Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Senin, 18 Juni 2012

Tirai Yang Tersingkap

pict from here
Annisa duduk diam menatap halaman facebook yang terpampang menantang di layar monitor laptopnya. Wanita itu terlihat online kini. Tak sabar dia hendak menyapa dan memarahinya. Memberondongnya dengan beragam kecaman dan cercaan. Karena menurutnya hanya itu yang pantas diberikan kepada wanita penggoda. Yang telah menggoda dan membuat suaminya kehilangan perhatian padanya. Yang telah membuat suaminya menjauh darinya dan sepertinya juga telah berpaling.
Namun, misinya akan gagal total jika dia segera mewujudkan bisikan amarah itu. Investigasinya akan kacau sempurna membuahkan nihil, jika dia tak mengajak hati panasnya untuk berkompromi. Andai saja bisa memasukkan sebongkah es ke dalam hatinya, akan dilakukannya dengan segera, sehingga dia bisa menjalankan misi ini dengan hati dan kepala yang dingin.
Dihirupnya napas dalam-dalam melalui hidungnya, dan melepaskan secara perlahan melalui mulutnya yang membentuk huruf O. Perlahan ada kelegaan terasa di lubuk hati. Diulangnya kembali langkah itu, merasakan kelegaan yang mulai membesar. Kelegaan semakin nyata kala terapi itu berlanjut beberapa kali, dan siaplah dia kini untuk memulai investigasi yang memang telah dirancangnya dua minggu silam.
Wanita itu kini telah menjadi temannya di facebook. Tanpa curiga menerima ajakan berteman darinya dan bahkan menyatakan begitu gembira memiliki teman dari Aceh. Langkah awal yang mulus, batinnya kala itu.
Kini investigasi akan segera dimulai. Berbekal password Indra, sang suami, login lah dia ke akun suaminya. Mencoba mengundang kembali Ningsih (yang telah dengan sengaja dikeluarkannya dari list pertemanan Indra seminggu lalu), meng-add nya kembali tentu akan memungkinkan mereka bisa berkomunikasi langsung atau chat kembali.
Kembali tanpa ragu Ningsih menerima ajakan pertemanan itu dengan gembira. Sebuah pesan manja langsung nangkring di inbox suaminya, yang sukses membakar kembali api cemburu yang tadinya mulai padam di hati Annisa.
Pesan yang di mata orang lain, adalah pesan biasa yang tak ‘bermuatan’, namun di matanya yang diamuk emosi, adalah sangat membakar jiwa. Dibiarkannya pesan itu tergeletak begitu saja, hingga sapaan Ningsih menyapa ‘Indra’ (yang sedang diperankan oleh dirinya sendiri).
“Mas…. Kok jarang online sekarang? Sibuk terus kah?”
“Iya nih, banyak banget pekerjaan akhir-akhir ini. Jadi jarang buka fb deh”. Balasnya meniru gaya bahasa Indra.
“Sudah kuduga mas sibuk banget. Untung saja mas masih sempat menyapaku via sms. Kalo tidak, aku akan sangat kangen denganmu mas!”
Kalimat ini sukses membuat mata Annisa terbelalak. Satu informasi dicatat sudah di memory nya. Bahwa ternyata Indra sering ber sms-an dengan Ningsih. Dan ini mengindikasikan bahwa pengakuan Indra mentah sudah, bahwa antara dia dan Ningsih sudah tak ada hubungan istimewa lagi, hanya sekedar silaturrahmi antar sepupu. Instingnya benar. Ada udang di balik batu.
“Kalo sms kan ga harus konek ke internet, cukup ketak ketik di hp saja.” Jawabnya datar, tak rela menyelipkan kata-kata mesra dalam kalimat itu.
“Iya sih mas…. Bisa sambil tiduran lagi, hehe..” Terbayang dimatanya senyum Ningsih pasti mengembang mengetikkan kata demi kata itu.
“Iya donk, bisa sambil tiduran dan hayalin kamu!” Balasnya, merelakan hatinya teriris oleh kalimat yang baru saja dihantarkannya. Biarlah, demi kelancaran perannya sebagai detektif swasta bagi dirinya sendiri, dia harus kuat!
Sejenak beralih dia ke browser Safari, dimana dia login ke fb dengan menggunakan akun pribadinya. Digunakannya kesempatan ini untuk juga chat dengan wanita itu. Berterima kasih karena telah berkenan menjadi temannya di facebook dan beberapa kalimat pembuka lainnya, layaknya teman baru. Kalimat-kalimatnya mengalir natural, membuat Ningsih membalas dengan ramah dan hangat. Sama sekali tak menyadari jika lawan chat nya ini adalah ‘polisi’ yang sedang mengintai, meng-investigasi dan pada saat yang tepat nanti akan bertindak menghakiminya. Lalu kembali dia ke akunnya Indra dan mendapati kalimat Ningsih yang sukses membuatnya seperti orang kesetrum.
 “Ih mas ini, emang mas sering menghayalkan aku? Hehe. Mas…! aku kangen suaramu!”
Memuncak emosi Annisa membaca kalimat genit Ningsih. Akal sehatnya menyimpulkan bahwa memang telah cukup akrab dan diluar normal hubungan Indra dan Ningsih. Feelingnya mulai membenarkan bahwa keduanya memang berselingkuh. Tapi sabar dulu, investigasi baru saja dimulai….
Ditinggalkannya Mozilla dan pindah ke Safari, menjadi dirinya sendiri dan melanjutkan chat dengan Ningsih. Percakapan hangatpun terjalin hingga kemudian Ningsih bercerita bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat dia sayangi, dulu pernah bekerja di Aceh. Di tempat yang sama dimana Annisa dulu pernah bekerja. Ningsih dengan yakin mengatakan bahwa Annisa pasti mengenal kakak yang dimaksudnya itu, karena Ningsih melihat bahwa sang kakak, Indra, tertera nama dan fotonya di list pertemanan Annisa. Dan Annisa mengiyakan bahwa benar dia mengenal Indra, tapi hanya sebatas teman satu kantor, yang jarang ketemu karena Indra tugasnya di luar kota Banda Aceh.
Terkesan sekali betapa bersemangatnya Ningsih berbicara tentang Indra, bahkan semakin sumringah saat Annisa sengaja memancing seperti apa sebenarnya hubungan antara Indra dan Ningsih. Kakak atau kakak ketemu gede? Ningsih malah menanggapi dengan sumringah, bahkan langsung dengan excitednya melaporkan pembicaraan antara dirinya dengan Annisa pada Indra, yang sebenarnya akunnya sedang dijalankan oleh Annisa. Wanita yang sedang dimabuk kepayang itu sama sekali tak menyadari bahwa dirinya sedang masuk dalam perangkap. Perangkap seorang wanita cerdas, yang sedang mengintai dan mencari tau perselingkuhan suaminya, dengan seorang wanita lain yang adalah cinta pertama sang suami.
“Mas… aku sedang chat dengan salah satu rekanmu di BRR dulu lho. Perempuan asli Aceh bernama Annisa. Pasti mas kenal deh! Orangnya baik dan ramah lho” Lapor Ningsih ceria, dan Annisa pun mengarang bebas membalasnya. Menggunakan gaya bahasa sang suami agar penyamarannya sempurna.
“Oya? Annisa? Annisa yang mana tapi ya? kenal darimana kamu sayang?” sengaja diselipkannya kata sayang di ujung kalimat Indra.
“Ya kenal dari fesbuk lah honey. Annisa meng-add aku sebagai temannya, dan bertemanlah kami sekarang ini. Coba deh mas lihat di list pertemanan mas, aku melihat dia ada disitu. Pasti mas kenal. Cakep orangnya!” Kata honey jelas membakar api cemburu, namun Annisa mengalihkannya dengan meninggalkan akun suaminya sejenak, beralih dia ke akunnya sendiri, membaca percakapan yang ditinggalkan Ningsih untuknya.
 “Aku asli Madiun Nis… dah pernah belum main ke Madiun? Kamu cantik deh Nis, mirip orang Pakistan lho!” Tak urung jawaban Ningsih di Safari membuat hati wanita itu berbunga.
 “Ah masak sih mba? Jadi blushingdotcom nih dapat pujian dari mba Ningsih. Belum mba… ingin juga sih sekali-sekali nanti main ke Madiun, mba Ningsih juga cantik lho, J balasnya seraya pindah ke Mozilla, menjadi INDRA dan membaca balasan Ningsih.
“Piye mas? Kenalkan dengan Anis?”
Dibalasnya segera.
“Wah kalo dia mah semua kenal. Dia kan Executive Assistantnya big boss. Dan semua staff juga kenal dia tuh… apalagi yang cowok… pasti senang banget jika harus ke tempat bigboss, bisa lewat mejanya mba Anis tuh. Orangnya cakep dan baik.”
“Mas juga dong kalo begitu….. ?? Mas akrab dong sama dia?” Kejar Ningsih.
“Mau akrab gimana? Mas tuh segan sama dia. Habis orangnya pendiam, baik sih, cuma berkelas gitu deh. Membuat anak-anak segan dan ga berani sembarangan.” Balas Annisa lancar dengan gaya bahasa Indra.
“Hm…, mas, kok Anis bisa nanya mas itu masku atau mas ketemu gede ya? Sepertinya dia bisa membaca sesuatu deh tentang hubungan kita mas!” Tanpa curiga Ningsih terus bercerita pada Indra, tak pernah terbayangkan dibenaknya bahwa adalah orang lain yang sedang menyamar sebagai kekasihnya itu. 
“Hm… masak sih? Jangan-jangan kamu yang cerita kali?” Balasnya sebagai Indra, lalu berpindah ke akunnya sendiri. Beberapa deretan pertanyaan dari Ningsih telah berjejer rapi disana.
 “Hehe… senang deh dipuji kamu, btw, aku ga pake embel-embel mba nih untuk kamu Nis, habis keliatannya kamu pasti lebih muda dariku, berapa umur kamu Nis?”
“Hm… kepala 4 pas nih mba… kalo mba berapa?” ketiknya cepat.
“Berarti aku lebih tua 5 tahun dong dari kamu. J Kerja dimana sekarang Nis?”
“Aku hanya pekerja kontrakan mba... Hehe”
“Ih kamu tuh ya… orang tanya serius lagi.., profile kamu cerita banyak itu lho.”
“He..he, aku pekerja kemanusiaan mba… kerjanya di NGO… LSM International gitu deh. Seperti yang tertulis di profile”
“Oya? Asyik donk, gajinya pasti gede ya? btw, suamimu kerja dimana Nis? Di Banda juga kah?”
“Ga mba… suamiku di Brunei, jauuuh… hiks…hiks…”
“Wah asyik dong, banyak duit tuh… kok Anis ga ikutan? Btw Mas Indra juga di Brunei lho!” Jelas Ningsih mulai membawa Indra kembali ke dalam percakapan.
“Asyik apanya mba? Ga enak lagi tinggal terpisah… emang sih duitnya lumayan…. Masku sebenarnya udah ga sabar agar aku ikutan pindah kesana, tapi aku juga masih terikat kontrak disini…, L.” Annisa menekan ENTER dengan perasaan exciting.
“Jadi Pak Indra di Brunei juga ya mba?” Lanjutnya.
“Iya…btw, kamu kok bisa beranggapan mas Indra itu punya hubungan khusus denganku sih?” Mulai deh, penasaran kelas tinggi nih pastinya jeng Ningsih, batinnya.
“Hehe, penasaran ya? aku kan psikolog mba…. Dan pernah di training khusus oleh counselor top dari Portland agar mampu membantu proses trauma healing para korban tsunami kemarin itu. Jadi untuk membaca pikiran atau makna kalimat yang diucapkan seseorang itu, gampang banget. Apalagi dalam menangkap rasa kasih yang terpancar dari kalimat-kalimat yang mba ketikkan. I know you have special feeling for Pak Indra kan?” Ketiknya panjang lebar.
Tak ada jawaban dari Ningsih dalam beberapa detik. Pasti lari ke Indra, pikirnya. Segera dia beralih ke akunnya Indra di Mozilla, dan benar saja,  beberapa kalimat dari Ningsih telah nangkring disana.
“Mas…..Annisa itu psikolog ya? Dia benar-benar bisa membaca feelingku terhadapmu. Mas, beneran ga pernah cerita apa-apa tentang kita sama dia kan?”
Annisa menyiapkan balasannya sebagai INDRA.
“Mau cerita gimana sayang… kan mas udah bilang kalo mas segan sama mba Anissa…”
“Dia memang psikolog, dan dengar-dengar sih di masa-masa emergency, mba Annis bergabung dalam program trauma healing untuk para korban tsunami…”
Dihentikannya ketikannya menanti response dari Ningsih. Sengaja dibubuhkannya kata-kata sayang dalam kalimat INDRA agar meyakinkan aktingnya.
“Hm…., hebat deh Anis ini, bisa mengetahui hubungan kita hanya dari membaca kalimat-kalimatku. Aku kok suka dengan wanita ini. Mas, suaminya Anissa juga kerja di Brunei lho.” Kalimat selanjutnya dari Ningsih.
“Oya? Dia sudah married lagi toh?” Balas Indra melalui jemari Annisa.
“Lho, emang dulu waktu mas disana dia masih single?” Penasaran Ningsih bertanya.
“Ngga, kabarnya sih dia cerai dari suami pertamanya… punya anak satu, kalo ga salah gitu deh”.
Sambil menanti jawaban Ningsih, Anis beralih ke akunnya sendiri, yang ternyata belum ada jawaban dari Ningsih. Diputuskannya untuk say goodbye pada Ningsih sebagai Annisa dan akan fokus menjadi INDRA.
“O gitu toh, jadi suaminya yang di Brunei itu adalah suami kedua.?” Kalimat Ningsih telah menantinya di akunnya Indra.
“Kabarnya sih begitu. Mas kan ga tau persis. Risa apa kabarnya? Ada pulang?” Sengaja dia (bertindak sebagai INDRA) mengalihkan topik, berharap agar pembicaraan berikutnya dapat menyingkap tabir hubungan Indra dan Ningsih sejauh ini. 
Ide brilliantnya melibatkan sepupunya, Lisa, untuk ikutan berteman dengan Ningsih benar-benar membuahkan hasil yang bagus. Dari Lisa dia dapat mengetahui lebih banyak tentang Ningsih. Yang adalah seorang guru SMP, hidup menjanda, memiliki satu-satunya anak perempuan yang saat ini sedang kuliah di Malang. Selain mengajar, wanita ini juga punya kegiatan sampingan yaitu berjualan aneka asesoris, dompet dan kerudung yang dikreditkan ke para guru di sekolahnya. Beberapa minggu sekali Risa anaknya mudik ke Malang atau sebaliknya. Informasi ini tentu lebih dari cukup dalam memuluskan investigasinya.
“Ada tuh kemarin mudik…, sekalian bawa asesoris dari malang untuk daganganku... sekarang sih udah balik lagi ke Malang. Mas… Risa merengek terus tuh minta dibelikan BB, bantuin dong…, J”.
What? Membuncah emosi Anis membaca kalimat itu. Berani-beraninya Ningsih minta dibelikan sesuatu pada suaminya. Tapi… tiada asap tanpa api. Kalo suaminya ga ngasih harapan, tentu Ningsih ga akan berani. Pasti hubungan mereka telah lebih dari akrab. Cinta lama telah bersemi kembali? Analisa di pikirannya mulai berjalan. Memang sih Indra pernah cerita jujur padanya, bahwa Ningsih, yang adalah anak dari paman Indra, pernah menjadi cinta pertamanya, bahkan hubungan mereka telah disetujui oleh kedua belah pihak, namun karena Indra kelamaan menyelesaikan studinya di Amerika, akhirnya Ningsih kepincut laki-laki lain. Walau tak mendapat restu kedua orang tuanya, Ningsih nekad kawin lari dengan laki-laki pujaan hatinya itu. Namun sayang, perkawinan itu tak berumur panjang, setelah memiliki satu putri yang berumur 7 tahun, merekapun bercerai. Indra memang bercerita apa adanya pada Anis, lupa bahwa informasi ini suatu saat nanti malah akan sangat berarti bagi istrinya.
“Nanti donk, sekarang mas sedang banyak keperluan nih, Edwin dan Rika sedang butuh banyak nih untuk keperluan kuliahnya.” Balasnya sebagai INDRA, Edwin dan Rika adalah putra putri Indra dari mantan istri pertamanya.
“Yaa mas… iya deh, aku manut mas wae… demi cintaku padamu….hehe.” Nah ini dia. Tak dapat dipungkiri, hati Annisa panas - membara. Sensitif sekali hatinya untuk kata-kata seperti ini. Cemburu tak terbendung.
JHanya sebuah icon ‘tersenyum’ yang dikirim INDRA. Tak rela Annisa mengetikkan kata-kata mesra (selaku INDRA) untuk wanita itu.
“Kok cuma senyum sih? Ga seperti biasanya di ym…, mesra!” 
Nah, ketahuan lagi deh kalo mereka suka ym-an. Suasana hati Anis kian panas. Ingin rasanya diputuskan dengan segera percakapan ini dan menelphone serta memberondong suaminya, minta penjelasan. Tapi akal sehatnya masih mampu mengendalikan tindakannya. Dicobanya melanjutkan percakapan. Pasti akan lebih banyak lagi informasi yang diperolehnya nanti jika dia mampu mengontrol emosinya. Maka, lanjutnya…
“Sorry, mas sedang bikin presentasi nih.”
“Oh, okd sayang. Jadi presentasinya Selasa besok?”
Jadi? Sebegitu akrabnya hubungan mereka, hingga Ningsih juga dibagi informasi sedetil itu oleh Indra. Temperatur otaknya kian meninggi, namun Anis mencoba meredamnya.
“Iya, jadi donk… doakan sukses yaa….” Tulisnya as INDRA
“Pasti dong, untuk calon suami pasti lah doaku sepenuh hati…”
Dug!!! Meledak sudah emosinya. Anis menjauhi laptopnya sejenak. Meninggalkan Safari dan Mozilla dengan segera, karena jika masih berdekatan dengan kedua browser  itu, otomatis dia akan membalas penuh emosi dan terhentilah investigasinya, atau malah langsung men-dial nomor Indra, dan kacaulah jadinya.
Bangkit dia menuju dapur, membuka kulkas dan meneguk langsung air sedingin es itu dari botolnya. Hatinya dingin seketika, namun kepalanya masih panas. Diteguknya beberapa tegukan lagi, hingga menghabiskan setengah botol, kembali dia ke kamar, duduk di depan laptop dan membaca sebaris kalimat yang telah nangkring disana.
“Mas… kok malah diem? Sedang fokus dengan presentasi ya?”
“Iya!” balasnya, mulai pelit dalam mengumbar kata.
“Okd kalo begitu, mas lanjut dulu deh, aku juga mau siap-siap ke kursus. Mas… aku kangen banget sama mas. Berharap banget mas tugas ke Semarang lagi, jadi bisa mampir nengokin aku seperti kemarin….”
Tuh kan? Ketahuan lagi! Tercabik hati Annisa membaca kalimat ini. Dibalasnya dengan ketus.
“Kok bisa kangen sih? Mas aja ga kangen sama kamu!” Penasaran ditunggunya balasan dari Ningsih. Benar seperti dugaannya…kalimat kontradiktif ini tentu membuat Ningsih kaget, spontan.
“Ih mas kok ngomong gitu? Tega banget. Kejam!!”
“Beneran kok…. Mas ga kangen sama kamu. Mas sedang sibuk banget ini. Lagian mas kan cuma iseng aja kemarin itu…!”
“Apa? Iseng gimana? Teganya mas berbuat seperti itu! Ga mungkin deh, mas pasti bercandakan? Masku ga mungkin menyakiti hati. Tapi becandamu udah keterlaluan ini mas! Aku tersinggung!!.”
“Mas serius kok. Mas ga ada maksud istimewa sama kamu. Mas hanya ingin supaya kamu tau bagaimana rasanya sakit hati mas saat kamu tinggal kawin dulu itu. Sakit kan?”
“Masyaallah, mas, aku ga percaya mas tega lakukan ini padaku. Lalu apa artinya pertemuan kita di Semarang kemarin itu? Apa artinya candle light dinner dan lamaran mas disitu? Itu juga main-main?!!”
SATU LAGI INFORMASI hadir, sangat penting dan sukses menusuk jantung Annisa. Jadi Indra dan Ningsih sudah pernah ketemu lagi? Mengambil tempo di sela-sela kesibukan kunjungan tugas Indra ke Semarang dua bulan lalu itu? Hm… Kurang ajar. Dasar laki-laki. Buaya! Emosinya meluap, cukup sudah informasi yang diperlukannya hari ini. Dan saatnya memberitahukan Ningsih bahwa INDRA telah berumah tangga lagi dua tahun lalu, agar tak hanya hatinya yang disakiti Indra, namun Ningsih juga harus terpukul batinnya. Maka, menarilah jemarinya merangkai kata, lincah dan cepat sekali.
“Mas minta maaf sudah mempermainkan kamu, sebenarnya mas ga ingin berbuat seperti ini, tapi terkadang hati mas masih sakit oleh perbuatan mu dulu itu. Mas harus berterus terang sama kamu Ni… bahwa sebenarnya mas sudah berumah tangga lagi, mas menikah 2 tahun lalu, dengan Annisa Astrid, teman barumu itu. Dan suami yang dia maksud di Brunei adalah mas….Mas yakin Anis ga tau kalo kamu adalah mantan pacar mas...” Annisa menghentak tombol ENTER sepuas hati. Rasain loe!! Batinnya.
“Apa? Tega sekali kamu mas! Aku ga nyangka sebusuk itu hatimu! Dasar laki-laki buaya!”
Annisa memutuskan untuk tidak membalas lagi. Cukup sudah. Segera di copynya seluruh percakapan investigasinya ke Microsoft word, menyimpannya untuk dikirimkan ke Indra.Tanpa pamit pada Ningsih dia segera log out dari akunnya Indra. Tak membuang waktu, sign in dia ke gmail, compose a message untuk Indra lengkap dengan lampiran berupa Microsoft word hasil percakapannya dengan Ningsih tadi.

Dear mas,
Hari ini, sebuah bisikan menuntunku untuk melakukan investigasi akan anehnya sikapmu akhir-akhir ini terhadapku. Feelingku kuat berkata bahwa dirimu sedang bermain api dengan Ningsih, cinta pertamamu itu. Walau keras mas membantah bahwa dirimu tak mencintainya lagi, apalagi hendak menjalin hubungan dengannya, namun fakta berkata lain. Kepercayaanku terhadapmu luntur sudah, Ningsih tanpa sadar telah membantuku memberi informasi jujur tentang sejauh mana hubungan kalian.
Tak pernah kusangka jika mas tega berselingkuh di belakangku, dan ternyata sesuai yang kuperkirakan. Bahwa perselingkuhan itu telah bermula dua bulan lalu, saat sikap mas mulai berubah terhadapku. Tak perlu membantah sekuat tenaga apalagi bersitegang urat leher, silahkan baca percakapan terlampir, dan aku yakin saat ini Ningsih mu sedang menangis tersedu mendapati hatinya tersakiti.
Aku juga tak berharap mas kembali padaku, bujuklah cinta pertamamu itu, mungkin dia masih bersedia menerima mas dan berkenan menjadi istrimu setelah kita bercerai.
Nb: maaf terpaksa menyamar sebagai dirimu dalam melaksanakan investigasiku.
Wassalam,
Annisa Astrid

Tak terperi sakitnya hati Annisa, seperih luka hati yang dirasakan Ningsih di Madiun sana. Jika Annisa melarikan lara hatinya dengan mencorat coret selembar kertas manila, menekan dan menarik garis-garis itu dengan tekanan kuat, Ningsih malah memeluk guling dan menangis tersedu.
*****
Disaat yang sama, di sebuah mall di Brunei Darussalam, Indra mendengar notifikasi email masuk di BB nya. Dihentikannya kegiatan membolak balik buku yang hendak dibelinya, mengambil HPnya dari kantong celana dan membaca nama si pengirim. Dari istrinya. Tumben Anis kirim email, biasanya langsung lewat BBM saja. Heran hatinya. Segera dibacanya email itu dan kacau balaulah hatinya.
Gawat. Anis telah membongkar perselingkuhannya dengan Ningsih, dan dia harus bersiap kehilangan istrinya. Sanggupkah dia? Anis yang tegas, masih bisakah dia menjangkau hatinya? Tegas ancaman Anis di email, “Aku juga tak berharap mas kembali padaku, bujuklah cinta pertamamu itu, mungkin dia masih bersedia menerima mas dan berkenan menjadi istrimu setelah kita bercerai.”
Oh Tuhan, dia tak ingin kehilangan Annisa. Wanita itu begitu berarti dalam hidupnya. Keluasan pikirannya, ketegasannya, kehangatan dan kasih sayangnya begitu berarti baginya. Bersama Anis, dia bisa berdiskusi panjang lebar dan mendapat banyak masukan demi kemajuan pekerjaannya. Pada Anis, dia dapat melarikan segala kepenatan pikiran akibat pekerjaan yang mentok dan belum menemukan jalan keluar. Pada wanita itu, dia dapat mendapatkan kehangatan dan gairah cinta membara yang selalu membuatnya merasa tetap muda. Pada Anis, dia dapat meneduhkan kepalanya yang terasa panas akibat ragam persoalan hidup yang dihadapinya.
Sanggupkah dia kehilangan wanita ini? TIDAK. Dia TAK SANGGUP. Segera dia keluar dari toko buku, dicarinya tempat yang rada sepi dan langsung men-dial nomor istrinya, namun Annisa tak hendak menjawabnya. Dicobanya berulang kali namun tetap saja tak berjawab, malah kemudian terdengar the number you are calling is not active or out of coverage area.
Gelisah rasa hatinya. Tak guna menghubungi Nanda, putri tirinya yang masih di sekolah jam segini… diulangnya lagi menelphone Annisa tapi tetap tidak aktif. Ditulisnya pesan singkat di BBM untuk istrinya. Cha…. Mas minta maaf, mas mengaku salah. Mas khilaf, beri mas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mas…, mas ga sanggup kehilangan kamu dan Nanda, mas sayang kalian berdua”.
Sebuah sms masuk dari Ningsih. Tega sekali kamu mas! Disiapkannya sebuah jawaban singkat,
Mas minta maaf atas semua ini, mas tau telah melukaimu terlalu dalam, maafkan mas, sejujurnya, setelah mas pikirkan, cinta kita hanya cinta pertama, mas ga sanggup kehilangan Anis. Maafkan mas….”
Dia sadar kalimatnya semakin melukai Ningsih, tapi mungkin itu akan lebih baik bagi Ningsih, kebencian yang timbul akibat sikap dan perkataannya mungkin akan lebih mudah bagi Ningsih melupakannya daripada kata-kata lembut mendayu.
Indra masih sangat kuatir dengan Anis yang sama sekali tak mengaktifkan HPnya sampai tengah malam. Dicobanya menghubungi Nanda, dan saat gadis remaja itu memberikan Hpnya ke ibunya, malah wanita itu langsung mematikannya.. Duuh… sebuah pesan dari Nanda di BBM nya membuat hatinya pedih.
“Pa, Papa berantem sama mama ya? Jangan sampai berpisah dong pa, Nanda sayang mama papa…”.
“Nanda sayang, Papa ga akan pisah dari mama, papa sayang kalian berdua, banget!, Nanda tenang aja ya sayang, Mama sedang marah sama papa dan jadi sensitif.” Balasnya menenangkan putri tirinya yang sudah duduk di kelas dua SMU itu.
Menjelang subuh waktu Indonesia dicobanya lagi, dia tau pasti, saat ini Annisa tentu sudah bangun dan sudah shalat subuh.  Ya Allah, luluhkan hati istri hamba ya Allah, lunakkan hatinya untuk memaafkan hamba dan menerima hamba kembali, pintanya. Dicobanya men-dial nomor Annisa, aktif, tapi wanita itu tak sudi mengangkatnya. Dikirimnya sebuah pesan di BBM.
“Cha… tolong jawab telephone mas, mas bisa mati kalo kamu biarkan begini terus. Mas sayang kamu. Mas sudah sms Ningsih dan tinggalkan dia. Ampuni mas… jangan tinggalkan mas, mas sayang kamu dan Nanda. Mas pulang hari ini dan kita bicara, kamu boleh apakan mas, tapi jangan minta pisah dari mas. Beri Mas kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan Mas”

38 komentar:

  1. Wah pwangjang banget nie artikel.... wkwkwkwkwkkwkw :D Oya mbak blognya bagus banget nie, apalagi bunga ntu.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini mah bukan artikel bro/sist, inikan fiksi..., ya boleh donk panjang. Pasti mas/mba ini ga baca sampai tuntas kan? hehe.
      trims atas pujiannya yaa...

      Hapus
  2. sebuah investigasi yang di lakukan lewat fesbuk akhirnya bisa membongkar suatu perselingkuhan ya mbak.

    Salut untuk tokoh anisa yang bisa setenang itu saat berhadapan dengan selingkuhn sang suami, kalo saya di posisi seperti itu mungkin sudah saya maki-maki habis si ningsih itu mbak...hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... ternyata fesbuk juga banyak manfaatnya ya mba?
      Sayangnya ga banyak di dunia nyata wanita2 yang setenang tokoh Annisa ini ya mba... tapi ada lho!
      Baguskan kisahnya mba? :D

      Hapus
  3. terhanyut dalam kisahnya. hehhehehee....

    BalasHapus
  4. Adum mbak Al, mau komen apa ya?? yang jelas ceritanya bagus kalo bener2 fiksi. Tapi kalau nyata hehhehee... no komen ah. Dah istrinya cantik kok masih selingkuh ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mas Budi... ini fiksi yang berdasarkan kisah nyata sih... salut juga dengan tokoh Annisa ini...
      Iya tuh, keterlaluan suaminya, ga tau diuntung! #kok jadi ikutan emosi yaaa? hihi

      Hapus
  5. Huh! Gak mau kehilangan istri tapi selingkuh! Laki-laki macam apa ituh! Udah punya istri baik, kok, masih tega selingkuh. Emosi saiah baca ceritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, laki2 ga tau diri tuh namanya Mil! bagusnya kita hajar sampai pingsan tuh yaaa? :D

      Hapus
  6. kekekeke, asli cerita mbak yah ini?
    terus gimana lanjutannya
    nyesek sakit pastinya yah digituin :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kok malah ketawa sih? ini bukan cerita saya, namanya juga fiksi, emang sih berdasarkan kisah nyata, tapi kelanjutannya..... saya harus bersemedi dulu yaaa, cari wangsit dulu untuk lanjutan critanya. hehe...
      saya rasa, pasti akan menyakitkan hati lah, kalo hal ini menimpa diri kita...

      Hapus
  7. Saya baca bertahap, biar teliti kayak Una...
    Siapa tau saya juga menemukan nama Alaika lagi...
    Tapi kayaknya sudah steril

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, makasih pak Mars... dah sterilkan? emang ya Alaika ini ingin narsis dimana-mana. :D

      Hapus
  8. Wah mbak perasaan aku ikut teraduk2, geram banget dg kata2 'selingkuh'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, aku juga geram, tapi banyak sekali kisah di sekitar yang menginspirasiku mengangkatnya ke dalam fiksi... untuk pembelajaran dan semoga kita dijauhkan dari nasib dan hal-hal demikian ya mba...

      Hapus
  9. karena saya ga bisa nulis fiksi,, saya bilang cerita ini luar biasa.. setelah saya melanjutkan baca dari tulisan sebelumnya.. suses fiksi2nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. trims mas Didin atas kunjungan, perhatian dan komentarnya. Saya jadi tersanjung nih. :D

      Hapus
  10. gregeeeeeettttt aku tanteee.... greget lah sama cowooook :@

    BalasHapus
  11. waau... panjang banget kaya film India, sedikit mengkritisi, ada nama Risa dan Lisa, salah ketik atau ada dua tokoh..??

    btw, suka cara penyampaiannya, kata2nya mengalir,,
    pulang ah,... sambil nyolong ilmu disini...

    eits,,, balik lagi, ditunggu kelanjutannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Risa dan Lisa adalah dua tokoh yang berbeda mas. Lisa adalah adik sepupunya Annisa. sementara Risa adalah putrinya Ningsih.

      trims atas perhatian dan komentarnya mas! Baik, Insyaallah akan ada lanjutannya.. :)

      Hapus
  12. jd bingung mau komennya mbak.. Abis perasaa sy ikutan geram baca crt ini.. Geram sm tokoh Indra & Ningsih... Heuuuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, saya juga geram saat menulisnya mba.... hihi

      Hapus
  13. hueeeeeee, ini si indra gaje mbak. kalau sayang annisa kenapa mesti main api sama ningsih :( untuk sesuatu yang fana pula, ya Allah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah May! Dunia ini semakin tua usia nya, semakin gila pula tingkah polah orang-orang di atasnya. Huft!

      Hapus
  14. akhirnya selesai juga bacanya. akhirnya gimana tuh mbak? kaya kisah nyata ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an bisa segera melanjutkan kisahnya ya mba, cari ilham dulu... hihi. Kisah nyata juga iya, fiksi nya juga ada... :)

      Hapus
  15. based on true story ya mbak..?
    keren mbak..
    aq setuju kalo annisa tinggalin indra aja, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, terinspirasi dari sebuah kisah nyata orang terdekat. kelanjutannya akan dipertimbangkan usulan mb Ofi yaaa... :D

      Hapus
  16. Investigasi yang cerdas sekali... Jadi ingat lagu GIGI My Facebook...
    Mantap ceritanya mbak.

    BalasHapus
  17. keren,mbak Alaika ..bikin pengen nonjok...
    jadi ikut gemes, dan nyukurin suaminya dicuekin.
    Tinggalin aja, ya Nis?yayaya?tinggalin aja ya? *penasaran

    BalasHapus
  18. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    BalasHapus
  19. huaaa pernah mengetahui kejadian yang serupa tapi tak sama #eh subhanallah dah karakternya Annisa, kalo perempuan biasanya mah langsung meledak mak hihihi

    BalasHapus
  20. aku juga pernah nyamar kayak anisa gitu mak hehe dan cewek itu juga masuk perangkap. jadi geregetan banget ya jadinya hehe..,

    BalasHapus
  21. Wah sosok anisa keren dalam menyikapi keadaan. Begitulah sosok psikolog kurang lebihnya.. lumayan ada pembelajaran buat saya kebetulan saya dari prodi konseling. Salam

    BalasHapus
  22. Ningsih seperti nama istriku..saya curiga apakah bener ini ningsih istriku..gelagatnya seperti cerita di atas

    BalasHapus
  23. Ningsih seperti nama istriku..saya curiga apakah bener ini ningsih istriku..gelagatnya seperti cerita di atas

    BalasHapus