cerita sebelumnya baca
disini
Badai larut dalam doa bersama yang dipimpin oleh pak ustadz, yang belakangan diketahui sebagai ayahnya almarhumah Lusina. Setulus hati, lelaki muda itu turut mengamini.
Sebuah rasa kehilangan yang teramat sangat penuhi relung hatinya. Bahkan membuat dirinya sendiri heran, kok bisa? Pertemuan yang begitu singkat, bahkan tak sempat saling bertegur sapa, tapi kepergian wanita yang hanya dikenalnya melalui status-status di FB dan instagram itu, bisa hadirkan sebuah rasa kehilangan yang begitu luar biasa. Yang dia sendiri sulit untuk melukiskannya.
Entah sejak kapan Badai mengidap kebiasaan itu. Yang jelas dia begitu getol mengintip status wanita yang sama sekali tak dikenalnya secara langsung itu. Entah sejak kapan pula nama itu ada di friend list fesbuk dan instagramnya. Dia sama sekali tak ingat. Yang dia tahu adalah bahwa status-status wanita itu selalu mampu menimbulkan rasa penasaran di hatinya dan kian membuatnya geregetan.
klik disini untuk membaca kisah sebelumnya..
 |
| pict grabbed from here |
Seminggu berlalu setelah tamparan itu. Marissa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan pagi, menyediakan pakaian yang sebaiknya dipakai Anton untuk ke kantor, di atas tempat tidur kamar sebelah dimana Anton terpaksa mengungsi sementara waktu.
Lelaki galak itu, seperti shock oleh tamparan balasan dari istrinya. Sama sekali tak menduga jika sang istri yang lemah lembut itu, punya kekuatan tersembunyi, yang sungguh membuatnya terbang semangat karena kaget..
 |
| Pict grabbed from here |
"Kamu itu kenapa sih? bawaan marah mulu?" Wanita itu akhirnya menggeram. Emosi yang tadi masih di level terbawah, kini mulai meninggi. Lelaki ini telah benar-benar membuat amarahnya menggelegak. Dikiranye siape die? batinnya, baru seminggu jadi suaminya eh sudah sok galak. Marah-marah tak menentu. Menamparnya pula!
Pacaran dengannya selama tujuh bulan, tak membuatnya mengenal karakter asli sang suami. Beginikah aslinya Anton? Duh!
Perang sengit itu berlangsung cepat. Hanya butuh waktu 4 detik bagi Rifka untuk menghapus data penting perselingkuhannya yang direkam Lila tadi malam.
Lega hatinya telah memusnahkan file berbahaya itu, dan kini dibiarkannya Lila mengamuk, memukuli tubuhnya bertubi-tubi dengan kepalan tangan mungilnya. Dibiarkannya wanita itu menjerit, menangis dan menyerapahinya. Tak hendak dia melawan. Karena semua memang salahnya.
Nada 'hampa hatiku' nya pasha ungu bergema meriah di hape Winda. Membuat beberapa rekan kerjanya usil meliukkan badan mengikuti irama itu. Disambut tawa meriah teman-teman lain tentunya. Winda hanya tertawa sambil menjawab panggilan sahabatnya, Rika.
"Win, can we meet now? I can't stand anymore..., " suara diseberang sana penuh isak tangis. Winda tak lagi kaget mendengarnya. Hal ini sudah kerab terjadi. Paling-paling berantem lagi sama suaminya. Dan Winda, tempat curhat kepercayaan Rika, saat ini dibutuhkan untuk menampung keluh kesah sang sahabat, walau setelah itu, nasehat/input positif darinya hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan saja bagi sahabat karib itu. ……
Paragraf sebelumnya...
Abdullah Sulaiman
…di dalam kereta api,
Perjalanan Solo
- Jakarta, Rabu, 11 April 2012, 17.11 wib.
Sebuah
nomor asing memanggil di layar HPnya. Lelaki 68-an tahun itu menatap layar
monitor dengan penuh tanda tanya. Nomor tak dikenal, siapa ya? batinnya seraya menjawab
telephone.
“Assalammualaikum Yah… ini
Alaika… pake nomor XL”.
“Waalaikumsalam Wa rahmatullah…
apa kabar nak?”
“Yah… barusan terjadi gempa
dasyat, 8,9 SR. Al sedang di kantor gubernur tadi dan Umi sendirian di rumah.
Al udah sempat sampe rumah tadi tapi Umi ga ada lagi di rumah. Al udah ke
menasah tapi Umi juga ga ada disana. Coba ayah telephone Umi, Al telephone ga
bisa masuk dari tadi. Telkomsel lumpuh disini. Ini pake XL tapi tetap aja ga
bisa hubungi Umi…”