Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Kamis, 05 April 2012

Kerang Mutiara atau Tiram saja?

Kisah sebelumnya.....


Seekor anak kerang menangis sendu, mengadu pada sang bunda.
“Ibu, badanku sakit sekali…. Perih dan ngilu….. bantu aku ibu… kuakkan kulitku dan keluarkan pasir yang menyusup ke dalam tubuhku….”

Sang bunda hanya dapat memandang ananda dengan tatapan pilu. Perih hatinya, dan penderitaan sang anakpun seakan lekat dirasakannya. Ucapnya..

“Nak…. Maafkan ibumu ini, tak mampu ibu membantumu sayang…. Kita diciptakan sang Maha Kuasa tanpa sepotong tanganpun…., sehingga ibu tak mampu menguak cangkangmu dan mengeluarkan pasir yang menyusup ke dalam tubuhmu itu nak….”

Sang anak semakin merintih, menangis sendu merasakan goresan butiran-butiran pasir yang menyayat tubuhnya.

“Ibu… ini sakit sekali, aku tak mampu bertahan bu…. Apa yang harus kulakukan? Mengapa kehidupan ini begitu kejam? Aku sakit bu….!” Rintihnya, membuat sang ibu ikut menitikkan airmata, merasakan perih yang sedang mendera sang ananda tercinta.

“Sayang…. Tabahkan hatimu…. Kuatkan semangatmu untuk bertahan. Percayalah, dirimu diberi kekuatan untuk bertahan atas cobaan yang sedang diberikanNya bagimu. Tetaplah semangat anakku. Balutlah pasir itu dengan carian perutmu. Percayalah, rasa sakit itu akan berkurang jika kamu menuruti nasehat ibu.”

Anak kerang pun menuruti nasehat sang bunda. Terkadang rasa nyeri itu dirasakan berkurang namun tak jarang rasa nyeri semakin mendera. Namun kekuatan semangat yang selalu disuntikkan sang bunda, adalah penyelamat dan pelipur lara dan deritanya.  Walau kadang kala, saat rasa sakit tiada tara mendera, nasehat sang bunda terpaksa diragukannya. Dengan air mata, dia berusaha bertahan. Bertahun lamanya hingga tanpa disadarinya butiran pasir yang mulai mengeras oleh cairan perutnya, kini semakin terbentuk, halus. Mulus. Makin lama makin halus, mengkilat dan kemilau. Rasa sakit pun mulai berkurang. Butiran pasir yang mengeras itu, ternyata membentuk sebutir mutiara yang kian membesar, indah dan mempesona.

Suatu hari, seorang penyelam menemukan si kerang kecil. Dijumputnya kerang mungil itu dan membawanya ke permukaan. Berserulah dia pada temannya di atas perahu.

“Hei… lihatlah, aku menemukan sebuah kerang dibalik karang, dan ini kerang mutiara!” 
Gembira sekali suara si penyelam. Temannya mendekat, memperhatikan dengan seksama. Sebilah pisau diambil sahabat si penyelam dari perahu, dan dicungkilnya salah satu cangkang si kerang kecil. Tampaklah saat cangkang terkuak…. Sebutir cahaya berkilau indah dari dalam kerang kecil. Sebutir mutiara, tampak menempel indah disana. Begitu menakjubkan, membuat kedua penyelam tersenyum bahagia.

“Terima kasih Tuhan atas berkah ini.” Penantian sang kerang kecil berakhir sudah. Pasir yang mulanya menyakitkan, menderanya tiada henti…kini berubah menjadi sebutir mutiara indah berkilauan.

Sobats….terkadang cobaan terasa memang begitu menyiksa… bahkan terkadang membuat kita putus asa dan bahkan ingin mengakhiri kehidupan. Namun berapa banyakkah diantara kita yang masih menyadari bahwa dibalik cobaan itu ada hikmah? Bahwa dibalik ujian akan ada kemenangan? Bahwa dibalik penderitaan ada kebahagiaan yang telah dipersiapkan?

Banyak dari kita yang langsung menuduh Tuhan tidak adil, saat kita merasa kehidupan kita begitu miris, sementara kehidupan teman kita yang lain begitu terlihat indah?
Berapa banyakkah dari kita yang langsung menuduh Tuhan tidak sayang kita, hanya karena cobaan yang diberiNya terlalu berlarut dan berkepanjangan? Sementara kita melihat teman kita begitu menikmati kehidupannya. Tahukah kita bahwa dibalik kegembiraan atau kebahagiaan yang terlihat dinikmati si teman, ternyata dia juga menanggung penderitaan dalam bentuk lain yang tiada tertahankan jua?

Penantian bagi sang kerang kecil, untuk mengubah pasir menjadi mutiara berharga tentu sangatlah menyiksa. Sang kerang mencoba bertahan tanpa pernah tahu kapan penderitaan itu akan berakhir.
Tidakkah ini mengajarkan kita satu hal? Bahwa untuk mencapai keagungan diperlukan waktu dan kesabaran prima? Untuk menjadi hiasan para ratu dan bangsawan, sang kerang perlu waktu bertahun untuk bertahan dalam penderitaannya? Butuh malam-malam yang penuh doa, rintihan dan tangisan?

Sobats,
Hidup adalah pilihan. Menjadi kerang dengan mutiara indah nan berharga atau hanya cukup menjadi tiram yang dijual murah di pasar ikan? Setiap pilihan tentu penuh resiko dan konsekuensi. Tinggal diri kita yang menentukan pilihan hidup mana yang akan kita tempuh. Iya toh?
Semoga kisah kerang mutiara ini dapat memberi kita hikmah berharga dalam menapaki jalanan kehidupan ya sobs….

Saleum,

Alaika

18 komentar:

  1. Tfs ya mbak :-)

    Mutiara memang indah berkilau dan mahal harganya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba... bener banget.... berkilau dan indah..

      Hapus
  2. hidup ini pilihan ... ayo pilih dan coblos nomor tengah, hihihi :D
    wah mba, selain bisa digunakan sebagai renungan, ternyata paragraf terakhirmu bisa dijadikan kalimat kampanye lho, hmmm, curiga nih, wew, hihihi D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwkwkwk.... terpengaruh suasana akan Pemilukada di Aceh tanggal 9 Senin besok kayaknya mas! hihi

      Hapus
  3. Setiap pilihan sdh satu paket dengan resikonya...siap memilih berarti sdh bersiap dengan resikonya. Tapi ada benernya tuh kata mas Stumon, bisa di buat kampanye tuh kalimatnya...hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju dengan kalimat2 awalmu Rie.... ikut ngakak membaca kalimat terakhirmu... hehe... cocok jadi timses salah satu kandidat nih kayaknya ya? tapi kok ya ga ada yang mantap gitu lho...

      Hapus
  4. Kenapa mutiara mahal ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku juga heran, kok mahal yaaa? :)

      Hapus
  5. Yups betul mbak alaika.
    Dibalik mutiara yang indah, kerang mutiara mengalami proses yang menyakitkan. Jadi ingat ayat-ayat alqur'an. Bersama kesulitan, ada kemudahan. Jadi kesulitan bagi kita, tapi bisa menjadi kemudahan orang lain.
    Itulah hukum alam kawan. Hidup adalah pilihan. Kalau mau berharga harus berkorban meskipun harus kesakitan. Seperti kerang mutiara itu mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup mas... hidup adalah pilihan, penuh dengan konsekuensi..... ingin hasil yang baik, tentu diperlukan usaha dan pengorbanan dalam meraih keberhasilan... setuju, banget.

      Hapus
  6. selalu ada hikmah di balik setiap kesakitan dan perjuangan yang kita alami ya mbak...semoga kita termasuk orang-orang yang bijak memaknai setiap peristiwa yang datang menghampiri kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin YRA.....
      yup, bener banget mba, selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan dan perjuangan/usaha yang kita lakukan/alami....

      Hapus
  7. Sebuah kesuksesan memang dibutuhkan usaha dan krja keras, tak jarang jg yg harus rela jatuh bangun untuk mewujudkannya. Trgantung pribadi kita, mau jd kerang mutiara atau hanya kerang biasa ;)
    nice share mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju dengan semua kalimatmu mas Sigit.... tergantung pribadi masing-masing, ingin menjadi kerang mutiara atau hanya tiram saja.... :0

      Hapus
  8. nice :)
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

    BalasHapus
  9. i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa...
    berbagi pada sesama dengan mengunjungi http://hapeduli.hajarabis.com/

    BalasHapus