Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Minggu, 30 Desember 2012

Lusina 4

sebelumnya di Lusina 3
grabbed from this site
Hand in Hand Community, bukan sebuah komunitas biasa. Tak mudah mengaksesnya karena untuk menjadi anggotanya dibutuhkan persyaratan khusus yang tak seorang pun akan rela memenuhinya jika bukan karena suratan takdir. Iyalah, siapa sih yang mau kehilangan tangan atau kaki, atau terlebih dahulu mengidap HIV/Aids, hanya untuk menjadi anggota komunitasnya? Tidak, tidak ada yang mau donk.

Juga Badai. Sebesar apapun keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang komunitas yang dibentuk oleh wanita imaginer itu, dia tak akan rela jika harus memenuhi syarat utama itu terlebih dahulu.

Lelaki itu termenung di depan layar monitornya. Halaman situs, Hand in Hand Community terpampang jelas. Namun untuk memasuki halaman berikutnya, dia terhalang. Sebuah ketukan di pintu kamar kostnya, membuyarkan ketermanguannya. Bangkit dia menuju pintu dan seorang wanita muda berambut sebahu, tersenyum manis, menyambutnya begitu pintu terbuka.

“Morning Bay, aku kira kamu masih tidur. Mau aku guyur pake kuah lontong nih!” Salamnya dilanjut kelakar yang membuat senyum merekah di bibir Badai.

“Morning darling, eits, sejak kapan Badai ngebangkong? Yuk masuk, tumben kamu punya waktu kesini?” Sambutnya membuka pintu lebar, mempersilahkan tamunya masuk. Untung aku udah mandi, kalo ga malu donk sama Meta! Batinnya.

Meta, tak hanya teman karib semasa kuliahnya, tapi juga tetap terhubung dengannya walau kini mereka bekerja di sektor yang berbeda. Badai di sebuah perusahaan survey ternama di negeri ini, sementara Meta tenggelam dalam bisnis café dan butik yang dikelolanya. Tak heran, penampilan Meta dari hari ke hari semakin modis dan cantik saja.

Gadis Batak itu tersenyum manis dan melangkah masuk, meletakkan bungkusan lontong sayur kesukaan Badai di atas meja tulis lelaki itu. Pigura indah bergambar seorang wanita cantik, yang terpampang di hadapannya, tak hanya mencuri perhatiannya, tapi juga menghentak jantungnya. Ditatapnya Badai, heran dan penuh tanya.

“Lho, kamu kenal Lusina Bay?” Kalimat itu sengaja digantung, karena Meta sendiri tak menemukan lanjutan yang cocok mendampingi kalimatnya itu.

Jelas Badai terperanjat. Didekatinya Meta, menarik kursi dan duduk sementara Meta masih berdiri pada posisinya. Wanita itu mengangguk. Sungguh diluar dugaan, pikirnya. What a small world!

“I don’t know Met, its more than a dream! Aku justru mengenalnya secara nyata, beberapa menit setelah dia meninggal. Selebihnya, aku tak tau apa-apa tentang dia. Dan dia pergi meninggalkan kesan yang begitu mendalam dan membuatku tak bisa melupakannya.!”

Ada nada lirih yang ditangkap Meta dari kalimat Badai. Jika saja foto yang terpampang di pigura itu adalah foto wanita lain yang masih hidup, mungkin hatinya akan segera mengobarkan api cemburu, namun karena ini adalah foto Lusina, wanita yang dikenalnya, dan juga telah meninggal dunia, maka api cemburu itu tak sempat merebak. Tapi heii, emang siapa Badai sampai dia harus cemburu?

Wanita itu mencoba menyelami rasa yang sedang bergelora di hati sahabatnya itu. Namun wajah sendu di hadapannya itu kini malah berubah riang, dan dengan sangat bersemangat malah meraih bungkusan lontong sayur di atas meja, membuka dan tanpa menawarkan untuknya, laki-laki itu malah melahapnya sendiri. Huh, dasar Badai, ga sopan!

“Kamu tuh ya, tetap aja ga sopan! Nawarin aku kek. Ini malah makan sendiri.” Gerutunya, seraya duduk di sisi tempat tidur satu-satunya yang ada di kamar kost itu.

Pintu kamar terbuka lebar, sehingga keduanya bisa melihat anak-anak yang sedang berlarian ceria di halaman luas, rumah ibu kost. Kamar-kamar kost memang berbaris rapi di sisi kiri pekarangan.

“Lho, emang kamu mau? Bukannya kamu udah duluan sarapan disana? Ini kan lontong sayurnya bu Irah?”

Meta tertawa lepas. Badai memang tau persis kelakuannya. Dan persis, itu memang lontong sayurnya bu Irah, langganan mereka, tak jauh dari apartemennya Meta. Dan seperti biasanya, dirinya akan terlebih dahulu makan disana, baru membawanya untuk Badai jika dia berniat mengunjungi lelaki itu. Ditunggunya lelaki itu menyelesaikan sarapan.

“Met, kamu kenal dimana sama Lusina? Cerita donk! Please”.

Kalimat pertama yang meluncur dari mulut Badai begitu lelaki itu menyelesaikan sarapan. Meta menatapnya, agak lama. Suara Badai yang sendu, menimbulkan rasa aneh yang menjalari hatinya. Ditatapnya foto Lusina yang tersenyum manis di pigura itu. Tahukah Badai bahwa almarhum adalah seorang penyandang cacat dan pengidap HIV? Batinnya.

“Hm… aku ga kenal dekat sih, tapi adiknya, dr. Linda, adalah langganan tetap butikku.” Jelasnya perlahan. Tatapan mata Badai terlihat menanti lanjutan kalimatnya.

“Beberapa kali terakhir ini, dr. Linda selalu ditemani oleh Lusina setiap belanja ke butik. Walau pengguna kaki palsu, Lusina dapat bergerak lincah, dan penuh semangat. Aku sendiri pada awalnya tak pernah menyangka jika wanita itu berkaki satu. Soalnya gerakannya gesit, hanya terlihat sedikit pincang, seperti orang yang baru sembuh dari terkilir gitu.”

Meta menghentikan kalimatnya, menunggu reaksi Badai yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“Bay, kamu aneh deh, tapi aku yakin kamu bukan sedang jatuh cinta pada almarhum kan?” Tembaknya, skak mat!

Badai terperangah, kaget dengan pertanyaan Meta yang dia sendiri sama sekali tak pernah berfikir kesana. Ha? Jatuh cinta pada seseorang yang telah meninggal dunia? Hiiii, ada-ada saja nih Meta.

“Ih, kamu tuh ya! Kamu kira aku nekrofili? Apa aku terlihat punya kelainan seperti itu?”

Ditariknya perlahan rambut Meta, membuat kepala wanita itu terikut miring ke kiri. Tak rela dirinya dituduh Meta sebagai pengidap nekrofili, punya kelainan menyukai orang yang telah meninggal dunia/mayat. Meta tertawa lega.

“Hahaha…. Mana tau daya tarik Lusina telah membuat kamu jadi nekrofili?” Makin keras tawa Meta.

“Hush, jangan ngomong gitu ah, kasian Lusina!” Bisiknya tanpa sadar menempelkan telunjuknya ke bibir pink Meta. Wanita itu terdiam, gerakan natural Badai tak pelak membuat jantungnya berdebar.

“Terus apalagi yang kamu tahu tentang Lusina Met? Cerita donk, aku tertarik banget ingin tau tentang dia. Sini deh, aku tunjukin apa yang aku punya tentang dia.!”

Dan Badai bagai anak kecil yang dengan bangga memperlihatkan mainan kebanggaannya pada Meta. Wanita itu terperanjat, menyaksikan koleksi status-status Lusina yang dikoleksi Badai. Oh My God! Ditatapnya Badai, bengong.

“Met, are you okay?” Malah Badai yang terpana. Kenapa malah Meta yang jadi kayak orang kesambet? Ditepuknya pelan pipi Meta. Meta masih menatapnya, dengan tatapan aneh.

“Bay, do you fall in love with her?” Pertanyaan bodoh itu meluncur juga akhirnya. Giliran Badai yang tersentak. Kaget.

“Met, I am not a nechrofilia. I am normal, tapi karismanya itu lho, yang membuat aku mengaguminya. Kamu ingat ga novelnya Agatha Christie, yang tentang pembunuhan 16 tahun lalu itu? Yang Hercule Poirot me reka ulang adegan kisah pembunuhan itu? Nah, tiba-tiba saja aku ingin mengenal Lusina dengan cara seperti itu.”

Makin terbengong Meta dibuatnya. Dan,

“hadoh Bay…. Kok ribet amat sih? Jika kamu ingin tau lebih jauh tentang Lusina, kamu kan bisa dekatin keluarganya, tanya dr. Linda, ayah ibunya, teman-temannya, komunitasnya! Ini kok malah kayak orang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya sih?”

Giliran Badai yang terpesona. Kenapa pikirannya jadi begitu sempit ya? Jangan-jangan memang dia sedang jatuh cinta pada Lusina? Ih! Hiii….

Ditatapnya wajah manis dengan senyum aduhai dalam pigura itu. Kesadarannya menyangkal rasa tertarik yang mengisi hatinya terhadap Lusina, namun alam bawah sadarnya, menyimpan rasa itu begitu kental. Meta menatapnya kuatir, prihatin dan was was.
No Bay, you may not! Wake up, masak sekali jatuh cinta langsung pada orang yang telah mati?

~ Bersambung ~

14 komentar:

  1. Makin lama cerita ini makin memikat hati...
    Hmmm... Very unpredictable... Good mbak Al... Looking forward the 5th.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.... gimana ya kelanjutan cerita ini mba? #eloh! kok malah nanya? hihi

      Hapus
    2. sekalnya jatuh cnta pada org yg telah mati? Love is blind..but not the decision is....#gak nyambung

      Hapus
  2. Wah.... bisa saja dia jatuh cinta dengan apa yang telah dia lakukan semasa hidupnya. Namun, tidaklah bijak bila mengambil kesimpulan tanpa mengetahui kelanjutan ari ceritanya. Ditunggu kelanjutannya deh Mba. Bikis penasaran aja nis sih Mba. (Plak ! ! ! woi sadar dong ! ini kan sebuah artikel ! )

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... ditunggu aja kelanjutannya ya mas! :) #nyepi dulu cari ide untuk lanjutannya. :D

      Hapus
  3. Sampai di sini,
    Menunggu dengan sabar buat part berikutnya .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih atas kunjungannya mas Rd... ditunggu yaaaa... :)

      Hapus
  4. jiahhhh . . .
    Agatha Cristie ikut2 dah ,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, efek dari seringnya baca novel AC tuh mba... :)

      Hapus
  5. kuereeennn....
    mbaak.., kemana saja aku kemarin sampai luput blog ini??? thx ya, sdh mengajakku mampir kemari... :)
    langsung jatuh hati sama Lusina ini dan duduk manis siap2 nunggu yg ke-5.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, ayo mulai dari awal mba, enjoy them ya... :)

      Hapus
  6. kunjungan perdana langsung baca ke-4nya, jadi penasaran awalnya bagaimana. kayaknya seru.

    BalasHapus
  7. suka dengan fiksi dalam sebuah blog, apalagi dibuat bersambung. Kayaknya sosok itu harus baca dari awal ^_^

    BalasHapus