Kisah yang tertuang di halaman ini terinspirasi dari cerita sahabats, imajinasi dan berbagai hal lain yang terjadi dalam kehidupan.

Happy Reading sobs!

Rabu, 10 Oktober 2012

Tamparan itu, Keras dan Pedih [Tamat]

klik disini untuk membaca kisah sebelumnya..


pict grabbed from here
Seminggu berlalu setelah tamparan itu. Marissa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan pagi, menyediakan pakaian yang sebaiknya dipakai Anton untuk ke kantor, di atas tempat tidur kamar sebelah dimana Anton terpaksa mengungsi sementara waktu.

Lelaki galak itu, seperti shock oleh tamparan balasan dari istrinya. Sama sekali tak menduga jika sang istri yang lemah lembut itu, punya kekuatan tersembunyi, yang sungguh membuatnya terbang semangat karena kaget..

Marissa tak banyak bicara, walau tidak pula terlihat menantang suaminya. Didikan orang tuanya untuk tetap menghormati suami dipegangnya teguh. Pulang kerja tetap seperti biasa, menyiapkan dua cangkir teh hijau untuk mereka berdua, duduk santai membaca di Ipadnya. Menyiapkan makan malam juga masih seperti biasanya.
Hanya saja, jika biasanya, di awal pernikahan yang baru seumur jagung itu, mereka bercengkrama ria atau menonton acara televisi sambil beradegan romantis di atas karpet empuk ruang TV, kini dia membatasi diri.

Anton harus diberi pelajaran. Tak boleh diberi space untuk mengulangi tindak KDRTnya itu. Dia menikahi Anton, jelas bukan untuk jadi tempat pelampiasan amarah apalagi jadi sasaran pemukulan.

Tengah malam yang dingin. Anton mengalah pada rongrongan hatinya dan memutuskan untuk mengetuk pintu yang terkunci rapat itu. Perlahan. Lembut.

"Cha, bukain donk!"

Hening. Lagi diulangnya. Hening masih. Sekali lagi suara lembutnya memanggil. Terdengar langkah yang diseret paksa.

"Ada apa bang? Kenapa belum tidur?" Lembut suara sang istri.

"Abang ingin tidur sama kamu. Abang ingin minta maaf sama kamu Cha.. Abang khilaf.." Disentuhnya ke sepuluh jemari itu, dibawanya ke wajahnya dan menciumnya penuh kasih. Khidmat.

"Ya sudah, ayo masuk bang. Icha juga minta maaf sudah menampar . . . . ."

Tapi kalimat itu tak sempat rampung karena Anton sudah meletakkan telunjuknya di bibir Marissa, memintanya untuk tidak meneruskan.

Sebagai gantinya, lelaki itu membopong  tubuh istrinya menuju tempat tidur, mesra.

"Bang, bawa Icha ke kamar mandi donk. Kita wudhu dan shalat malam yuk!" Wanita itu merangkul leher suaminya manja, dan mencium pipinya mesra.



~ Tamat ~
Powered by Alaika's OnyxBerry®

29 komentar:

  1. ahhhh,,,gitu deh critanya, jadi fengen cefat fulang hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca kisah awalnya dulu mi biar komplit dan nendang... hehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. cuit...cuit....
      makasih mba Fanny. :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Suami istri itu harusnya begitu Ki, saling sayang - cinta dan penuh kehangatan. :)

      Hapus
  4. Ending yg bagus... Tapi saya tetap tidak suka dgn tamparan istri utk suami. Byk cara selain itu utk membuat jera. Mengotori tgn kita dgn menampar suami... Menambah dosa dimata اَللّهُ. Tetap saja hrs ingat pd hadist... Sabar itu pada pukulan pertama. Dan sabar tdk ada batasnya. Menampar adalah reaksi ketidaksabran.

    Hehehehe... Diskusi boleh ya mbak Al... Toss..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap orang berhak untuk berpendapat donk mba... so feel free ajah lagi mengeluarkan pendapatmu...

      Bener, banyak cara lain untuk membuat suami jera kok. Yang ga boleh adalah membiarkan dia mengulangi KDRT lho. Boleh sabar, tapi ga boleh dengan sabar menanti diri disakiti. Harus ada tindakan pencegahannya. Karena Allah akan marah jika hambaNya tidak berusaha untuk melindungi dan membela kehormatan dan keselamatan dirinya sendiri. Bukankah kita harus mampu melindungi dan bertanggung jawab terhadap diri kita terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa bertanggung jawab dan melindungi orang lain...

      ini menurutku sih.... btw, makasih lho untuk komennya. Cerita ini tercipta dari sebuah tarian jemari yang iseng mba... haha...

      Hapus
  5. bagus kak...
    tapi aku setuju ama bunda niken ,ga ada pembenaran utk sebuah kekerasan apapun alasan nya..
    siipp..lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... setiap kita punya pendapat masing-masing mba, trims yaaaa.... semoga kisah di dalam cerita dua babak ini ga akan sampai menimpa kita yaaa... :)

      Hapus
  6. aku selalu ngeri mbak kalau ada kisah tampar tamparan, tahu ya kayaknya kok jadi sedih gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga sedih mba... karena sering juga melihat sendiri bagaimana seorang suami dengan kasar menampar atau bahkan menghantukkan istrinya ke dinding rumahnya, duh miris lihatnya. Rasanya ingin aja memarahi dan melaporkan si suami itu ke polisi, tapi si istri sendiri nantinya, malah ga tega suaminya di gol kan. Padahal besoknya, si suami udah marah2 lagi dan main kasar lagi. Duh... semoga hal ini tidak menimpa kita ya mba...

      Hapus
    2. iya mbak, aku juga ada liat tuh pasutri yang seperti itu. udah rontok giginya, terus kita tawarin lapor ke komnas perempuan biar anak2nya gak trauma pun tetep gak mau.
      yang nonton jadi gregetan :(

      Hapus
    3. He eh mba, aku sering geregetan kalo lihat seperti ini... mau ditolong tapi ga mau... apa sanggup dia menerima penyiksaan berlarut-larut? duuh... kasian jadinya

      Hapus
  7. Klo di dunia nyata mungkin ada juga ya mba klo istri nampar eh si suami malah yambah murka. Ngeri benerrr.. Naudzubilaminzalik... Semoga kita dijauhkan dari hal2 yg tidak diinginkan ya.. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. di dunia nyata, kebanyakan si istri hanya bisa menangis jika ditampar atau dikasari suaminya mba.. ga berani ngelawan, dan si suami makin merajalela...
      Harusnya diberi pelajaran tuh suaminya, hehe

      Hapus
    2. betul banget. udah gitu, tetangga bukannya simpati malah mencemooh si istri. atau paling banter bilang KASIAN!

      Hapus
    3. Itu dia mba... si istri bisanya menangis aja... ga berani melawan, padahal mungkin dengan melihat perlawanan sang istri, bahwa dirinya ga rela dikasari, si suami akan mikir ulang ya mba...

      tetangga terkadang cuma bisa bilang, sabaar..dan kasiaaaan ya si anu.... :)

      Hapus
  8. duh...duh... digendong untuk dan shalat malam....

    BalasHapus
  9. menikah, ada kerikilnya... tp tetep g boleh ada kekerasan :D
    solat malam dulu yuk heheh

    BalasHapus
  10. Indahnyaaaa...
    Etapi si suami kuat ya Mba Al. Menggendong ke kamar mandi.

    Ceritanya bagus dan ga bertele-tele. Keren Mba Al. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... kuat donk Dan, kan masih pengantin baru.... hihi

      Hapus
  11. Hehe, salut buat Icha
    kasihan deh Anton, perlu ditampar dulu utk sadar :D

    BalasHapus
  12. wah asli akhirnya keren banget ceritanya..... buat lagi dong.....

    BalasHapus
  13. ceritanya ga panjang tapi pesannya sampai. Ada yang pro dan kontra, semuanya berhak menilai. Aku ga mau komen soal tamparan si istri, tapi aku setuju dengan sebuah pelajaran yang diberikan pada suaminya. endingnya endang surendang. Ihhiiik... maskin jiper mau bikin fiksi

    BalasHapus
  14. waduuuh endingnyaaa... *bikin bayangin* ehh salah fokus hahaa

    BalasHapus
  15. Joosss tenan. . .
    Bikin baper,

    BalasHapus