Rumah Fiksi Alaika Abdullah
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
 Dokter bilang ibunya terkena depresi. Surat cinta ini kah penyebab semua ini? 

Courtesy Alaika Abdullah 
Siapa sebenarnya si Kapten Bhirawa ini? Kekasih masa lalu? Jauh sebelum ayah menikahi ibu? Atau selingkuhan ibu? Astargfirullah!  Tersadar akan buruk sangkanya, gadis belia itu ber-istirgfar beberapa kali, namun tak urung, misteri surat itu kian mendorong hatinya untuk menyelidiki. Untungnya dia menemukan surat ini di dalam laci meja rias ibunya. Telah remuk dengan amplop yang sudah amburadul. Bermodalkan alamat dan nomor telefon yang tertera di sana, mulailah dia menginterogasi dan berinteraksi dengan sang kapten Bhirawa yang ternyata berdomisili di kota Surabaya. Dan hasilnya? Kini ibu tiri yang dia sayangi itu terbelalak dan hampir saja meledak. "Farida? Untuk apa lelaki itu datang kesini? Beraninya kamu menerimanya. Bawa dia keluar! Pergi dari sini!" 

Intonasi suara Marni sungguh melengking. Amarahnya terlihat nyata. Gemetar wanita itu meraih kursi rodanya, bersusah payah untuk turun dari ranjang dan pindah ke kursi roda yang telah menjadi teman setianya sekian tahun sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang disebabkan oleh wanita simpanan Arief, yang mendorongnya dari anak tangga paling tinggi rumah mereka. Dan akibatnya adalah cedera tulang ekor yang berujung pada kelumpuhan kedua kakinya. Lalu mampukah dengan gampang dirinya melupakan dan memaafkan perbuatan mereka? Terutama Arief, yang malah memilih untuk pergi mengikuti wanita laknat itu? Untung saja Tuhan mengirimkan ayah Farida sebagai malaikat pengganti baginya, walau kemudian Tuhan memanggilnya kembali. Farida terbelenggu dalam diam, dengan tetesan air bening yang langsung mengaliri pipi. Terlebih melihat perlawanan ibunya, yang menolak dibantu oleh si Kapten Bhirawa untuk pindah ke kursi rodanya. 

"Sayang, ampuni aku, lepaskan dendam itu. Aku yang salah, sayang. Aku yang salah. Tolong, beri aku kesempatan untuk berbakti kepadamu. Hanya kepadamu. Aku masih sangat menyintaimu. Sungguh!" Suara itu terdengar nyaring, bergetar. Bahkan Farida sendiri dapat mendengar getaran itu. Marni yang masih meronta, juga menangkap hal senada. Terdiam hatinya. Menelaah kalimat yang tiba-tiba saja berhasil menggetarkan jiwanya. Ah, benarkah apa yang dirasakannya ini? Dendam itu mencair begitu saja? Tidak mungkin! Dirinya tak boleh memaafkan begitu saja, bisik sisi buruk hatinya. Namun sisi baik hatinya, masih mencoba untuk bereaksi positif terhadap senandung cinta yang baru saja didendangkan. Benarkah The Power of Love tak butuh logika? 

Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta



credit
"Ngga, apa ga bisa difikirkan lagi nak? Mau apa   kamu ke Cairo ? Papamu bagaimana? Kamu baru saja mulai membantunya di perusahaan kita? Apa kamu ada konflik dengan Papa?"

Wanita itu tak habis pikir mengapa putra pertamanya itu nekad untuk hengkang hingga keluar negeri, ke Cairo pula. Tanpa woro-woro terlebih dahulu pada dirinya dan suaminya, selaku orang tua Angga.

"Ma, Angga enggak punya konflik dengan Papa, hanya Angga menemukan bahwa ternyata passion Angga bukan di bidang itu Ma. Angga kurang tertarik untuk bekerja di perusahaan Papa. Angga ingin mandiri. Ingin lepas dari bayang-bayang Papa."

Dialog panjang itu tak mampu mengendurkan kekukuhan pendirian Angga. Tak peduli akan diijinkan atau tidak, dia tetap akan melanjutkan niatnya. Hijrah ke Cairo, dimana beberapa temannya telah menanti, menyediakan tempat baginya, dan mencoba memulai hidup barunya di sana.

"Angga, apa Mama dan Papa punya salah sama kamu nak? Bicarakan baik-baik, jangan main pergi seperti ini? Dan juga, Papamu belum tau tentang hal ini. Hargai Papamu, bicarakan dulu dengannya. Ada apa sih Ngga, kok kamu ngeyel banget?"

Angga hanya bisa mengurut dada. Jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat ingin tinggal bersama keluarganya. Tidak ada konflik sama sekali yang mengharuskan dirinya angkat kaki dari rumah di mana dia telah menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga masa kini. Namun, dia harus segera pergi. Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyembuhkan diri. Berita yang disaksikannya di televisi tadi, sungguh membuatnya takut. Tidak, dia tidak ingin mengalami kejadian seperti itu. Jangan Tuhan, selamatkan hamba, sembuhkan hamba, batinnya.

Ibunya masih berwajah duka. Mencoba terus membujuknya namun tak berhasil membuka mulut putranya itu untuk sebuah alasan akurat. Juga sang ayah, yang begitu heran dengan keputusan mengejutkan yang disampaikan putra pertama, penerus perusahaan keluarga ini.

"Pa, Angga sama sekali ga punya masalah dengan Mama-Papa, dengan Fira mau pun Ardi. Hanya saja Angga ingin belajar mandiri. Passion Angga bukan di perusahaan Papa, Angga ingin berusaha di bidang yang Angga minati."

Kalimatnya terdengar tegas, tak ingin dibantah, hingga akhirnya sang ayah tak sanggup lagi menahan diri.

"Ok, Papa enggak melarang kamu belajar hidup mandiri Ngga, apalagi kamu sudah besar, sudah dewasa, kamu punya hak untuk memutuskan langkah kehidupanmu sendiri. Silahkan?"

Tajam suara itu namun nada kesedihan terdengar nyata. Terselip kekecewaan tiada tara di balik nada tajamnya. Angga sungguh merasa batinnya tersayat. Di satu sisi, dia begitu ingin memenuhi harapan ayah ibunya. Namun di sisi lainnya, dia harus menyembuhkan dirinya sendiri. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Penyakit ini semakin membuatnya terluka dan was-was. Apalagi berita tadi siang di televisi, sungguh membuat nyalinya ciut. Malam harinya, setelah memastikan luggagenya telah dipacking sempurna, diputuskannya untuk menyalakan laptopnya. Sebuah email yang akan dia set untuk terkirim besok pagi pun dia persiapkan.


Ke haribaan Mama dan Papa,

Assalammualaikum Wr. Wb,
Maafkan Angga, yang tak berhasil menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, seperti yang Mama-Papa idamkan selama ini. Angga minta maaf yang sebesar-besarnya, karena telah menjadi anak 'sakit jiwa' dengan hati yang tersesat. 

Ma, Pa, tak cukup keberanian Angga untuk berterus terang pada Mama-Papa. Angga malu dan takut. Angga sudah berusaha keras untuk meredam rasa ini Ma, Pa. Tapi Angga tak mampu. Rasa ini begitu aneh, liar dan jelas nyeleneh. Angga tau ini terlarang, dan terkutuk. Namun Angga tak kuasa meredamnya. 

Angga sudah browsing di internet, mencari tau apa hanya Angga yang mengalami hal ini? Ternyata tidak Ma, Pa. Kelainan/penyakit terkutuk ini menghinggapi 15 persen penduduk dunia. Mencintai saudara kandungnya sendiri secara seksual! Dan penyakit itu kini menghinggapi anak Mama-Papa ini. Ampuni Angga Ma, Pa, yang sudah bikin Mama-Papa kecewa. Angga sudah berusaha meredam rasa ini, Angga berusaha merubah kasih sayang dan cinta Angga terhadap Fira, layaknya cinta dan kasih seorang kakak terhadap adiknya. Namun Angga tidak berhasil Ma, Pa. Menjadi pengawal Fira kesana kemari selama bertahun-tahun, membuat kedekatan itu, kasih sayang itu, berangsur berubah arah. Dua tahun sudah Angga berperang melawan rasa ini, berusaha keras mengembalikannya pada jalur yang benar, namun Angga belum mampu. Sisi buruk hati Angga sangat mencintai Fira, dan ingin sekali menjadikannya sebagai kekasih. Dan Angga tau persis itu adalah SALAH dan TERLARANG.

Kemarin sore, Angga melihat berita di TV, tentang seorang adik yang dibunuh oleh kakak kandungnya karena si adik menolak cinta si kakak. Ya Allah, betapa menjijikkan kenyataan itu. Dan Angga jadi takut sendiri. Angga harus menjauh dari Fira Ma, Pa. Ijinkan Angga pergi, mencoba menyembuhkan diri Angga. Doakan Angga. Angga ingin menjadi anak kebanggaan Mama-Papa, as always.

Pesan Angga, jangan ciptakan kebersamaan antara Ardi dan Fira BERLEBIHAN, karena begitulah awal kisah ini terjadi. Tidak, Angga tidak menyalahkan Mama-Papa. Tidak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Doakan Angga ya Ma, Pa. Semoga di negeri baru nanti, Angga bisa mengubah rasa nyeleneh ini menjadi rasa yang seharusnya untuk Fira. Angga cinta dan sayang banget pada Mama-Papa, Fira dan Ardi.

Wassalam ananda,
Angga Ryanto.


Written by Alaika Abdullah
Inspired from  kata kunci 'cinta terlarang'
Bandung, 7 Maret 2013



gambar dikirim oleh seorang teman ke wall fb penulis
Dua orang itu terpana menatapku. Aku juga tak kalah heran. Ini orang, udah ngebunyiin bel dan dibukain pintu kok malah bengong ya?

"Maaf Pak, mencari siapa ya?" Akhirnya kuputuskan untuk memecah situasi vakum yang membingungkan itu. Si bapak sambil masih meletakkan tangan kanannya di atas bahu anak perempuan usia ABG itu, menyunggingkan senyuman.

"Assalammualaikum nak. Maaf jika kami mengganggu... hm.... apa ibu pemilik rumah ini masih tinggal disini?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang aneh, yang diucapkan dalam bahasa Indonesia berlogat Aceh yang begitu kental.

"Hm... maksud bapak? Ibu yang mana ya?"
Jawabku balik bertanya, menggunakan bahasa Aceh agar si Bapak gampang berkomunikasi. Namun aku meningkatkan status kesiagaan. Siaga I. Secara akhir-akhir ini kan banyak sekali penipuan. Aku mulai menjaga jarak, jangan-jangan tukang gendam or hipnotis deh ini. Hiii, serem. Tapi menatap wajahnya yang terkesan ndeso itu, gaya bahasanya serta putrinya yang lugu itu, keping hatiku meredam prasangka buruk itu berkembang jauh.

"Maaf nak, bapak tidak tau persis siapa nama ibu itu, karena juga belum pernah ketemu, anak bapak ini... delapan tahun yang lalu, selamat di teras rumah ini dari hempasan gelombang tsunami. Dan dirawat dengan baik oleh ibu pemilik rumah ini sampai akhirnya dijemput oleh tim penyelamat."

Penjelasan itu serta merta membuat aku sungguh merasa bersalah atas prasangka jelek yang telah terlanjur tercipta tadi. Oalah, Astargfirullah ya Allah..., aku langsung teringat cerita ibuku, bahwa di teras lantai dua rumah kami ini, dulu sempat selamat 10 orang yang terbawa oleh gelombang tsunami.

"Sebentar ya Pak, mari masuk dulu... saya panggil ibu saya."

Kupersilahkan keduanya masuk, dengan hormat seraya menyalahkan hatiku yang syakwasangka tadi.

"Ma, mama... ada tamu nih ma..." Aku berseru, masih enggan meninggalkan kedua tamu yang kini telah duduk di sofa ruang tamu. Bukan apa-apa, di jaman sekarang ini, waspada kan harus ya?

"Iya, sebentar." Suara ibuku terdengar lembut, seperti biasanya. Ga lama, wanita enam puluhan tahun itu pun muncul.

"Ayah... benar ini neneknya...!"

Si anak perempuan itu berseru kegirangan, seraya bangkit menyerbu ibuku. Disalaminya ibuku seraya memeluk beliau erat. Kesan kaget terlihat nyata di wajah ibuku, apalagi dia belum bisa melihat wajah si anak perempuan itu, yang terus saja memeluknya erat.

Si bapak tua bangkit, menyalami ibuku yang masih saja dipeluk erat oleh anak perempuan tadi. Barulah kemudian si anak melepaskan pelukannya ketika tangan ayahnya menggapainya lembut. Ibuku masih terlihat kaget, juga sepertinya daya ingatnya belum mampu untuk mengingat si anak perempuan yang memanggilnya nenek itu.

"Ibu, saya ayahnya Siti, dan Siti adalah anak yang sempat diselamatkan tiang teras rumah ibu waktu tsunami dahalu. Kami tinggal di Tibang bu, dan waktu itu saya sedang melaut, Siti dan ibunya di rumah ketika tsunami datang. Siti hanyut hingga kesini dan menggapai tiang teras rumah ibu untuk menyelamatkan diri."

Kini wajah ibuku terlihat sangat mengerti. Dengan sempurna kini memorynya memaparkan tentang Siti. Anak yang kala itu usia delapan tahunan, ditemukannya sedang menggigil, terbaring di lantai teras atas rumah ini. Tak hanya menggigil, tapi anak itu terkena diare hingga pakaian dalamnya terkena kotorannya sendiri. Mengigau memanggil ibu dan ayahnya.

Suasana memang sangat mencekam kala itu. Tsunami baru saja melanda, merampas nyawa-nyawa manusia dan hewan ternak, serta meremukkan apa saja yang menghadang di hadapannya. Ibuku sendiri, kala itu malah memutuskan untuk lari meninggalkan rumah, bersama ayahku, yang memilih untuk menyelamatkan diri di Musholla berlantai dua, tak jauh dari rumah. Dan disanalah mereka berdua serta warga lainnya selamat dari hantaman gelombang.

Dan saat mereka telah aman dan kembali ke rumah yang telah porak poranda lantai bawahnya, penuh lumpur dan banyak ikan yang terkapar tewas, ayah dan ibuku menemukan ada 10 survivor di lantai atas rumah kami. Kesepuluh orang yang selamat itu, dalam deritanya masing-masing. Ada seorang ibu yang sedang hamil tua, terbaring lemah sama sekali tak mampu bergerak. Ada anak balita umur 2 tahun yang sedang menangis dan ditenangkan oleh seorang pemuda yang adalah bukan kerabatnya. Ada bapak tua yang kakinya patah. Ada juga si anak ini, Siti, yang dibaringkan di lantai teras, karena masih mengucurkan kotoran akibat diare.

Kedatangan ibu dan ayahku selaku pemilik rumah, menambah perasaan senasib sepenanggungan dengan kesepuluh survivor itu. Dari semua yang ada disitu, hanya ibuku yang staminanya masih prima, karena hanya beliau yang tak tersentuh gelombang, sementara ayahku sendiri, sempat terombang ambing dihanyutkan gelombang, hingga kemudian beliau tersangkut di atas sebatang pohon kuda-kuda sebagai tangan Tuhan, penyelamat hidupnya.

Jadilah malam itu, yang gelap gulita dan hanya diterangi cahaya lilin yang memang tersedia di lantai atas itu, ibuku bertindak sebagai perawat. Terutama bagi Siti yang menggigil dan terus diare, juga bagi si ibu yang hamil tua, yang juga mulai demam, juga bagi si bocah kecil dua tahun yang menangis minta susu. Malam yang menyentuh kalbu, menyayat hati dan menimbulkan kenangan tak terlupakan.

Dan kini? Siti, salah satu survivor itu, hadir di hadapan ibuku, setelah delapan tahun tragedi itu berlalu. Berlinang air mata ibuku menatapnya.

"Apa kabar kamu nak? Sehatkan? Sudah kelas berapa?" Tanya ibuku, Siti memilih duduk disampingnya.

"Alhamdulillah sehat nek. Siti udah kelas 2 SMU." Senyum hormat tersinggung di bibirnya, menjawab pertanyaan ibuku.

"Bu, kami datang untuk berterima kasih pada ibu. Allah menyelamatkan anak saya melalui rumah ibu, dan terima kasih banyak, ibu sudah merawat Siti malam itu dengan sangat baik. Sebenarnya kami sudah lama ingin kesini, tapi karena kami tidak lagi tinggal di Banda, dan saya selalu melaut, jadi ga sempat turun kesini bu."

Si ayah yang berbicara. Aku sungguh terharu mendengarnya. Kuyakin ibuku pun memiliki perasaan serupa. Sungguh kehadiran mereka sama sekali tak pernah kami duga. Bahkan tak pernah kami kira jika kemudian salah satu dari the survivor akan kembali ke rumah ini, untuk berterima kasih pada ibuku. Subhanallah.

"Subhanallah... Alhamdulillah pak, saya sungguh gembira bisa bertemu lagi dengan Siti. Sungguh sama sekali tidak menyangka akan bertemu kamu lagi nak. Nenek senang sekali mendapat kunjungan kamu dan Bapak. Oh ya, bagaimana halnya dengan ibu Siti pak?" Tanya ibuku kemudian.

"Hm.... sayangnya, Ibunya Siti tidak selamat Bu, kami menemukan jenazahnya di kampung sebelah. Gelombang membawanya hanyut sampai kesana." Lirih suara itu.

"Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun." Aku dan ibuku serempak melafazdkan kalimat itu.

"Dan sekarang Bapak dan Siti tinggal dimana Pak?" Tanya ibuku lagi.

"Kami di Aceh Selatan sekarang Bu, makanya jarang sekali turun ke Banda Aceh. Dan ini juga karena Siti telah menabung sekian lama, katanya uang tabungannya ingin dipakai untuk mengunjungi Ibu dan melihat rumah ini."

Masyaallah. Sungguh tersentak dan terharu hatiku. Juga aku yakin ibuku merasakan hal serupa. Seorang anak muda, anak seorang nelayan, yang mungkin untuk mencukupi kehidupan mereka sendiri pun sulit, tapi bertekad kuat untuk kembali ke rumah ini, untuk bertemu dengan pemilik rumah yang telah merawatnya kala itu. Subhanallah ya Allah, masih ada anak muda yang seperti ini, yang selalu mengingat jasa orang lain.

Ibuku terlihat begitu terharu dan sulit untuk berkomentar. Hingga kemudian suara lembutnya berujar,

"Aduh Siti, kenapa harus repot-repot kesini nak... Asal Siti dan Bapak sehat, kami sudah cukup bahagia. Terus di Banda tinggal dimana pak? Kapan datang?"

"Kami baru sampai bu, langsung kesini, itu pun meraba-raba dulu, karena Siti ga begitu ingat lagi. Yang dia ingat adalah dekat kantor Brimob, jadi bayangan saya, adalah disini. Cuma Siti juga ga ingat sama sekali nomor rumah ini, jadi hanya mengandalkan daya ingatnya saja."

"Iya nek, Siti ingatnya tiang rumah ini. Masih sama seperti dulu." Imbuh Siti riang.

"Kami berencana untuk langsung pulang malam ini bu, karena besok saya harus melaut lagi. Hari ini sengaja prei, untuk mengantar Siti. Sudah lama sekali dia ingin kesini."

Sungguh sebuah penjelasan yang semakin membuat kami terharu.

"Pak, apa ga bisa tinggal disini barang semalam? Jangan buru-buru kembali, kan capek di dalam perjalanan tadi malam pak? Menginaplah di tempat kami nanti malam, besok baru pulang kembali..." Bujuk ibuku tulus.

"Iya pak, lagian Siti kan juga ingin jalan-jalan di Banda kan? Wong udah sampe sini kok pak, masak secepat itu kembali?" Tambahku.

"Maaf bu, nak, inginnya begitu, tapi maklum lah, saya hanya nelayan, yang mengandalkan penghidupan dari hasil melaut. Kalo banyak prei nya, nanti kami ga makan, hehe."

Jawaban yang membuat kami bungkam. Tertohok rasanya hati ini mendengar perjuangan mereka. Aku sungguh terharu.

"Iya nek, kami pulang nanti malam saja. Ayah harus melaut, dan Siti kan harus sekolah besok. Juga Siti jualan kue-kue lho nek, dititipkan di kantin sekolah." Penjelasan yang bernada riang itu, semakin membuatku terenyuh. Betapa mereka menghadapi hidup ini dengan penuh perjuangan dan ikhlas.

Dan pertemuan yang sungguh tak pernah diduga oleh ibuku, apalagi olehku itu, berakhir setelah keduanya makan siang, istirahat sejenak dan kemudian mereka pamitan, ingin mengunjungi bekas kampung halaman mereka, baru malam harinya, singgah sebentar di rumah kami, dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kampung mereka yang baru.

Subhanallah... sungguh Tamu istimewa telah Engkau kirimkan kepada kami ya Allah. Bagaimanakah nasib ke 9 survivor lainnya? Wallahu Alam.




credit
Mobil yang sedang dikemudikan Fachry itu melaju kencang, sementara Dian yang duduk disampingnya ikutan melantunkan lagu yang sedang diperdengarkan oleh salah satu radio dengan hati riang. Fachry juga ikutan bersenandung, riang dan gembira. Hingga di sebuah tikungan jalan, keduanya menangkap prilaku aneh seorang pemuda seusia Fachry, yang sedang berjalan kencang seraya meloloskan satu-satunya penutup tubuh bagian bawah miliknya.

Mata keduanya terbelalak, bukan saja oleh perlakuan aneh dan nekad si pemuda, tapi karena tubuh dan wajah si pemuda itu terasa begitu familiar di hati dan mata mereka.

"Mas! Itu Indra! Indra itu mas!" Seru Dian, kaget, kendaraan yang sedang melaju kencang itu serta merta diperlambat Fachry, seraya memutar kepalanya untuk meyakinkan pemandangan yang baru saja disaksikan oleh matanya.

"Ya Allah, bener Di, itu Indra! Masyaallah, kenapa dia jadi seperti itu?"

Secepat kilat dipinggirkannya kendaraan, dan sigap keduanya turun. Mengejar si lelaki yang telah telanjang bulat dan berjalan cepat bak anak panah yang dilepas dari busur itu. Kencang sekali Indra berjalan, hingga mata Fachry dan Dian kehilangan jejak. Fachry mencoba menelefon kantor mereka, yang diterima oleh security unit, dan langsung menerima laporannya dan akan segera mengirimkan bantuan.

"Mas, kita naik mobil aja, balik arah, kencang banget si Indra jalannya, kayak dikejar setan!" Usul Dian ngos-ngosan. Selain sudah lama tak berjalan dengan cepat, jarak Indra juga sudah terentang jauh, sehingga akan mudah bagi mereka mengejarnya dengan mobil saja.

Kerumunan orang di dekat pos polisi itu memberi sinyal keberadaaan Indra. Pasti Indra yang sedang dikerumuni orang-orang itu, batin keduanya. Dan benar saja, terlihat Indra dengan wajah aneh, sedang berdiri, meronta minta dilepaskan. Dua orang polisi sedang membujuknya untuk duduk, dan mengajaknya bicara. Namun Indra berkeras minta dilepas, katanya dia ada janji dengan seorang wanita di mesjid raya, padahal dirinya adalah seorang non muslim. Ya ampun, kesurupan apa dia?

"Maaf Pak, ini teman kami, kalo boleh biar kami antar pulang saja." Ucap Dian, mendekati kedua polisi  yang langsung menarik napas lega.

"Oh, mba mengenalnya? Orang mana ini mba?"

"Namanya Indra pak, salah satu kolega kami di PT. Anugerah Alam Perkasa, di jalan M. Thamrin 26 Pak, kami sudah laporkan juga pada security unit, tentang hal ini pak, dan kebetulan kami yang paling dekat dengan lokasi, maka biar kami saja yang membawanya pulang."

Dian memperlihatkan name tag dirinya selaku staf di perusahaan yang disebutkan olehnya tadi, juga Fachry turut memperlihatkan name tagnya, membuat kedua polisi itu yakin dan dengan senang hati menyerahkan Indra pada mereka. Tak lama, sebuah Toyota Innova Silver berhenti, yang ternyata adalah dua orang security guard yang dikirim oleh kantor mereka untuk menjemput Indra.

Indra masih meronta, tak ingin masuk ke mobil dan inginnya jalan kaki saja. Katanya dia telah ditunggu di Mesjid Raya oleh seorang gadis.

"Ndra, coba lihat diri kamu, masak mau ketemu seorang gadis kamu pake sarung seperti ini? Malu donk... ayo kita pulang dulu ke rumah kamu, ganti pakaian, baru kamu ke Mesjid Raya.. yuk!" Bujuk Dian. Saat itu Indra telah dibekali selembar kain sarung oleh pemilik warung yang berada dekat pos polisi tadi.

"Tapi saya sudah ditunggu jeng!" Aneh sekali nada suara Indra. Dan panggilan Jeng itu, sungguh aneh. Indra belum pernah memanggilnya Jeng, biasanya cuma manggil Di saja. Dian menatap Fachry yang juga tak kalah herannya. Bergidik bulu kuduk Fachry menyadari pemikirannya sendiri. Jangan-jangan Indra dirasuki makhluk halus. Hiiii.

Selain itu, tubuh Indra mengeluarkan bau tak sedap yang aneh. Membuat Dian dan yang lainnya harus mengernyitkan hidung mereka berkali-kali. Akhirnya, setengah paksa, berhasil juga mereka menaikkan Indra ke dalam mobil. Di dalam mobil dia masih meronta dan meracau. Katanya gadis yang akan ditemuinya telah lama menunggu di pintu mesjid raya. Hiii.... Aneh.

Mereka tak membawa Indra pulang ke kost, melainkan melarikan Indra ke rumah sakit jiwa. Ya, Indra, yang suhu tubuhnya begitu panas dan berkeringat yang baunya sungguh tak sedap itu, terus saja meracau, hingga satu-satunya jalan keluar adalah membawanya ke rumah yang satu itu. Pada Indra sendiri, mereka tak menyebutkan akan ke rumah sakit jiwa, melainkan ke rumah pak Eddy, salah satu guard yang ikut di dalam mobil mereka. Untuk mengambil baju bagi Indra biar cepat bisa ke Mesjid Raya. Indra patuh tapi terus meracau.

"Ayo Pak Indra, masak udah sampai ke rumah saya Pak Indra ga mau mampir... ayo masuk dulu atuh pak!" Bujuk Pak Eddy berlagak sebagai tuan rumah. Akhirnya Indra menurut dan ikut berjalan ke pelataran rumah sakit dan masuk ke dalam. Yang telah ditunggu oleh beberapa petugas, yang telah diberitahu via sms saat mereka masih dalam perjalanan tadi.

"Ndra, kamu capek banget deh, ayo sambil menunggu pak Eddy ke dalam ambil berkas, kamu istirahat dulu deh disini... tuh bisa tiduran disitu tuh Ndra... kan kamu capek, tuh lihat, tubuh kamu aja keringatan begitu... " Dian begitu piawai membujuk dan mensugesti. Anehnya, Indra patuh, berjalan ke tempat tidur beroda yang telah disiapkan oleh petugas. Dan begitu lelaki itu membaringkan tubuhnya, petugas pun membawanya ke sebuah ruangan untuk diperiksa secara medis.

Ternyata, Indra tak hanya mengalami kondisi psikis yang memprihatinkan, tapi juga fisiknya sangat lemah. Hasil pemeriksaan darah yang dilakukan menunjukkan lelaki yang begitu down staminanya itu terkena typus, dan harus dipulihkan terlebih dahulu sebelum kemudian dilakukan pengobatan terhadap jiwanya yang sedikit terganggu. Penjelasan psikiater, bahwa kondisi seperti ini bisa menimpa seseorang yang sedang mengalami stress berat atau depresi, membuat Fachry mencabut dugaannya bahwa Indra kesurupan atau diganggu makhluk halus. Penjelasan medis, membuka wawasannya, bahwa banyak fikiran, stress, depresi dan kegagalan mengelola emosi dan kejiwaan bisa berakibat seseorang menjadi seperti orang gila. Ih, jangan sampai deh, batinnya.

"Mas Fachry, Mba Dian, makasih banget lho mba, mas, atas bantuan dan perhatiannya terhadap Indra. Kalo tidak mas temukan waktu itu, mungkin kami akan kehilangan Indra untuk entah sampai kapan. Kan sering tuh kita dengar, ada orang yang menjadi sakit jiwa, dan menghilang dari rumah dan hilang jejaknya karena tidak membawa identitas... Ih, ga terbayang deh gimana jadinya jika Mas Fachry dan mba Dian ga melihat Indra waktu itu." Kakak perempuan Indra, yang terbang hari itu juga ke Palangkaraya, dimana Indra berada, tak henti berterima kasih pada Dian dan Fachry, dan membuat keduanya sedikit jengah.  Bukankah itu gunanya sahabat, jadi tidak perlu lah berterima kasih sampai berulang kali...

"Sama-sama mba, jangan terlalu banyak makasihnya... hehe. Itu sudah kewajiban setiap orang, setiap sahabat. Kebetulan Tuhan menuntun Indra melalui kami. Jadi mari kita berdoa semoga Indra bisa kembali sehat seperti semula ya mba... ." Fachry menjawab dengan santun.

Indra masih terkulai di atas tempat tidur rumah sakit, dengan tangan yang berinfus dan pandangan setengah kosong. Masih perlu waktu dan penanganan baik secara fisik [medis] maupun psikis [jiwa] untuk mengembalikan lelaki ini ke Indra yang dulu. Yang penuh semangat dan ceria.

"Ngeri juga ya mas, kalo stress yang berlebihan seperti itu. Kayaknya Indra stress oleh masalah uang yang kebobolan itu deh." Dian mengutarakan pemikirannya, saat mereka kembali dari menjenguk Indra di suatu hari.

"He eh, awalnya mas kira, Indra kesambet atau kesurupan gitu deh. Ternyata karena terlalu banyak beban jiwa ya... Makanya kamu tuh jangan terlalu banyak pikiran.... jangan terlalu dipaksa, harus banyak rileks...dan harus sering-sering sama mas!"

Ujung kalimat Fachry langsung menimbulkan protes dari wanita cantik itu.

"Yeee.. apa hubungannya dengan sering-sering sama mas? Malah sering-sering sama mas bikin kita sering berantem. Emang mas senang bersamaku?"

"Ya senang banget donk... Di, can I say something?" Nada Fachry mulai serius. Dian mulai curiga dan deg-degan. Tatapannya mengiyakan dan menanti kelanjutan kalimat lelaki itu.

"Will you be mine, please? I love You."

Dian terpana. Apa? Fachry baru saja mengatakan cinta, di sebuah perjalanan pulang dari rumah sakit, di dalam mobil dan sungguh bukan dalam suasana romantis? Ooooh!

Namun, debar hati itu, semakin terasa, dan binar indah itu membuat wajahnya sumringah dan bibirnya tersenyum merekah. Fachry menggenggam jemari Dian dengan tangan kirinya, lembut. Dibawanya ke mulutnya dan dikecupnya dengan mesra.

"Will you babe?" Anehnya, kalimat itu jadi terdengar begitu romantis, tempat pernyataan yang hanyalah di dalam sebuah mobil, tak lagi terasa penting. Yang dirasakannya, hatinya begitu indah berbunga.

Anggukan dan tatapan lembut itu adalah jawaban IYA atas pertanyaan Fachry.

written by Alaika Abdullah
Bandung, 2 Maret 2013


credit
Lelaki bermata biru itu kini benar-benar hadir di hadapannya. Benar-benar nyata, dan sama sekali bukan mimpi. Friska bengong, terpana, karena memang dia tak pernah bermimpi untuk bertemu secara langsung dengannya, setelah dia menghujat keras lelaki itu serta ‘perang dingin’ yang kemudian melanda mereka. Bahkan pesan yang ditinggalkan lelaki berambut coklat itu di emailnya, bahwa dia akan berkunjung ke Surabaya, sama sekali tak ditanggapi serius olehnya. Bohong! Pasti bohong!

Bahkan jabatan tangan lelaki tampan kisaran 38 tahunan itu, yang terasa hangat di jemarinya, tetap membuatnya gamang. Tak percaya. This is not real!

“Alhamdulillah, finally I can see you in real life babe!”
Sapaan pertama si mata biru yang terdengar begitu teduh. Pancaran bahagia terdengar nyata di suara itu. Sama sekali tak menunjukkan indikasi bahwa mereka sedang saling melancarkan perang dingin selama dua bulan terakhir. Bahkan, terlihat jelas bahwa hujatan Friska yang begitu tajam terhadapnya, sama sekali tak melukai hatinya.

Friska hanya tersenyum, membiarkan tangannya dicium lembut dan takzim oleh Daniel, si lelaki berambut coklat bermata biru itu. Diajaknya lelaki itu menuju mobilnya, menghindarkan tatapan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.

“You know, I do happy to meet you babe. I am so glad. Finally I can meet you my love! Don’t you feel the same?” Kalimat pertama kala mobil yang dikemudikan Friska bergerak meninggalkan Juanda International airport.

“Hm… Ah….. I don’t know Dan. I don’t know how my feeling is after you broke my trust…”. Friska yang selalu transparan, memang tak mampu menyembunyikan rasa yang berkecamuk di hatinya. Juga jujur diakuinya, dia tak tau bagaimana rasa hatinya yang kini bergelora. Dia bingung dan masih belum percaya kenyataan ini.

Bahwa, akhirnya, lelaki yang sempat menyita seluruh perhatian, dan membuatnya menumpahkan seluruh kepercayaannya akan kesungguhan niat mereka, untuk saling mengenal, saling menjajaki dan akhirnya membawa hubungan mereka kearah yang lebih serius itu, ternyata hanya seorang penipu! Seorang scammer! Dia benci bagaimana laki-laki ini memperdayanya. Bagaimana laki-laki ini dengan suksesnya membangun karakter dirinya, dan menanamkannya ke dalam benak Friska. Bagaimana lelaki ini dengan sukses meraih hati dan kepercayaan Friska, bahwa Daniel memang serius dengan hubungan mereka. Bahwa Daniel mencintainya. Sehingga lamaran lelaki itu via chatting, yang tentu saja sebagai lamaran pembuka, diterimanya dengan sesungguh hati. Lalu asmara diantara mereka pun [terlihat] terjalin dengan mesra. Mereka merasa saling cocok satu sama lain. Saling Click! Setidaknya itulah yang dirasakan Friska.

Namun tak dipungkiri, di sisi lain hatinya, sebuah alarm peringatan sering kali menyala memperingatkannya. Untuk tidak terlalu gampang mempercayai seseorang dari dunia maya. Sebuah dunia antah berantah yang siapa pun bisa mengaku sebagai siapa pun yang diinginkannya. It is too good to be true! Alarmnya memperingatkan bahwa banyak sekali penipu alias scammer yang berkeliaran di negeri yang satu ini.

Itu juga yang sering membuatnya waspada, setiap Daniel bercerita tentang sesuatu yang menyangkut hadiah atau uang. Karena biasanya, modus operandi para scammer kan begitu, menjerat wanita atau pria [jika scammernya wanita], pura-pura kenalan, bersahabat baik, jatuh cinta, melamar, mengirim hadiah, lalu hadiahnya tertahan di bea cukai [custom] suatu negara, lalu si penerima paket atau parcel diminta untuk mengirimkan sejumlah uang. Dan karena keluguannya, si penerima mengirimkan uangnya, sejumlah yang diminta, lalu muncul lagi permintaan mengirimkan uang lanjutan dengan alasan lainnya, misalnya untuk mengeluarkan sertifikat terhadap isi paket yang ternyata adalah barang-barang berharga. Untung saja Friska banyak membaca kasus-kasus penipuan seperti ini, sehingga dia cepat ngeh saat Daniel mulai mengarah kesana.

"Babe, please forgive me. Apologize me. Aku sungguh jatuh cinta sama kamu. Memang, beberapa minggu aku mencoba untuk lupakan kamu. Membiarkan kamu berlalu, tapi aku ga bisa babe. I do fall in love with you. Maafkan aku!" Suara Daniel terdengar begitu penuh penyesalan. Mencoba meraih jemari tangan kiri Friska yang memegang transpeneling mobil.

Friska masih diam, mencoba melepaskan jemarinya dari remasan Daniel. Belum ingin menjawab. Karena dia masih belum tau persis rasa hatinya sendiri. Mobil yang dikemudikan Friska kini melaju ke halaman Novotel, meluncur ke depan lobby, lalu keduanya turun setelah Friska menyerahkan kunci mobil ke tangan petugas vallet. Daniel menurut saja, karena ini memang kunjungan pertama kalinya ke Indonesia, tepatnya di kota Surabaya. Dibiarkannya wanita cantik yang telah sungguh-sungguh menawan hatinya itu membawanya, kemanapun. Ke hotel mana pun.

Dan menatap wanita ini secara langsung, setelah selama ini hanya melihatnya via foto dan satu dua kali via webcam, sungguh membuatnya terkagum. Ternyata Friska jauh lebih cantik dibandingkan dengan foto maupun webcamnya. Dan wanita ini ternyata jauh lebih keras sifatnya serta lebih blak-blakan dari yang dikenalnya selama ini via internet! Wanita ini menyimpan magnet yang luar biasa baginya. Gila, dia, yang selama ini telah mempermainkan dan membuat puluhan wanita terjerembab dan kehilangan uang mereka, tapi kini malah bertekuk lutut oleh wanita yang gagal ditipunya! Gila!

Seorang room boy mengantarkan mereka ke kamar, dan meninggalkan mereka berdua setelah menyimpan tas koper kecil milik Daniel di dekat bed table. Friska berdiri, agak gugup. Selain belum menemukan rasa yang kini bersemayam di hatinya, juga sedikit kuatir pada lelaki bermata biru yang tampan ini. Diakuinya, Daniel memang setampan yang ada di foto, juga di cam. Dalam hal ini, lelaki ini  tidak berbohong, dia tidak menggunakan foto orang lain seperti yang biasa scammer gunakan. Namun untuk hal lainnya, Friska sama sekali tak mempercayai lelaki ini lagi.

Daniel tau situasi yang melanda hati Friska. Maka dengan sopan dipersilahkannya wanita itu duduk. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk wanita itu. Ada sebuncah kerinduan yang mengaduk hatinya, setelah perang dingin memisahkan mereka, menjauhkan mereka dari saling berkomunikasi. Rindu itu malah berkembang subur dan sulit sekali diredam. Ditekannya rindu yang menggebu itu agar Friska tak menjauh.

"Babe..."
Panggilan itu memang telah dimulai sejak awal perkenalan mereka. Daniel belum pernah sekalipun menyebutkan nama Friska. Baginya, 'babe' adalah panggilan yang sangat pantas untuk wanita itu. Walau sebelumnya, panggilan itu juga dia bubuhkan untuk wanita-wanita lain yang menjadi korban penipuannya. Namun untuk Friska, panggilan ini terasa keluar jauh dari relung hatinya. Tak ingin dia menggantinya.

Friska hanya menoleh. Kini wanita itu telah duduk sopan di sofa. Memperhatikan Daniel yang memanggilnya lembut. Lelaki itu mendekat. Mencoba duduk di sofa sebelahnya.

"Aku salah besar sama kamu babe, tapi, pleaseeeee.... maafkan aku. Aku serius mencintai kamu."

Justru kalimat ini yang menggelegakkan emosi Friska. Wanita itu bangkit. Berdiri di hadapan lelaki jangkung yang duduk sopan di hadapannya.

"Kamu tidak mencintaiku Daniel! Kamu penipu. Scammer! Kamu pembohong besar!" Teriaknya. Wajahnya garang. Daniel malah takjub menatapnya. Tanpa sadar, dia ikutan bangkit dan berdiri berhadapan dengan wanita itu. Tanpa sadar pula, diraihnya jemari Friska.

"Babe, I told you, I do sorry. I am so sorry, please, forgive me. I love you so much!"

Friska tak mempan oleh kalimat itu. Disentaknya dengan kasar tangan Daniel yang mencoba mencium lembut kedua tangannya.

"Cinta? Kamu ga akan menipu aku jika memang mencintaiku, ga akan memperdaya aku seperti itu. Kamu membuat aku seperti wanita bodoh! Kamu membuat aku terhina!" Jeritnya.

Daniel tidak membantah, dengan sabar dan prihatin, direngkuhnya kedua bahu Friska. Mencoba menenangkannya. Rasa kasih yang begitu tulus di lubuk hatinya, mengisyaratkannya untuk mengambil tindakan pengamanan. Dibawanya wanita itu ke dalam pelukannya, perlahan dan lembut sekali.

"Aku tau kamu marah besar padaku. Aku pasrah, marahlah, luapkan emosi kamu babe, tapi maafkan aku setelahnya." Bisiknya, perlahan sekali.

Friska tak hendak menikmati pelukan itu. Dengan kedua tangannya didorongnya dada bidang lelaki itu.

"Stay away from me! Bertindaklah sopan, jangan mencoba memelukku. Keep your attitude!"

Tegas sekali suara itu, jari telunjuknya yang menunjuk jelas ke wajah Daniel, membuat laki-laki itu terkesiap. Membuatnya serasa tertampar. Tapi lagi-lagi hatinya bukannya merasa tersinggung oleh amarah dan sikap tegas Friska. Daniel malah merasa makin takjub. Tak sampai sejauh ini bayangannya terhadap Friska. Di bayangannya, walau memang terkesan tegas dan blak-blakan, namun Friska tetaplah seorang wanita, yang dengan sentuhan lembut tentu akan luluh. Namun kali ini, sepertinya dia berhadapan dengan seekor singa padang pasir. Garang, bertatapan tajam.

"Dengar Daniel! Aku masih marah sama kamu. Kamu tunggu dulu disini, aku mau ke tempat shalat sebentar, setelah itu kita keluar, makan siang, ok?"

Daniel mengangguk dan tetap mengarahkan tatapannya pada punggung wanita itu yang menghilang di balik pintu. Oh my God! Dirinya merasa benar-benar kena batunya. Kali ini dia terjerembab, terkena karma. Menghilang dan menghapus jejak serta melupakan Friska setelah dia ketahuan sebagai scammer oleh wanita itu, hanya mampu dilakukannya tiga minggu. Setelah itu, hati nuraninya menjerit minta kembali berhubungan dengan wanita itu. Sungguh sebuah rasa yang aneh dan menyiksa. Apalagi mendapati Friska yang sama sekali tak tertarik untuk berhubungan lagi dengannya, bahkan untuk menjadi sahabatnya saja, sekalipun. Tapi untunglah, kenekadannya untuk berkunjung ke tanah air Friska, membuat wanita itu luluh, setidaknya bersedia untuk menemui dan menjemputnya.

***

"Kamu ga perlu bawakan ini untukku Dan. You don't have to! Kan sayang uang kamu!" 

Friska berusaha menolak tegas pemberian Daniel. Sebuah Ipad 4 di dalam kotaknya yang masih bersegel, serta sebuah Iphone 5. Benda mahal itulah dulu yang sempat menjadi 'isi' di dalam parcel yang kabarnya dikirimkan Daniel untuknya. Kala laki-laki itu melancarkan aksi scam nya. Dan kini, mungkin untuk menebus rasa bersalahnya, Daniel mewujudkannya ke alam nyata.

"Aku tulus membelinya untuk kamu babe, aku pernah berjanji akan mengirimkannya untukmu kan? and here I am, keeping my promises!" Daniel memaksanya, meletakkan dua kotak berisi gadget mahal itu di atas meja, karena Friska menolak untuk menerima di tangannya. 

"Itu untuk kamu babe. Jangan takut, aku gunakan uang halal untuk itu. Dan aku janji, aku akan berubah. I quit from that dirty work! I did!" Sebuah pengakuan yang menggelitik hati Friska dan mencuatkan sebentuk senyum di bibirnya. Daniel melihat senyum itu. 

"So, apa yang akan kamu lakukan untuk menopang hidup kamu? How will you survive? What will you do to support your life?" Biasanya Friska selalu berusaha menjaga etika, namun berhadapan dengan Daniel yang terlanjur dicatat sebagai penipu, scammer, oleh hatinya, membuat dirinya tak lagi menerapkan etika. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir indahnya ibarat anak panah dan pisau tajam. Namun, tampaknya sama sekali tak mengiris apalagi melukai Daniel. Lelaki itu terlihat sabar menghadapi Friska. 

"Ok, terima dulu barang-barang ini babe, and let me talk, let me explain every thing about me, ok?" 

Friska tak bereaksi.

"Ok babe? Say Yes, please!" Bujuknya dengan mimik memelas namun senyum menawan yang ditampilkan bibirnya berhasil menularkan kehangatan dan rasa jenaka di hati Friska. Wanita itu tersenyum, merekah. Daniel gembira sekali melihat senyum itu. 

"Say Yes babe then I will start." Bujuknya, dengan senyum dan tatapan mata menawan.

"Ok, ok, Yes, go on, talk honestly about your self!" Perintah Friska, berlagak galak.

Dan Daniel memang telah menyiapkan segalanya. Lelaki tampan itu terlihat bijak dan sangat meyakinkan, menguraikan semua strategic plannya ke depan. Bahwa selama ini dia memang seorang arsitek, namun disela tugas-tugasnya, dia terjerumus ke dunia maya dan menemukan kesenangan tersendiri dengan menjadi scammer. Ada rasa exciting tersendiri di hatinya setiap dia berhasil menjatuhkan korban. Seakan ajang itu adalah ajang untuk melatih kemampuan lain yang dimilikinya. Apalagi uang yang dia hasilkan dari perbuatan itu, lumayan banyak. Jadi tanpa disadari, dia begitu terlena dan senang dengan peluang baru itu, bahkan sama sekali tak terfikirkan olehnya betapa menderita dan besarnya kerugian yang menimpa wanita-wanita yang dijadikan korbannya. 

Intonasi suara Daniel, makin terdengar menurun, lirih. Jika tadi dia memulainya dengan nada dan volume suara yang normal, namun seiring dengan content pembicaraannya, suara itu menjadi kian lirih, sedih. Dan akhirnya lelaki itu malah menitikkan air mata penyesalan. Suaranya mengandung tangis. 
Friska menyodorkan tissue yang diraihnya tak jauh di atas meja. 

Daniel memencet hidungnya dengan tissue yang diberikan Friska, berusaha mengeluarkan cairan yang tiba-tiba saja mengalir di hidung mancungnya itu. Sebongkah rasa menyesal tiba-tiba saja menyesaki dadanya. Sungguh sebuah rasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. 

"Aku sungguh menyesal melakukan semua itu. Aku sama sekali tak mempertimbangkan kerugian yang mereka derita. Aku hanya menikmati semua itu, bagai seorang yang sakit jiwa." Kalimat terakhir itu justru membuat dirinya sendiri tersentak.

"Babe, apa menurutmu aku sakit jiwa? Oh my God!" Lanjutnya cepat, menatap Friska yang terbengong sendiri. Wajah tampan itu, ekspressi yang muncul disana, pengakuannya, kejujurannya, semua itu membuat Friska terpana. Lelaki dari dunia maya itu, yang sempat mencuri hatinya, kini ada di hadapannya. Oh, it is like a dream, but it is not!

"Apa aku sakit jiwa babe?" Ulang Daniel lagi. Friska terperangah. Tersadar.

"Hm... kamu sendiri, setelah menyadari semua ini, apa yang akan kamu lakukan? Sanggup ga berhenti dari itu?" Tanyanya bak seorang psikolog, padahal dia hanya seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi. 

"I told you babe, I quit already. I stopped it after failed on you, dan ga ingin ulangi lagi." Tegas sekali jawaban Daniel.

Friska tersenyum. "Berarti kamu udah ga sakit jiwa lagi donk. Kamu sudah sembuh Dan."

Daniel tersenyum, ingin sekali dia meraih jemari Friska, namun takut dibentak lagi oleh wanita itu. 

"Babe, I miss your babe word. Please don't call me Dan, or Daniel, but call me babe, as you called me before, please...". Bujuknya memelas. Mata biru itu begitu mempesona. Friska hanya tersenyum. Kekakuan hatinya mencair. 

"Let's see, how long the 'babe' word will come back, ok?" 

Jawabnya dengan senyum menggoda. Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah rasa bahagia tiba-tiba menyeruak, berpendar. Hidup ini begitu unpredictable... Cara Tuhan menjawab doa setiap hambaNya memang sungguh tidak terduga. Siapa sangka jika ternyata, pangeran dari dunia maya itu, kini sungguh nyata kehadirannya. 

written by Alaika Abdullah, 
Bandung, 26 February 2013
Credit

“Maaf Din, aku ga bisa… aku ga mampu…” Suara Benny terdengar gemetar, antara malu dan sedih. Dihadapannya, di atas tempat tidur empuk itu, istrinya tergolek, tanpa busana, sama seperti dirinya. Sebuah malam pertama yang menyedihkan.

Dinar mencoba memaklumi dengan kebesaran jiwa dan keluasan cinta yang dimilikinya untuk Benny, kekasih hati yang sejak tadi siang telah resmi menjadi suaminya. Alasan yang dikatakan Benny cukup masuk akal, Benny nervous, karena ini adalah yang pertama untuk mereka berdua.

Namun di malam-malam berikutnya, hal yang sama terulang kembali. Benny lagi lagi tak mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tak mampu lagi mencari alasan yang masuk akal, akhirnya sebuah kejujuran pun menghampar nyata. Dan langsung membuat Dinar shock, pingsan. Benny ternyata telah berubah haluan. Laki-laki yang dulu begitu jantan, kini telah menjadi seorang gay dan menjadi kekasih Michael, lelaki 50an tahun yang adalah atasannya, si pemilik rumah mode dan perancang mode ternama di Kota Jakarta ini. Yang telah menuntunnya menjadi seorang laki-laki pecinta sesama jenisnya. Gay. Oh My God!

Namun rasa cinta yang begitu besar di hati Dinar, mampu membesarkan jiwa dan meluaskan hati wanita itu, untuk terus menerima Benny sebagai suaminya, dan bersandiwara, menyembunyikan kenyataan itu dari siapa pun, termasuk dari Jay, kakak kandungnya, yang adalah juga sahabat Benny.

Benny pun lega, bahagia karena tak ada lagi kebohongan diantara mereka, juga lega karena kini dia bisa dengan lebih bebas melayani Michael, sang kekasih hatinya, yang telah mengubahnya menjadi seorang gay, yang juga telah mencukupi kebutuhan materinya selama ini, juga telah meng-upgrade dirinya yang dulunya adalah seorang laki-laki kampung yang miskin, menjadi seorang yang handal dalam membantu Michael mengurus usahanya.

Dinar yang terpuruk dalam kekecewaan, yang lelah menyabarkan diri, yang membujuk hatinya sendiri untuk cukup puas dengan usaha 'foreplay' luar biasa yang disajikan Benny untuk memuaskan istrinya, akhirnya mendapatkan seorang sahabat baik yang penuh perhatian. Maya, tetangga sebelahnya. Seorang wanita yang hangat dan penuh perhatian. Yang setia menemani hari-harinya yang sepi. Yang menjadi tempat curahan hatinya. Yang diterimanya dengan hati terbuka tanpa curiga. Curiga apa coba, toh Maya itu seorang wanita, jadi ga akan macam-macamlah.

Hingga suatu hari, kala Dinar membuka tabir rumah tangganya dengan Benny. Pelukan hangat Maya berubah menjadi pelukan mesra seorang kekasih yang kasmaran. Dinar tersentak, namun kepiawaian Maya menyentuh hati dan tubuhnya yang haus belaian, menghipnotisnya untuk menikmati saja perlakuan wanita itu. Tanpa sadar, dirinya sedang ditarik ke suatu lembah menyesatkan. Ke sebuah hubungan terlarang. Maya sedang menariknya menjadi seorang lesbian!


Penggalan Cerita di atas ditulis ulang dengan gaya khas Alaika Abdullah, 
Penasaran akan cerita lengkapnya? Baca di Novel Gaya Gay, karya Dann Julian. atau disini



credit
Dear Maya,

Maafkan jika mas mengejutkan kamu dengan email ini ya May, but I can’t wait anymore. Mas ga bisa menahan rasa ini jauh lebih lama.
Terserah Maya mau percaya atau tidak pada mas, tapi demi Allah, Mas masih cinta banget sama kamu May! Seperti dulu, saat kita masih pacaran. Dan mas tau persis, bahwa selama ini Maya membohongi mas, bahwa Maya bersuami. Mas tau persis bahwa Maya sudah bercerai dengannya sejak dua tahun lalu, benerkan May?

May, will you let me fill your heart back? Would you please accept me to be part in your life? Will you marry me May?

Lots of love,
Firman

Kalimat-kalimat itu berjejer rapi di layar BBnya, dan sungguh membuat wanita itu tersentak. Sial! Darimana Firman bisa tau tentang statusnya? Padahal informasi ini disimpannya rapat-rapat selama ini dari lelaki itu. Pasti ada teman yang membocorkannya. Kurang asem! Tapi bukan itu yang utama. Ada sebuah rasa lain yang tiba-tiba saja menyeruak dari relung hatinya. Sebuah rasa yang teramat menyakitkan! Ya Allah, rasa itu kambuh lagi. Sakit! Mengiris relung hatinya.

Notifikasi BBM kini berbunyi. Refleks hatinya menebak. Pasti dia. Dan benar saja.

May, maaf mas terpaksa kirim email, udah baca kan?

May, please, answer me… masuk lagi BM baru karena tiga menit Maya tak menjawab.

Sudah terima mas, maaf saya ngantuk banget, mau tidur duluan yaaa…. 

Balasnya, dan langsung meng-off kan hape-nya. Suatu hal yang jarang-jarang sekali dilakukannya.

Dan dua hari berlalu dalam kebekuan, karena Maya sama sekali tak ingin meresponse BM maupun email Firman. Dan hari ini, entah angin apa yang membawanya hadir di bandara ini, mengiyakan begitu saja kala Firman memintanya untuk menjemput kedatangannya.

“Thanks May, senang banget bisa ketemu kamu lagi!” Firman hanya berhasil menjabat erat tangan wanita itu, padahal begitu ingin dia mencium pipi kiri dan kanan mantan kekasih masa lalu itu.

“Sama-sama mas! Angin apa yang membawamu kesini?” Sebuah umpan empuk yang salah, karena membuat Firman dengan gampang bisa menjawabnya.

“Angin rindu meniupku kemari May. Rindu banget sama kamu!”

Sial, Maya salah mengajukan pertanyaan!

“Kita makan siang dulu yuk May, mas laper nih!”

Dan Maya hanya bisa mengiyakan. Obrolan hangat tak terhindarkan, walau Maya masih berusaha menjaga jarak. Rasa sakit yang kian menjadi di hatinya, sungguh menyiksa. Dan Firman menangkap itu.

“May, mas tau kamu pasti menyimpan dendam sama mas. Tapi maukah kamu memaafkan mas? Mas ga punya pilihan lain ketika itu. Mas lakukan itu demi ibu mas, bukan karena cinta pada Lastri. Mas masih menyimpan cinta yang sama terhadap kamu. I swear!” 

Kalimat itu menghiasi candle light dinner yang begitu romantis.

Maya tidak menjawab, juga tak menemukan nuansa indah yang hadir di hatinya oleh romantisnya suasana. Tidak, tidak ada suasana indah dihatinya. Ada yang salahkah dengan dirinya? Dicobanya mencari, sedikit saja, namun tak secuil pun keindahan di hatinya mendengar kalimat Firman. Yang ada hanya cemoohan yang muncul dari lubuk hatinya. Cibiran terhadap Firman. Oh my God!

“May, mas paham jika kamu masih sakit hati pada mas. Kamu ga harus menjawab sekarang kok, mas akan tunggu dengan sabar. Ok? Yuk kita makan yuk!”

Dan Firman memang berhasil menciptakan nuansa persahabatan yang indah, obrolan hangat pun tercipta, namun sepertinya tidak untuk celah cinta. Hingga beberapa minggu sesudahnya, ,sebuah email dari Maya hadir untuknya.

Dear Mas Firman,
This email is to reply your email below. Maafkan jika aku tak berhasil membuka pintu hatiku kembali untukmu. Aku sudah coba menggali kembali kenangan-kenangan indah kita dahulu, mencoba membangun kembali rasa cinta yang pernah begitu besar hadir di hati ini, namun aku gagal total mas! Aku menguburnya terlalu dalam hingga tak lagi menemukan jejaknya. Maafkan aku ya mas, yang tak mampu mencintaimu kembali. 

Email ini juga untuk memberitahu mas, bahwa pintu hatiku kini malah terbuka untuk seorang pria asing yang baru saja aku kenal. Doakan kami ya mas, agar dapat terus saling mencinta. ☺
Untukmu, aku terus berdoa agar dirimu mendapatkan penggantinya Lastri. Wishing you all the best Mas Firman! Keep the spirit!

Hug and Kiss
Maya.

Maya kini sukses membuatnya terjerembab, dan merasakan hal yang sama yang pernah dia berikan pada wanita itu di masa lalu.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Lusina 1
  • Bawa Aku Pulang!
  • Ya Ampun, Mati Kita Nak!!
  • Tamparan itu, Keras dan Pedih [Tamat]
  • Tirai Yang Tersingkap
  • DONGENG KEHIDUPAN I
  • Senandung Cinta : The Power Of Love
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Lusina 3
  • Tamparan itu, keras dan pedih

Categories

  • cerbung 9
  • cerbung: Dongeng Kehidupan 2
  • cerbung: Kisah Sedih di Hari Minggu 2
  • cerita pendek 20
  • cerpen 1
  • edisi kangen Intan 1
  • Flash Fiction 1
  • Gaya Gay 1
  • gempa bumi 3
  • just a note 1
  • Kisah Hidup 6
  • lesson learnt 1
  • non fiksi 3
  • renungan 3
  • rupa-rupa 1
  • true story 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Desember 2017 (6)
  • Oktober 2017 (2)
  • Juli 2017 (1)
  • Juni 2016 (1)
  • April 2016 (3)
  • Maret 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (3)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • Juli 2012 (1)
  • Juni 2012 (1)
  • Mei 2012 (1)
  • April 2012 (2)
  • Maret 2012 (2)
  • Januari 2012 (2)
  • Desember 2011 (4)
  • Oktober 2011 (2)
  • September 2011 (1)
  • Agustus 2011 (2)
  • Desember 2010 (1)
  • November 2009 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Laporkan Penyalahgunaan

Home

  • Home
  • About
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Virtual Corner
  • Zona Misteri

Mengenai Saya

Foto saya
Alaika Abdullah
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Popular Posts

  • Lusina 1
  • Kejutan Manis di Sabtu Pagi
  • Tirai Yang Tersingkap
  • DONGENG KEHIDUPAN I

Labels

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes