun. Bocah lucu itu tentu belum begitu mengerti arti kenyataan hidup yang sedang terhampar di hadapannya. Yang dia tau, Papanya telah meninggal, dan ditanam di bawah gundukan itu, tapi belum terjangkau di fikirannya bahwa dia nanti akan sangat kehilangan sosok itu.

Saskia mengangguk. Dengan lembut dicobanya meraih pundak Sinta, putri Lesmana dari hasil perkawinannya terdahulu, yang telah benar-benar dianggap anak kandung oleh Saskia. Pedih hatinya menatap Sinta. Diyakininya bahwa bukan hanya duka lara yang sedang berkecamuk di hati putri ABG nya ini, namun juga sebuah rasa gamang, bingung dan kehilangan arah, tentu sedang melanda hati Sinta. 

"Sayang, kita pulang yuk nak, besok kita kunjungi papa lagi, ya, nak?"

Luruh sudah air mata itu. Sinta menangis tersedu seraya memeluk Saskia. Baginya, inilah ibu yang sebenar-benarnya baginya sejak lima tahun ini. Ibu tiri dengan kasih sayang dan ketulusannya melebihi ibu kandungnya sendiri. Sebutan 'nak' itu, selalu saja mampu menyentuh sanubarinya yang terdalam, dan serta merta meluapkan rasa kasih paling tulus bagi Saskia. Namun sebutan 'nak' kali ini, sungguh membuatnya takut. Takut jika sebentar lagi dia akan kehilangan kasih sayang Saskia, karena tali penghubung itu telah pergi. Ya, ayahnya telah pergi. Otomatis Mama Saskia tak lagi menjadi istri Papanya, dan otomatis tak lagi menjadi mamanya. 

Air mata itu mengalir deras, tanpa sepatah kata pun yang mampu diluncurkannya untuk mewakili perasaannya. Remaja putri itu begitu takut, dia baru saja kehilangan seorang ayah yang begitu penyayang, dan akankah juga dia harus kehilangan Mama terbaiknya? 

"Ssst, sayang..., kita harus ikhaskan kepergian papa, ingat kan ajaran papa, bahwa setiap makhuk Allah akan mati, tidak ada yang kekal. Dan jika saatnya tiba, yang ditinggalkan harus mengikhlaskannya, ya kan sayang?"

Dipeluknya penuh kasih remaja putri yang masih saja membenamkan wajahnya di dadanya. Tapi putrinya itu mengangguk, membenarkannya. Pramudia hanya bisa mengelus dada, terenyuh. Sedih, terharu. Dipeluknya Radith kian erat. Lalu mereka pun melangkah menjauh, meninggalkan Lesmana di 'rumah baru' nya. 


*****

"Dik Saskia, mungkin sudah saatnya saya utarakan niat ini, Mas Les sudah tujuh hari meninggalkan kita semua. Saya tidak ingin membebani Dik Saskia dengan mengurus dan membesarkan Sinta. Biarlah saya yang mengurus dan membesarkan Sinta, Dik, karena Sinta adalah tanggung jawab saya." Wanita itu berbicara dengan lembut dan teratur. 

Pramudia mengangkat dan memalingkan wajahnya ke arah di mana kakaknya dan wanita itu sedang duduk. Seorang pria yang adalah suami wanita itu, juga duduk santun di kursi tamu, tepat di samping wanita itu, yang tak lain adalah ibu kandungnya Sinta, mantan istrinya Lesmana. Pramudia hanya bisa menjadi penonton, karena dia tak punya hak untuk menentukan, mengingat dirinya hanyalah adik semata wayang Saskia, yang tinggal menumpang di rumah sang kakak. Namun rasa kasihnya terhadap Sinta yang tulus dianggap sebagai keponakannya, sudah lebih dulu merasakan kehilangan jika Sinta diambil oleh ibu kandungnya. 

Jalinan kasih sayang yang terjalin di antara mereka selama ini sudah begitu kuat. Saling sayang dan bahu membahu. Pram hanya hidup berdua dengan kakaknya setelah ayah ibu mereka meninggal dunia. Begitu juga Lesmana, hanya memiliki dua orang saudara, yang keduanya malah tinggal jauh di Australia. Sehingga saat kematian Lesmana, Saskia memutuskan untuk tidak lagi menunggu kedatangan saudara-saudara suaminya, melainkan mohon ijin mereka untuk langsung mengebumikan jenazah almarhum. 'Miskin' saudara, akhirnya membuat jalinan kasih sayang diantara mereka semakin erat. Pram sangat menyayangi Lesmana, begitu juga sebaliknya. Dan kini, lelaki baik itu telah pergi, menyisakan dua cindera mata, yaitu Sinta dan Radith. Haruskah kini, dia dan Saskia juga kehilangan Sinta? 

Saskia belum bisa memberikan jawaban. Hatinya pilu. Sedih. Baginya, Sinta adalah putri pertamanya. Walau remaja itu tak lahir dari rahimnya, namun kasih sayangnya tak dapat dibedakan dengan kasihnya terhadap Radith. Dia tulus menyayangi dan berniat untuk membesarkan keduanya tanpa perbedaan. Dia tak ingin kehilangan Sinta. Tapi dia juga tak boleh egois, dia harus melihat dan mempertimbangkan kemauan Sinta juga. Baginya kebahagiaan Sinta adalah segalanya.

"Mbak, saya sama sekali tidak merasa berat apalagi terbebani dalam membesarkan Sinta. Bagi saya, Sinta adalah putri pertama saya. Saya menyayangi dan menyintainya sama seperti kasih sayang saya terhadap Radith. Jadi jika Mbak ingin mengambil kembali Sinta karena takut membebani saya, tolong jauhkan hal itu dari pemikiran Mbak, karena saya sama sekali tidak merasa terbebani."

"Tapi Dik, sudah saatnya Sinta tinggal bersama orang yang memiliki hubungan darah dengannya. Jika selama ini dia bersama Dik Saskia, itu kan karena ada ayahnya disini. Tapi kini..., Mas Les telah pergi. Saya tidak ingin dia menjadi beban disini Dik, tolong mengerti."

"Mbak, saya memang tak punya hak apa-apa terhadap Sinta. Benar kata Mbak, tidak ada setetes pun darah saya yang mengalir di dalam tubuh Sinta, tapi cinta saya padanya, kasih sayang saya padanya adalah kasih sayang seorang ibu Mbak. Saya tulus menyayanginya. Menurut hemat saya, daripada kita berlarut-larut membahas masalah ini, mengapa tidak kita coba berbicara pada Sinta saja nanti Mbak? Saya yakin, kita akan melakukan apa pun untuk kebahagiaannya kan? Jadi mari kita tanyakan padanya nanti setelah dia pulang ujian."

Saskia mencoba berbicara setenang mungkin, walau sebenarnya ada rasa tersinggung di hatinya mendengar kalimat ibunya Sinta, bahwa antara dirinya dan Sinta tidak ada pertalian darah. 

"Benar juga Dik, baiklah, kalo begitu, kami permisi dulu ya dik, besok atau lusa kami akan kembali, kita lihat kapan Sinta bisa kita ajak bicara ya? Mungkin biarkan dia fokus pada ujiannya dulu, ya Dik?"

Saskia mengangguk, teramat sangat setuju. Dalam hati, dia akan coba untuk bicara sebijak mungkin pada Sinta, seraya mencoba mensugestikan putrinya itu untuk tetap memilihnya, untuk tetap bersamanya. Baginya, Sinta adalah putri pertamanya, dan rasanya dia tak sanggup kehilangan dua orang sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan.

*****

"Ma, apa Mama merasa berat jika Sinta tetap bersama Mama?"

Akhirnya keluar juga suara itu, setelah tenggelam dalam airmata. Sinta duduk tegak di hadapan Saskia. Mendengarkan dengan serius ucapan ucapan Saskia yang mengupdate tentang kedatangan ibu kandung Sinta. 

"Sayang, Mama sangat sayang sama kamu Nak. Apa pernah selama kita bersama, Sinta merasakan Mama menjadikan Sinta anak tiri Mama? Apa setiap Mma marah padamu, itu menunjukkan Mama tidak sayang pada kamu Nak?"

Sinta menggeleng, bangkit dan memeluk Saskia erat.
"Nggak Ma, Mama itu seperti Mama kandung bagi Sinta. Sinta sayang banget sama Mama. Mama juga marahi Adith kalo dia nakal. Sinta sayang Mama. Sinta ga mau kehilangan Mama!"

Suara itu mengandung tangis, dan menjadi sedu sedan lagi dalam sekejab.

"Tapi kalo Mama memang ingin mengembalikan Shinta pada Mama Wati, Sinta ga bisa menolak Ma, Sinta harus tau diri. Sinta ga mau memberatkan Mama. Papa sudah pergi, tentu Mama harus bekerja lebih keras untuk membesarkan Adith."

Suara itu sungguh menyayat hati. Sukses mengoyak hati Saskia yang begitu lara.

"Sayang, Mama ga pernah merasa berat untuk membesarkan kamu. Mama sayang banget sama kamu Nak. Sinta dan Adith adalah anak-anak Mama, tak peduli Papa masih ada atau sudah pergi, Sinta dan Adith adalah anak-anak Mama. Kamu anak Mama sayang!"

Tergugu Sinta memeluk ibu tirinya. Diciumnya pipi Saskia hingga airmatanya turut membasahi wajah wanita itu. Saskia gelagapan merasakan pelukan erat itu. Dibalasnya pelukan Sinta.

"Sekarang Mama tanya, Sinta mau tetap tinggal bersama Mama? Mau ikut Mama kemana pun Mama pergi? Kalo pun misalnya kita pindah ke kota lain?"

Anggukan mantap dari remaja putri itu adalah jawaban tegas atas pertanyaannya. 

"Iya Ma, Sinta siap untuk dampingi Mama. Bantu Mama dan Oom Pram juga. Boleh, ya, Ma Sinta tetap jadi anak Mama?"

"Iya sayang, kamu tetap anak Mama!" 

Written by Alaika Abdullah
Bandung, 27 February 2013


Tamu Istimewa

gambar dikirim oleh seorang teman ke wall fb penulis
Dua orang itu terpana menatapku. Aku juga tak kalah heran. Ini orang, udah ngebunyiin bel dan dibukain pintu kok malah bengong ya?

"Maaf Pak, mencari siapa ya?" Akhirnya kuputuskan untuk memecah situasi vakum yang membingungkan itu. Si bapak sambil masih meletakkan tangan kanannya di atas bahu anak perempuan usia ABG itu, menyunggingkan senyuman.

"Assalammualaikum nak. Maaf jika kami mengganggu... hm.... apa ibu pemilik rumah ini masih tinggal disini?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang aneh, yang diucapkan dalam bahasa Indonesia berlogat Aceh yang begitu kental.

"Hm... maksud bapak? Ibu yang mana ya?"
Jawabku balik bertanya, menggunakan bahasa Aceh agar si Bapak gampang berkomunikasi. Namun aku meningkatkan status kesiagaan. Siaga I. Secara akhir-akhir ini kan banyak sekali penipuan. Aku mulai menjaga jarak, jangan-jangan tukang gendam or hipnotis deh ini. Hiii, serem. Tapi menatap wajahnya yang terkesan ndeso itu, gaya bahasanya serta putrinya yang lugu itu, keping hatiku meredam prasangka buruk itu berkembang jauh.

"Maaf nak, bapak tidak tau persis siapa nama ibu itu, karena juga belum pernah ketemu, anak bapak ini... delapan tahun yang lalu, selamat di teras rumah ini dari hempasan gelombang tsunami. Dan dirawat dengan baik oleh ibu pemilik rumah ini sampai akhirnya dijemput oleh tim penyelamat."

Penjelasan itu serta merta membuat aku sungguh merasa bersalah atas prasangka jelek yang telah terlanjur tercipta tadi. Oalah, Astargfirullah ya Allah..., aku langsung teringat cerita ibuku, bahwa di teras lantai dua rumah kami ini, dulu sempat selamat 10 orang yang terbawa oleh gelombang tsunami.

"Sebentar ya Pak, mari masuk dulu... saya panggil ibu saya."

Kupersilahkan keduanya masuk, dengan hormat seraya menyalahkan hatiku yang syakwasangka tadi.

"Ma, mama... ada tamu nih ma..." Aku berseru, masih enggan meninggalkan kedua tamu yang kini telah duduk di sofa ruang tamu. Bukan apa-apa, di jaman sekarang ini, waspada kan harus ya?

"Iya, sebentar." Suara ibuku terdengar lembut, seperti biasanya. Ga lama, wanita enam puluhan tahun itu pun muncul.

"Ayah... benar ini neneknya...!"

Si anak perempuan itu berseru kegirangan, seraya bangkit menyerbu ibuku. Disalaminya ibuku seraya memeluk beliau erat. Kesan kaget terlihat nyata di wajah ibuku, apalagi dia belum bisa melihat wajah si anak perempuan itu, yang terus saja memeluknya erat.

Si bapak tua bangkit, menyalami ibuku yang masih saja dipeluk erat oleh anak perempuan tadi. Barulah kemudian si anak melepaskan pelukannya ketika tangan ayahnya menggapainya lembut. Ibuku masih terlihat kaget, juga sepertinya daya ingatnya belum mampu untuk mengingat si anak perempuan yang memanggilnya nenek itu.

"Ibu, saya ayahnya Siti, dan Siti adalah anak yang sempat diselamatkan tiang teras rumah ibu waktu tsunami dahalu. Kami tinggal di Tibang bu, dan waktu itu saya sedang melaut, Siti dan ibunya di rumah ketika tsunami datang. Siti hanyut hingga kesini dan menggapai tiang teras rumah ibu untuk menyelamatkan diri."

Kini wajah ibuku terlihat sangat mengerti. Dengan sempurna kini memorynya memaparkan tentang Siti. Anak yang kala itu usia delapan tahunan, ditemukannya sedang menggigil, terbaring di lantai teras atas rumah ini. Tak hanya menggigil, tapi anak itu terkena diare hingga pakaian dalamnya terkena kotorannya sendiri. Mengigau memanggil ibu dan ayahnya.

Suasana memang sangat mencekam kala itu. Tsunami baru saja melanda, merampas nyawa-nyawa manusia dan hewan ternak, serta meremukkan apa saja yang menghadang di hadapannya. Ibuku sendiri, kala itu malah memutuskan untuk lari meninggalkan rumah, bersama ayahku, yang memilih untuk menyelamatkan diri di Musholla berlantai dua, tak jauh dari rumah. Dan disanalah mereka berdua serta warga lainnya selamat dari hantaman gelombang.

Dan saat mereka telah aman dan kembali ke rumah yang telah porak poranda lantai bawahnya, penuh lumpur dan banyak ikan yang terkapar tewas, ayah dan ibuku menemukan ada 10 survivor di lantai atas rumah kami. Kesepuluh orang yang selamat itu, dalam deritanya masing-masing. Ada seorang ibu yang sedang hamil tua, terbaring lemah sama sekali tak mampu bergerak. Ada anak balita umur 2 tahun yang sedang menangis dan ditenangkan oleh seorang pemuda yang adalah bukan kerabatnya. Ada bapak tua yang kakinya patah. Ada juga si anak ini, Siti, yang dibaringkan di lantai teras, karena masih mengucurkan kotoran akibat diare.

Kedatangan ibu dan ayahku selaku pemilik rumah, menambah perasaan senasib sepenanggungan dengan kesepuluh survivor itu. Dari semua yang ada disitu, hanya ibuku yang staminanya masih prima, karena hanya beliau yang tak tersentuh gelombang, sementara ayahku sendiri, sempat terombang ambing dihanyutkan gelombang, hingga kemudian beliau tersangkut di atas sebatang pohon kuda-kuda sebagai tangan Tuhan, penyelamat hidupnya.

Jadilah malam itu, yang gelap gulita dan hanya diterangi cahaya lilin yang memang tersedia di lantai atas itu, ibuku bertindak sebagai perawat. Terutama bagi Siti yang menggigil dan terus diare, juga bagi si ibu yang hamil tua, yang juga mulai demam, juga bagi si bocah kecil dua tahun yang menangis minta susu. Malam yang menyentuh kalbu, menyayat hati dan menimbulkan kenangan tak terlupakan.

Dan kini? Siti, salah satu survivor itu, hadir di hadapan ibuku, setelah delapan tahun tragedi itu berlalu. Berlinang air mata ibuku menatapnya.

"Apa kabar kamu nak? Sehatkan? Sudah kelas berapa?" Tanya ibuku, Siti memilih duduk disampingnya.

"Alhamdulillah sehat nek. Siti udah kelas 2 SMU." Senyum hormat tersinggung di bibirnya, menjawab pertanyaan ibuku.

"Bu, kami datang untuk berterima kasih pada ibu. Allah menyelamatkan anak saya melalui rumah ibu, dan terima kasih banyak, ibu sudah merawat Siti malam itu dengan sangat baik. Sebenarnya kami sudah lama ingin kesini, tapi karena kami tidak lagi tinggal di Banda, dan saya selalu melaut, jadi ga sempat turun kesini bu."

Si ayah yang berbicara. Aku sungguh terharu mendengarnya. Kuyakin ibuku pun memiliki perasaan serupa. Sungguh kehadiran mereka sama sekali tak pernah kami duga. Bahkan tak pernah kami kira jika kemudian salah satu dari the survivor akan kembali ke rumah ini, untuk berterima kasih pada ibuku. Subhanallah.

"Subhanallah... Alhamdulillah pak, saya sungguh gembira bisa bertemu lagi dengan Siti. Sungguh sama sekali tidak menyangka akan bertemu kamu lagi nak. Nenek senang sekali mendapat kunjungan kamu dan Bapak. Oh ya, bagaimana halnya dengan ibu Siti pak?" Tanya ibuku kemudian.

"Hm.... sayangnya, Ibunya Siti tidak selamat Bu, kami menemukan jenazahnya di kampung sebelah. Gelombang membawanya hanyut sampai kesana." Lirih suara itu.

"Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun." Aku dan ibuku serempak melafazdkan kalimat itu.

"Dan sekarang Bapak dan Siti tinggal dimana Pak?" Tanya ibuku lagi.

"Kami di Aceh Selatan sekarang Bu, makanya jarang sekali turun ke Banda Aceh. Dan ini juga karena Siti telah menabung sekian lama, katanya uang tabungannya ingin dipakai untuk mengunjungi Ibu dan melihat rumah ini."

Masyaallah. Sungguh tersentak dan terharu hatiku. Juga aku yakin ibuku merasakan hal serupa. Seorang anak muda, anak seorang nelayan, yang mungkin untuk mencukupi kehidupan mereka sendiri pun sulit, tapi bertekad kuat untuk kembali ke rumah ini, untuk bertemu dengan pemilik rumah yang telah merawatnya kala itu. Subhanallah ya Allah, masih ada anak muda yang seperti ini, yang selalu mengingat jasa orang lain.

Ibuku terlihat begitu terharu dan sulit untuk berkomentar. Hingga kemudian suara lembutnya berujar,

"Aduh Siti, kenapa harus repot-repot kesini nak... Asal Siti dan Bapak sehat, kami sudah cukup bahagia. Terus di Banda tinggal dimana pak? Kapan datang?"

"Kami baru sampai bu, langsung kesini, itu pun meraba-raba dulu, karena Siti ga begitu ingat lagi. Yang dia ingat adalah dekat kantor Brimob, jadi bayangan saya, adalah disini. Cuma Siti juga ga ingat sama sekali nomor rumah ini, jadi hanya mengandalkan daya ingatnya saja."

"Iya nek, Siti ingatnya tiang rumah ini. Masih sama seperti dulu." Imbuh Siti riang.

"Kami berencana untuk langsung pulang malam ini bu, karena besok saya harus melaut lagi. Hari ini sengaja prei, untuk mengantar Siti. Sudah lama sekali dia ingin kesini."

Sungguh sebuah penjelasan yang semakin membuat kami terharu.

"Pak, apa ga bisa tinggal disini barang semalam? Jangan buru-buru kembali, kan capek di dalam perjalanan tadi malam pak? Menginaplah di tempat kami nanti malam, besok baru pulang kembali..." Bujuk ibuku tulus.

"Iya pak, lagian Siti kan juga ingin jalan-jalan di Banda kan? Wong udah sampe sini kok pak, masak secepat itu kembali?" Tambahku.

"Maaf bu, nak, inginnya begitu, tapi maklum lah, saya hanya nelayan, yang mengandalkan penghidupan dari hasil melaut. Kalo banyak prei nya, nanti kami ga makan, hehe."

Jawaban yang membuat kami bungkam. Tertohok rasanya hati ini mendengar perjuangan mereka. Aku sungguh terharu.

"Iya nek, kami pulang nanti malam saja. Ayah harus melaut, dan Siti kan harus sekolah besok. Juga Siti jualan kue-kue lho nek, dititipkan di kantin sekolah." Penjelasan yang bernada riang itu, semakin membuatku terenyuh. Betapa mereka menghadapi hidup ini dengan penuh perjuangan dan ikhlas.

Dan pertemuan yang sungguh tak pernah diduga oleh ibuku, apalagi olehku itu, berakhir setelah keduanya makan siang, istirahat sejenak dan kemudian mereka pamitan, ingin mengunjungi bekas kampung halaman mereka, baru malam harinya, singgah sebentar di rumah kami, dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kampung mereka yang baru.

Subhanallah... sungguh Tamu istimewa telah Engkau kirimkan kepada kami ya Allah. Bagaimanakah nasib ke 9 survivor lainnya? Wallahu Alam.




Jumat, 01 Maret 2013

Oops! Oh my God..

credit
Mobil yang sedang dikemudikan Fachry itu melaju kencang, sementara Dian yang duduk disampingnya ikutan melantunkan lagu yang sedang diperdengarkan oleh salah satu radio dengan hati riang. Fachry juga ikutan bersenandung, riang dan gembira. Hingga di sebuah tikungan jalan, keduanya menangkap prilaku aneh seorang pemuda seusia Fachry, yang sedang berjalan kencang seraya meloloskan satu-satunya penutup tubuh bagian bawah miliknya.

Mata keduanya terbelalak, bukan saja oleh perlakuan aneh dan nekad si pemuda, tapi karena tubuh dan wajah si pemuda itu terasa begitu familiar di hati dan mata mereka.

"Mas! Itu Indra! Indra itu mas!" Seru Dian, kaget, kendaraan yang sedang melaju kencang itu serta merta diperlambat Fachry, seraya memutar kepalanya untuk meyakinkan pemandangan yang baru saja disaksikan oleh matanya.

"Ya Allah, bener Di, itu Indra! Masyaallah, kenapa dia jadi seperti itu?"

Secepat kilat dipinggirkannya kendaraan, dan sigap keduanya turun. Mengejar si lelaki yang telah telanjang bulat dan berjalan cepat bak anak panah yang dilepas dari busur itu. Kencang sekali Indra berjalan, hingga mata Fachry dan Dian kehilangan jejak. Fachry mencoba menelefon kantor mereka, yang diterima oleh security unit, dan langsung menerima laporannya dan akan segera mengirimkan bantuan.

"Mas, kita naik mobil aja, balik arah, kencang banget si Indra jalannya, kayak dikejar setan!" Usul Dian ngos-ngosan. Selain sudah lama tak berjalan dengan cepat, jarak Indra juga sudah terentang jauh, sehingga akan mudah bagi mereka mengejarnya dengan mobil saja.

Kerumunan orang di dekat pos polisi itu memberi sinyal keberadaaan Indra. Pasti Indra yang sedang dikerumuni orang-orang itu, batin keduanya. Dan benar saja, terlihat Indra dengan wajah aneh, sedang berdiri, meronta minta dilepaskan. Dua orang polisi sedang membujuknya untuk duduk, dan mengajaknya bicara. Namun Indra berkeras minta dilepas, katanya dia ada janji dengan seorang wanita di mesjid raya, padahal dirinya adalah seorang non muslim. Ya ampun, kesurupan apa dia?

"Maaf Pak, ini teman kami, kalo boleh biar kami antar pulang saja." Ucap Dian, mendekati kedua polisi  yang langsung menarik napas lega.

"Oh, mba mengenalnya? Orang mana ini mba?"

"Namanya Indra pak, salah satu kolega kami di PT. Anugerah Alam Perkasa, di jalan M. Thamrin 26 Pak, kami sudah laporkan juga pada security unit, tentang hal ini pak, dan kebetulan kami yang paling dekat dengan lokasi, maka biar kami saja yang membawanya pulang."

Dian memperlihatkan name tag dirinya selaku staf di perusahaan yang disebutkan olehnya tadi, juga Fachry turut memperlihatkan name tagnya, membuat kedua polisi itu yakin dan dengan senang hati menyerahkan Indra pada mereka. Tak lama, sebuah Toyota Innova Silver berhenti, yang ternyata adalah dua orang security guard yang dikirim oleh kantor mereka untuk menjemput Indra.

Indra masih meronta, tak ingin masuk ke mobil dan inginnya jalan kaki saja. Katanya dia telah ditunggu di Mesjid Raya oleh seorang gadis.

"Ndra, coba lihat diri kamu, masak mau ketemu seorang gadis kamu pake sarung seperti ini? Malu donk... ayo kita pulang dulu ke rumah kamu, ganti pakaian, baru kamu ke Mesjid Raya.. yuk!" Bujuk Dian. Saat itu Indra telah dibekali selembar kain sarung oleh pemilik warung yang berada dekat pos polisi tadi.

"Tapi saya sudah ditunggu jeng!" Aneh sekali nada suara Indra. Dan panggilan Jeng itu, sungguh aneh. Indra belum pernah memanggilnya Jeng, biasanya cuma manggil Di saja. Dian menatap Fachry yang juga tak kalah herannya. Bergidik bulu kuduk Fachry menyadari pemikirannya sendiri. Jangan-jangan Indra dirasuki makhluk halus. Hiiii.

Selain itu, tubuh Indra mengeluarkan bau tak sedap yang aneh. Membuat Dian dan yang lainnya harus mengernyitkan hidung mereka berkali-kali. Akhirnya, setengah paksa, berhasil juga mereka menaikkan Indra ke dalam mobil. Di dalam mobil dia masih meronta dan meracau. Katanya gadis yang akan ditemuinya telah lama menunggu di pintu mesjid raya. Hiii.... Aneh.

Mereka tak membawa Indra pulang ke kost, melainkan melarikan Indra ke rumah sakit jiwa. Ya, Indra, yang suhu tubuhnya begitu panas dan berkeringat yang baunya sungguh tak sedap itu, terus saja meracau, hingga satu-satunya jalan keluar adalah membawanya ke rumah yang satu itu. Pada Indra sendiri, mereka tak menyebutkan akan ke rumah sakit jiwa, melainkan ke rumah pak Eddy, salah satu guard yang ikut di dalam mobil mereka. Untuk mengambil baju bagi Indra biar cepat bisa ke Mesjid Raya. Indra patuh tapi terus meracau.

"Ayo Pak Indra, masak udah sampai ke rumah saya Pak Indra ga mau mampir... ayo masuk dulu atuh pak!" Bujuk Pak Eddy berlagak sebagai tuan rumah. Akhirnya Indra menurut dan ikut berjalan ke pelataran rumah sakit dan masuk ke dalam. Yang telah ditunggu oleh beberapa petugas, yang telah diberitahu via sms saat mereka masih dalam perjalanan tadi.

"Ndra, kamu capek banget deh, ayo sambil menunggu pak Eddy ke dalam ambil berkas, kamu istirahat dulu deh disini... tuh bisa tiduran disitu tuh Ndra... kan kamu capek, tuh lihat, tubuh kamu aja keringatan begitu... " Dian begitu piawai membujuk dan mensugesti. Anehnya, Indra patuh, berjalan ke tempat tidur beroda yang telah disiapkan oleh petugas. Dan begitu lelaki itu membaringkan tubuhnya, petugas pun membawanya ke sebuah ruangan untuk diperiksa secara medis.

Ternyata, Indra tak hanya mengalami kondisi psikis yang memprihatinkan, tapi juga fisiknya sangat lemah. Hasil pemeriksaan darah yang dilakukan menunjukkan lelaki yang begitu down staminanya itu terkena typus, dan harus dipulihkan terlebih dahulu sebelum kemudian dilakukan pengobatan terhadap jiwanya yang sedikit terganggu. Penjelasan psikiater, bahwa kondisi seperti ini bisa menimpa seseorang yang sedang mengalami stress berat atau depresi, membuat Fachry mencabut dugaannya bahwa Indra kesurupan atau diganggu makhluk halus. Penjelasan medis, membuka wawasannya, bahwa banyak fikiran, stress, depresi dan kegagalan mengelola emosi dan kejiwaan bisa berakibat seseorang menjadi seperti orang gila. Ih, jangan sampai deh, batinnya.

"Mas Fachry, Mba Dian, makasih banget lho mba, mas, atas bantuan dan perhatiannya terhadap Indra. Kalo tidak mas temukan waktu itu, mungkin kami akan kehilangan Indra untuk entah sampai kapan. Kan sering tuh kita dengar, ada orang yang menjadi sakit jiwa, dan menghilang dari rumah dan hilang jejaknya karena tidak membawa identitas... Ih, ga terbayang deh gimana jadinya jika Mas Fachry dan mba Dian ga melihat Indra waktu itu." Kakak perempuan Indra, yang terbang hari itu juga ke Palangkaraya, dimana Indra berada, tak henti berterima kasih pada Dian dan Fachry, dan membuat keduanya sedikit jengah.  Bukankah itu gunanya sahabat, jadi tidak perlu lah berterima kasih sampai berulang kali...

"Sama-sama mba, jangan terlalu banyak makasihnya... hehe. Itu sudah kewajiban setiap orang, setiap sahabat. Kebetulan Tuhan menuntun Indra melalui kami. Jadi mari kita berdoa semoga Indra bisa kembali sehat seperti semula ya mba... ." Fachry menjawab dengan santun.

Indra masih terkulai di atas tempat tidur rumah sakit, dengan tangan yang berinfus dan pandangan setengah kosong. Masih perlu waktu dan penanganan baik secara fisik [medis] maupun psikis [jiwa] untuk mengembalikan lelaki ini ke Indra yang dulu. Yang penuh semangat dan ceria.

"Ngeri juga ya mas, kalo stress yang berlebihan seperti itu. Kayaknya Indra stress oleh masalah uang yang kebobolan itu deh." Dian mengutarakan pemikirannya, saat mereka kembali dari menjenguk Indra di suatu hari.

"He eh, awalnya mas kira, Indra kesambet atau kesurupan gitu deh. Ternyata karena terlalu banyak beban jiwa ya... Makanya kamu tuh jangan terlalu banyak pikiran.... jangan terlalu dipaksa, harus banyak rileks...dan harus sering-sering sama mas!"

Ujung kalimat Fachry langsung menimbulkan protes dari wanita cantik itu.

"Yeee.. apa hubungannya dengan sering-sering sama mas? Malah sering-sering sama mas bikin kita sering berantem. Emang mas senang bersamaku?"

"Ya senang banget donk... Di, can I say something?" Nada Fachry mulai serius. Dian mulai curiga dan deg-degan. Tatapannya mengiyakan dan menanti kelanjutan kalimat lelaki itu.

"Will you be mine, please? I love You."

Dian terpana. Apa? Fachry baru saja mengatakan cinta, di sebuah perjalanan pulang dari rumah sakit, di dalam mobil dan sungguh bukan dalam suasana romantis? Ooooh!

Namun, debar hati itu, semakin terasa, dan binar indah itu membuat wajahnya sumringah dan bibirnya tersenyum merekah. Fachry menggenggam jemari Dian dengan tangan kirinya, lembut. Dibawanya ke mulutnya dan dikecupnya dengan mesra.

"Will you babe?" Anehnya, kalimat itu jadi terdengar begitu romantis, tempat pernyataan yang hanyalah di dalam sebuah mobil, tak lagi terasa penting. Yang dirasakannya, hatinya begitu indah berbunga.

Anggukan dan tatapan lembut itu adalah jawaban IYA atas pertanyaan Fachry.

written by Alaika Abdullah
Bandung, 2 Maret 2013


Senin, 25 Februari 2013

Pangeran dari negeri Maya

credit
Lelaki bermata biru itu kini benar-benar hadir di hadapannya. Benar-benar nyata, dan sama sekali bukan mimpi. Friska bengong, terpana, karena memang dia tak pernah bermimpi untuk bertemu secara langsung dengannya, setelah dia menghujat keras lelaki itu serta ‘perang dingin’ yang kemudian melanda mereka. Bahkan pesan yang ditinggalkan lelaki berambut coklat itu di emailnya, bahwa dia akan berkunjung ke Surabaya, sama sekali tak ditanggapi serius olehnya. Bohong! Pasti bohong!

Bahkan jabatan tangan lelaki tampan kisaran 38 tahunan itu, yang terasa hangat di jemarinya, tetap membuatnya gamang. Tak percaya. This is not real!

“Alhamdulillah, finally I can see you in real life babe!”
Sapaan pertama si mata biru yang terdengar begitu teduh. Pancaran bahagia terdengar nyata di suara itu. Sama sekali tak menunjukkan indikasi bahwa mereka sedang saling melancarkan perang dingin selama dua bulan terakhir. Bahkan, terlihat jelas bahwa hujatan Friska yang begitu tajam terhadapnya, sama sekali tak melukai hatinya.

Friska hanya tersenyum, membiarkan tangannya dicium lembut dan takzim oleh Daniel, si lelaki berambut coklat bermata biru itu. Diajaknya lelaki itu menuju mobilnya, menghindarkan tatapan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.

“You know, I do happy to meet you babe. I am so glad. Finally I can meet you my love! Don’t you feel the same?” Kalimat pertama kala mobil yang dikemudikan Friska bergerak meninggalkan Juanda International airport.

“Hm… Ah….. I don’t know Dan. I don’t know how my feeling is after you broke my trust…”. Friska yang selalu transparan, memang tak mampu menyembunyikan rasa yang berkecamuk di hatinya. Juga jujur diakuinya, dia tak tau bagaimana rasa hatinya yang kini bergelora. Dia bingung dan masih belum percaya kenyataan ini.

Bahwa, akhirnya, lelaki yang sempat menyita seluruh perhatian, dan membuatnya menumpahkan seluruh kepercayaannya akan kesungguhan niat mereka, untuk saling mengenal, saling menjajaki dan akhirnya membawa hubungan mereka kearah yang lebih serius itu, ternyata hanya seorang penipu! Seorang scammer! Dia benci bagaimana laki-laki ini memperdayanya. Bagaimana laki-laki ini dengan suksesnya membangun karakter dirinya, dan menanamkannya ke dalam benak Friska. Bagaimana lelaki ini dengan sukses meraih hati dan kepercayaan Friska, bahwa Daniel memang serius dengan hubungan mereka. Bahwa Daniel mencintainya. Sehingga lamaran lelaki itu via chatting, yang tentu saja sebagai lamaran pembuka, diterimanya dengan sesungguh hati. Lalu asmara diantara mereka pun [terlihat] terjalin dengan mesra. Mereka merasa saling cocok satu sama lain. Saling Click! Setidaknya itulah yang dirasakan Friska.

Namun tak dipungkiri, di sisi lain hatinya, sebuah alarm peringatan sering kali menyala memperingatkannya. Untuk tidak terlalu gampang mempercayai seseorang dari dunia maya. Sebuah dunia antah berantah yang siapa pun bisa mengaku sebagai siapa pun yang diinginkannya. It is too good to be true! Alarmnya memperingatkan bahwa banyak sekali penipu alias scammer yang berkeliaran di negeri yang satu ini.

Itu juga yang sering membuatnya waspada, setiap Daniel bercerita tentang sesuatu yang menyangkut hadiah atau uang. Karena biasanya, modus operandi para scammer kan begitu, menjerat wanita atau pria [jika scammernya wanita], pura-pura kenalan, bersahabat baik, jatuh cinta, melamar, mengirim hadiah, lalu hadiahnya tertahan di bea cukai [custom] suatu negara, lalu si penerima paket atau parcel diminta untuk mengirimkan sejumlah uang. Dan karena keluguannya, si penerima mengirimkan uangnya, sejumlah yang diminta, lalu muncul lagi permintaan mengirimkan uang lanjutan dengan alasan lainnya, misalnya untuk mengeluarkan sertifikat terhadap isi paket yang ternyata adalah barang-barang berharga. Untung saja Friska banyak membaca kasus-kasus penipuan seperti ini, sehingga dia cepat ngeh saat Daniel mulai mengarah kesana.

"Babe, please forgive me. Apologize me. Aku sungguh jatuh cinta sama kamu. Memang, beberapa minggu aku mencoba untuk lupakan kamu. Membiarkan kamu berlalu, tapi aku ga bisa babe. I do fall in love with you. Maafkan aku!" Suara Daniel terdengar begitu penuh penyesalan. Mencoba meraih jemari tangan kiri Friska yang memegang transpeneling mobil.

Friska masih diam, mencoba melepaskan jemarinya dari remasan Daniel. Belum ingin menjawab. Karena dia masih belum tau persis rasa hatinya sendiri. Mobil yang dikemudikan Friska kini melaju ke halaman Novotel, meluncur ke depan lobby, lalu keduanya turun setelah Friska menyerahkan kunci mobil ke tangan petugas vallet. Daniel menurut saja, karena ini memang kunjungan pertama kalinya ke Indonesia, tepatnya di kota Surabaya. Dibiarkannya wanita cantik yang telah sungguh-sungguh menawan hatinya itu membawanya, kemanapun. Ke hotel mana pun.

Dan menatap wanita ini secara langsung, setelah selama ini hanya melihatnya via foto dan satu dua kali via webcam, sungguh membuatnya terkagum. Ternyata Friska jauh lebih cantik dibandingkan dengan foto maupun webcamnya. Dan wanita ini ternyata jauh lebih keras sifatnya serta lebih blak-blakan dari yang dikenalnya selama ini via internet! Wanita ini menyimpan magnet yang luar biasa baginya. Gila, dia, yang selama ini telah mempermainkan dan membuat puluhan wanita terjerembab dan kehilangan uang mereka, tapi kini malah bertekuk lutut oleh wanita yang gagal ditipunya! Gila!

Seorang room boy mengantarkan mereka ke kamar, dan meninggalkan mereka berdua setelah menyimpan tas koper kecil milik Daniel di dekat bed table. Friska berdiri, agak gugup. Selain belum menemukan rasa yang kini bersemayam di hatinya, juga sedikit kuatir pada lelaki bermata biru yang tampan ini. Diakuinya, Daniel memang setampan yang ada di foto, juga di cam. Dalam hal ini, lelaki ini  tidak berbohong, dia tidak menggunakan foto orang lain seperti yang biasa scammer gunakan. Namun untuk hal lainnya, Friska sama sekali tak mempercayai lelaki ini lagi.

Daniel tau situasi yang melanda hati Friska. Maka dengan sopan dipersilahkannya wanita itu duduk. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk wanita itu. Ada sebuncah kerinduan yang mengaduk hatinya, setelah perang dingin memisahkan mereka, menjauhkan mereka dari saling berkomunikasi. Rindu itu malah berkembang subur dan sulit sekali diredam. Ditekannya rindu yang menggebu itu agar Friska tak menjauh.

"Babe..."
Panggilan itu memang telah dimulai sejak awal perkenalan mereka. Daniel belum pernah sekalipun menyebutkan nama Friska. Baginya, 'babe' adalah panggilan yang sangat pantas untuk wanita itu. Walau sebelumnya, panggilan itu juga dia bubuhkan untuk wanita-wanita lain yang menjadi korban penipuannya. Namun untuk Friska, panggilan ini terasa keluar jauh dari relung hatinya. Tak ingin dia menggantinya.

Friska hanya menoleh. Kini wanita itu telah duduk sopan di sofa. Memperhatikan Daniel yang memanggilnya lembut. Lelaki itu mendekat. Mencoba duduk di sofa sebelahnya.

"Aku salah besar sama kamu babe, tapi, pleaseeeee.... maafkan aku. Aku serius mencintai kamu."

Justru kalimat ini yang menggelegakkan emosi Friska. Wanita itu bangkit. Berdiri di hadapan lelaki jangkung yang duduk sopan di hadapannya.

"Kamu tidak mencintaiku Daniel! Kamu penipu. Scammer! Kamu pembohong besar!" Teriaknya. Wajahnya garang. Daniel malah takjub menatapnya. Tanpa sadar, dia ikutan bangkit dan berdiri berhadapan dengan wanita itu. Tanpa sadar pula, diraihnya jemari Friska.

"Babe, I told you, I do sorry. I am so sorry, please, forgive me. I love you so much!"

Friska tak mempan oleh kalimat itu. Disentaknya dengan kasar tangan Daniel yang mencoba mencium lembut kedua tangannya.

"Cinta? Kamu ga akan menipu aku jika memang mencintaiku, ga akan memperdaya aku seperti itu. Kamu membuat aku seperti wanita bodoh! Kamu membuat aku terhina!" Jeritnya.

Daniel tidak membantah, dengan sabar dan prihatin, direngkuhnya kedua bahu Friska. Mencoba menenangkannya. Rasa kasih yang begitu tulus di lubuk hatinya, mengisyaratkannya untuk mengambil tindakan pengamanan. Dibawanya wanita itu ke dalam pelukannya, perlahan dan lembut sekali.

"Aku tau kamu marah besar padaku. Aku pasrah, marahlah, luapkan emosi kamu babe, tapi maafkan aku setelahnya." Bisiknya, perlahan sekali.

Friska tak hendak menikmati pelukan itu. Dengan kedua tangannya didorongnya dada bidang lelaki itu.

"Stay away from me! Bertindaklah sopan, jangan mencoba memelukku. Keep your attitude!"

Tegas sekali suara itu, jari telunjuknya yang menunjuk jelas ke wajah Daniel, membuat laki-laki itu terkesiap. Membuatnya serasa tertampar. Tapi lagi-lagi hatinya bukannya merasa tersinggung oleh amarah dan sikap tegas Friska. Daniel malah merasa makin takjub. Tak sampai sejauh ini bayangannya terhadap Friska. Di bayangannya, walau memang terkesan tegas dan blak-blakan, namun Friska tetaplah seorang wanita, yang dengan sentuhan lembut tentu akan luluh. Namun kali ini, sepertinya dia berhadapan dengan seekor singa padang pasir. Garang, bertatapan tajam.

"Dengar Daniel! Aku masih marah sama kamu. Kamu tunggu dulu disini, aku mau ke tempat shalat sebentar, setelah itu kita keluar, makan siang, ok?"

Daniel mengangguk dan tetap mengarahkan tatapannya pada punggung wanita itu yang menghilang di balik pintu. Oh my God! Dirinya merasa benar-benar kena batunya. Kali ini dia terjerembab, terkena karma. Menghilang dan menghapus jejak serta melupakan Friska setelah dia ketahuan sebagai scammer oleh wanita itu, hanya mampu dilakukannya tiga minggu. Setelah itu, hati nuraninya menjerit minta kembali berhubungan dengan wanita itu. Sungguh sebuah rasa yang aneh dan menyiksa. Apalagi mendapati Friska yang sama sekali tak tertarik untuk berhubungan lagi dengannya, bahkan untuk menjadi sahabatnya saja, sekalipun. Tapi untunglah, kenekadannya untuk berkunjung ke tanah air Friska, membuat wanita itu luluh, setidaknya bersedia untuk menemui dan menjemputnya.

***

"Kamu ga perlu bawakan ini untukku Dan. You don't have to! Kan sayang uang kamu!" 

Friska berusaha menolak tegas pemberian Daniel. Sebuah Ipad 4 di dalam kotaknya yang masih bersegel, serta sebuah Iphone 5. Benda mahal itulah dulu yang sempat menjadi 'isi' di dalam parcel yang kabarnya dikirimkan Daniel untuknya. Kala laki-laki itu melancarkan aksi scam nya. Dan kini, mungkin untuk menebus rasa bersalahnya, Daniel mewujudkannya ke alam nyata.

"Aku tulus membelinya untuk kamu babe, aku pernah berjanji akan mengirimkannya untukmu kan? and here I am, keeping my promises!" Daniel memaksanya, meletakkan dua kotak berisi gadget mahal itu di atas meja, karena Friska menolak untuk menerima di tangannya. 

"Itu untuk kamu babe. Jangan takut, aku gunakan uang halal untuk itu. Dan aku janji, aku akan berubah. I quit from that dirty work! I did!" Sebuah pengakuan yang menggelitik hati Friska dan mencuatkan sebentuk senyum di bibirnya. Daniel melihat senyum itu. 

"So, apa yang akan kamu lakukan untuk menopang hidup kamu? How will you survive? What will you do to support your life?" Biasanya Friska selalu berusaha menjaga etika, namun berhadapan dengan Daniel yang terlanjur dicatat sebagai penipu, scammer, oleh hatinya, membuat dirinya tak lagi menerapkan etika. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir indahnya ibarat anak panah dan pisau tajam. Namun, tampaknya sama sekali tak mengiris apalagi melukai Daniel. Lelaki itu terlihat sabar menghadapi Friska. 

"Ok, terima dulu barang-barang ini babe, and let me talk, let me explain every thing about me, ok?" 

Friska tak bereaksi.

"Ok babe? Say Yes, please!" Bujuknya dengan mimik memelas namun senyum menawan yang ditampilkan bibirnya berhasil menularkan kehangatan dan rasa jenaka di hati Friska. Wanita itu tersenyum, merekah. Daniel gembira sekali melihat senyum itu. 

"Say Yes babe then I will start." Bujuknya, dengan senyum dan tatapan mata menawan.

"Ok, ok, Yes, go on, talk honestly about your self!" Perintah Friska, berlagak galak.

Dan Daniel memang telah menyiapkan segalanya. Lelaki tampan itu terlihat bijak dan sangat meyakinkan, menguraikan semua strategic plannya ke depan. Bahwa selama ini dia memang seorang arsitek, namun disela tugas-tugasnya, dia terjerumus ke dunia maya dan menemukan kesenangan tersendiri dengan menjadi scammer. Ada rasa exciting tersendiri di hatinya setiap dia berhasil menjatuhkan korban. Seakan ajang itu adalah ajang untuk melatih kemampuan lain yang dimilikinya. Apalagi uang yang dia hasilkan dari perbuatan itu, lumayan banyak. Jadi tanpa disadari, dia begitu terlena dan senang dengan peluang baru itu, bahkan sama sekali tak terfikirkan olehnya betapa menderita dan besarnya kerugian yang menimpa wanita-wanita yang dijadikan korbannya. 

Intonasi suara Daniel, makin terdengar menurun, lirih. Jika tadi dia memulainya dengan nada dan volume suara yang normal, namun seiring dengan content pembicaraannya, suara itu menjadi kian lirih, sedih. Dan akhirnya lelaki itu malah menitikkan air mata penyesalan. Suaranya mengandung tangis. 
Friska menyodorkan tissue yang diraihnya tak jauh di atas meja. 

Daniel memencet hidungnya dengan tissue yang diberikan Friska, berusaha mengeluarkan cairan yang tiba-tiba saja mengalir di hidung mancungnya itu. Sebongkah rasa menyesal tiba-tiba saja menyesaki dadanya. Sungguh sebuah rasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. 

"Aku sungguh menyesal melakukan semua itu. Aku sama sekali tak mempertimbangkan kerugian yang mereka derita. Aku hanya menikmati semua itu, bagai seorang yang sakit jiwa." Kalimat terakhir itu justru membuat dirinya sendiri tersentak.

"Babe, apa menurutmu aku sakit jiwa? Oh my God!" Lanjutnya cepat, menatap Friska yang terbengong sendiri. Wajah tampan itu, ekspressi yang muncul disana, pengakuannya, kejujurannya, semua itu membuat Friska terpana. Lelaki dari dunia maya itu, yang sempat mencuri hatinya, kini ada di hadapannya. Oh, it is like a dream, but it is not!

"Apa aku sakit jiwa babe?" Ulang Daniel lagi. Friska terperangah. Tersadar.

"Hm... kamu sendiri, setelah menyadari semua ini, apa yang akan kamu lakukan? Sanggup ga berhenti dari itu?" Tanyanya bak seorang psikolog, padahal dia hanya seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi. 

"I told you babe, I quit already. I stopped it after failed on you, dan ga ingin ulangi lagi." Tegas sekali jawaban Daniel.

Friska tersenyum. "Berarti kamu udah ga sakit jiwa lagi donk. Kamu sudah sembuh Dan."

Daniel tersenyum, ingin sekali dia meraih jemari Friska, namun takut dibentak lagi oleh wanita itu. 

"Babe, I miss your babe word. Please don't call me Dan, or Daniel, but call me babe, as you called me before, please...". Bujuknya memelas. Mata biru itu begitu mempesona. Friska hanya tersenyum. Kekakuan hatinya mencair. 

"Let's see, how long the 'babe' word will come back, ok?" 

Jawabnya dengan senyum menggoda. Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah rasa bahagia tiba-tiba menyeruak, berpendar. Hidup ini begitu unpredictable... Cara Tuhan menjawab doa setiap hambaNya memang sungguh tidak terduga. Siapa sangka jika ternyata, pangeran dari dunia maya itu, kini sungguh nyata kehadirannya. 

written by Alaika Abdullah, 
Bandung, 26 February 2013

Kamis, 21 Februari 2013

Cukup Sudah

credit
Perang sengit itu berlangsung cepat. Hanya butuh waktu 4 detik bagi Rifka untuk menghapus data penting perselingkuhannya yang direkam Lila tadi malam.
Lega hatinya telah memusnahkan file berbahaya itu, dan kini dibiarkannya Lila mengamuk, memukuli tubuhnya bertubi-tubi dengan kepalan tangan mungilnya. Dibiarkannya wanita itu menjerit, menangis dan menyerapahinya. Tak hendak dia melawan. Karena semua memang salahnya.

Di sisi lain kamar hotel itu, di atas tempat tidur empuk, seorang wanita seksi, yang sebenarnya tak begitu cantik, terusik oleh keberisikan itu. Membuka matanya dan menggeliat manja.

"Aa, berisik banget sih!" Teriaknya manja, seraya menjangkau BBnya dari atas bed table dan dengan santai mulai bermain dengannya. Bersikap seolah tak terganggu oleh suara berisik yang ditimbulkan oleh pasangan suami istri yang tadinya berebut HP itu.

Sedikit pun dia tak melirik lagi konon mencampuri urusan mereka. Hatinya puas, bahkan bersorak gempita karena dirinyalah yang dipilih Rifka. Lelaki itu bahkan tak ikut pulang bersama Lila tadi malam, setelah wanita itu memergoki mereka check in di kamar itu. Rifka memang benar-benar jatuh hati padanya. Dan itu adalah tiket kemenangan baginya. Yes! Lelaki dengan masa depan cemerlang itu kini akan menjadi miliknya.

Lila merasa lelah, amarah itu kini menjelma jadi kesedihan tiada tara. Andai saja pagi ini dia tak kembali kesini, file itu tak akan terhapus. Tapi amarah yang menggelegak karena sampai pagi Rifka tak juga pulang, malah memilih untuk tetap menginap disitu bersama selingkuhannya, adalah pemicu yang kian membuat emosinya menggelegak. Maka selesai shalat shubuh, dia langsung meluncur, kembali dengan ketenangan yang dia coba kumpulkan sekuat tenaga.

Ketenangan yang setengah mati harus dia perjuangkan untuk tetap utuh, menyaksikan si wanita yang masih tidur pulas dalam balutan selimut hotel yang putih lembut, menyisakan penampakan dua tali lingerie di bahunya yang seksi. Mual rasa perut Lila menyaksikan pemandangan itu. Sementara Rifka, yang entah kemana terbang rasa cintanya pada Lila, membuka pintu kamar tanpa ekspressi, menyambut dan mempersilahkan Lila masuk. Laki-laki itu hanya mengenakan short pant yang mungkin disambar dan dipakainya secara buru-buru untuk membukakan pintu.

Malah kemudian Lila, istri sahnya Rifka, yang jadi salah tingkah. Hatinya gamang. Dunia sudah terbalik. Kenapa justru aku yang bagai pecundang? Kenapa justru aku yang bagai tersangka? Sementara mereka enak-enak saja berselingkuh dan bermesraan di kamar ini? Maka,....

emosi pun membuncah di dadanya, ubun-ubunnya terasa panas. Serasa ada yang akan meledak di kepalanya. Diletakkannya tasnya dan berlari dia ke kamar mandi, saat itulah Rifka bertindak cepat. Membuka tas Lila dan mengambil BBnya. Bergerak cepat menghapus file rekaman Lila tadi malam. Dan terjadilah perang sengit itu kala Lila keluar dari kamar mandi dan mendapati Rifka sedang mengutak atik BBnya.

Emosi yang membuncah membuatnya lupa, bahwa sebenarnya file itu masih ada copynya di beberapa orang terdekat kepercayaannya, termasuk saudara kembarnya Rifka yang tadi malam menerima laporan darinya, tentang perselingkuhan Rifka yang ditangkap langsung oleh Lila. Jadi seharusnya dia bersikap tenang, tak perlu mengamuk seperti itu. Tapi wanita mana yang tahan? Jika mendapati suami bertingkah seperti ini? Bahkan tak memiliki rasa bersalah apalagi menunjukkan rasa penyesalannya kala tertangkap sedang berbuat serong? Siapa yang tak akan mengamuk?

Lila sungguh merasa dirinya jadi orang dungu. Terlebih karena sikap Rifka yang sama sekali tak melawan juga tak menunjukkan rasa bersalah, serta sikap si perempuan selingkuhan yang terlihat cuek beibeh saja akan situasi itu. Harusnya si perempuan ini terlihat ketakutan, karena Lila, istri sah Rifka datang dan memergoki mereka. Tapi ini tidak, malah dengan santai bisa main BBan pula.

Ya Allah, apa yang harus aku perbuat? Kenapa jadi seperti ini? Jeritnya dalam hati. Lila memang pendiam, dan jarang sekali berhadapan dengan konflik, makanya menghadapi hal sedramatis ini, dia kehilangan akal. Lebih banyak bungkam. Dan kini? Malah berdiri termangu. Namun akal sehatnya segera memperingatkannya untuk segera beranjak pergi sebelum Rifka memintanya tinggalkan kamar ini. Namun dasar istri yang baik, sebelum beranjak, sempat-sempatnya wanita itu membuka tasnya, mengeluarkan baju batik untuk Rifka ke kantor. Jumat adalah saatnya berbaju batik. Halah, Lilaaaa!

Peristiwa itu berlangsung cepat. Lila bagaikan mendapat bisikan dari langit. Laporannya ke atasan Rifka diterima dan diproses dengan bijaksana. Walau bukan kantor pemerintah, namun prilaku berselingkuh, dengan teman sekantor pula, jelas berefek tak baik bagi image perusahaan jika dibiarkan berlanjut tanpa tindakan atau teguran dari atasannya.

Rifka dimutasi ke daerah lain, dan si perempuan tidak diperpanjang kontraknya yang memang berakhir dua minggu ke depan. Lila sendiri memilih untuk pulang ke kota kelahirannya, membawa kandungannya yang telah memasuki usia tujuh bulan. Tak ada pilihan lain, karena Rifka tak lagi menjadi Rifka yang dia kenal. Rifka yang dipacarinya selama 5 tahun sebelum lelaki itu mempersunting dan membawanya ke pelaminan. Lila terpaksa menyingkir sementara waktu, karena prioritas utamanya adalah menjaga kandungan dan melahirkan janin yang sedang dikandungnya, pada waktunya nanti. Ditekannya kesedihan yang melanda agar ayah bundanya tak mengetahui kemelut yang sedang melanda rumah tangganya. Ya, Lila menyembunyikan berita buruk itu dari kedua orang tuanya, tak ingin membebani mereka dengan kesedihan ini. Sulit memang, tapi itulah yang dilakukannya.

Tak mudah menghadapi semua ini, sendirian, namun apa lagi yang harus dilakukannya selain cooling down dulu sejenak? Lila membuat prioritas untuk langkah-langkah yang harus ditempuhnya kelak, setelah bayinya lahir. Mencoba menerima Rifka kembali masuk dalam prioritas utama, dengan pertimbangan bayinya butuh figur ayah untuk bertumbuh damai dan bahagia. 

Namun prioritas ini melenceng jauh, kala mendapati Rifka yang semakin larut dan tak terlepaskan dari perempuan selingkuhannya. Waktu yang berlalu, dan diibuangnya Rifka ke kota lain, tak membuat hubungan keduanya redam. Hingga kemudian, Lila menemukan bisikan batin yang luar biasa kuatnya, mendengarkan kata hatinya sendiri, yang begitu jujur untuk melayangkan gugatan cerai dari Rifka. Apalagi yang ingin dia pertahankan? Pengikat kasih mereka, si kembar yang lahir dari rahimnya, segera dipanggil Yang Kuasa tak lama setelah dia lahirkan. Kesedihan yang melanda memang membuatnya sengsara, namun bisikan hatinya, kuat mengatakan bahwa ini adalah rencana Ilahi agar dirinya tak terbebani. Rifka tak akan kembali, makanya Tuhan mengambil putri-putri yang baru dia lahirkan agar Lila bisa melanjutkan kehidupannya. THE SHOW MUST GO ON! Kehidupannya harus berlanjut.



Postingan ini didedikasikan pada seorang sahabat baik, 
dikemas dalam fiksi dan semoga  mewakili cuplikan kisah yang sesungguhnya. 
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Alam Nasyroh: 5)

written by Alaika Abdullah
Bandung , 21 February 2013

Selasa, 19 Februari 2013

Malam Pertama

Credit

“Maaf Din, aku ga bisa… aku ga mampu…” Suara Benny terdengar gemetar, antara malu dan sedih. Dihadapannya, di atas tempat tidur empuk itu, istrinya tergolek, tanpa busana, sama seperti dirinya. Sebuah malam pertama yang menyedihkan.

Dinar mencoba memaklumi dengan kebesaran jiwa dan keluasan cinta yang dimilikinya untuk Benny, kekasih hati yang sejak tadi siang telah resmi menjadi suaminya. Alasan yang dikatakan Benny cukup masuk akal, Benny nervous, karena ini adalah yang pertama untuk mereka berdua.

Namun di malam-malam berikutnya, hal yang sama terulang kembali. Benny lagi lagi tak mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tak mampu lagi mencari alasan yang masuk akal, akhirnya sebuah kejujuran pun menghampar nyata. Dan langsung membuat Dinar shock, pingsan. Benny ternyata telah berubah haluan. Laki-laki yang dulu begitu jantan, kini telah menjadi seorang gay dan menjadi kekasih Michael, lelaki 50an tahun yang adalah atasannya, si pemilik rumah mode dan perancang mode ternama di Kota Jakarta ini. Yang telah menuntunnya menjadi seorang laki-laki pecinta sesama jenisnya. Gay. Oh My God!

Namun rasa cinta yang begitu besar di hati Dinar, mampu membesarkan jiwa dan meluaskan hati wanita itu, untuk terus menerima Benny sebagai suaminya, dan bersandiwara, menyembunyikan kenyataan itu dari siapa pun, termasuk dari Jay, kakak kandungnya, yang adalah juga sahabat Benny.

Benny pun lega, bahagia karena tak ada lagi kebohongan diantara mereka, juga lega karena kini dia bisa dengan lebih bebas melayani Michael, sang kekasih hatinya, yang telah mengubahnya menjadi seorang gay, yang juga telah mencukupi kebutuhan materinya selama ini, juga telah meng-upgrade dirinya yang dulunya adalah seorang laki-laki kampung yang miskin, menjadi seorang yang handal dalam membantu Michael mengurus usahanya.

Dinar yang terpuruk dalam kekecewaan, yang lelah menyabarkan diri, yang membujuk hatinya sendiri untuk cukup puas dengan usaha 'foreplay' luar biasa yang disajikan Benny untuk memuaskan istrinya, akhirnya mendapatkan seorang sahabat baik yang penuh perhatian. Maya, tetangga sebelahnya. Seorang wanita yang hangat dan penuh perhatian. Yang setia menemani hari-harinya yang sepi. Yang menjadi tempat curahan hatinya. Yang diterimanya dengan hati terbuka tanpa curiga. Curiga apa coba, toh Maya itu seorang wanita, jadi ga akan macam-macamlah.

Hingga suatu hari, kala Dinar membuka tabir rumah tangganya dengan Benny. Pelukan hangat Maya berubah menjadi pelukan mesra seorang kekasih yang kasmaran. Dinar tersentak, namun kepiawaian Maya menyentuh hati dan tubuhnya yang haus belaian, menghipnotisnya untuk menikmati saja perlakuan wanita itu. Tanpa sadar, dirinya sedang ditarik ke suatu lembah menyesatkan. Ke sebuah hubungan terlarang. Maya sedang menariknya menjadi seorang lesbian!


Penggalan Cerita di atas ditulis ulang dengan gaya khas Alaika Abdullah, 
Penasaran akan cerita lengkapnya? Baca di Novel Gaya Gay, karya Dann Julian. atau disini



Senin, 18 Februari 2013

Rasa itu

credit
Dear Maya,

Maafkan jika mas mengejutkan kamu dengan email ini ya May, but I can’t wait anymore. Mas ga bisa menahan rasa ini jauh lebih lama.
Terserah Maya mau percaya atau tidak pada mas, tapi demi Allah, Mas masih cinta banget sama kamu May! Seperti dulu, saat kita masih pacaran. Dan mas tau persis, bahwa selama ini Maya membohongi mas, bahwa Maya bersuami. Mas tau persis bahwa Maya sudah bercerai dengannya sejak dua tahun lalu, benerkan May?

May, will you let me fill your heart back? Would you please accept me to be part in your life? Will you marry me May?

Lots of love,
Firman

Kalimat-kalimat itu berjejer rapi di layar BBnya, dan sungguh membuat wanita itu tersentak. Sial! Darimana Firman bisa tau tentang statusnya? Padahal informasi ini disimpannya rapat-rapat selama ini dari lelaki itu. Pasti ada teman yang membocorkannya. Kurang asem! Tapi bukan itu yang utama. Ada sebuah rasa lain yang tiba-tiba saja menyeruak dari relung hatinya. Sebuah rasa yang teramat menyakitkan! Ya Allah, rasa itu kambuh lagi. Sakit! Mengiris relung hatinya.

Notifikasi BBM kini berbunyi. Refleks hatinya menebak. Pasti dia. Dan benar saja.

May, maaf mas terpaksa kirim email, udah baca kan?

May, please, answer me masuk lagi BM baru karena tiga menit Maya tak menjawab.

Sudah terima mas, maaf saya ngantuk banget, mau tidur duluan yaaa…. 

Balasnya, dan langsung meng-off kan hape-nya. Suatu hal yang jarang-jarang sekali dilakukannya.

Dan dua hari berlalu dalam kebekuan, karena Maya sama sekali tak ingin meresponse BM maupun email Firman. Dan hari ini, entah angin apa yang membawanya hadir di bandara ini, mengiyakan begitu saja kala Firman memintanya untuk menjemput kedatangannya.

“Thanks May, senang banget bisa ketemu kamu lagi!” Firman hanya berhasil menjabat erat tangan wanita itu, padahal begitu ingin dia mencium pipi kiri dan kanan mantan kekasih masa lalu itu.

“Sama-sama mas! Angin apa yang membawamu kesini?” Sebuah umpan empuk yang salah, karena membuat Firman dengan gampang bisa menjawabnya.

“Angin rindu meniupku kemari May. Rindu banget sama kamu!”

Sial, Maya salah mengajukan pertanyaan!

“Kita makan siang dulu yuk May, mas laper nih!”

Dan Maya hanya bisa mengiyakan. Obrolan hangat tak terhindarkan, walau Maya masih berusaha menjaga jarak. Rasa sakit yang kian menjadi di hatinya, sungguh menyiksa. Dan Firman menangkap itu.

“May, mas tau kamu pasti menyimpan dendam sama mas. Tapi maukah kamu memaafkan mas? Mas ga punya pilihan lain ketika itu. Mas lakukan itu demi ibu mas, bukan karena cinta pada Lastri. Mas masih menyimpan cinta yang sama terhadap kamu. I swear!” 

Kalimat itu menghiasi candle light dinner yang begitu romantis.

Maya tidak menjawab, juga tak menemukan nuansa indah yang hadir di hatinya oleh romantisnya suasana. Tidak, tidak ada suasana indah dihatinya. Ada yang salahkah dengan dirinya? Dicobanya mencari, sedikit saja, namun tak secuil pun keindahan di hatinya mendengar kalimat Firman. Yang ada hanya cemoohan yang muncul dari lubuk hatinya. Cibiran terhadap Firman. Oh my God!

“May, mas paham jika kamu masih sakit hati pada mas. Kamu ga harus menjawab sekarang kok, mas akan tunggu dengan sabar. Ok? Yuk kita makan yuk!”

Dan Firman memang berhasil menciptakan nuansa persahabatan yang indah, obrolan hangat pun tercipta, namun sepertinya tidak untuk celah cinta. Hingga beberapa minggu sesudahnya, ,sebuah email dari Maya hadir untuknya.

Dear Mas Firman,
This email is to reply your email below. Maafkan jika aku tak berhasil membuka pintu hatiku kembali untukmu. Aku sudah coba menggali kembali kenangan-kenangan indah kita dahulu, mencoba membangun kembali rasa cinta yang pernah begitu besar hadir di hati ini, namun aku gagal total mas! Aku menguburnya terlalu dalam hingga tak lagi menemukan jejaknya. Maafkan aku ya mas, yang tak mampu mencintaimu kembali. 

Email ini juga untuk memberitahu mas, bahwa pintu hatiku kini malah terbuka untuk seorang pria asing yang baru saja aku kenal. Doakan kami ya mas, agar dapat terus saling mencinta. ☺
Untukmu, aku terus berdoa agar dirimu mendapatkan penggantinya Lastri. Wishing you all the best Mas Firman! Keep the spirit!

Hug and Kiss
Maya.

Maya kini sukses membuatnya terjerembab, dan merasakan hal yang sama yang pernah dia berikan pada wanita itu di masa lalu.